Hukum Karma

Hukum Karma
Episode 06


__ADS_3

"Aduh bagaimana si Damar itu katanya mau jemput tapi sudah hampir setengah jam tak kunjung datang juga" Ibu Rosidah berdiri di tepi jalan menunggu seseorang. Pagi tadi beliau di antar Damar ke rumah sakit lalu Damar kembali pulang setelah mengantarkan snag ibu. Hari ini jadwal beliau cek gula darah. Sejak beberapa tahun lalu Ibu Rosidah menderita diabetes juga kolesterol tinggi, jadi harus rutin cek up setiap minggu.


Beberapa tahun lalu ketika Syifa meninggalkan rumah, tiba tiba saja ibu Rosidah sering merasa lemas berkunang kunang, tengkuk leher terasa berat seperti di tindih beban. Setelah di bawa ke rumah sakit, hasilnya beliau menderita diabetes dan harus melakukan perawatan rutin setiap hari. Dokter menyarankan agar beliau mulai hidup sehat dengan mengatur pola makan, olahraga, dan tidak di perbolehkan tidur pada pagi hari sebelum jam sepuluh keatas. Meski begitu Ibu Rosidah tetap saja cuek dengan kondisi fisiknya. Tidak ada satu pun saran dari Dokter yang di turutinya. Alhasil setiap cek up gula darah semakin tinggi. Dokter pernah berpasan jika gula darah terus naik maka akan berakibat fatal, seperti kelumpuhan atau juga bisa mengakibatkan kamatian.


"Bos, ada mangsa empuk tuh...." Dua orang pemuda mengendarai motor berbalik arah menghampiri Ibu Rosidah. Salah satu pemuda turun tidak jauh dari tempat ibu Rosidah berdiri.


"Coba aku telepon saja...." Membuka tas hendak mengambil ponsel, lalu tiba tiba saja seseorang merampas tas tersebut.


"Jambret, jambret.....tolong jambret" Berusaha mengejar pemuda tersebut namun sialnya di sekitar tempat itu sedang tidak banyak orang.


"Ayo bos kita pergi sekarang" Menghampiri rekan sesama jambret kemudian melarikan diri dengan sepeda motor. Kedua jambret tersebut begitu lihai dalam melancarkan aksi.


Ibu Rosidah terengah engah mengejar maling itu meski hasilnya nihil. "Duit sama hpku ada di dalam tas itu, perhiasanku juga ada di sana....." Tanpa sadar ibu Rosidah menerobos masuk ke tengah jalan hingga sebuah mobil mewah hampir menabraknya.


"Aaaaaaaa......." Beliau berteriak sekuat mungkin ketika badan mobil hampir menyentuhnya.


"Ibu?" Turunlah seorang perempuan dari dalam mobil mewah tersebut.


Ibu Rosidah masih menutup wajah dengan kedua tangan "Apakah aku sidah mati..." Lirihnya sembari perlahan membuka mata.


"Ibu ngapain berlarian di tengah jalan? Bagaimana kalau sampai ibu tertabrak" Syifa lantas mengajak beliau masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


"Ini mobil kamu?" Melihat mobil begitu mewah lain dari milik menantu dan anakanya.


Syifa hanya tersenyum sembari kembali mengendarai mobil "Kalau boleh saya tau ibu kenapa bisa berlarian di tengah jalan seperti tadi?"


Kembali teringat semua harta telah habis di rampas "Tadi ibu mau ngejar jambret. Uang, perhiasan, dan juga hp lenyap di gondol maling" ucapnya dengan mata berkaca kaca.


"Ya Tuhan, lalu bagaimana dengan ibu apakah ada yang terluka?"


"Jelas ibu terluka karena semua perhiasan raib. Di tambah lagi duit dari Danmmar masih di dalam tas itu. Kartu atm ibu juga ikut hilang" Meraup wajah menyesali semua yang telah terjadi.


Melirik bagaimana mantan mertuanya "Ibu yang sabar ya. Rejeki tidak akan kemana...." Ucap Syifa.


"Enteng seklai kamu bicara, kalau kamu keholangan perhiasan pasti kamu akan menangis. Kamu tau kan ibu suka sekali dengan perhiasan. Bagaimana nanti kalau ibu pergi arisan pasti para ibu ibu komplek pada nyinyir"


"Sekarang kamu sudah hiduo enak ya...." Ucao Ibu Soridah.


