
'Terasa dingin, apa ini?'
Tidurku sedikit terganggu saat tiba-tiba sesuatu yang terasa dingin menyerang kepalaku. Aku membuka mataku perlahan dan melihat wajah khawatir Theon.
"Apakah aku membangunkanmu Kavi. Apakah ada yang tidak nyaman?." Tanya Theon.
"Aku-"
Tenggorokanku sangat keringn dan sakit, aku tidak bisa bicara saat ini.
Melihat itu, Theon dengan cepat mengambil cangkir di atas meja. Dia membantuku bangun dan bersandar pada bantal, lalu membawakan air ke depan mulutku.
Aku menyesapnya perlahan, 'Ini adalah teh, dan ini hangat. Sangat nyaman.'
Setelah merasa cukup, aku menjauhkan wajahku dari cangkir teh.
Theon yang mengerti menjauhkan cangkir dari mulutku dan menaruhnya kembali ke atas meja.
Aku berdehem sedikit, dan merasa tenggorokanku sudah tidak sekering tadi.
"Apa yang terjadi? Aku merasa sangat tidak nyaman."
Tepat setelah aku bertanya, sebuah kain lembab tiba-tiba terjatuh dari atas kepalaku.
"Apa ini?" Tanyaku.
Theon mengambil kain itu, "Ini adalah kompres. Saat aku membawakanmu sarapan tadi, aku berteriak beberapa kali, tapi kau tidak menyahut sama sekali. Karena khawatir, aku langsung masuk dan mendapati bahwa kau sedang demam." Ucap Theon.
Aku tidak terlalu terkejut mendengarnya. Tubuh ini sangat lemah, wajar akan terkena demam setelah apa yang terjadi tadi malam.
"Dimana sarapanku?" Tanyaku. Saat ini aku sudah merasa lapar.
"Aku mengembalikannya ke dapur dan meminta mereka memasakkan bubur untukmu. Baik untuk memakan bubur saat demam. Seharusnya sudah jadi sebentar lagi." Jawab Theon.
Aku mengangguk dan memejamkan mataku, 'demam benar-benar tidak enak.'
Tidak lama kemudian, seorang pelayan datang mengantarkan buburku. Theon berjalan ke depan kamar untuk mengambilnya. Dia membawa sebuah meja kecil, dan meletakannya di depanku.
Setelah meletakkan bubur diatas meja yang ada di atas tempat tidur, Theon berkata, "Kau bisa makan sendiri, atau haruskan kusuapi?"
Aku dengan cepat mengambil sendok dan menjawab, "Aku akan makan sendiri."
"Baiklah." Sahut Theon. Dia lalu duduk di bangku dan menatapku makan.
__ADS_1
"Kenapa tidak keluar?" Tanyaku.
"Kau demam. Aku harus memastikan kau menghabiskan bubur itu dan kemudian membantumu minum obat." Jawab Theon.
"Obat?"
"Ya, obat. Setelah aku menemukan bahwa kau demam, aku langsung pergi memanggil dokter, dan kebetulan dokter juga dalam perjalanan kesini untuk memberikan obat untuk cideramu. Dia juga memberikan obat demam untuk kau minum." Jawab Theon.
"Oh." Sahutku.
Setelah menghabiskan buburku, Theon menyodorkan sendok yang didalamnya terdapat cairan berwarna hijau menjijikan.
"Apa ini?" Tanyaku jijik.
"Ini obatmu, kau harus meminumnya setelah makan." Jawab Theon.
Dengan terpaksa aku meminum cairan itu, obatnya terasa sangat pahit hingga membuatku hampir muntah.
"Kalau begitu ayo berbaring lagi agar aku bisa mengompresmu supaya demammu cepat reda. Marquis diperkirakan akan datang di sore hari, saat itu kau harus sudah lebih baik agar tidak membuat beliau khawatir." Ucap Theon.
Aku menurut dan membiarkan Theon membantuku berbaring, lalu meletakkan kompres air dingin di dahiku. Dia lalu membawa meja beserta mangkuk bubur keluar dari kamar.
Mungkin karena sedang demam ditambah dengan efek dari obat yang baru saja ku minum, tidak lama setelah berbaring, aku pun tertidur lagi.
..
Aku memutuskan untuk turun dari tempat tidur, lalu secara tiba-tiba merasakan sakit pada kaki kiriku. Aku akhirnya tersadar bahwa kakiku terkilir tadi malam, aku hampir melupakannya.
