I Became The Lunatic Son Of The Marquess

I Became The Lunatic Son Of The Marquess
4. Tidak Bisa Dipercaya


__ADS_3

Aku mengetuk pintu dan berdiri sebentar di depannya, menunggu apakah akan ada seseorang yang membuka pintu untukku.


Namun setelah menunggu selama beberapa menit, aku tidak mendengar gerakan sama sekali dari dalam.


'Sepertinya hari ini memang tidak ada penjaga. Apakah mereka libur massal?'


Aku memutuskan untuk membuka pintu besar ini sendiri. Saat tanganku baru saja memegang kenop pintu, tanpa diduga pintu langsung terbuka dengan sendirinya.


Ternyata ada dua orang penjaga yang membukakan pintu untukku.


"Tuan muda, kenapa anda ada diluar malam malam begini?" Salah satu penjaga bertanya padaku.


"Aku baru saja bermain kejar-kejaran sampai hampir mati." Jawabku kesal.


Mereka tidak muncul disaat kritis, dan secara tiba-tiba ada di dalam mansion. Sebenarnya apa gunanya memperkerjakan penjaga jika mereka bahkan tidak menolongmu disaat kau hampir mati.


"Anda hampir mati, apa maksud tuan muda?" Penjaga itu kembali bertanya padaku.


"Tidakkan kau punya mata? Tidak bisa melihat tubuhku yang penuh luka goresan, dan kakiku yang pincang?" Aku dengan kesal berjalan masuk.


"Tuan muda, biar saya bawa anda ke kamar." Penjaga yang satu lagi mengikutiku.


"Aku bisa naik sendiri. Sebaiknya kalian pergi ke hutan di belakang. Ada dua mayat pembunuh bayaran disana." Aku menolak tawarannya.


"Kita akan melakukannya setelah mengantar tuan muda."


Penjaga itu berhenti di depanku, menghalangi langkahku.


"Mari, tuan muda." Penjaga itu mengulurkan tanganya padaku.


"Lakukan perintahku sekarang. Pembuhun bayaran itu hampir membunuhku, putra tertua Marquis. Kenapa kalian bisa bersikap begitu tenang? Apakah kalian merencanakan sesuatu?" Aku dengan marah menampar tangan yang terjulur di depanku.


"Apa maksudmu tuan muda, kami tidak mungkin berani." Dia menjawab sambil menundukkan kepalanya.


"Kalau begitu cepat pergi dan ambil kedua mayat itu. Tubuh mereka bisa dijadikan salah satu barang bukti. Aku tidak akan bisa hidup dengan tenang jika dalang dibalik semua ini tidak ditemukan."


Tanpa menunggu jawaban mereka, aku berjalan naik sendiri ke kamar. Cukup sulit bagiku berjalan menaiki tangga dengan salah satu kaki yang terkilir. Mungkin lebih baik aku menerima bantuan penjaga tadi.


Setelah memakan waktu cukup lama, akhirnya aku berhasil menemukan kamarku.


'Ini adalah pertama kalinya sejak aku ada disini, aku keluar dari kamar.'


Setelah masuk, aku berpikir untuk membasuh luka dan mengganti bajuku yang sudah compang camping terlebih dahulu.


Namun baru saja aku berjalan menuju lemari, tiba-tiba pintu kamar dibuka tanpa peringatan.


Aku terkejut dan melihat siapa yang berani masuk ke kamarku.


"Ternyata itu kau, Theon."


Theon bergegas masuk dan memegang bahuku dengan cemas.


"Apa yang terjadi? Salah satu penjaga membangunkanku dan mengatakan bahwa kau hampir dibunuh." Theon terlihat sangat khawatir.

__ADS_1


"Yah, aku dikejar oleh dua pembunuh bayaran tadi." Jawabku.


"Bagaimana kau bisa begitu tenang? Apakah tidak ada penjaga yang menyadari adanya pembunuh itu?" Tanya Theon.


Aku baru saja akan membuka mulutku, sebelum Theon kembali berbicara dan membuatku mengurungkan niatku.


"Lupakan itu dulu. Pertama-tama, ayo kita ganti bajumu dan basuh tubuhmu dengan air hangat. Aku sudah menyuruh salah satu penjaga memanggil dokter untuk memerika keadaanmu." Lanjut Theon.


