
Terdengar melodi sebuah musik klasik berjudul Requiem Mass in D Minor karya Wolfgang Amadeus Mozart, mengalun dengan penuh kesedihan. Iramanya mengalun-alun menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. Mengobrak-abrik setiap jiwa anak manusia.
...
Seorang gadis kecil bermata besar berlari. Memburu menyambut kedatangan ibunya. Rambut panjangnya yang dikuncir dua tampak naik turun mengikuti gerakannya. Ibunya membentangkan kedua tangannya, menangkap anaknya dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Nampak keduanya sangat bahagia.
...
Melodi musik klasik karya Mozart itu masih mengalun dengan memilukan.
Tampak sebuah ruangan. Sebuah ruangan yang terlihat begitu gelap. Gordennya tertutup rapat. Menyisakan celah-celah kecil saja di antara kusen. Hanya sedikit cahaya yang berhasil masuk ke sana. Padahal di luar matahari telah bersinar dengan teriknya.
Ruangan itu nampak berantakan. Buku-buku dan kertas berserakan di lantai. Lemari pakaian terbuka. Isinya berhamburan ke luar. Membuat lantai semakin berantakan. Ada noda merah yang menggenang di samping tumpukan baju baju itu. Cairan merah itu berbau amis. Membuat orang yang menciumnya akan merasa mual. Cairan merah itu sepertinya genangan darah yang keluar dari tubuh seseorang.
Tes ... Tes ... Tes ...
Sebuah tangan terjulur. Dari tangan itu meneteskan cairan merah tua. Cairan merah yang tadi. Darah. Darah itu keluar dari pergelangan tangan seseorang yang tergeletak di atas tempat tidur yang juga berantakan. Merambat ke ujung jari telunjuknya yang memang letaknya lebih rendah. Setetes demi setetes.
Mungkin orang yang tergeletak itu adalah orang yang tinggal di kamar itu. Gelapnya kamar membuat wajahnya tak terlihat dengan jelas. Yang nampak darinya hanya rambut panjangnya yang terburai menutupi sebagian dari wajahnya.
Tuk ... tuk ... tuk ...
Terdengar suara sepatu mengintari kamar gelap itu.
...
KRIIIING.. KRIIIING...
Sebuah tangan meraba-raba di atas kasur dengan sprey bermotif Hello Kitty. Mencari sumber suara yang memekakkan telinganya. Seseorang terbangun dari mimpi buruknya.
Entahlah apa dia harus bersyukur pada suara itu? Atau dia melanjutkan mimpinya saja? Ah, andai saja. Mungkin sebentar lagi dia bisa melihat wajah orang yang masuk ke kamar ibunya itu?
__ADS_1
Tangan itu akhirnya berhasil meraih HP-nya dan mematikan alarm yang membuatnya terbangun. Nampak seorang gadis berusia belasan tahun yang baru saja terbangun dari tidurnya. Dia terduduk di atas kasurnya dan merapikan rambut sebahunya yang nampak sangat berantakan. Menyisir-nyisir dengan jemari tangannya.
Sesekali dia menguap. Kemudian berjalan ke kamar mandi. Mencuci mukanya dan menggosok gigi. Di tengah dia menggosok giginya, tiba-tiba saja berhenti, dan menatap lurus ke arah wajahnya yang terpantul dari cermin.
"Mimpi itu lagi," gumamnya menyadari mimpi yang sudah beberapa kali muncul dalam tidurnya.
Tahun 2007
"Mamah .... Mamah .... Bangun Mamah!! Bangun!!" Seorang anak kecil berumur 7 tahun menangis tersedu-sedu di depan jasad ibunya. Mata besarnya terlihat sembab. Menjadi bengkak akibat terlalu lama menangis. Rambut panjangnya jadi nampak berantakan keluar dari kuncirnya yang sudah hampir terlepas.
Seseorang sekuat tenaga menggendongnya yang tak henti memberontak tak mau lepas dari sang ibu. Padahal jasad ibunya akan segera dimakamkan.
"Melati mau sama mamah saja, Paman. Melati mau sama mamah saja," Katanya di sela tangisnya yang makin menjadi.
..
Gadis kecil itu bernama Melati. Hari ini ibunya dimakamkan. Sang ibu meninggal karena bunuh diri. Setidaknya itu hasil yang dilaporkan kepolisian terkait hasil visum dari kematian ibunya Melati.
