
"Mas.....tolong ambilkan minum aku haus sekali" Lantang Mariana dari dalam kamar. Setelah mengetahui rencana busuk mertua dan suaminya, ia pun mulai bertindak sesuka hati. Rencana buruk akan terkrna batunya sendiri. Hanya keburukan yang mampu membalas keburukan, oleh sebab ibu Tuhan telah mengirim Mariana ke dalam hidup Damar semata untuk membalaskan perbuatan sebelumnya.
Ketika itu Damar sedang sarapan nasi goreng buatan asisten rumah tangga, terdengar suara lantang sang istri dari dalam kamar. Baru mengunyah beberapa kali sudah mendengar teriakan sang istri yang meminta minum "Bi....tolong ambilkan minum untuk istriku" Ucap Damar sembari melanjutkan sarapan.
"Baik, pak"
"Memang manja sekali istrimu itu mau minum saja pake teriak, memang dia tidak punya kaki? Tinggal ambil apa susahnya. Lagi pula sebagai istri dia itu netral, tidak perduli padamu, tidak mau masak masih kurang apa lagi coba?" Sambung Ibu Rosidah yang baru saja keluar dari kamar setalah mandi. Teriakan Mariana terdengar sampai seluruh rumah. Baru pertama kali dalam sejarah menemukan menantu seperti Mariana. Menantu yang minta di ratukan oleh suami dan mertua, sungguh tidak masuk akal sekali.
"Mau bagaimana lagi dia terlahir di keluarga kaya, semua tinggal minta langsung ada, jadi tidak heran kalau dia begitu...." Masa bodoh dengan sikap sang istri.
Menarik kursi lalu duduk di dekat Damar "Sudah seperti nyonya saja tuh orang. Dia kira ini rumah orang tuanya, bisa seenak jidat nyuruh suami ambil minum. Kamu tau tidak kemarin malam waktu ibu mau ambil minum tidak sengaja kami berpapasan, eh malah dia nyuruh ibu minggir. Emang dia itu siapa di rumah ini. Jadi menantu saja blagu" Kesal belai sembari mengambil nasi goreng. Keritan pada kening beliau nampak jelas bahwa perilaku Mariana sangat menjengkelkan. Ingin sekali rasanya tangan menampar sampai pipinya memerah, namun apalah daya beliau tidak punya kuasa.
"Biar saja buk jangan terlalu di ambil pusing. Nanti jika aku berhasil membuat Syifa kembali maka aku tidak segan mengusirnya. Tapi sebelum itu terjadi kita harus sedikit bersabar" Ucap Damar kembali menyuapkan sesendok penuh nasi goreng.
Tersenyum girang "Ibu pasti mendukungmu, nak. Jika kamu dan Syifa bersatu kembali maka ibu yakin kita bisa dengan mudah memgambil alih hartanya"
Tak berapa lama kemudian bibi keluar dengan kembali membawa segelas air "Maaf pak tapi mbak Mariana minta minuman bersoda." Jelasnya.
"Apa? soda? Sepagi ini sudah mau minum soda, yang benar saja istrimu itu? Maunya aneh aneh deh nggak masuk akal" Sang mertua mulai kesal di buatnya.
Segera bangkit kemudian menghampiri ssang istri "Sayang....apa benar kamu minta soda?" duduk di tepi ranjang menatap kedua bola mata sang istri. Ia terpaksa mengesampingkan kemarahan demi menutupi wajah aslinya. Setelah semua tercapai ia pun tidak akan berlrmah lembut lagi.
"Iya, emang kenapa? Pokoknya sekarang juga aku mau minuman soda atau hari ini juga aku pulang ke tempat mama" Selalu saja ancaman itu keluar dari mulut manis Mariana.
"Baiklah akan ku belikan dulu, sabar ya sayang" Menyentuh ujung kepala sang istri lalu berlalu pergi.
__ADS_1
Tersenyum palsu "Terima kasih suamiku sayang. Kamu memang suami terbaikku"
Mulai sekarang kamu akan menerima akibatnya telah mempermainkan perasaanku selama ini. Kita lihat saja siapa yang nantinya akan menduduki kursi kemenangan. Dan sekeras apa pun kamu berusaha merebut hartaku maka sekeras itu juga aku mempertahankan hakku.
Mariana bukan wanita bodoh yang bisa dengan mudah di kelabuhi seorang pria. Sebenarnya Mariana begitu setia, namun ketika di hianati ia bisa berubah menjadi seperti singa.
