Hot Scandal

Hot Scandal
Episode 6 Frustasi


__ADS_3

Chirp!


Chirp!


Chirp!


“Emh...”


Set, Hikaru memiringkan tubuhnya ke arah kanan. Menemukan sesuatu yang empuk dan dapat dipeluk, ia mulai kembali merasa aman. Kelopak mata yang semula akan terbuka pun masih setia menutupi iris hijau zamrudnya yang indah. Tiba- tiba sesuatu yang ia peluk bergerak kecil.


“Mungkin itu hanya Rae.” Batin Hikaru tenang.


“Huh.”


Tapi tunggu. Suara ‘huh’ yang sangat jelas dan berat itu, tidak mungkin jika asalnya dari anak kecil dengan suara yang imut. Hikaru mencoba meraba objek di depannya. Objek itu keras, lebar, dan agak empuk. Perlahan iris zamrud itu terbuka dengan takut- takut.


Hal pertama yang ia lihat adalah tatapan mengejek. Ditambah lagi seringaian itu muncul dengan begitu menyebalkan. Siku- siku imajiner di pelipis Hikaru tercetak. Pipinya agak sedikit bersemu merah, antara marah dan juga malu di waktu yang bersamaan. Sementara objek itu masih setia menatap dirinya.


“Selamat pagi?” Tanya suara itu dengan nada menggoda.


“... Hm.”


“Kenapa wajahmu masam begitu?”


“Bukan urusanmu.”


“Apa kau mimpi buruk?”


“Kau lah mimpi burukku.”


Seringai Hyeon semakin lebar, “Oh...”


“Pergi sana!” Ujar Hikaru kesal.


“Pagi- pagi sudah marah? Apa kau benar baik- baik saja?”


“Iya!” Jawab Hikaru ketus.


Walau begitu ia dan Hyeon masih setia di atas ranjang sambil menatap satu sama lain. Tidak ada tanda- tanda di antara mereka berdua yang akan pergi dari sana terlebih dahulu. Selama semenit lamanya, entah kenapa Hikaru baru tersadar. Iris kuning secerah matahari Hyeon terlihat sangat indah.


Walau tak seindah saat mereka menerobos hujan di taman saat tengah malam dulu. Ceklek, pintu tiba- tiba terbuka. Hikaru yang panik langsung saja mendorong Hyeon sekuat yang ia bisa. Membuat Hyeon terjungkal ke belakang dengan suara ‘gedebuk’ yang keras.


“Kak Hyeon...? Apa Kakak baik- baik saja?” Tanya Rae khawatir.


Dengan cepat ia pergi ke arah Hyeon yang terjatuh. Ia terjatuh di sisi ranjang, sambil terus memegangi kepalanya dan mengaduh kesakitan. Segera saja ia berdiri sambil berkata bahwa ia baik- baik saja. Merasa bersalah, Hikaru segera turun dari ranjang. Memeriksa kepala bagian belakang Hyeon.


“Sini biar ku lihat.” Ucap Hikaru cepat.


“Tidak perlu. Aku baik- baik saja.”


Hikaru melotot, “Turuti. Saja.” Ujarnya penuh penekanan.


“Um... Oke.”


“Memangnya tadi Kak Hyeon ngapain kok bisa jatuh dari kasur?” Tanya Rae polos.


Tangan Hikaru membeku. Aneh, padahal itu hanya pelukan ringan sesama lelaki. Tapi mengapa ia harus gugup? Ditambah apa yang ia lakukan tadi seperti sepasang suami istri yang tidak sengaja kepergok sedang bermesraan oleh anak sendiri. Wajah Hikaru merenggut.


Ia harus memperbaiki pikiran dan suasana hatinya secepat mungkin. Jika tidak, mungkin ia malah akan berakhir stress yang membuat pekerjaannya sebagai dokter menjadi kacau balau. Setelah memastikan jika kepala Hyeon baik- baik saja. Ia segera pergi ke kamar mandi.


