
Yandi hanya dapat berdiam diri melihat Agung yang ditinggal terkapar sendirian ditengah hutan yang sangat gelap oleh nano dengan perasaan ketakutan.
"Lepaskan kakiku dasar bodoh, kalau tidak aku juga akan ikut mati." Ucap Nano, sambil menginjak-injak tangan Agung yang hendak ditinggalkannya.
"Kumohon! Jangan tinggalkan aku sendiri disini." Sembari berlinangan air mata agung memohon kepada Nano agar tak meninggalkannya ditengah gelapnya hutan seorang diri karena kakinya yang tak dapat digerakkan akibat ulah dari ular gaib melilitnya, ternyata ular gaib tersebut merupakan jelmaan dari penunggu patung naga yang diinjak oleh Agung tadi pada saat ia mencari kayu bakar ditengah hutan.
Penunggu patung naga itu marah akibat tindakan yang dilakukan oleh keduanya yang telah merusak tempat tinggalnya.
Secara tiba-tiba Yandi tertarik ke alam bawah sadar oleh energi hitam yang sangat kuat dan bertemu dengan sosok siluman ular yang melilit kaki Agung yang tadi ia lihat didalam penglihatannya. Sosok silumuan ular itu tampaknya menyadari jika Yandi dapat melihat keberadaannya, Yandi berusaha untuk tetap tenang menghadapi situasi yang dapat mengancam nyawanya tersebut.
"Tampaknya ada sesorang yang begitu menarik perhatianku." Sosok siluman ular itu menghampiri Yandi seakan dia merasa penasaran dengan kemampuan yang dimiliki oleh Yandi.
Yandi mencoba untuk tetap diam dan tak melakukan tindakan apapun yang dapat mengusik siluman ular tersebut.
Perlahan demi perlahan siluman ular itu mendekati Yandi "Siapa dirimu, kenapa aku sangat begitu tertarik dengan aura yang dipancarkan dari dalam tubuhmu."
Tanpa sepatah sekatapun Yandi tak menggubris perkataan dari siluman ular itu dan tetap tidak melakukan gerakan sedikitpun, berharap agar siluman ular
itu cepat menjauh dari dirinya.
"Sampai kapan sihh! Siluman ular itu akan tetap berada disini." Didalam pikirannya Yandi menggerutu terhadap siluman ular itu, karena tak kunjung segera pergi dari hadapannya.
Meski siluman ular itu dapat merasakan aura dari Yandi namun tampaknya dia tak dapat melihat keberadaanya "Haaa! Aroma yang begitu nikmat, aku ingin segera menikmatinya."
__ADS_1
"Aku sudah tak sabar lagi!" Ucap Siluman ular itu dengan begitu tertariknya kepada Yandi.
Lantas karena merasa dirinya terancam serta tersudut oleh siluman ular tersebut, Yandi tidak memiliki pilihan lain selain melawan makhluk itu.
Yandi sadar hal itu mustahil dilakukan oleh orang yang baru pertama kali mengeluarkan sebagian kemampuan medium seperti dirinya.
"Sial! Mau tidak mau aku harus menghadapinya, jika tidak dirikulah yang akan celaka." Ucap Yandi menggerutu didalam pikirannya.
Sambil memikirkan cara untuk melepaskan diri dari cengkraman siluman ular itu, Yandi pun segera mengambil langkah untuk menyerang secara langsung ke kepala bagian atas dari siluman ular tersebut.
"Yahhh! Rasakan ini." Yandi memukulnya menggunakan tangan kanannya yang merupakan tangan terkuatnya pada saat ia bertarung.
Ditengah-tengah saat pukulan Yandi hendak mengenai kepala bagian atas siluman ular, secara spontan Yandi terkejut dengan reflek yang tiba-tiba diberikan oleh siluman ular tersebut.
"Haa-Haa...! Akhirnya aku dapat menangkapmu, sekarang kau akan menjadi makanan terspesial yang pernah kumakan." Ucap Siluman ular itu dengan berteriak, lalu Yandi pun tak kehabisan cara untuk meloloskan diri dari siluman jahat yang ingin sekali memakannya tersebut.
Yandi pun mencoba untuk melenturkan dirinya agar dapat melonggarkan tubuhnya dari lilitan siluman ular itu, tetapi makhluk tersebut seperti menyadari maksud serta tujuan yang akan dilakukan oleh Yandi, yang tanpa Yandi sadari ular tersebut telah terlebih dahulu mengencangkan lilitannya ke tubuh Yandi. Hal itu spontan membuat tubuh Yandi merasa sangat kesakitan dan susah sekali untuk bernafas karena lilitan yang sangat kencang tersebut.
