I Became The Lunatic Son Of The Marquess

I Became The Lunatic Son Of The Marquess
6


__ADS_3

Sore itu, Marquis Francheya bejalan masuk ke ruang kerjanya bersama seorang penjaga dan seorang pelayan.


"Katakan padaku apa yang terjadi." Ucap Marquis Francheya.


"Tadi malam, tuan Kavi tiba-tiba kembali ke mansion dengan keadaan tubuh yang terluka. Tuan Kavi juga mengatakan sesuatu seperti ada mayat dua orang pembunuh di hutan." Jawab penjaga itu.


"Lalu? Apakah kalian menemukan sesuatu?" Tanya Marquis Francheya lagi.


"Saat kami ke hutan untuk mencari, kami tidak melihat apapun. Tidak ada tanda-tanda pernah terjadi pembunuhan disana." Jawab penjaga.


"Tadi malam, tuan Kavi juga mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal pada saya." Ucap seorang pelayan yang ternyata adalah Theon.


"Apa yang dia katakan?" Tanya Marquis Francheya.


"Tuan Kavi mengatakan bahwa ada dua pembunuh bayaran yang mengejarnya. Untuk melarikan diri dari pembunuh itu, dia melompat dari balkon kamarnya, membuat kakinya terkilir. Lalu saat di hutan, dia bilang ada orang asing yang membantunya." Terang Theon.


"Menurut dari apa yang disampaikan oleh penjaga Brant tadi, dimana tidak ada apa-apa di hutan, mungkinkah tuan Kavi saat itu sedang berhalusinasi?" Lanjut Theon.


Marquis Francheya tampak berpikir dan melihat kearah Brant, "Apakah kau yakin tidak ada apa-apa di hutan?" Tanya Marquis.


"Saya dan Ed mencari seluruh hutan sampai pagi, dan tidak menemukan apa-apa." Ucap Brant.


"Kalau begitu, kau bisa pergi. Pastikan masalah ini tidak bocor keluar. Jangan sampai ada orang yang tahu tentang ini." Marquis Francheya melambaikan tangannya pada Brant.


"Ya tuan." Jawab Brant.


Sepeninggalan Brant, kini hanya ada Marquis Francheya dan Theon di ruangan itu.


"Apa yang terjadi selama seminggu aku tidak ada? Apakah Kavi kambuh lagi?" Tanya Marquis Francheya pada Theon.


"Tidak tuan Francheya. Tuan Kavi berperilaku baik selama ini, dia bahkan mulai membaca buku di waktu luangnya." Ucap Theon.


"Saya mengira penyakitnya mungkin sudah sembuh saat itu. Tapi melihat kejadian tadi malam, sepertinya tuan Kavi masih belum sembuh." Lanjut Theon.


"Dia membaca buku?" Marquis Francheya memandang Theon dengan sedikit tidak percaya.


"Ya, tuan. Belakangan ini dia sangat suka membaca tentang sejarah kekaisaran." Jawab Theon.


"Mungkin benar dia sudah menjadi lebih baik. Namun aku takut setelah kejadian ini, dia akan lebih sering berhalusinasi di masa depan." Ucap Marquis Francheya.


Marquis Francheya melambaikan tanganya pada Theon, menyuruhnya untuk keluar.


Sebelum keluar, Theon berbicara kepada Marquis, "Maaf jika saya lancang. Tapi, apakah tuan Francheya akan pergi menemui tuan Kavi malam ini? Dia sudah sangat merindukan anda." Ucap Theon.


Marquis Francheya menggelengkan kepalanya dengan enggan, "Sepertinya kami tidak bisa bertemu hari ini. Nanti malam, aku akan mendiskusikan masalah Kavi dengan istriku. Pastikan kau tidak mengatakan apapun pada Kavi tentang ini." Ucap Marquis Francheya.

__ADS_1


"Baik, tuan Francheya." Theon membungkuk lalu menutup pintu ruang kerja Marquis Francheya.


Setelah ditinggalkan oleh Theon, Marquis Francheya berdiri dari duduknya dan berjalan ke depan jendela.


"Penjaga itu tidak menemukan apa-apa." Ucap Marquis Francheya.


Setelah mengatakan itu, sekelebat bayangan yang entah sejak kapan ada dibalik tirai jendela dengan cepat menghilang.


Marquis Francheya tetap diam disana sampai hari perlahan menjadi gelap.


..


Malamnya, Marquis Francheya menceritakan apa yang terjadi kepada istrinya, Feya.


Setelah mendengar apa yang dikatakan Marquis Francheya kepadanya, Feya menjadi sangat tertekan. Bagaimanapun juga, Kavi adalah anak pertamanya. Dia selalu memiliki ruang khusus di hatinya untuk Kavi.


"Bagaimana jika itu bukan halusinasi Kavi? Sebagai ayahnya, kau tidak bisa setenang ini. Kau harus memastikan kejadian ini dengan benar. Ayo lakukan penyelidikan dengan hati-hati. Bagaimana jika di masa depan hal ini terulang kembali? Kita harus memastikan bahwa Kavi benar-benar aman." Ucap Feya dengan khawatir.


"Sudah dilakukan penyelidikan oleh para penjaga. Namun sampai pagi ini, mereka memang tidak menemukan bukti sama sekali." Ucap Marquis Francheya.


