
"Gila benar tuh cowok punya muka setebal tembok, sudah punya bini masih mau ngejar mantan istri. Memang ya kalau urat malu sudah putus apa pun di terjang demi mendapatkan kembali apa yang di inginkan." Lirih Alin seraya geleng kepala. Sejak tadi ia sengaja mengikuti mereka, karena tidak mau terjadi hal buruk menimpa sahabatnya setelah semua yang pernah di alami. Alin tau betul bagaimana cara Syifa berusaha bangkit dari keterpurukan. Pernah jatuh lalu kembali bangkit demi menatap kembali masa depan.
"Hasil rekaman ini nantinya akan ku kirimkan pada keluarga besar Mariana, biar mereka sendiri yang akan memutuskan hukuman apa yang pantas ia terima" Hanya perlu satu detik saja, Alin sudah mengirim video itu.
"Papa...papa, cepat kesini coba lihat ini." Terkejut melihat sebuah video tentang bagaimana Damar berlutut di hadapan perempaun.
"Ada apa, ma? Kenapa panik begitu?" Datanglah seorang pria berkumis tipis.
Memperlihatkan video kiriman Alin "Papa lihat sendiri saja bagaimana kelakuan buruk menantu kita" Dengan nada marah.
"Kurang ajar, berani sekali dia mempermainkan putri kita. Sampai mati pun papa tidak terima kalau putri kita di sakiti. Pokoknya malam ini juga kita harus beri dia pelajaran. Kita bawa kembali Mariana pulang dan papa tidak akan mengijinkan dia bersama putri kita lebih lama lagi" Amarah seorang ayah melihat nasib kehidupan sang anak tengah di permainkan. Sebagaimana peran orang tua penting bagi semua anak.
"Tunggu dulu pa kalau kita datang kesana sekarang lalu memberitahukan semua pada putri kita, maka dia pasti akan sangat terluka. Mama tidak mau melihatnya menangis lagi. Bagaimana kalau kita tunggu sampai besok, biar mama sendiri menjelaskan pada putri kita dengan perlahan. Jujur, tidak hanya papa saja yang marah, mama pun juga sangat marah. Pegawai kelas rendahan seperti Damar sudah banyak kita angkat derajatnya, dari seorang marketing menjadi manager perusahaan, sampai berhasil menikahi outri kita. Dan setekah semuanya lalu dia menipu kita semua dengan status lajang padahal sudah beristri. Dengan kata lain kita tidak mempermasalahkan mau dia duda, lajang, atau suami orang sekali pun kita tetap merestui hubungan mereka. Sekarang dia malah membalas kita dengan secawan racun, sungguh tidak tau di untung. Mama bersumpah selama hidup dia tidak akan pernah bahagia" Mengepalkan kedua tangan mengingat bagaimana perilaku sang menantu di belakang putrinya. Selama ini keluarga besar Mariana sangat percaya bahwa Damar adalah suami yang tepat bagi Mariana. Namun, pada akhirnya waktu telah membuka mata mereka. Semua keburukan Damar terungkap secara tiba tiba.
__ADS_1
Menyentuh lengan sang istri "Mama tenang saja mulai sekarang papa tidak akan biarkan Damar menyakiti hati putri kita. Dengan tangan ini maka papa akan kasih pelajaran berharga untuknya yang tidak akan bisa di lupakan sepanjang sejarah" Entah apa yang sedang beliau rencanakan tentunya dapat merugikan diri Damar. Sebagai orang ternama mudah baginya mematahkan tulang seseorang dengan sekali sentil. Uang adalah raja segala sesuatu terasa mudah ketika kita memilikinya. Dengan uang kita bisa membaskan kebencian tanpa harus mengotori tangan kita sendiri.
