Hukum Karma

Hukum Karma
Episode 10


__ADS_3

Beberapa hari kemudian. Damar handak pergi ke suatu tempat di mana ia meminta Syifa datang dengan dalih membahas masalah kerja sama. Malam ini Damar terlihat lain dari biasanya. Aroma khas parfum sedikit menyengat, sengaja ia pakai lebih banyak parfum demi memikat kembali hati sang mantan istri. Setelah pertemuan pertama itu membuat Damar seolah tak bisa berhenti memikirkan tentang Syifa. Penampilan bagai seorang remaja membuat Mariana menatap dari ujung kepala hingga ujung kaki. Semua nampak jelas seperti orang pada umumnya ketika memasuki pubertas kedua.


"Mau kemana kamu mas rapi sekali? Terus perfummu snagat menyengat membuat hidungku gatal" Sembari duduk di tepi ranjang setelah selesai menyisir rambut. Malam ini Mariana mulai merasa ada hal jangal dari diri suaminya. Tidak seperti biasa hari ini Damar sampai menyetrika kemeja sendiri tanpa bantuan asisten rumah tangga. Entah apa yang terjadi sampai dia berperilaku lain dari sebelumnya.


"Ada pertemuan sama klien, pagi tadi kita tidak bisa bertemu sebab dia mengundur sampai malam ini. Tidak masalah kan sayang kalau aku menemuinya?" Melihat sosok Mariana dari pantulan cermin di depannya.


"Tidak masalah sih lagian malam ini aku juga mau makan malam sama mama dan papa"


"Oh begitu ya sudah tidak apa apa aku mengijinkan kamu" Ucap Damar seraya


"Tanpa kamu ijinkan aku pun akan tetap menemui mereka. Bagiku ijin darimu tidak berpengaruh sama sekali" Melipat salah satu kaki seraya menggapai ponsel di atas meja.


Deg....


Jujur Damar kesal mendengar kalimat keluar dari mulut suaminya. Kenapa ada istri seperti dia yang tidak mengindahkan perintah suami. Bahkan Mariana cenderung tidak menghormati wibawa suaminya.


"Oh iya sayang coba deh lihat suamimu ini sudah ganteng belum? Lalu kira kira kemaja ini pantas tidak aku pakai , soalnya kemeja ini sudah snagat lama tidak kupakai " Mematut depan cermin memamerkan gaya busana juga stile rambut baru.

__ADS_1


Mariana menghampiri sang suami "Waw....keren. Sebenarnya kamu mau rapat atau mau kencan?" Menatap penuh selidik.


Seketika Damar menghentikan tangan yang kala itu tengah merapihkan rambut "Kencan?bagaimana mungkin." Bebalik badan menyentuh tepi wajah sang istri.


"Yang benar saja kamu, mas. Ini bukan jamnya kantor lho tapi kenapa kamu membicarakan perihal pekerjaan. Jangan ngaco deh kamu, mas."


"Loh kan aku sudah bilang sama kamu tadi siang klien kita yang dari luar kota membatalkan pertemuan di karenakan hal mendesak, lantas dia memintaku bertemu malam ini. Kalau kamu tidak percaya tanyakan saja pada sekertarisku" Ucap damar.


Benar saja Mariana menanyanykan pasal pertemuan rahasia Damar. Namun, siapa sangka semua telah di rencanakan sedemikian rupa. Beberapa waktu lalu Damar menghubungi asistennya, ia merencanakan dengan baik pertemuan pribadi itu dengan dalih pekerjaan.


"Baiklah kalau begjtu terima kasih" Mematikan telepon.


"Hem....."


Di sisi lain Syifa dan Alin sampai di cafe tempat mereks janjian dengan Damar. Awalnya hanya Syifa saja tapi ia meminta Alin menemaninya sebab tak mau terjadi hal buruk nantinya.


"Sepertinya mantan suamimu itu sengaja deh minta ketemuan supaya bisa berduaan sama kamu. Tapi mau sekeras apa pun dia berusaha menggodamu, aku yakin sahabat terbaikku ini tidak akan berlain hati, sekarang hatimu hanya milik satu pria saja, yaitu....." seketika Syifa membungkam mulut Alin.

__ADS_1


"Sttt....dia sudah datang. Lebih baik kamu cepat sembunyi jangan sampai dia tau ada kamu di sekitarku"


Alin segera mencari meja kosong lalu menutupi wajah dengan daftar menu yang ada. Ketika Damar melintas tepat di samping Alin aroma parfum menyeruak hidung, membuat Alin hampir tersedak tapi ia tahan "Astaga, norak dekali parfumnya sangat berlebihan."


"Maaf ya sudah lama menunggu" Ucao Damar sembari memposisikan diri duduk tepat bergadapan dengan sang mantan istri. Jarak keduanya hanya tepisahkan oleh satu meja saja, namun pandangan mata mereka saling bertemu.


"Tidak masalah. Silahkan anda pesan minum dulu atu mau pesan makan juga boleh" Menyodorkan daftar menu lalu meraih segelas minuman yang telah ia pesan terlebih dulu.


Melirik Syifa sejenak. Paras ayu wanita berjilbab biru itu membuatnya mabuk kepayang. Cantiknya bukan main. Make up tipis dan bibir merah muda membuat siapa saja tertarik padanya. Akan tetapi sekarang Syifa bukan lagi miliknya.


Sekarang aku baru sadar bahwa dia sangatlah sempurna. Bibir itu pernah memanggil namaku dengan lembut, dan mata itu juga pernah menatapku penuh cinta. Apakah hatinya juga masih sama seperti dulu, masih sangat mencintaiku. Wanita di depanku sekarang ini dulu pernah kusia siakan, tapi sekarang baru kusadari hadirnya begitu berarti.


"Tuan Damar Sasongko..." Seru Syifa.


Sontak saja Damar tersadar dari lamunan "Maaf, aku jadi mengingat tentang kita dulu, sewaktu kita makan di luar kamu selalu pesan lemon tea. Ternyata sampai sekarang kamu masih sama" Melebarkan senyum.


Seketika itu Syifa hampir tersedak "Uhuk...uhuk....maaf saya mau ke toilet sebentar" Sesampainya di toilet ia merasa kesal mengingat Damar kembali mengungkit masa lalu mereka. Luka itu kembali terbuka sampai hati terasa sakit sekali.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak boleh lemah di depannya. Mulai sekarang aku bukan Syifabella yang mudah tunduk dengannya, aku adalah aku. Ayo Syifa kamu pasti bisa melawan perasaanmu sendiri"


Musuh terberat dalam hidup adalah diri sendiri.


__ADS_2