“Kau mau pergi ke mana?” Tanya Hyeon.


“Mandi. Sebentar lagi aku harus berangkat ke rumah sakit.”

__ADS_1


“Oke.”


“Oh, ya, Hyeon.”


“Kenapa, hm?”


“Kau juga cepatlah bersiap. Kita akan segera mengantar Rae ke sekolah. Jangan sampai ia terlambat di hari pertamanya.”


Hyeon mengangguk, “Hm.”


“Tenang saja, Kak Hikaru! Rae sudah siap, kok!” Sahut Rae.


Ternyata ia sudah mengenakan seragam dan atribut sekolah lengkap. Tas berbentuk singa di belakang punggung Rae membuatnya 3x lebih imut. Hikaru tersenyum senang. Ia menghampiri Rae lalu mengelus puncak kepala anak itu penuh kelembutan. Layaknya seorang ibu.


“Kerja bagus, Rae. Sekarang kau tunggu di ruang tengah dulu, ya?” Ujar Hikaru menenangkan.


Rae mengangguk antusias, “Baik, Kak Hikaru!”


Hikaru melirik Hyeon dengan tatapan aneh, “Kenapa kau memasang raut wajah seperti itu?”


Hyeon yang ditanya pun hanya memalingkan wajah sambil mendengus kasar. Dari raut wajahnya sudah dapat ditebak jika ia sedang tidak senang. Alis tebal berwarna coklat itu menukik tajam ke bawah. Kedua tangan ditaruh ke dalam saku celana. Memperlihatkan perilaku seperti bos- bos sombong.


“Apa karena aku mendorongnya sampai jatuh tadi, ya?” Batin Hikaru berpikir positif.


“Kenapa kau diam saja? Sudah pergi mandi sana.” Perintah Hyeon.


“Huh. Iya- iya aku mandi. Tidak sabaran banget, sih!”


Beberapa menit berlalu dan akhirnya mereka sampai di sekolah Rae. Mobil sport mewah berwarna hitam itu terparkir tepat di depan gerbang. Membuat decak kagum dari para murid dan guru yang melihatnya. Sang malaikat kecil turun dengan kedua ksatria pelindung di sisi kanan dan kiri.


Terlebih lagi pemandangan itu adalah pemandangan yang langka. Lantaran tidak ada sedikitpun keburukan yang terlihat. Semuanya indah bagaikan lukisan yang sudah dikerjakan bertahun- tahun lamanya. Bahkan ada juga guru perempuan yang nyaris pingsan di tanah jika tidak ditangkap dengan sigap oleh rekannya.


“Tampan dan cantik! Mereka bertiga sangat sempurna!”


“Ekhem, anak manis. Kau mau Ayah coret dari kartu keluarga, hm?”


“Eh, Ayah?! Ayah belum pulang?! Jangan gitu dong, ya? Anakmu yang manis ini tadi khilaf, hehe.”


“Huh!”


“Hebat...! Walaupun mereka berdua sama- sama lelaki. Tapi kok pas mereka bersanding begini sangat cocok, ya?”


“Perbaiki dulu otakmu sana.”


“Tapi dia benar juga, loh! Lihat saja! Wajah salah satu lelaki itu seperti perempuan!”


“Memang ada, ya, yang namanya lelaki cantik?”


“Ada! Tuh buktinya!” Salah seorang murid menunjuk wajah Hikaru.


Yang ditunjuk pun hanya tersenyum canggung, “Hai, anak- anak manis!”


“WAH...!!!”


“Tampan! Tampan dan cantik dalam waktu bersamaan!”


“Anak yang berada di tengah mereka itu sangat beruntung, hiks!”


“Guru kita itu mereka, kan? Oke! Kalau gitu aku janji tidak akan bolos!”


“Jangankan bolos! Hari libur pun aku pasti akan tetap ngotot masuk sekolah!”


“Haha, emang di hari libur ada orang? Paling juga penjaga gerbang, ibu- ibu kantin sama hantu belakang sekolah.”