Aku dengan patuh mengikuti kata-kata Theon. Membiarkan Theon membasuh tubuhku dengan lembut. Aku tenggelam dalam pikiranku.


'Theon sepertinya tidak berakting, dia terlihat sangat khawatir tadi. Setelah kejadian ini, aku jadi meragukan para penjaga dan Marquis itu sendiri. Apakah aku bisa mempercayai Theon?'


"Ada apa? Kau sepertinya sedang banyak pikiran? Jangan terlalu dipikirkan. Besok Marquis akan datang, dia pasti tidak akan tinggal diam saat mengetahui berita ini." Ucap Theon, berusaha menghiburku.


"Theon, setelah memberiku makan malam, apa yang kau lakukan?" Tanyaku.


"Aku? Aku kembali ke dapur dan makan malam. Lalu setelah itu langsung masuk ke kamar dan tidur." Jawab Theon.


"Apakah malam ini memang tidak ada penjaga diluar?" Tanyaku lagi.


"Apa maksudmu? Setiap malam akan selalu ada penjaga yang berpatroli di sekitar mansion." Jawab Theon.


Aku megerutkan kening, jelas-jelas aku tidak meilhat satu penjaga pun saat berada diluar tadi.


"Saat aku dikejar oleh pembunuh bayaran, dan saat aku kembali ke mansion dengan keadaan luka-luka, aku sama sekali tidak menemukan satu penjaga pun diluar." Aku menatap Theon dengan curiga.


"Apa kau tahu sesuatu, Theon? Bukankan malam ini terasa sangat aneh?" Tanyaku.


"Kavi, apa maksudmu? Tidak mungkin tidak ada satupun penjaga diluar." Theon menatapku dengan heran.


"Tidak, itu tidak mungkin. Penjaga tadi bilang mereka akan ke hutan di belakang mansion untuk mengambil mayat pembunuh itu. Bukankah yang menghabisi pembunuh itu adalah penjaga kita? Tidak mungkin kau yang membunuh mereka sendiri kan?" Tanya Theon.


"Yang membunuh kedua pembunuh itu bukanlah penjaga, bukan juga aku. Aku bertemu orang asing yang kebetulan ada disana, dan dia menyelamatkanku." Jawabku.


"Kavi, apa maksudmu orang asing? Hutan di belakang adalah milik Marquis, tidak sembarangan orang bisa masuk kesana tanpa izin." Theon menatapku curiga.


"Kau tidak kambuh, kan?" Tanyanya.


"Kau mengira aku berbohong?" Aku menatap langsung ke mata Theon, mencoba mencari jejak mencurigakan disana, tapi tidak mendapatkannya.


'Sepertinya Theon memang tidak tahu apa-apa soal kejadian ini.'


"Dengarkan aku baik-baik, Theon." Ucapku.


Theon berhenti menyeka tubuhku, dia mengangguk dan menatapku dengan serius.


"Malam ini, ada dua pembunuh bayaran yang berhasil masuk ke kamarku tanpa diketahui oleh penjaga. Saat aku kabur ke dalam hutan, aku juga tidak menemukan satu pun penjaga. Dan secara tiba-tiba, aku bertemu dengan orang asing yang menyelamatkanku." Ucapku.


"Tidak hanya sampai disitu. Orang asing itu mengantarku kembali ke depan pintu masuk mansion, dan bahkan tidak ada penjaga yang menjaga pintu masuk. Apakah menurutmu ini adalah hal yang normal?" Tanyaku.


Theon menundukkan kepalanya, dia tampak berpikir keras. Setelah terdiam selama beberapa saat, dia akhirnya berkata, "Jadi maksudmu semua yang terjadi malam ini, bisa saja direncanakan oleh orang-orang di mansion?" Tanya Theon.


Aku menganggukan kepalaku, "Ya, dan orang ini tidak lain adalah Marquis itu sendiri." Jawabku.

__ADS_1


Theon menatapku dengan terkejut, "Tidak mungkin, Kavi. Marquis dan istrinya sangat menyayangimu. Kau harusnya tahu itu. Bagaimana bisa kau menuduh Marquis seperti itu."


