
"Jangan dekati aku!," kata Melati setengah berteriak. Gadis bermata besar itu memalingkan wajahnya tak berani menatap wajah Hendry.
Tangan Hendry yang hendak menyentuh gadis itu pun hanya mengambang di udara. Sebenarnya apa yang terjadi dengan anak ini? Hendry tak habis pikir dengan tingkah aneh gadis di hadapannya ini. Apa dia punya penyakit lain selain mysopobia-nya?, duganya.
"Ah terserah lu deh." Hendry kemudian duduk di kursi yang berada di sebelah tempat Melati berbaring.
Sudah hampir 15 menit berlalu. Mereka masih asyik dengan dunianya masing-masing. Tanpa kata. Melati menghadapkan wajahnya ke tembok sedangkan Hendry membuka-buka majalah tentang kesehatan yang tergeletak di ruang UKS itu.
"Apa kau akan percaya padaku?," kata Melati memulai percakapan. Dia masih terus menghadapkan wajahnya ke arah tembok.
"Hmmm... Tergantung," jawab pemuda itu singkat. Matanya juga tak lepas dari majalah yang ada di tangannya.
"Mungkin ini sedikit konyol. Yah.., semua orang memang mengatakan itu saat pertama kali mendengarnya. Dan kau juga pasti akan mengatakan hal yang sama." Melati menghentikan ucapannya. Dia benar-benar fesimis. Ah, percuma saja aku kasih tahu dia. Paling hasilnya tak akan jauh berbeda dengan yang sudah-sudah, batinnya.
"Jadi lu mau gua percaya soal apa?" Hendry sedikit penasaran dengan kelanjutan ucapan Melati.
"Sudahlah. Tak penting." Gadis itu menarik selimutnya dan menutupkannya sampai ke kepala.
"Apa itu berkaitan dengan mimpi buruk yang lu alami?" Hendry meletakkan majalah yang dipegangnya dan menghadap ke arah Melati. "Katakanlah! Jangan terlalu fesimis. Respon setiap orang bisa saja berbeda."
Gadis itu pun bangkit dan memutar arah duduknya. Matanya masih menatap ke bawah. Tak berani melihat wajah pemuda di hadapannya.
"Bagaimana kalau aku katakan, bahwa aku bisa melihat masa depan buruk yang akan kau alami, apa kau percaya?," kata Melati dengan raut yang serius.
Hening... Suasana menjadi hening, sampai tiba-tiba.. Hhhfff bbwaha..ha..ha..ha.., Tawa Hendry seketika pecah. Itu memang hal terkonyol yang pernah didengarnya. Bisa melihat masa depan buruk? Sungguh lelucon yang konyol. Memangnya ini dalam sinetron?, batin Hendry tak habis pikir.
"Huuuh.. Sudahlah. Sudah ku duga." Melati pun bangkit dari duduknya dan berlalu pergi meninggalkan Hendry yang masih tertawa.
__ADS_1
"E-eh.. Kok pergi?" Dia pun menyudahi tawanya dan menyusul mengejar Melati.
"Wah lu marah? Wah wah, lu benar-benar marah?" Lelaki itu mensejajari langkah Melati. "Benar yang lu bilang tadi. Itu hal terkonyol yang pernah gua dengar." Dia tertawa lagi. "Tapi bagaimana bisa? Bagaimana bisa gua percaya kalau lu memang bisa melihat masa depan. Apa lu itu sejenis dukun?" Lelaki itu terus nyerocos sepanjang mereka berjalan.
...
Hendry masih berjalan di samping Melati. Entah kenapa dia sangat penasaran dengan kata-kata gadis itu. "Ayolah.. Ceritakan apa yang bakal gua alami itu? Siapa tahu gua bisa bebas dari kejadian buruk yang akan gua alami itu." Dia merengek seperti anak kecil.
Melati menghentikan langkahnya. Dia menghadap ke arah Hendry. "Baiklah. Aku juga sudah muak dengan lintasan kejadian yang akan kau alami itu, terus-terusan muncul dalam mimpiku." Gadis itu menghembuskan nafas berat. "Dengarkan baik-baik! Dan kau jangan kaget. Ini memang kejadian buruk yang mungkin akan kau alami."