Aku berjalan dengan tertatih menuju balkon, ingin menghirup udara segar.
Setelah membuka pintu balkon, aku melangkah kearah kursi di sudut dan duduk. Tanpa sadar mataku melihat ke depan mansion dan melihat ada kereta yang berjalan mendekat.
Aku mengangkat pandanganku dan melihat je langit, 'sudah sore, itu pasti kereta Marquis.'
Aku kembali menatap kearah kereta, ingin melihat seperti apa rupa Marquis secara langsung, namun sayangnya pandanganku terhalang oleh tembok.
'Yah, mari kita tunggu saja. Cepat atau lambat dia pasti akan menemuiku, seperti yang dikatakan Theon.'
Aku duduk dengan tenang, menikmati angin sore yang menyegarkan, sampai suara perutku membuatku mengernyit tidak nyaman.
'Ini sudah sore, apakah Theon akan membawakan makananku. Atau aku harus menunggu sampai jam makan malam?'
Jika saja Marquis dan keluarganya masih belum datang, aku tidak akan segan-segan pergi ke dapur untuk mencari makanan.
__ADS_1
Tapi sayangnya, Marquis baru saja tiba di mansion, jika aku keluar, aku mungkin akan langsung bertemu dengan mereka.
'Meskipun sudah berlatih bagaimana aku harus bersikap saat bertemu Marquis nanti, aku masih merasa gugup. Ditambah dengan apa yang terjadi tadi malam membuatku menjadi sedikit takut pada Marquis.
..
Saat waktu makan malam tiba, akhirnya Theon datang membawakan makan malamku.
"Apa kau sangat lapar, Kavi? Kau terus mebatap makanan-makanan ini." Ucap Theon, dia tersenyum menatap wajahku.
"Ya, aku sangat lapar." Jawabku.
Theon berjalan ke arahku dan mengulurkan tangannya untuk memegang dahiku. Sepertinya dia sedang memeriksa suhu tubuhku.
"Sepertinya kau sudah tidak demam. Tapi untuk jaga-jaga, minum obat sekali lagi agar demammu tidak datang lagi." Ucap Theon.
Aku menatap Theon dengan tidak senang, "Aku tidak suka obat."
"Semua orang tidak suka obat, itu hal yang umum." Ucap Theon.
"Nah, sekarang cepat makan. Aku akan keluar sebentar dan kembali untuk memberimu obat setelah kau selesai makan." Lanjut Theon.
Setelah Theon pergi, aku mulai makan malam dengan tenang.
'Kupikir Marquis akan datang menemuiku. Tapi sekarang sudah jam makan malam. Setelah selesai makan, dia pasti akan beristirahat dengan istrinya. Tidak akan ada waktu untuk mengunjungiku.'
Aku menepuk kepalaku, 'Berhentilah berpikir tentang itu, sekarang adalah waktunya untuk makan dengan tenang.'
.
Tepat setelah aku menyelesaikan makanku, Theon langsung masuk dan menyodorkan obat kearahku.
Dengan berat hati aku meminum obatnya dengan sekali tegukan.
"Ayo berbaring. Aku akan mengoleskan obat ke pergelangan kakimu." Ucap Theon.
Aku dengan patuh berbaring dan membiarkan Theon mengoleskan obat.
'Berbaring tepat setelah makan bukanlah kebiasaan yang bagus. Saat kakiku sudah sembuh nanti, aku akan mulai berolahraga untuk menjaga kesehatan dan memperbaiki bentuk tubuhku.'
Theon pergi setelah selesai mengoleskan obat padaku. Dia sama sekali tidak menyinggung soal Marquis malam ini. Padahal di hari-hari sebelumnya, dia selalu dengan bersemangat mengatakan bahwa Marquis akan kembali.
Namun setelah Marquis benar-benar sudah kembali, dia tidak mengatakan bahwa aku akan bertemu dengan Marquis
__ADS_1
'Setelah dilihat-lihat, gambaran keluarga harmonis yang ada dalam ingatan Kavi menjadi semakin mencurigakan.'
Aku menutup mataku karena lelah. Baru seminggu yang lalu aku menjalani kehidupan yang tenang. Sekarang sepertinya hidupku kedepannya akan menjadi lebih sulit.