Ironinya, paska kematian sang ibu. Sang ayah juga tidak dapat merawat Melati kecil. Lelaki Malang itu terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit jiwa karena mengalami depresi berat. Diduga karena syok melihat kematian istrinya di depan matanya sendiri.
Kini Melati tinggal di rumah Paman dan bibinya. Berhari-hari gadis kecil itu tak mau makan dan minum. Kini tubuhnya sudah semakin kurus. Mengurung diri di sebuah kamar yang gelap. "Mamah kemana? Kenapa Mamah gak pulang lihat Melati," gumamnya dengan suara yang semakin lemas. "Mamah, Melati ikut sama Mamah pergi. Melati janji gak akan nakal," lanjutnya hingga dia tak sadarkan diri.
...
"Melati ... Melati sayang ..., bangun!" Suara bibinya terdengar samar memanggil-manggil Melati kecil. Perlahan mata besar gadis kecil itu mulai terbuka. Melihat sekeliling yang masih kabur di matanya. Bibir kecil gadis itu bergerak seolah ingin mengatakan sesuatu.
"Kamu sudah sadar sayang?" Bibi terlihat lega melihat Melati sudah membuka matanya. Tampak mata bibi bengkak akibat menangis. "Apa? Apa sayang? Kamu mau bicara apa?" katanya saat melihat bibir Melati bergerak-gerak. Dia mendekatkan telinganya mendekati bibir gadis kecil itu. Sayangnya nihil. Tak sepatah kata pun yang mampu di dengar oleh bibinya itu.
"Tunggu sayang jangan bicara dulu! Bibi akan panggilan dokter!" katanya sambil memencet tombol di samping tempat tidur gadis kecil itu.
Tak perlu waktu lama. Beberapa orang perawat dan seorang dokter masuk ke ruang rawat Melati dan mulai memeriksanya.
__ADS_1
"Syukurlah. Nampaknya kondisi anak ini sudah stabil. Dia akan pulih dengan segera," kata dokter berkacamata.
"Syukurlaaah ... terima kasih dokter." Paman dan bibi sangat lega mendengar kabar baik ini.
Bibi yang sangat bahagia langsung memegang tangan Melati penuh cinta. Tapi entah kenapa. Tiba-tiba mata anak itu melotot. Giginya gemeretuk, keringat becucuran dan tangannya menggenggam balik tangan bibinya sekuat tenaga.
Semua orang yang ada di sana tampak panik. Dokter segera memeriksa Melati kembali. Namun dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada gadis kecil ini. Maka dokter pun memerintahkan perawat untuk memberikan suntikan pemenang untuk gadis kecil itu.
Tak lama kemudian gadis kecil itu sudah lelap tertidur di tempat tidurnya.
...
Keesokan harinya, Melati sudah bangun seperti biasa. Dengan kondisi yang sudah semakin sehat. Kini dia pun sudah bisa mengeluarkan suara. Berbicara, meski pun singkat kepada paman dan bibinya.
Mata gadis itu berkaca-kaca melihat bibinya. Kemudian beralih menatap Pamannya. Terpancar raut kesedihan di muka gadis kecil itu.
"Apa yang aku lihat kemarin itu mimpi? Iya itu memang mimpi," pikir gadis kecil itu meyakinkan diri.
Flashback
Kemarin sewaktu tangannya di genggam oleh bibinya. Etah dari mana sebuah bayangan mengerikan muncul di pikirannya. Bibinya yang tengah hamil besar menangis tersedu-sedu di depan jasad pamannya. Jasad pamannya yang bersimbah darah di sekujur tubuhnya.
...
Tahun 2019
Gadis itu masih menatap wajahnya di cermin. Menggumamkan sesuatu namun tak dapat didengar. Entahlah. Entah apa yang digumamkannya itu.
Selesai menggosok giginya, kemudian berganti pakaian, memakai jaket berwarna hitam dan tak lupa memakai sarung tangannya. Gadis ini, Dialah Melati. Rambut panjangnya telah dia potongnya sejak dulu. Sejak kejadian buruk yang pernah muncul di dalam penglihatannya secara tak sengaja, menjadi sebuah kenyataan pahit yang benar-benar terjadi dalam kehidupan bibinya.
Bersambung...
__ADS_1