"Mama setuju, pa. Kita harus waspada dengan Damar, takutnya dia punya niat buruk merenut harta kita. Muali sekarang kita tidak boleh percaya padanya sedikit pun"
"Sial....." Memukul kosong "Berani sekali dia sok jual mahal depan gue. Awas saja kamu Syiga suatu hari nanti setelah kamu berhasil jatuh dalam pelukanku lagi, maka aku akan menuntut balas dari rasa malu ini" Sejak kejadian itu harga diri Damar seolah di pertaruhkan. Harapan pupus setelah Syifa menolak cintanya. Semua mata terus menatapnya sampai keluar cafe.
"Baru kali ini ada pria menyatakan cinta pada mantan istrinya...." Celetuk salah seorang pengunjung.
"Wah....kalau di bikin karangan novel pasti bagus bangat kisah mereka. Pasti dulu si wanita pernah do sia siakan terus bangkit setalah itu sang mantan suami merengek minta balikan. Duh sad banget sih ceritanya." Salah seorang novelis berusaha menggambarkan kisah mereka menjadi sebuah naskah yang bagus. Kisah mereka telah menjadi inspirasi besar sampai tercetusnya sebuah novel drama rumah tangga.
Sekarang mereka telah berda di dalam mobil "Kenapa sih kita harus pindah ke kota ini lagi? Kamu tau tidak sih tadi mas Damar menyatakan perasaannya padaku di depan khalayak umum." Mengekpresikan kekesalahm yang ia alami barusan.
"Oh iya, terus kamu jawab apa?" Tanya Alin pura pura tidak tau.
__ADS_1
"Apa? Setelah semua yang kualami kamu masih bertanya apa jawabanku?" Menatap mata sahabatnya dengan kesal.
Menyentuh tangan Syifa "Aku tau kamu tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Sekarang aku merasa telah berhasil mengubah karakter sahabatku ini" Menggenggam erat tangan Syifa.
"Mengubah karakter?" Syifa masih belum mencerna ucapan sahabatnya.
Mengulaskan senyum "Ya. Aku telah berhasil mengubahmu dari yang dulunya lemah, mudah di tindas, sekarang menjadi wanita yang kuat. Menurutku mantan suami kamu itu tidak benar benar tulus mencaintai kamu, melainkan dia hanya mengincar hartamu saja. Lihat....sekarang kamu lebih kaya darinya. Pasti dia mulai tertarik dengan hartamu." Ucapan Alin sangat tepat sekali. Tidak ada kata cinta setulus hati dalam hidup Damar, sebab dia lebih mencintai harta.
"Kamu bisa saja, lin. Oh iya aku lupa belum cerita sama kamu kalau kemarin mas Damar mewakili perusahaan dan kami sempat ngobral sebentar. Jujur aku sedikit prihatin dengan kondisinya, penampilan mas Damar sangat berantakan, pakaian kusut, dan beberapa kali ku dengar istrinya marah. Itu pun tanpa sengaja aku mendengarkan pesan suara mas Damar." Ucap Syifa.
Alin justru bersorak ria "Nah itulah karma. Dulu dia memperlakukan kamu seperti kacung sekarang dia kena batunya. Memang dia pikir jadi suami anak orang kaya itu enak? Oh tentu tidak. Sejak kecil Mariana hidup tanpa kekurangan, selalu mendapatkan apa yang dia mau. Jadi wajar saja jika dia tidak mau ribet dalam mengurus rumah tangga."
"Ah kamu sok tau deh. Lupakan tantang kehidupan mereka, sekarang kita harus cepat ke kantor sudah menjelang siang" Melihat jam telah menunjukkan pukul Delapan pagi.
__ADS_1
Mereka langsung menuju tempat tujuan utama. Kantor tempat mereka mengais rejeki tidak terlalu jauh dari pusat kota. Sebagai seorang pemimpin tentunya mereka tidak berlaku semena mena. Selalu membari contoh terbaik bagi semua karyawan, sehingga perusahan mereks berkembamg pesat. Semua pekerja begitu kompeten dalam bekerja. Bukan kaleng kaleng gaji mereka di atas rata rata.
"Sampai kapan pun gue harua terus berusaha mendekati Syifa sampai dapat...."Memukul stir kemudia beberapa kali sembari terus melihat mobil Syifa melesat dengan cepat.