
"Heh....gila banget tuh mantan suami kamu, bermuka tebal juga dia ternyata. Dulu waktu kalian masih berdama dia sudah menghianati kamu, sekarang giliran kamu sudah bagaia eh dia sok minta balikan. Emang dia kita hati kamu terbuat dari gandum kali ya, seenak jidat di buang lalu ambil kembali." Alin ikut geram atas perlakuan Damar barusan. Sejak tadi terluhat jelas bahwa Damar sering kali mencuri pandang ke arah Syifa. Meski begitu Alin yakin seratus persen bahwa Syifa tidak akan membuka hati lagi untuk mantan suaminya.
Syifa terdiam sejenak. Entah apa yang tengah ia pikirkan setelah semuake jadian. Cinta masa lalu tidak mungkin kembali menghadirkan warna baru. Baginya Damar itu hanyalah sisa perjalanan hidup, tidak akan pernah menjadi tujuan dalam hidupnya.
Melihat sesuatu di mata sahabatnya "Jangan bilang bahwa kamu mulai membuka hati untuknya lagi?" Ucapan Alin menyadarkan lamunan.
"Ngomong apa sih kamu, Lin. Kamu sudah tau siapa yang berhak atas diriku sekarang ini, jadi lupakan tentang pikiran kotormu. Lagi pula dia tidak berarti apa pun untukku. Hanya bagian masa laluku saja tidak lebih dari itu" Ucap Syifa seraya mencubit kedua pipi sahabatnya "Aku harus kembali atau mas Damar akan curiga padaku. Lebih baik kamu anteng ya jadi penonton jangam ribut" Merangkul pundak Alin lalu mereka keluar bersama.
"Eh....di mana mas Damar?" Sesampianya di meja ia tidak mendapati Damar lagi. Mencoba melihat sekeliling nampak begitu sepi tak ada satu pun pengunjung. Padahal sebelumnya ada banyak pengunjung di sekitar mereka. Syifa duduk sembari terheran heran "Tadi ramai orang sekarang nampak sepi sekali"
Tiba tiba saja lampu cafe padam "Astaga, bagaimana ini kenapa lampunya padam" Syifa kesulitan mencari letak ponselnya sampai menjatuhkan sesuatu.
Tak berlangsung ada kilau cahaya menyoroti salah seorang pri. "Wahai perempuan berjilbab biru, ijinkan kupersembahkan satu lagu untukmu" Suara itu snagat tidak asing baginya, seketika Syifa berbalik dan melihat Danar duduk di kursi panggung dengan membawa gitar. Jemarinya mulai memetik indah.
(Maafkan aku yang slalu menyakitimu, mengecewakanmu, dan meragukanmu. Tersadar aku bila kamu yang terbaik, terima aku, cintaiku apa adanya. Di antara beribu bintang hanya kaulah yang paling terang, di antara beribu cinta pilihanku hanya kau sayang. Tak kan ada selain kamu dalam sgala keadaanku cuma kamu ya hanya kamu yang paling mengerti.....aku)
__ADS_1
Suara penuh penghayatan seolah menggambarkan betapa menyesalnya damar telah melepaskan wanita sebaik Syifa. Sempat beberapa kali air matanya jatuh perlahan mengiringi lagu yang keluar dari bibirnya. Petikan gitar menambah haru suasa malam ini.
"Lagu ini mewakili rasa bersalahku pada perempuan yang sedang duduk di sana (Menunjuk diri Syifa). Aku telah lalai dalam menilai cintanya, tengan ini telah gagal menjaganya, egoku telalu besar sampai aku kehilangan pendamping sesempurna dia. Andai waktu masih memberiku kesempatan, maka itu akan sangat membuatku bahagia. Tapi, sepertinya waktu masih belum bersahabat denganku. Wahai kamu yang ada di sana perkenankan aku mengambil kembali cintamu,waktumu, dan semua tentang kita dulu." Perlahan lampu mulai menyala dan semua keryawan cafe manjadi saksi malam ini.
Syifa mengeplkan tangan sembari menahan gejolak amarah dalam dirinya.
Kenapa baru sekarang kamu perlakukan aku semanis ini, mas? Kenapa tidak dari dulu sebelum aku menutup hatiku untukmu.
