
“Hyeon!”
Seorang pria dengan kedua tangan diletakkan di saku celana. Menatap rembulan yang cukup terang di depannya. Ia mengenakan setelan jas hitam gelap dengan dalaman berwarna putih polos. Senyum Hikaru merekah semakin indah seperti bunga di taman.
Dia adalah Baek Hyeon, seorang CEO terkenal di salah satu perusahaan Korea Selatan. Banyak sekali wanita yang mencoba menggodanya bahkan mau tidur bersama dengannya. Sayangnya semua godaan itu tidak mempan sama sekali. Hal itu malah membuatnya sangat jijik.
Rambut bersurai hitam pendek dengan beberapa helaian berwarna merah tua menoleh ke belakang. Pria itu menatap sang lawan bicara sangat lekat dengan iris sewarna matahari miliknya. Tatapan yang dalam, penuh akan arti dan keinginan yang tidak dapat tercapai.
“Hikaru...” Panggilnya dengan suara hangat.
“Kau sudah lama menunggu, ya?”
“Tidak juga. Di mana Rae?”
“Rae? Sebentar lagi dia akan datang.”
“Oke.”
Hikaru berjalan mendekat ke arah Hyeon dengan langkah kecilnya. Berdiri tepat di samping Hyeon sambil senyum- senyum tidak jelas. Entah apa yang membuatnya begitu bahagia dan menampilkan senyum menawan seperti itu. Penasaran, Hyeon pun langsung bertanya tanpa berpikir dua kali.
“Kenapa kau sangat bahagia, hm?”
Hikaru menoleh dengan sorot mata polos, “Apakah kita harus bahagia untuk tersenyum?”
“...” Hyeon terdiam, “tidak. Apa kau ada masalah?”
“Aku, hanya merasakan firasat buruk.”
Dahi Hyeon mengkerut, “Itu hanya firasat saja. Jangan terlalu dipikirkan.”
“Ya, kau benar. Hei, Hyeon!”
“Hm?”
“Ayo kita menginap di sini!”
“Apa? Menginap di sini? Kenapa?”
“Itu... Permintaan Rae dan aku sudah berjanji... Gimana dong?”
Hikaru memperlihatkan wajah seperti kucing yang butuh belaian. Telinga dan ekor kucing juga seakan- akan muncul di tubuhnya. Berharap jika cara ini bisa membuat Hyeon, si pria dingin yang menyebalkan itu luluh. Beberapa menit berlalu dan Hyeon hanya menatapnya sambil berkedip.
Hikaru berusaha membuat suara imut, “Ayolah~ Hyeon Hyeongnim~”
^^^[Hyungnim (형님). Apa bedanya ^^^
^^^hyung dan hyeongnim? Hyeongnim ^^^
^^^merupakan panggilan formal ^^^
^^^untuk hyeong.]^^^
“Tidak.” Jawaban tegas diberikan.
“Hyeon Hyung?”
^^^[Hyeong (형). Hyeong atau yang ^^^
^^^dibaca hyung ini adalah panggilan ^^^
^^^untuk kakak laki-laki dari adik ^^^
^^^laki-laki. Bisa digunakan oleh ^^^
__ADS_1
^^^saudara kandung atau teman dekat.]^^^
“...” Kali ini tidak ada balasan.
Kesal, Hikaru pun menggembungkan pipinya dengan raut wajah marah. Kedua tangan dilipat didepan dada. Pandangan dialihkan ke kanan. Inginnya sih agar Hyeon membujuknya tapi karena tidak ada hasil, Hikaru pun kembali berseru. Kali ini lebih keras supaya telinga Hyeon kesakitan.
“Huh. Hyeon oppa sangat menyebalkan!”
^^^[Oppa (오빠). Panggilan ini ditujukan ^^^
^^^untuk kakak laki-laki dari adik ^^^
^^^perempuan. Namun, jangan ^^^
^^^sembarangan menggunakan ^^^
^^^panggilan ini, ya. Karena orang ^^^
^^^Korea sendiri cukup sensitif ^^^
^^^dengan panggilan oppa.]^^^
Hyeon merespon, “Kau bilang apa tadi?”
“Hyeon oppa. Kenapa memangnya?”
Hyeon mulai tersenyum senang, “Aku suka panggilan itu.”
“Kau bercanda, ya?! Aku ini laki- laki! Dan panggilan oppa itu hanya untuk perempuan!”
“Lalu? Kau pikir aku peduli?”
“Hyeon! Kau-”
“Panggil aku begitu atau aku tidak akan menginap di sini.”
Seringai Hyeon semakin lebar, ia tahu jika Hikaru adalah tipikal orang yang sangat menepati janji. Apa lagi jika dia sudah terlanjur berkata ‘iya’ entah kepada siapapun itu. Mulut Hikaru mulai bergerak entah mengucapkan apa. Merapalkan mantra atau mungkin mengucapkan sumpah serapah? Entahlah, suaranya sama sekali tidak terdengar.
“Ada apa? Kenapa tidak menjawab begitu, hm?” Tanya Hyeon dengan nada suara yang menjengkelkan.
“Kau aneh! Kenapa aku harus memanggil begitu?!”
“Karena aku menyukainya.”
“Apa?”