"Untung dia kaya kalau tidak aku pasti akan membenturkan kepalanya ke dinding. Geram sekali tanganku melihatnya semena mena dengan suaminya sendiri." Lirih Ibu Rosidah.
"Eh.....coba lihat itu bukankah dia mantan suamimu?" Alin menunjuk pada dalah seorang pengunjung mini market yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Kebetulan Syifa dan Alin berhenti di salah satu mini market handak membeli makanan ringan. Namun, tanpa sengaja mereka justru bertemu dengan Damar.
"Mas Damar? Sejak kapan dia menyukai minuman bersoda?" Melihat Damar membawa beberapa kaleng soda.
"Jaman sudah berubah bestie namam seseorang juga telah di ubah oleh Takdir, iya kan?" Menyenggol lengan Syifa hingga makanan ringan di tangannya terjatuh. Suara benda jatuh membuat Damar berbalik badan dan meliaht Syifa berdiri tepat di depannya.
"Syifa...." melebarkan senyum.
Syifa menatap Alin "Aku tidak akan terkecoh lagi olehnya, kamu tenang saja"
"Kamu sedang belanja juga, mas?" Tanya Syifa.
Damar berjalan maju beberapa langkah "Iya, tadi Istriku minta di belikan minuman bersoda jadi yah begitulah" Mengkerdikan bahu sembari menunjukkan minuman kaleng.
"Wah, beruntung sekali istrimu itu bisa memerintah kamu sesuka hati. Cobasaja kalau Syifa yang menyurihmu pasti kedua tanganmu akan melayang di pipinya" Celetuk Alin.
Seketika saja Damar menatap Syifa penuh rasa bersalah.
__ADS_1
"Alin....sudahlah jangan bicara omong kosong. Ya sudah mas kalau begitu kami permisi dulu." Ucap Syifa bergegas pergi. Namun, tiba tibasaja Damar meraih tangannya "Bisa kita bicara sebentara?"
Alin memukul tangan Damar sehingga lepas dari genggamannya "Jangan sembarangan pegang tangan orang, kalian bukan muhrim tau"
"Maaf, aku tidak bermaksud...."
"Tidak masalah. Katakan saja kamu mau bicara tentang apa?" Ucap Syifa.
Damar beralih pandang melihat Alin "Hanya empat mata"
Syifa pun segera meminta Alin meninggalkan mereka. Setelah itu Damar mengajak Syifa bicara di cafe sebelah mini market.
"Katakan mas apa yang ingin kamu bicarakan denganku" Tanya Syifa.
Memposisikan diri lalu menatap dalam kedua bola mata wanita anggun di depannya "Ehmmmm....begini sebenarnya aku.....aku mau minta maaf sama kamu. Setelah semua perbuatanku dulu padamu mungkin begitu sulit untuk di maafkan. Tapi, dengan sepenuh hati aku memberanikan diri memohon maaf padamu."
Ucapan Damar tentu sangat mengejutkan. Baru pertama kali dalam hidup melihat seorang Damar mengucapkan kaliamat maaf pada orang lain. Seingatnya Damar itu orangnya angkuh, menang sendiri, tapi entah setan mana yang merasukinya sehingga mampu menundukkan ego di depan Syifa. "Apa benar yang aku dengar ini, mas?"
Menganggukkan kepala seraya meraih kedua tangan Syifa "Setelah kita tidak sama sama lagi aku baru sabar bahwa cuma kamu satu satunya yang bisa mengerti aku dengan baik. Sebenarnya selama ini pula aku masih sangat mencintaii kamu"
Seketika Syifa menarik tangannya "Jangan bercanda kamu, mas. Antara kita sudah tidak ada ikatan apa pun, jadi tolong jangan bicara tanbtang cinta"
"Aku sangat serius. Kalau kamu tidak percaya belah hatiku supaya kamu tau semua isi hati ini" Tiba tiba saja Damar berlutut di hadapan Syifa seraya menengadahkan tangan "Tolong terima aku kembali."
Syifa tidak habis pikir bagaimana bisa Damar berpikiran sepicik itu, setelah mereka telah resmi bercarai sejak lama.
__ADS_1
"Gila kamu, mas." mendorong Damar lalu bergegas pergi.
"Syifa....Tunggu jangan pergi dulu"