
"Lihat dia sekarang sudah belagu saja, berani menatapku seperti hendak menerkam. Memang dia lupa siapa dia sebelumnya..." Kesal Ibu Rosidah ketika baru sampai di rumah. Beliau cenderung iri melihat kesuksesan yang telah Syifa raih.
Di sisi lain kedatangan Syifa setelah beberapa tahun tidak terlihat, membuat para warga ikut menggunjing keluarga Damar. Pasalnya setelah bercerai kehidupan mereka sangat berbeda. Dulu para tetangga selalu mendengar suara teriakan hampir sepanjang waktu, sekarang rumah itu nampak begitu sepi. Di tambah lagi menantu rumah itu terlihat arogan tidak suka menyapa atau bahkan tersenyum sangat jarang. Wajahnya memang cantik tapi sayang tidak mau sosialiasai dengan masyarakat sekitar.
"Di banding sama istri barunya itu jelas lebih baik mbak Syifa kemana mana" Cibir salah seorang warga sekitar.
"Jelas. Mbak Syifa itu suka bersosialisasi, baik hati, santun, ramah dan juga berbudi luhur. Sedangkan mbak Mariana terlihat arogan jarang senyum dan tidak pernah mau menjawab ketika di sapa" Sambung salah seorang lagi.
"Biar tau rasa mereka sudah bagus Tuhan kasih mereka istri dan menantu super baik tapi malah di sakitin, sekarang Tuhan murka lalu menggantinya dengan yang paling buruk" Para tetangga seolah bertepuk tangan melihat nasib keluarga Damar. Tanpa Syifa semuanya terlihat memburuk.
"Begitulah kalau hukum karma sudah menjalankan tugas. Itu sih kata saya belum seberapa soalnya mereka masih bisa belagu tapi lihat saja tidak lama lagi mereka akan hidup menderita. Jatuh sejatuh jatuhnya, di pijak serendah rendahnya, dan di hinakan sehina hinanya." semua orang ikut geram atas perbuatan keji Damar beserta sang ibu. Sejak lama mereka tidak tahan atas perlakuan buruk yang menimpa Syifabella, kini mereka akan merasakan bagaimana di bantah dan di kuliti oleh lidah tajam Mariana.
"Damar, kamu tau tidak siapa yang mengantar ibu pulang?"
Damar tengah duduk menikmati secangkir kopi hitam "Syifa" Ucapnya lalu menyeruput kopi.
"Loh kok kamu bisa tau sih? Memang kalian sudah pernah ketemu? Bukankah semenjak kalian bercerai dia sudah tiak lagi di kota ini, bahkan ibu dengar kedua orang tuanya saja tidak tau keberadaannya di mana. Lalu kenapa setelah sekian lama dia muncul dengan wujud barunya...." Menceritakan bagaimana perubahan Syifa kepada putranya.
Tidak heran memang ketika seseorang setelah tidak lagi bersama akan terlihat jauh lebih sempurna di banding saat mereka masih bersama. Mungkin di masa lalu hidupnya tidak seberuntung sekarang. Mungkin dulu pasangan kurang menyadari bahwa apa yang di tinggalkan akan menjadi jauh lebih berharga di tangan orang lain. Maka sebelum menyesal di kemudian hari alangkah baiknya syukuri apa yang susah ada dan jaga jangan sampai orang lain menyempurnakannya. Sempurna bukan di cari tapi bentuk bersama. Capailah kesempurnaan dengan keseimbangan bukan hanya bisa menuntih saja.
"Tidak sengaja aku melihatnya tadi sewaktu dia turun dari mobil. Kenapa ibu bisa bertemu dengannya, sampai dia ada waktu mengantar ibu pulang?" Bangkit seraya berjalan melihat ke arah pintu "Sekarang dia adalah orang sibuk, waktunya begutu di hargai. Dia adalah pemilik perusahan inti di luar kota. Entah bagaimana bisa dunia membuatnya begitu sukses sedangkan aku yang sudah berjuang mati matian siang malam tanpa henti, tapi jabatanku masih di bawahnya jauh sekali" Ucap Damar seolah merendahkan jabatan yang ia miliki.
__ADS_1
"Itu salah kamu sendiri kenapa tidak cepat mengambil alih posisi istrimu itu, dengan begitu kita bisa hidup enak tanpa harus kerja keras" Ucap Ibu Rosidah.
Menghembuskan nafas "Hufff....Entahlah buk sepertinya tidak mudah membujuk Mariana. Dia begitu keras kepala sampai membuatku bingung menghadapinya...."