Marquis Francheya perlahan menarik tangan istrinya dan membawanya duduk diatas tempat tidur, lalu memeluknya, mencoba menenangkan kekhawatiran istrinya.


"Besok pagi, kau bisa menemui Kavi. Aku mendengar bahwa dia mengalami cidera pada kakinya." Ucap Marquis Francheya.


Feya, yang berada dalam pelukan Marquis, mengangguk. Dia lalu bertanya, "Bagaimana denganmu? Kau tidak ikut menemui Kavi?" Tanya Feya.


Feya tidak bertanya lagi, dia menarik tangan Marquis Francheya dan membawanya untuk berbaring bersama.


"Ayo kita tidur lebih awal agar tidak bangun kesiangan besok." Ucap Feya.


Marquis Francheya mengusap kepalanya istrinya. Melihat Feya memejamkan mata, dia mengubah ekspresi wajahnya yang awalnya tenang menjadi terlihat tertekan.


..


Pagi-pagi sekali, Feya sudah berdandan dengan rapi. Dia sudah tidak sabar ingin menemui putranya yang sudah satu minggu tidak bertemu.


Feya berjalan menuju dapur untuk mengambil sarapan Kavi. Dia sudah mengatakan kepada Theon sebelumnya, hari ini dia sendiri yang akan memberikan sarapan kepada Kavi.


Feya mengetuk pintu kamar Kavi. Setelah mendapatkan jawaban dari dalam, dia membuka pintu dan masuk.


"Sarapanmu, Kavi." Ucap Feya.


Kavi yang masih berbaring malas diatas tempat tidur terkejut mendengar suara Feya.


"Ah, apakah ibu mengagetkanmu? Kau pasti berpikir yang masuk tadi adalah Theon, kan." Ucap Feya, dia sedikit tertawa melihat ekspresi terkejut Kavi.

__ADS_1


"Ibu..." Ucap Kavi.


Kavi perlahan turun dari tempat tidur dan berjalan tertatih-tatih menuju Feya.


Feya yang melihat anaknya sulit berjalan pun mendekat dan langsung nemeluknya. "Apakah kau merindukan ibu? Kita sudah tidak bertemu selama seminggu. Kau tahu, aku sangat merindukanmu." Ucap Feya.


"Aku sangat merindukan ibu. Aku sangat kesepian selama tidak ada ibu disini." Kavi membalas pelukan Feya, setitik air mata keluar dari matanya.


Feya menunduk dan melihat mata merah Kavi, membuatnya merasa bersalah.


"Maafkan aku karena pergi berlibur tanpa membawamu. Sebenarnya ibu sangat ingin mengajakmu, tapi kau tahu aku tidak bisa melakukan itu." Ucap Feya. Dia mencium kening Kavi dengan sayang.


"Ayo makan sarapanmu dulu. Aku juga membawa sarapan untuk diriku. Ayo kita sarapan bersama." Ucap Feya. Dia membantu Kavi berjalan menuju meja.


"Ung." Sahut Kavi.


Setelah duduk, mereka berdua mulai memakan sarapan diatas meja. Selama makan, tidak ada satupun yang mengeluarkan suara. Mereka makan dengan tenang, sesuai dengan etiket para bangsawan.


Kavi lebih dulu menghabiskan sarapannya, dia menatap Feya yang makan dengan tenang, menunggu Feya selesai makan.


"Dimana ayah? Kenapa dia masih belum menemuiku?" Tanya Kavi.


Dia langsung bertanya tepat setelah melihat Feya menghabiskan sarapannya.


"Masih ada urusan yang harus ditangani oleh ayahmu. Kau tenang saja, dia akan secepatnya datang menemuimu. Dia juga sangat merindukanmu." Jawab Feya.


"Alby dan Alchmene juga sangat ingin bertemu denganmu, tapi sepertinya mereka masih kelelahan saat ini." Lanjut Feya.


Kavi tidak menjawab, dia hanya mengangguk kecil sebagai tanggapan.


Feya, yang melihat Kavi seperti itu, berpikir bahwa sepertinya Kavi sangat sedih karena tidak bisa bertemu dengan ayah dan saudaranya.


"Kau tenang saja. Apapun yang terjadi, nanti siang ibu akan membuat mereka datang menemuimu." Ucap Feya. Dia berusaha untuk menghibur Kavi.


"Ya, terima kasih ibu." Jawab Kavi. Dia memberi senyum gembira kepada Feya.


Feya menghela nafas lega mendengarnya. Dia mengalihkan pandangannya dan melihat luka goresan di lengan Kavi.


"Bagaimana tubuhmu, apakah masih sakit? Lalu kakimu, tidak terjadi sesuatu yang serius, kan?" Tanya Feya khawatir.


"Tidak apa-apa. Hanya cidera kecil. Dokter bilang akan sembuh dalam tiga minggu." Jawab Kavi.


"Syukurlah kalau begitu." Ucap Feya.


Mereka berbincang-bincang cukup lama setelahnya, sebelum akhirnya Feya pergi karena masih ada urusan lain.

__ADS_1


Kavi menatap pintu yang sudah ditutup oleh Feya dan seketika senyum di wajahnya langsung menghilang.


Dia bangkit dan berjalan menuju balkon dengan sebuah buku baru di tangannya.


__ADS_2