I Became The Lunatic Son Of The Marquess

I Became The Lunatic Son Of The Marquess
3. Pembunuh Bayaran


__ADS_3

Aku terbangun dari tidurku setelah mendegar suara-suara pelan di balkon.


'Sepertinya ada orang di luar. Apakah itu pencuri?'


Aku melihat siluet dua orang yang sedang berdiri dibelakang tirai. Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu.


'Sepertinya memang ada pencuri.' Pikirku.


Aku memutuskan untuk menutup diriku dengan selimut dan berpura-pura tidur.


Lebih baik tetap diam dan berpura-pura tidak tahu apa-apa tentang pencurian ini.


Bahkan jika aku berteriak atau lari menuju pintu untuk memanggil penjaga, para pencuri itu mungkin akan sadar dan merasa terancam, lalu kemungkinan mereka akan langsung menyerang. Aku bisa saja mati ditikam tanpa sempat mendapatkan bantuan.


Aku menajamkan telingaku pada suara langkah kaki yang semakin dekat dengan tempat tidurku.


'Ambil saja semua yang kalian inginkan dari kamar ini, dan pergi dengan cepat. Lagipula Marquis tidak akan jatuh miskin hanya dengan kehilangan sedikit permata yang ada disini.'


Langkah kaki itu berhenti tepat di samping tempat tidurku. Aku terus menunggu, namun orang itu sepertinya tidak berniat untuk pindah.


'Tidak ada apa-apa disini. Kalian harus pergi memeriksa lemari. Ada beberapa permata disana.' Aku berteriak dalam hati.


Tiba-tiba aku merasakan sesuatu menarik selimutku. Aku secara refleks membuka mata dan melihat kilatan pisau berada tepat di leherku, siap untuk memotongnya.


Aku mengangkat pandanganku dan bertemu dengan wajah yang tertutup oleh topeng. Aku sama sekali tidak tahu siapa orang ini.


Untungnya, aku secara refleks langsung menendang selangkannya dengan lutuku. Sepertinya meskipun sudah berpindah tubuh, pikiranku masih mengingat gerakan yang sering aku lakukan di kehidupan sebelumnya.


"Ugh.." Orang itu mengerang dan dengan lengah menjauhkan pisau dari leherku.


Aku langsung bangkit dari tempat tidur dan berlari secepat yang kubisa menuju balkon.


'Sial.'


Aku melihat masih ada satu orang yang sepertinya memang bertugas untuk mengawasi keadaan sekitar, berdiri di balkon dan menatap langsung kearah mataku.


Orang itu bergegas mengeluarkan pisau di tangannya, dan langsung menerkam kearahku. Untungnya aku masih sempat memghindar.


Tanpa pikir panjang, aku langsung melompat turun dari balkon. Melupakan letak kamarku yang berada di lantai dua, dan mendarat dengan keadaan yang tidak siap, aku merasakan sakit yang menyengat di pergelangan kaki kiriku.


'Shh...' Aku sedikit mendesis, sepertinya kaki kiriku terkilir.


Tidak memberiku waktu untuk menyesuaikan rasa sakit, kedua orang itu dengan lihai ikut melompat turun dari balkon.


Aku memaksakan diriku untuk terus berlari kearah hutan di belakang mansion.


Sepanjang jalan, aku terus melihat sekeliling, 'Kenapa tidak ada satupun penjaga yang menjaga di luar mansion?'


Sambil terus berlari, air mata terus menetes dari mataku. Pergelangan kakiku sangat sakit.


Di kehidupan sebelumnya, aku sudah terbiasa dengan cidera seperti ini. Tapi kali ini kenapa terasa sangat menyakitkan? Mungkin karena tubuh ini memang cukup lemah sehingga cidera kecil seperti ini bisa membuatku menangis.


Tidak ada waktu untuk melihat apakah aku berhasil menjaga jarak dengan kedua orang itu. Hanya satu yang ku yakini, mereka bukanlah pencuri. Mereka adalah pembunuh bayaran dan tugasnya adalah membunuhku.

__ADS_1


'Tapi kenapa? Aku hanyalah putra Marquis yang gila dan tidak berharga. Dengan kematianku, Marquis tidak akan menderita kerugian apapun.'


Tanpa kusadari, aku sudah berlari jauh ke dalam hutan. Pepohonan sudah semakin lebat, membuat sinar bulan tertutupi olehnya. Hampir tidak ada cahaya disini, membuatku beberapa kali menabrak semak-semak berduri.


'Kurasa tubuhku sudah dipenuhi oleh luka-luka akibat semak-semak tadi.'


Namun semakin jauh aku berlari, semakin dekat juga suara langkah kaki di belakangku.


'Mereka sudah semakin dekat. Apa yang harus kulakukan?'


Aku panik, aku sudah pernah mengalami kematian sekali. Sekarang akhirnya bisa hidup kembali sebagai orang kaya, tapi justru hanya bertahan selama tujuh hari.


Bruk...


'Aku menabrak sesuatu.'


Aku hampir terjengkal karena menabrak sesuatu. Namun sebuah tangan tiba-tiba meraih pinggangku dan menahanku agar tidak terjatuh.


"Tolong aku. Ada orang yang ingin membunuhku." Tanpa melihat siapa orang itu, aku langsung mencengkram bajunya dan meminta pertolongan.


Orang itu menepuk kepalaku dan berjalan meninggalkanku di belakang.


Aku mengangkat kepalaku dan melihat bagian belakang orang itu. Itu adalah seorang pria.


Pria itu memarik pedang dan dengan cepat menebas kedua pembunuh bayaran yang berhasil menyusulku.


Aku tercengang, tubuhku tiba-tiba kaku dan tidak bisa bergerak. Dia membunuh dua orang dengan sangat mudah, memotong leher mereka hingga terlepas. Mereka berdua mati tanpa perlawanan sama sekali.