Wajah Hyeon bergerak maju ke arah Hikaru, “Aku suka suaramu saat kau memanggil ku begitu.”
“Kau ini bicara apa?! Sepertinya aku perlu membawa mu ke rumah sakit secepatnya!”
“Aku tidak perlu ke rumah sakit.”
“Perlu! Kau perlu ke rumah sakit! Bicara mu saja sudah mulai melantur begitu!”
“Ck. Aku serius.”
“Tidak! Aku tidak perca-”
“Kak Hikaru? Kak Hyeon? Kenapa kalian bertengkar begitu?”
Tiba- tiba saja Rae datang sambil menuruni tangga lantai dua itu. Ia menatap aneh ke arah dua orang dewasa yang sedang dorong- dorongan menuju ke arah pintu keluar. Sadar di tatap aneh oleh anak kecil seperti Rae. Hikaru langsung berjalan ke arah Rae dengan sempoyongan.
Ia bahkan hampir saja jatuh karena karpet merah di bawahnya tanpa sengaja menyandung kakinya. Untunglah ia memiliki kesigapan di atas rata- rata yang membuatnya dapat menghindari kejadian memalukan itu. Segera ia membenarkan jaket berwarna merah marun miliknya yang tidak terkancing.
__ADS_1
“Rae sayang, kau sudah siap untuk makan malam, ya?” Tanya Hikaru lembut.
Rae mengangguk antusias, “Ya!”
“Haha, sudah aku duga. Ayo kita cari kursi paling nyaman untuk duduk!”
“Baik.”
Saat sampai di meja dekat dapur, ternyata makanannya sudah siap semua. Bahkan beberapa makanan masih mengepulkan asap. Ada jus alpukat, kepiting asam manis, cupcake, dan lain sebagainya. Semua itu terlihat sangat enak. Rae duduk di kursi yang telah disediakan.
Sesekali melirik ke arah Hikaru dan Hyeon bergantian. Sadar sedang ditatap dengan sorot mata menyelidik, Hikaru pun memberanikan diri untuk bertanya. Ia mengusap pelan Surai putih Rae yang duduk disampingnya sambil terus merapal doa agar Rae tidak menanyakan pertanyaan aneh- aneh.
Sayang sekali Tuhan tidak berpihak padanya, “Tadi Kak Hikaru dan Kak Hyeon ngapain?”
Hikaru berpura- pura bodoh, “Apa? Memangnya tadi kami berdua tadi ngapain?”
“Tadi kan Kak Hikaru dan Kak Hyeon dorong- dorongan dibawah!”
Skakmat, Hikaru berusaha mencari alasan,“Itu um...”
“Kami hanya sedang bermain permainan masa kecil kami saja.” Hyeon berujar.
“Huft, untunglah pria itu peka.” Batin Hikaru lega.
Rae, “Permainan apa? Bisakah kita memainkannya malam ini?”
Hikaru memasang wajah bodoh, “Eh? Apa?”
Rae, “Bukankah Kak Hikaru dan Kak Hyeon akan menginap di sini?”
Jiwa Hikaru seakan melayang- layang di udara. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Menuruti persyaratan Hyeon atau membatalkan janjinya dengan Rae? Tidak, semua pilihan itu menjebaknya. Oh, ayolah! Hanya sebuah panggilan seperti oppa saja. Apa yang perlu dikhawatirkan?
“Haha, iya... Kau benar.” Ucap Hikaru setelah nyawanya kembali berkumpul.
Benar, hanya sebuah panggilan. Apa pentingnya, sih? Hikaru melirik Hyeon takut- takut. Bukan karena wajah Hyeon menakutkan. Ia hanya merasa canggung memanggil Hyeon dengan sebutan oppa yang notabenenya adalah panggilan dari para perempuan untuk para idol kesayangannya.
“Iya, kan? Hyeon oppa?”
Bruh, “Uhuk, uhuk! Apa?”
Hyeon mengelap mulutnya kasar. Tidak percaya jika Hikaru akan benar- benar menuruti persyaratan yang ia berikan. Sialnya, si pengacau yang membuatnya menyemburkan teh yang amat ia sukai itu malah tertawa tanpa dosa. Wajah Hyeon berubah datar.
“Sialan kau.”
“Hei, jangan berujar buruk didepan anak- anak!” Tegur Hikaru.
“Terserah.”
“Haha! Kau seperti wanita yang sedang datang bulan saja, Hyeon oppa!”
“Diam kau.”
“Hyeon oppa!”
“...”
“Hahahaha!” Hikaru tertawa penuh kemenangan.
Selesai makan malam, Rae disuruh untuk terlebih dahulu pergi ke kamarnya. Alasannya simpel saja. Hikaru dan Hyeon ingin membicarakan sesuatu sebentar. Saat Rae sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya, Hikaru mulai berbalik dengan tangan dilipat di dada.
“Oke, aku sudah menuruti syarat mu. Jadi kau harus tepati janjimu jika kau pria sejati!”
“...” Hyeon diam.
__ADS_1
Hikaru berbalik dan segera berjalan menaiki tangga, “Kenapa kau diam saja? Ayo cepat. Rae sudah menunggu kita.”
“Bodoh. Padahal tanpa kau menuruti syarat itu, aku akan tetap menginap di sini jika kau yang memintanya.” Batin Hyeon tersenyum samar.