__ADS_1


“Memangnya di sekolah kita ada hantu?”


“Ada dong!”


“Di mana?”


“Tuh! Ada di depan ku.”


“Hah? Kan yang ada di depan mu itu aku... Heh?! Kurang ajar!”


“Sudah anak- anak. Harap tenang walau ini bukan ujian, oke?”


Di sela- sela kegiatan itu Hikaru tertawa kecil. Perdebatan anak- anak itu entah kenapa bisa membuat moodnya yang semula memburuk menjadi baik. Mungkin ia harus mendatangi sekolah ini jika sewaktu-waktu moodnya kembali memburuk. Set, Hikaru berlutut.


“Nah, Rae. Apa kau yakin ingin langsung kami tinggal?” Tanya Hikaru khawatir.


“Iya! Rae yakin!”


“Baiklah kalau begitu. Kalau ada apa- apa bilang pada Kak Hikaru, Kak Hyeon, atau papa mu, ya?”


“Um!” Rae menatap ragu, “itu... Kak Hikaru...”


“Ada apa?”


“Kak Hikaru... Harus menetapkan hati Kak Hikaru pada tempat yang benar.”


“Apa?”


“Pokoknya, jangan sampai salah pilih! Rae pergi sekolah dulu, ya!” Rae segera berlari masuk.


“Hei! Tunggu dulu Rae! Apa maksud perkataan mu itu?! Hei!”


Terlambat, Rae sudah berlari masuk ke dalam gerbang sekolah. Hikaru terdiam di tempat, mencoba mengerti apa yang Rae maksud. Pemikiran anak itu memang kadang tidak dapat ditebak. Ia memang terlihat polos tapi sebenarnya ia mengetahui segala yang tidak orang- orang tau.


Sepanjang perjalanan ke rumah sakit sementara Hikaru yang berlokasi di Jepang. Tidak ada perbincangan sedikit pun di antara mereka. Merasa aneh dengan suasana seperti ini, Hikaru pun mencoba berceloteh ria. Walaupun itu sebenarnya bukan kebiasaan dan hal yang biasa ia lakukan.


“Anak itu memang ajaib. Benar bukan Hyeon?”


Dahi Hyeon mengkerut, ia lantas mengoreksi perkataan Hikaru cepat, “Hyeon oppa.”


“Apa? Jadi kau masih ingat perjanjian itu?”


“Kita sudah sepakat.”


“Kau ini. Dasar kepala batu.”


“Terserah kau saja.”


“Dasar tidak jelas.”


Brak, pintu mobil terbuka. Hikaru segera turun dan berlari masuk ke dalam pintu rumah sakit. Ternyata ia sudah terlambat 30 menit dari jadwal ia praktek. Tapi belum ada 5 langkah dari mobil sport hitam Hyeon. Tangan ramping dan putihnya tiba- tiba dicekal kuat. Hikaru segera menoleh.


“Ada apa Hyeon? Aku sudah terlambat.” Ujar Hikaru mencoba memberi pengertian.


“...” Mulut Hyeon masih terkunci.


“Hyeon?”


Set, tangan kanan ramping berwarna putih itu tiba- tiba saja sudah berada tepat di puncak kepala Hyeon. Sang empu pemilik tangan juga tidak memperlihatkan tanda- tanda penolakan. Senyuman senang tercipta di bibir tipis Hyeon yang membuatnya semakin tampan. Dalam sekejap Hikaru merasa terpesona.


“Jangan pilih kasih.” Ujar Hyeon singkat sebelum pergi.


Hikaru membeku di tempatnya beberapa menit. Tidak terhitung berapa lama waktu yang ia gunakan untuk tersadar kembali. Yang ia tahu adalah saat ia sadar Hyeon telah pergi dari sana. Meninggalkan sejuta tanda tanya di kepala Hikaru. Kedua Pipinya segera memerah panas.

__ADS_1


“Anak itu! Benar- benar tidak tau malu!”


__ADS_2