Yandi merasa sangat heran meski ini hanyalah dunia alam bawah sadar, Namun sensasi rasa sakit yang dirasakannya sangatlah nyata "Kenapa keadaanya bisa jadi seperti ini! Bukankan ini hanyalah dunia mimpi."
Yandi yang tak bisa bernafas dengan baik karena lilitan dari siluman ular yang amat kuat, seketika langsung pingsan.
Siluman ular yang menjadi bahwa Yandi telah tak dapat berbuat apa-apa serta saat ini telah pingsan.
__ADS_1
"Haa...! Akhirnya sekarang kau sudah menyerah, dengan begini aku bisa leluasa memakan tubuhmu." Lalu meregangkan lilitannya agar membuatnya leluasa untuk hendak memakannya. Namun sesuatu hal yang terduga terjadi, Yandi yang pada awalnya terlihat lemas pingsan serta tak berdaya. Seketika bangkit dan melepaskan dirinya dari lilitan siluman ular tersebut, lalu Yandi pun lansung menendang bagian atas kepala dari siluman ular yang saat itu sedang lengah.
"Haa...." Yandi terbangun, lalu menendang siluman ular yang tengah lengah dengan sekuat tenaga. Tampaknya serangan yang dirinya berikan berefek pada si siluman ular tersebut yang membuatnya langsung ambruk.
Seketika Yandi pun melepaskan dimensi ruang mimpi yang diciptakan oleh siluman ular tersebut, yang akhirnya membawanya kembali ke alam nyata atau bisa dikatakan sebagai alam kesadaran.
Setelah terbebas dari belenggu si siluman ular tesebut, Yandi lalu melihat kearah pohon yang dipegangnya diawal tadi. Ternyata pohon yang sebelumnya dirinya pegang merupakan bagian tubuh dari jelmaan siluman ular yang baru dirinya kalahkan, siluman ular itu terlihat meronta-ronta kesakitan karena kepala bagian atasnya robek yang tampaknya disebabkan serangan yang dilancarkan oleh Yandi tadi pada saat di di dimensi ruang mimpi.
Yandi yang melihat hal itu pun tak ingin melewatkan kesempatan yang hanya akan datang sekali ini saja.
Yandi pun berjalan mendekati siluman ular yang sedang terkapar "Hmm...! Tampaknya sedari tadi kau terus berkata ingin memakanku."
Siluman ular itu terus saja mengerang kesakitan, seakan ia tak memperdulikan Yandi yang tengah berjalan menghampiri dirinya.
"Bagaimana kalau sekarang aku ubah peraturannya! Jadi jika aku yang akan memakanmu, kau tidak boleh protes kan." Ujar Yandi dengan ekspresi wajah dingin. Pada saat yang bersamaan ditangannya tiba-tiba memancarkan aura hitam yang sangat pekat, lalu seketika tangan yang memancarkan aura hitam tersebut ia arahkan kebagian atas kepala yang tadi terlihat agak robek. Membuat kepala siluman Ular tersebut terbelah menjadi 2 bagian, yang akhirnya membuat siluman ular tersebut menghilang seketika.
"Akhirnya aku berhasil mengalahkan siluman ular brengsek itu." Ujar Yandi dengan nafas yang begitu cepat yang disebabkan oleh faktor kelelahan karena telah mengeluarkan seluruh energi yang dimilikinya.
Lalu Yandi mendekat ke lokasi dimana siluman ular tadi itu menghilang dan dirinya menemukan sebuah permata berwarna merah kecoklatan yang setelah dipegang ternyata didalamnya tersimpan sebuah petunjuk tentang keberadaan Nano serta Agung.
"Ahhh!" Yandi terkejut karena setelah memegang permata itu tiba-tiba dirinya ditunjukkan ke suatu tempat yang belum pernah dilihat sebelumnya. Ditempat tersebut Yandi seperti diarahkan ke suatu tempat oleh segerombolan kunang-kunang, Yandi pun mengikuti kunang- kunang dan tibalah dirinya disebuah tempat yang dimana disekitar tempat tersebut penuh dengan bercak darah yang menempel pada pepohonan serta dedaunan yang ada disana.
Lalu setelah melihat semua hal itu tiba-tiba dirinya kembali ketempat sebelumnya, tempat dimana ia mengalahkan siluman ular serta menemukan permata yang dipegangnya.
__ADS_1
"Ternyata permata ini menyimpan sebuah petunjuk tentang keberadaan mereka berdua, yang artinya tempat yang aku lihat tadi...!" Setelah mencoba berfikir semena, Yandi langsung pergi mencari lokasi yang ada di penglihatannya tadi.