Aku tidak menjawab, dan dengan diam memerintahkan Theon untuk memasangkan baju tidur padaku.


'Dia pasti berpikir aku sedang kambuh dan berbicara dengan tidak rasional. Tidak ada gunanya menceritakan ini pada orang lain. Mereka tidak akan mendengarkan perkataan orang gila sepertiku.'


Setelah berpakaian, Theon membantuku berjalan menuju tempat tidur. Tidak lama setelah aku duduk di atas tempat tidur, terdengar suara ketukan di pintu.


"Dokter sudah ada disini."


"Ah, dokter sudah sampai." Theon dengan cepat membukakan pintu.


Seorang pria paruh baya masuk dan memasang senyum lembut saat melihatku.


"Lama tidak bertemu, tuan Kavi." Ucapnya.


Aku menatapnya sejenak dan teringat dia adalah dokter pribadi keluarga Marquis. Dia sering membantu mengobati Kavi jika dia kambuh dan menjadi gila.


"Apakah anda masih ingat dengan saya? Saya adalah dokter Abee." Ucapnya.


Aku mengangguk sedikit sebagai tanggapan.


Theon membawakan bangku dan membiarkan dokter itu duduk di hadapanku. Dia melihat kaki kiriku yang membengkak dan berkata dengan sedih, "Itu pasti sangat menyakitkan."


"Lengan anda juga penuh dengan goresan-goresan berdarah. Apa yang terjadi?" Tanya dokter Abee.


"Aku terjatuh dari balkon, lalu lari ke hutan dan menabrak semak-semak berduri." Jawabku.


"Kalau begitu saya akan mengobati kaki anda terlebih dahulu." Dokter Abee mengambil pergelangan kakiku dan mulai mengoleskan obat.


Setelah selesai mengobati kakiku, dokter Abee juga mulai mengobati lengan, paha dan bagian lain yang tergores duri.


Theon yang sedari tadi berdiri diam di belakang dokter Abee, berjalan mendekat dan bertanya, "Berapa lama kaki tuan muda Kavi akan sembuh?" Theon bertanya kepada dokter.


"Cidera yang dialami tuan muda Kavi cukup serius. Jika tidak ada masalah, maka akan sembuh dalam waktu kurang lebih 3 minggu." Jawab dokter Abee.


Setelah selesai mengobatiku, dokter Abee mulai mengemasi peralannya dan berdiri.


"Saya sarankan agar anda beristirahat dengan baik. Jangan menggunakan kaki anda yang terkikir untuk berjalan, karena akan memperburuk cidera dan memperlambat proses pemulihannya." Dokter Abee memberiku nasihat.


Aku hanya mengangguk patuh.


"Aku akan memberikan obatnya besok. Pastikan untuk mengoleskannya sekali setiap hari pada tempat yang mengalami cidera." Dokter Abee berbicara kepada Theon.


"Baik dokter, saya akan merawat tuan Kavi dengan baik, agar dia cepat sembuh." Jawab Theon.


Theon pergi keluar untuk mengantarkan dokter Abee, meninggalkanku sendirian di kamar.


Aku membaringkan tubuhku diatas tempat tidur, dan termenung menatap langit-langit.


'Tidak ada yang bisa kuandalkan disini, orang-orang tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan. Bahkan meskipun aku mempercayai Theon, dia juga pasti tidak akan percaya dengan mudah pada perkataan orang yang memiliki gangguan mental sepertiku.'


Tiba-tiba aku teringat sosok pria yang menyelamatkanku tadi. Dia bilang aku bisa menemuinya di istana saat hari pertunangan pangeran.

__ADS_1


'Apa yang dia lakukan di istana? Mungkinkah dia salah satu pelayan disana? Tidak, dibandingkan pelayan, dia lebih seperti seorang prajurit istana. Mungkin aku bisa menjadikannya penjagaku dan meminta bantuan darinya.'


Setelah menyusun banyak rencana di kepalaku, aku merasa sangat lelah dan mengantuk. Aku memutuskan untuk tidur, karena besok Marquis dan yang lan akan kembali. Kemungkinan aku akan bertemu dengan mereka sangat besar.


__ADS_2