
Aku berpikir keras.
"Dimana aku?"
Aku melihat sekeliling ruangan yang penuh dengan ukiran-ukiran klasik gaya eropa dan duduk perlahan. Setelah melihat-lihat ruangan dengan seksama, aku perlahan meletakkan tanganku pada perutku.
"Apa..."
Aku dengan cepat menekan-nekan perutku. Kenapa tidak sakit? Aku ingat terakhir kali terkena tusukan pisau di perut. Apakah aku koma terlalu lama sampai-sampai luka di perutku sudah sembuh?
"Oh..."
Aku langsung bangun dari tempat tidur dan mengangkat bajuku. Tidak ada bekas luka sama sekali, dan perutku terlihat sangat lembut.
'Tunggu, lembut? Dimana otot-otot perutku yang berharga?'
Aku melangkah ke depan cermin dan melihat bahwa tubuh yang ada di pantulan cermin saat ini bukanlah tubuhku yang sebelumnya.
"Apa-apaan ini..."
Tubuh di depanku terlihat sangat kecil, terlalu pendek dan lemah. Kulitnya terlalu lembut, sangat berbeda dengan tubuhku yang sebelumnya.
Aku menatap wajah di depanku dengan seksama. Ini jelas bukan wajahku, wajah asliku sangat kasar dan berwarna kecoklatan. Sementara wajah ini, kulitnya sangat putih dan halus demgan sedikit merah muda di bagian pipi, seperti memakai perona wajah.
Dilihat dari wajahnya, sepertinya orang ini masih remaja. Dia memiliki rambut blonde yang panjangnya sebahu, dan mata berwarna merah yang indah. Terdapat tahi lalat di sudut bawah mata kiri. Ini bukanlah tipe wajah yang tampan maskulin, tapi lebih condong ke arah cantik.
Jelas sekali bahwa jiwaku berada di tubuh orang lain saat ini. Ingatan terakhirku adalah aku menahan sakit pada perutku yang tertikam. Aku merasa marah saat mengingat bahwa sahabatku sendiri yang menikamku saat itu.
'Jadi... apakah ini yang disebut bertransmigrasi?'
Aku sering membaca novel dimana karakter utama yang mati akan masuk ke dalam novel yang dia baca. Kurasa kasusku saat ini sama seperti kisah yang ada di novel-novel itu. Sayangnya, aku tidak seberuntung mereka yang tau jalan cerita novel tersebut.
'Jadi... Tubuh siapa ini?'
Aku masih tidak percaya pada pemikiranku, masih sedikit berharap bahwa ini adalah mimpi. Aku mencubit lengan kananku dengan keras, tapi yang kurasakan hanya rasa sakit yang nyata.
Aku benar-benar sudah berada di belahan dunia lain.
Aku mondar mandir dan memeriksa sekeliling ruangan, tapi tidak mendapatkan petunjuk apapun. Satu-satunya yang aku tau adalah pria yang tubuhnya sudah kuambil alih ini sepertinya seorang bangsawan. Ruangan ini mirip dengan kamar para bangsawan yang aku lihat di film-film.
'Yah, setidaknya saat ini aku menjadi orang kaya.'
__ADS_1
Aku berencana untuk keluar dari kamar sampai salah satu benda diatas meja menarik perhatianku. Aku berjalan mendekat dan melihat apa benda yang berkilau itu.
'Ini adalah batu zamrud?'
Aku melihat batu berwarna merah yang sangat indah, tanganku perlahan mengambil batu tersebut.
Namun tidak tahu apa yang terjadi, saat tanganku menyentuh batu itu, tiba-tiba sesuatu yang tidak terlihat melukai tanganku. Darah menetes dan mengenai batu itu, dan tiba-tiba aku merasakan sakit kepala yang sangat parah.
"Ugghh..."
Ini terlalu menyakitkan, seolah kepalaku dibelah menjadi dua secara paksa.
Nafasku mulai tersengal-sengal, dan aku perlahan kehilangan kesadaran.
..
Aku tidak tahu berapa lama aku tak sadarkan diri. Saat aku bangun, hari sudah gelap.
Aku perlahan bangkit dari lantai dan berjalan menuju temoat tidur. Aku duduk diatas tempat tidur dan berusaha untuk mencerna semua informasi yang dipaksa masuk ke otakku. Informasi tentang pemilik tubuh ini.
Aku mengambil pena dan kertas yang tergeletak di meja samping tempat tidur, dan mulai meringkas semua informasi yang ada di kepalaku.
Dari ingatan yang kudapat, keluarga ini adalah keluarga yang yang harmonis. Seluruh keluarga meyayangi satu sama lain. Selain itu, keluarga ini memiliki kekayaan yang berlimpah, ada tambang dan perkebunan yang tersebar diseluruh kekaisaran Kainst.
Hanya ada satu masalah yang membuatku pusing. Kavi adalah anak pertama marquis Francheya, dan dia adalah orang dengan gangguan mental.
