I Became The Lunatic Son Of The Marquess

I Became The Lunatic Son Of The Marquess
2. Hari Yang Tenang


__ADS_3

Aku membuka mataku dan menggeliat malas di atas tempat tidur. Aku masih ingin melanjutkan tidur, namun cahaya matahari sudah tidak bisa disembunyikan lagi dan langsung mengenai wajahku, membuatku mau tidak mau harus bangun.


Setelah memakan sarapan yang dibawa oleh Theon, aku duduk di meja sambil membaca buku.


Sudah seminggu sejak aku datang ke dunia ini. Pada hari keduaku disini, aku meminta Theon untuk membawakan banyak buku. Aku akan bosan jika tidak melakukan apa-apa di kamar, jadi membaca buku adalah hobi baruku saat ini.


Selama seminggu ini juga aku belum pernah bertemu dengan anggota keluarga Marquis. Menurut apa yang diceritakan Theon, saat ini orang tua dan adik-adik Kavi sedang berada di tempat lain untuk liburan.


'Yah, lebih baik tidak usah bertemu sama sekali. Aku akan bingung harus bereaksi seperti apa jika bertemu mereka.'


Tapi aku tahu, cepat atau lambat, mau tidak mau, suatu hari nanti aku pasti akan berhadapan dengan mereka. Jadi aku sudah sedikit mempersiapkan diri.


Aku bangkit dan berjalan menuju balkon. Mansion ini berdiri di tanah yang sangat luas. Sepanjang mataku melihat, hanya ada kebun dan hutan yang mengelilingi mansion ini.


'Mansion ini sangat besar. Aku bahkan tidak bisa melihat dimana gerbang masuknya.'


Tok...tok...


Itu pasti Theon. Aku mengangkat kepalaku dan melihat matahari sudah setinggi kepala. Tidak terasa sudah waktunya makan siang.


"Masuklah."


Theon membuka pintu dan masuk membawa troli dengan berbagai macam hidangan seperti biasa.


"Kau membaca buku sejarah lagi. Belakangan ini kau sepertinya sangat tertarik dengan sejarah kekaisaran Kainst, ini sangat berbeda dengan dirimu yang dulu." Theon melirik buku tentang sejarah kekaisaran Kainst yang baru saja aku baca.


"Yah, aku mulai merasa bosan setelah dikurung selama bertahun-tahun tanpa melakukan apa-apa disini." Aku menutup pintu balkon dan berjalan mendekati Theon.


"Maaf Kavi, orang tuamu melakukan ini untuk keselamatanmu."


Aku tahu itu. Dalam ingatan Kavi, orang tuanya sangat menyayanginya, meskipun dia mengalami gangguan mental.


Mereka mengurung Kavi di kamar ini untuk menyembunyikannya dari dunia luar yang kejam.


Di era dimana pengetahuan masih belum seluas duniaku sebelumnya,  biasanya bangsawan akan membunuh keluarga mereka yang memiliki kecacatan.


Ditambah, Kavi sudah pernah mengamuk di depan umum sebelumnya. Sehingga banyak bangsawan yang menyarankan agar Kavi dihabisi, supaya tidak merusak nama baik Marquis.


Untungnya, Marquis dan istrinya tidak menghabisi Kavi, yang bisa mereka lakukan hanyalah mengurung Kavi di kamar ini agar tidak terlihat oleh dunia luar.


"Aku tidak pernah menyalahkan mereka. Aku justru sangat berterima kasih pada mereka."

__ADS_1


Ya, terima kasih karena sudah membiarkan Kavi hidup sehingga aku bisa masuk ke tubuhnya. Jika Kavi tidak ada lagi di dunia ini, aku mungkin akan terbangun di tubuh seorang budak.


"Kau memang selalu pengertian, dan sepertinya keadaan mentalmu sudah cukup baik. Kau belum pernah menghancurkan kamar ini selama seminggu penuh." Theon memandang Kavi dengan sukacita.


"Kuharap kau akan sembuh secepatnya." Tambah Theon.


Ya! Aku lupa bahwa aku harus berpura-pura gila. Aku seharusnya mengamuk beberapa kali selama seminggu ini, seperti apa yang dilakukan Kavi sebelumnya.


"Kuharap juga begitu." Sahutku.


Sebenarnya, kuharap orang-orang tidak pernah tahu bahwa Kavi saat ini tidak lagi mengalami gangguan mental.


Aku harus terus berpura-pura gila, agar kehidupan nyaman yang kujalani selama seminggu ini dapat terus berlanjut.


"Aku akan keluar dan kembali setelah satu jam."


Theon melangkah keluar, meninggalkanku dengan pikiran penuh rencana untuk beberapa hari kedepan.


'Mari berpura-pura kambuh besok. Aku akan menghancurkan barang-barang di kamar ini.' Pikirku.