Pria itu memasukkan pedangnya, yang berlumuran darah kedalam sarungnya. Dia lalu berbalik dan melihat ke arahku dengan tatapan dingin. Sinar bulan secara kebetulan menyinari sosok pria itu, sehingga aku bisa melihatnya dengan jelas.


Tubuhnya juga terbentuk dengan bagus, dia pasti melakukan olahraga dengan baik. Bahunya sangat lebar dan terlihat kuat. Kulitnya juga sedikit kecoklatan, cukup sexy. Aku melihat tubuhnya dengan sedikit iri, aku berpikir untuk mulai berlatih agar bisa mendapatkan tubuh seperti itu juga.


"Ekhem." Pria itu berdehem.


Aku mengalihkan pandanganku dari tubuhnya dengan malu. Dia pasti merasa tidak nyaman melihatku memandangi tubuhnya sejak tadi.


"Apa yang terjadi?" Pria itu bertanya padaku.


"Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba kedua orang itu masuk ke kamarku dan berusaha untuk membunuhku."


Aku menatap wajah pria di depanku. Pria itu cukup tampan, tidak, tapi sangat tampan. Dia memilili rambut berwarna abu-abu terang. Matanya juga memiliki warna yang sama dengan rambutnya, namun warnanya sedikit lebih gelap.


"Putra Marquis Ruth?"


Aku menatap pria itu dengan terkejut. Bagaimana dia bisa langsung sampai pada kesimpulan itu.


"Apa maksudmu?" Aku bertanya padanya seolah-olah tidak mengerti.


"Dua orang itu adalah pembunuh bayaran di rumah Marquis, mereka tidak mungkin membunuh orang yang tidak memiliki status." Tatapan pria itu sangat dingin, membuatku sedikit bergidik.


"Yah, kau benar. Aku adalah putra tertua Marquis." Aku merasa tidak perlu menyembunyikan identitasku darinya, lagipula dialah yang sudah menyelamatkanku.


"Kudengar putra tertua Marquis itu gila." Pria itu berjalan mendekat dan berhenti tepat di depanku.

__ADS_1


"Bukan gila. Hanya saja aku memiliki mental yang tidak stabil."


Aku merasa sedikit tidak nyaman. Jarak kami terlalu dekat sehingga aku bisa mencium bau darah dari pedang yang sudah ada di sarungnya dengan jelas.


"Sepertinya kakimu terkilir." Pria itu tidak melanjutkan untuk membahas soal kegilaanku, tapi mengalihkan pembicaraan ke arah lain.


Diingatkan oleh pria itu, rasa sakit yang entah sejak kapan hilang, tiba-tiba kembali menyerang sarafku.


Aku langsung terduduk kesakitan, pergelangan kakiku sudah sangat biru dan sedikit bengkak.


"Aku antar kembali ke mansion?" Pria itu mengulurkan tangannya ke arahku.


Sebenarnya aku ingin menolak tawarannya. Namun rasa sakit di pergelangan kakiku semakin parah, sehingga aku memutuskan untuk menganggukkan kepalaku.


Pria itu meraih tangaku dan secara tiba-tiba menggendongku dengan gaya bridal.


"Tunggu, kau bisa menggendongku di punggungmu." Sebagai laki-laki sejati, aku merasa tidak nyaman digendong dengan gaya ini.


"Begini lebih mudah bagiku untuk membawamu."


Pria itu mulai membawaku kembali keluar dari hutan. Perjalan kami ternyata cukup lama. Tanpa kusadari, aku masuk terlalu jauh ke dalam hutan.


Sepanjang jalan menuju mansion, kami tidak mengatakan apa-apa lagi. Suasana diantara kami menjadi sangat canggung, apalagi dengan aku yang digendong dengan gaya seperti ini, membuatku semakin tidak nyaman.


Lagi-lagi sepanjang jalan, aku tidak menemukan satupun penjaga di luar mansion.


'Ini aneh. Mereka seharusnya berjaga sambil berkeliling di sekitar mansion setiap malam. Tapi malam ini aku tidak melihat satupun penjaga diluar.'


'Mansion juga terlihat sangat sunyi, seolah-olah tidak ada orang di sekitarnya.'


Aku tenggelam dalam pikiranku, hingga tanpa sadar kami sudah berada di pintu masuk mansion.


"Kita sudah sampai."


Pria itu menurunkanku perlahan, sambil tanganya membantuku agar dapat berdiri dengan seimbang.


Setelah aku mengurangi tekanan pada kaki kiriku, dan berhasil menyeimbangkan tubuhku, aku dengan perlahan mendorong tangannya yang berada di pinggangku.


"Kalau begitu aku pergi." Pria itu langsung berbalik dan berjalan pergi.


"Tunggu. Siapa namamu?" Aku dengan cepat menanyakan namanya.


Aku harus tahu nama orang yang sudah menyelamatkanku ini.


Pria itu berhenti, tanpa menoleh kearahku, dia berkata, "Kau tidak perlu tahu."


"Setidaknya aku harus tahu namamu dan dimana kau tinggal. Aku harus memberikan sesuatu sebagai ucapan terima kasih."


"Jika kau benar-benar ingin tahu, maka datanglah ke pesta pertunangan yang akan diadakan di istana. Aku akan berada disana hari itu, dan aku akan mengatakan apa yang ku inginkan, sebagai ucapan terima kasih darimu."


Pria itu berjalan cepat, dan tidak lama sampai aku tidak bisa melihatnya lagi.


Melihat pria itu pergi, aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam mansion.

__ADS_1


'Bahkan di depan pintu masuk, tidak ada satupun penjaga yang berjaga. Ini benar-benar aneh.'


__ADS_2