Menurut ingatan yang kudapat, Kavi awalnya adalah anak yang tumbuh seperti orang biasa. Namun pada hari ulang tahunnya yang ke 7, dia tidak sengaja memakan sesuatu yang membuatnya hampir mati. Untungnya, dia berhasil diselamatkan.
Namun sejak saat itu mental anak ini terganggu, dia sering mengamuk tanpa alasan. Ia dukurung di kamar ini setelah mengamuk dan menghancurkan pesta dansa yang diadakan oleh Duke Malcie.
Saat ini Kavi sudah berumur 16 tahun. Itu berarti sudah 9 tahun sejak ia terakhir kali berinteraksi dengan dunia luar.
Aku meyakinkan diriku bahwa ini adalah hal yang baik. Itu berarti aku tidak perlu bersandiwara dan berpura-pura sebagai Kavi yang asli di depan orang lain. Hanya perlu diam di kamar selama sisa hidupku, menikmati hidup dilayani oleh para pelayan di rumah Marquis. Makanan akan diantarkan setiap 3 kali sehari, aku hanya perlu diam di kamar dan menjalani kehidupan dengan damai.
Ini adalah hal yang bagus bagiku, yang seorang introvert. Aku tidak perlu berinteraksi dengan para bangsawan yang meiliki nama-nama aneh yang sulit untuk disebut dan diingat.
Tok..tok..
Tiba-tiba ada suara ketukan di pintu, aku berjalan dan membuka pintu kamar.
"Tuan Kavi, makan malam mu."
__ADS_1
Seorang laki-laki yang tampak muda, sepertinya seumuran dengan pemilik tubuh ini, berdiri dengan troli penuh makanan di depanku. Jika aku tidak salah, dia pasti Theon, satu-satunya pelayan sekaligus teman yang melayani Kavi setiap harinya.
Theon memiliki rambut hitam sebahu, dengan mata berwarna hijau dan tinggi badannya hampir sama dengan Kavi, dia hanya sedikit lebih pendek. Wajahnya bisa dibilang cukup imut, terlihat seperti anak-anak, tapi aku yakin usia kami seharusnya hampir sama.
"Bawa masuk."
Aku memberi ruang agar dia bisa mendorong troli masuk ke kamar. Melihat makanan yang ada diatas troli membuat perutku tidak sabar, aku sangat lapar dan makanan-makanan itu terlihat sangat lezat.
"Kau biasanya hanya akan menyahut saat aku mengetuk pintu. Kenapa malam ini repot-repot membuka pintunya sendiri?"
Theon berhenti bicara formal padaku saat kami hanya berdua, karena dia dan Kavi sudah bersama sejak kecil. Ayahnya adalah salah satu orang kepercayaan Marquis, sehingga mereka bisa dikatakan sedekat saudara.
"Aku kebetulan sedang berdiri di depan pintu."
Aku lupa bahwa bangsawan tidak perlu membuka pintu jika ada yang mengetuk. Mereka hanya perlu menjawab, dan pelayan akan membuka pintu untuk mereka.
"Kau pasti menungguku membawakan makanan, kan? Maaf hari ini sedikit terlambat." Theon menyusun makanan yang ada di troli keatas meja.
Untungnya dia percaya dengan perkataanku.
"Yah, aku sangat lapar." Aku duduk di depan meja dan mengambil sendok untuk mulai makan.
"Makan dulu? Kau tidak minum?" Theon memandangku dengan heran.
Lagi-lagi aku lupa bahwa Kavi akan membasahi mulutnya dengan air terlebih dahulu sebelum makan, ia sudah melakukan itu sejak masih kecil.
"Ah, ya. Aku terlalu lapar sampai lupa untuk minum lebih dulu. Ini pertama kalinya aku makan terlambat."
"Maafkan aku, ini salahku karena terlalu asik berkebun." Theon membukukkan tubuhnya padaku.
"Tidak masalah, kau tidak perlu membungkuk seperti itu." Aku memberi Theo kue berbentuk bunga yang terlihat indah. "Ambil ini untukmu."
Ini adalah salah satu kebiasaan Kavi. Dia selalu tidak tahan jika melihat temannya merendahkan diri di depannya, dan akan memberikan sesuatu untuk menghiburnya.
"Terima kasih. Kalau begitu aku akan keluar dan membiarkanmu makan dengan tenang. Aku akan kembali setelah satu jam." Theon mengambil kue dari tanganku dan berjalan keluar.
Saat pintu kamar ditutup, aku tanpa basi basi langsung melahap semua makanan di depanku. Seperti yang kuduga, rasanya sangat lezat.
Aku tidak pernah makan makanan selezat ini dalam hidupku. Harga makanan seperti ini akan sangat mahal, dan aku bukan orang yang bisa menghabiskan banyak uang hanya untuk makan. Yang terpenting bagiku adalah rasa kenyang.
Ternyata menjadi tuan muda yang gila tidak terlalu buruk, aku tidak akan pernah kelaparan selama sisa hidupku. Dengan ini aku siap menjalani kehidupanku yang damai dan bermalas-malasan di kamar di masa depan.
__ADS_1