Mengulas senyum "Alhamdulillah buk atas kuas Allah saya bisa seperti sekarang"


"Nyari dukun di mana kamu? Bisa semudah itu beli mobil mewah dan sepertinya ssmua pakaianmu mahal" Melihat pakaian Syifa berbeda dari biasanya. Meski masih memakai pakaian serba tertutup tapi dari segi desain dan pemilihan warna begitu mewah sekali.


"Astagrifullah....kenapa ibu bicara seperti itu? Demi Allah saya tidak pernah melakukan hal semacam itu. Sandaran ternyaman ada pada sang pencipta bukan dukun atau janpi jampi. Kesuksesaan di raih atas dasar usaha dan kerja keras bukan dari dukun" jelas Syifa.

__ADS_1


Mencebirkan bibir "Halah....mana mungkin kamu bisa punya mobil mewah, tas mahal, pakaian mahal kalau bukan hasil dari ngedukun. Damar saja yang dari dulu kerja nggak sanggup beli mobil mewah."


Bagaimana Damar bisa beli mobil mewah, karena sejak dulu keuangan selalu beliau yang pegang. Damar terus menerus membwrikan hasil keringatnya pada sang ibu tanpa berpikir masa depannya akan kelabu. Uang yang Damar berikan pada sang ibu tidak di gunakan secara baik, justru di salah gunakan. Setiap menerima uang Ibu Rosidah selalu belanja kebutuhan pribadi seperti tas, baju, sandal dan juga perhiasan. Semua itu hanya demi trend duniawi.


Jujur Syifa merasa tidak nayaman terus di fitnah yang bukan bukan "Kalau obu percaya semua hasil saya adalah lantaran dukun, kenapa ibu tidak minta ke dukun supaya anak ibu bisa lebih sukses lagi" Ucap Syifa seolah menantang.


Seketika beliau terdiam tanpa sepatah kata pun. Memang benar tang di katakan Syifa, jika memang dukun bisa menjadikan seseorang kaya raya seperti raja kenapa tidak semua orang di sulapnya. Logika mengajari kita cara berhitung, menulis, dan membaca tapi logika tidak mengajari kita tertipu oleh mulut manusia.


Tak berapa lama kami telah sampai di depan rumah Mas Damar. Ingatan Syifa kembali mengingat dulu ketika mereka pernah tinggal satu rumah dan Syifa kerap menerima perlakukan buruk dari mereka. Tanpa sadar air mataluruh perlahan. Namun, sebelum ibu Rosidah menyadarinya segera ia menyeka "Saya harus segera pulang masih ada banyak kerjaan..." Ucap Syifa ketika sang mantan mertua hendak mrlepas sabuk pengaman.


"Hem....." Segera membuka pintu mobil lalu turun. Tanpa berbasa basi atau mengucapkan terima kasih Ibu Rosidah langsung turun begitu saja.


Ketika melintas id depan gang telihat sekumpulan ibu ibu tengah duduk sambil bercakap cakap. Syifa membuka kaca mobil lalu menyempatkan diri menyapa mereka semua "Mari bu saya permisi dulu" tersenyum sembari menundukkan kepala.


"Eh iru tadi bukannya mbak Syifabella, ya?"


"Iya itu mantan istri mas Damar. Dia terlihat sangat cantik sekarang. Bawa mobil mewah pula...." Semua orang berdecak kagum melihat perubahan separ yang Syifa alami.


"Untung saja mbak Syifa lekas sadar kalau dia tetap bertahan tak jamin sampai sekarang hidupnya akan selalu di liputi derita. Coba sekarang lihat dia sangat sukses, cantik, dan begitu baik. Seribu satu menantu seperti dia, sayangnya justru si nenek lampir itu menyia yiakan menantu sebaik dia" Celetuk salah seorang.


"Benar banget jeng. Mana sekarang ini saya lihat di rumah nenek tampir ada pembantu, katanya sih di bawa dari ruamh besan. Kalian juga tau tidak sebelum ada pembantu, mas Damar sering menjemur pakaian dan beli lauk di warteg. Jelas dong sekarang dia tau rasa. Di kasih yang sempurna malah milik yang buruk rupa. Wajah sih cantim tapi hati durjana buat apa, ya nggak sih buk?"

__ADS_1


Hampir setiap orang sudah tau bagaimana perlakuan Mariana setelah menikah dengan Damar. Semua orang justru senang akhirnya Damar dan Ibu Sosidah dapat karma.


__ADS_2