Setelah beberapa saat terdiam, aku pun mulai memakan makan siangku. Seperti biasa, koki di mansion ini sangat ahli dalam hal memasak. Aku selalu merasa puas memakannya.


..


"Aku menemukan buku lain tentang keluarga kekaisaran yang jarang diketahui oleh rakyat biasa. Buku ini memiliki semacam rahasia yang hanya diketahui oleh para bangsawan." Theon dengan semangat memberikan buku yang ada di tanganya padaku.


"Terima kasih Theon, aku akan membacanya setelah ini."


Aku merima buku yang diberikan Theon dengan senang hati.


Setelah memberikan buku itu padaku, Theon  membereskan peralatan makan siangku, dan langsung pergi setelahnya.


Aku mentap buku yang ada di tanganku. Sampulnya masih sangat rapi, sepertinya buku ini adalah keluaran terbaru.


Aku berjalan perlahan menuju sofa, lalu duduk dengan nyaman. Aku membuka halaman pertama pada buku, dan mulai membacanya dengan santai.


..


Aku dikejutkan dengan kehadiran Theon yang tiba-tiba sudah berada di depanku.


"Apa kau terkejut? Kau terlihat membaca buku itu dengan sangat serius, sampai-sampai tidak mendengarku masuk."

__ADS_1


Theon melangkah ke sudut dan mulai menyalakan lampu.


Saat itulah aku sadar, sudah senja. Aku terlalu fokus membaca sampai-sampai tidak sadar bahwa hari sudah semakin gelap.


"Membaca buku dengan penerangan yang minim tidak baik untuk matamu." Ucap Theon.


"Apakah buku itu sangat bagus? Kau sepertinya sangat menikmati membacanya. Apakah ada sesuatu yang menarik tertulis disana?" Theon bertanya dan berjalan mendekat kearahku, dan berdiri di samping sofa.


"Ada banyak hal menarik. Bukankah kau yang membawakan buku ini padaku? Kau belum pernah membacanya?"


Aku melipat sedikit halaman pada buku itu, sebagai tanda agar aku bisa lanjut membacanya nanti.


"Buku itu adalah keluaran terbaru. Sangat sedikit bangsawan yang bisa membelinya. Karena banyak hal mengejutkan tentang keluarga kekaisaran yang tertulis di dalamnya. Mereka bilang seseorang dari istana lah yang menulis buku itu. Meskipun belum tentu 100% akurat, masih banyak yang percaya dengan apa yang terlutis di dalamnya."


"Dan kau tahu, dua hari yang lalu, buku itu resmi dilarang untuk dijual. Membuat orang-orang berspekulasi bahwa apa yang tertulis di buku itu adalah kebenaran, sehingga keluarga kerajaan takut dan mengelurkan perintah larangan" Theon menjelaskan dan menatapku dengan wajah serius.


"Kau beruntung aku sempat membelinya atas nama Marquis. Dan karena buku ini sangat spesial, aku tidak berani membacanya tanpa izin dari Marquis." Lanjut Theon.


"Lalu kenapa memberikannya padaku? Sudah dapat izin dari Marquis?" Tanyaku bingung.


"Tidak perlu khawatir. Marquis tidak akan marah hanya karena kau membacanya."


Aku mengangguk mendengarnya.


Isi dari buku yang baru saja kubaca memang cukup mengejutkanku. Aku sering melihat konspirasi-konspirasi antar bangsawan di film-film. Setelah membaca yang asli dengan mataku sendiri, aku merasa sangat pusing karena terlalu rumit bagiku untuk mencernanya.


"Aku akan ke dapur dan menyiapkan makan malam untukmu." Theon melangkah menuju pintu kamar.


Dia membuka pintu dan tiba-tiba berbalik menghadapku, "Oh, aku juga punya kabar gembira. Marquis dan yang lain diperkirakan akan sampai kesini lusa. Mereka pasti membawakanmu banyak hadiah, kau akan senang menerimanya."


Setelah mengatakan itu, Theon langsung menutup pintu kamar, meningalkanku sendirian di ruangan yang tiba-tiba terasa sangat hening.


Yah, tidak masalah. Cepat atau lambat aku memang harus berhadapan dengan keluarga Kavi. Lagipula selama seminggu ini aku juga sudah sedikit berlatih. Mengandalkan ingatan yang aku dapatkan, aku sudah berusaha untuk meniru perilaku Kavi yang asli.


Aku bangkit dari sofa, berjalan menuju tempat tidurku yang empuk. Aku langsung melemparkan diriku diatas tempat tidur dan mulai berguling-guling.


Tempat tidur ini sangat besar dan sangat nyaman. Ini adalah tempat tidur ternyaman yang pernah aku tiduri selama hidupku.


Aku menutup mata dan tersenyum senang. Berbaring dan menunggu sampai Theon datang untuk membawakan makan malamku.


Kehidupanku yang tenang selama seminggu, kuharap hari-hari seterusnya akan terus seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2