Ibu Rosidah mulai terpikir sesuatu "Kalau begitu lebih baik sekarang kamu dekati saja Syifa, pasti dia masih menyimpan rasa cinta untukmu. Kamu juga tau bahwa dia lebih mudah di pengaruhi dato pada istri barumi itu. Sekarang dia sudah sukses, tunggu apa lagi ajak dia balikan" Memprofokasi sang putra agar kembali membuat Syifa terjatuh dalam perangkap mereka.
Berbalik badan menatap sang ibu "Kenapa ibu mendorongku kembali padanya? Bukankah dulu ibu yang memintaku segera menceraikan dia lalu kenpa sekarang ibu seolah menginginkan dia kembali?"Tanya Damar.
"Yah....mau bagaimana lagi ibu kira dengan menikahkan kamu dengan menantu kurang ajar itu akan membuat kita hidup mewah, eh tidak taunya dia sangat pelit sekali. Di tanbah lagi istrimu itu pemalas, suka membangkang, tidak punya sopan santun. Pokoknya sangat menyebalkan sekali" Awal mula Damar menikah dengan Mariana hidup ibu Rosidah baik baik saja, semua berjalan normal. Pada suatu ketika kala beliau meminta di belikan perhiasan justru Mariana tidak mau menuriti. Tidak hanya sampai di situ, uang bulanan hanya beberapa saja yang di berikan pada sang mertua sebab semua telah di kuasai olehnya.
Mariana bukan perempuan bodoh yang bisa di manfaatkan oleh orang lain. Belajar dari jalan cerita Syifabella hidup menderita di bawah tekanan ibu mertua dan suami, membaut Mariana bertekad untuk tidak mudah menundukkan kepala di depan siapa pun.
Tanpa di sadari ada sepasang mata tengah menatap ke arah mereka dsnga tatapan tajam. Kedua tangan mengepal erat dengan rahang mengeras "Oh jadi kalian mau bermain main dengaku, kalau begitu sebelum kalian mencapai tujuang itu maka aku akan lebih dulu menggulingkan kalian berdua" Lirih Mariana.
Rencana telah mereka susun rapih tidak akan dengan mudah di kabulkan olah Mariana. Karena sekarang dia sudah tau akal bulus suami dan ibu mertuanya tersebut "Aku bersumpah akan memberi kalian pelajaran yang tidak akan pernah kalian lupakan sepanjang sejarah"
Tak lama kemudain Damar berggas menuju kamar. Mariana segera kembali ke posisi semula. Ia beepura pura tertidur.
"Sudah jam segini tapu masih saja tidur. Untuk kamu kaya kalau tidak sudah dari dulu tanganku tagal ingin menyeretmu kekuar dari rumahku" Ucap Damar.
Oh.....jadi selama ini kamu menjebakku dalam cinta palsu. Oke, mulai sekarang akan kuainkan peranku sebagaimana mestinya. Kita lihat siapa yang menang aku atau kamu...
__ADS_1
"Sayang.....bangun sudah siang" Menghuyung palan lengan Mariana. Kalau bukan karena terpaksa maka Damar tidak akan sudi pura pura baim di hadapan Mariana.
"Emmmmm......apa sih mas aku masih mengantuk sekali" membuka mata seraya menguap. Akting Mariana terlihat begitu sempurna sampai Damar tidak bisa menilai bahwa dia sedanf membuat kisah baru.
Mengusap ujung kepala "Hey....susah siang kamu harus sarapan dulu nanti sakit lho. Bibi sudah masak makanan kesukaan kamu, sayang"
"Aku bosan dengan masakan bibi, bagaiman. Kalau mas minta ibu masak untukku. Sudah lama kita tidak makan masakan ibu kamu"
"Kenapa harus ibu kan ada bibi...." Ucap Damar.
Dengan raut wajah kesal "Ya sudah kalau begitu aku mau mogok makan, atau sore nanti aku mau pulang ke rumah mama papa"
Ancaman itu tentu membuat Damar kewalahan "Jangan celat marah biar aku coba bicara sama ibu" Bergegas keluar kamar.
"Apa? Yang benar saja istrimu itu masa ibu harus masak untukny, tidak sudi aku. Memang dia pikir aku itu babunya enak saja main suruh suruh" Tentu saja Ibu Rosidah menolak sebab sedari dulu dia tidak pernah berjibaku dengan dapur
Belutut di hadapan sang ibu"Ayolah bu tolong sekali saja ibu masak untuknya aku mohon"
Melihat sang putra seperti pengemis memintanya masak sesuatu, alhasil beliau mengiyakannya.
Mariana terlihat puas bisa mengerjai mertuanya "Tau rasa kamu, bergadaoan dengaku tentu tidak semudah itu"
__ADS_1