Damar mulai turun panggung kemudian berjalan perlahan sambil menatap Syifa. Langkah demi langkah membuat Syifa ingin sekakin menjauh secepat mungkin. Percuma saja semua usaha Damar akan sia sia, sebabSyifa tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama kedua kalinya "Maukah kamu memaafkan aku dan kita bisa kembali seperti dulu lagi" Seikat bunga mawar merah tertata rapi dengan hiasan mewah. Semua keromantisan yang tidak pernah ia dapat sejak dulu dari Damar kini tersuguh indah di depan mata.
Syifa membuang muka seraya menyeka air matanya. "Apa kamu serius mas memintaku kembali?"
Damar tersenyum merasa bahwa Syifa akan menerimanya kembali. "Aku yakin, seratus persen yakin"
Syifameraih bunga itu lalu berkata "Sesuatu yang telah lama terputus tidak akan pernah kembali lagi. Seperti layang layang terbang jauh ke atas awan, talinya telah putus dan dia tidak akan pernah kembali lagi. Begitulah aku serang mas" Menjatuhkan seikat bunga tersebut tepat di bawah kaki Syifa "Kamu lihat bunga itu tidak akan mempunyai arti ketika tidak ada yang mengambilnya. Sekarang kisah kita telah lama usai jangan ungit lagi, karena aku tak akan pernah kembali"
__ADS_1
Betapa hancur harapan Damar setelah mendengar semua kalimat menyakitkan dati mulut Syifa. Tak pernah sekali pun ia menduga bahwa mantan istrinya akan berlaku seperti itu. "Tidak, kamu tidak boleh menolakku. Paling tidak kamu pura pura di depan mereka semua demi menjaga nama baikku" Pinta damar seraya meraih tangan Syifa.
Meluhat sekeliling. Mamang benar banyak orang menatap mereka "Maaf, aku tidak bisa membantumu. Sejak awal sudah kuperingatkan jika di antara kita tidak ada lagi ikatan apa pun. Bahkan asal kamu tau sejak kita bercarai rasa cintaku telah ku kubur sedalam mungkin bersama semua kenangan tenntang kita. Mulai sekarang stop mengejarku. Kita tidak mungkin kembali lagi karena....."
Mencengkeram kedua lengan Syifa "Karena apa? Aku tau kamu sedang membohongi dirimu sendiri, Syifa. Aku juga tau bahwa kamu tidak akan pernahh bisa melupakanku walau sedetik. Sudahlah, lebih baik kita mengakui perasaan kita sekarang. Kita di takdirkan bersama selamanya."Tatapan tajam seoakan hendak menerkam mangsa.
Sungguh tidak habis pikir bagaimana bisa pria berprndidikan seperti Damar di bodohi oleh ambisinya sendiri. "Cukup. Sudah cukup banyak luka di hatiku. Apa kamu tidak ingat dua tahun silam aku pernah mengemis cinta darimu, tapi apakah kamu mau memberikan sepercik cinta itu? Tidak. Justru kamu menendangku dari posisi sebagai istrimu. Lupakan obsesi itu lalu kembalilah pada istrimu. Dia jauh lebih segalanya di banding aku yang hanya mantan istrimu"
Seketika Damar bungkam, itak lagi bisa berkata kata. Sekarang dia mukai tersadar bahwa tidak akan pernah ada kesempatan kedua. Semua harapan sirna seolah di telan bumi. Kisah meraka telah berakhir dan tidak akan pernah kembali.
"Kamu kira selama ini aku tidak menderita selalu mengemis cinta darimu? Bukan cinta tapi kamu selalu memberiku kebencian besar. Setiap saat kamu dan ibumu terus menyiksaku lahir batin, apakah belum cukup puas kalian membautku tersiksa, apa belum puas ha ayi katakan?" Lantang Syifa sembari meluapkan segala emosi.
Meraih tanga Syifa "Aku sadar semua salahku. Maka dari itu aku akan menebusnya. Tolong terima aku kembali dalam hidupmu. Aku sangat mencintai kamu Syifabella" Memohon pun tidak ada artinya lagi, sebab Syifa sudah punya kehidupan baru.
Menepis tangan Damar lalu memundirkan langkah "Tidak, tidak akan pernah" segera berlari keluar cafe tanpa perduli apa pun.
__ADS_1
Air mata luruh mengiringi langkahnya "Aku tidak akan pernah kembali padamu, meski dunia memintaku, tetapsaha takdirku tidak akan bersamanya sampai kapan pun"