Hendry menantikan kata-kata Melati tentang kejadian yang akan dialaminya itu. Meski itu sebuah kejadian buruk. Dia sudah siap. Mungkin memang itu nasibnya. Dia tersenyum dan meyakinkan Melati untuk melanjutkan ucapannya.
"Kau akan meninggal karena dibunuh," kata-kata gadis itu sedikit tercekat. Tak tega dia mengatakan semua itu. "kau akan dikeroyok oleh sekelompok preman, dan salah satunya aku melihat preman berambut merah yang kemarin mengejar kita. Setelah ditikam beberapa kali dengan cerul*t kau pun akan..." Melati menyudahi ceritanya.
"Apa lu tahu juga waktu kejadiannya?" Tanya Hendry serius. "Mungkin saja dengan lu tahu waktunya kita bisa merubah masa depan buruk yang mungkin akan gua alami itu."
"Lalu bagaimana lu bisa tahu tentang kejadian buruk yang akan menimpa gua?" Hendry semakin penasaran.
Melati mengangkat kedua telapak tangannya yang memakai sarung tangan. "Dengan ini."
Hendry menatapnya tak mengerti.
"Kau ingat saat kita berjabat tangan waktu itu?" Tanya Melati.
Seketika pemuda itu pun teringat kejadia hari itu, saat dia menjabat tangan Melati untuk berkenalan. "Jadi sarung tangan itu bukan karena mysopobia?," tebak Hendry.
Melati mengangguk. "Ketika tanganku menyentuh kulit seseorang, memungkinkan ku untuk bisa melihat kejadian buruk yang akan dia alami oleh orang yang aku sentuh."
__ADS_1
"Kereeeeen.." Senyum lebar mengembang di wajah Hendry. "Gua serasa lagi main sinetron, bisa ketemu orang yang punya kekuatan supranatural."
Huuuh.. Melati menghembuskan nafas frustasi. Dia jadi kesal dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia begitu peduli dengan nasib orang di sebelah nya ini? Padahal orang itu sendiri nampak tak peduli dengan nasib yang akan dia alami.
Entahlah apa pemuda di sebelahnya ini benar-benar percaya perkataannya atau hanya sedikit membesarkan hati Melati saja? Atau bisa juga lelaki ini kini tengah mengejeknya. Biarlah dia tak peduli lagi. Dia melangkahkan kakinya meninggalkan Hendry.
"Loh kok, gua ditinggal lagi. Kita belum selesai bicara.. Hei, Mel! Mel..!!" Panggilnya sambil mengejar Melati.
Melati menoleh. Dia menatap Hendry tajam. "Darimana kau tahu namaku?" Perasaan dia tidak pernah mengenakan namtag di seragamnya. Kecuali memang disaat-saat darurat saat ada razia dari wakasis.
"Tahulah.. Kau terkenal loh di sekolah." Kata Hendry asal.
"Ah, kau juga sangat sangat sangaaat terkenal di sekolah." Balas melati tak mau kalah.
"Hehehe.. Berarti kita memang pasangan yang cocok." Kata Hendry disela tawanya.
"Ah.. Sudahlah." Melati sudah gak peduli lagi
"E'eh.. Jangan begitu. Ayo coba sekali lagi yuk!" Hendry mengulurkan tangannya. "Siapa tahu lu sekarang bisa melihat sesuatu yang lebih detail dari kejadian yang akan menimpa gua itu."
Melati melihat tangan Hendry yang terjulur padanya. Dia benar-benar ragu. Apa mungkin dia bisa melihat hal yang lebih detail jika mereka bersentuhan lagi? Apa dengan itu dia juga bisa menyelamatkan Hendry dari masa depannya? Entahlah.
"Ayolah. Lepas sarung tangan lu! Bantu gua. Gua percaya lu bisa." Kata-kata Hendry itu seperti angin segar yang menerpa hatinya. Baru kali ini ada orang yang yakin bahwa dia bisa membantunya. Apa ini kenyataan? Atau hanya harapannya saja?
Biarlah. Dia kini telah membulatkan tekadnya. Semoga saja dia benar-benar bisa merubah masa depan buruk orang yang kini ada di hadapannya.
Dia membuka sarung tangannya dan menyambut uluran tangan Hendry.
__ADS_1