I CAN SEE, Your Bad Future

I CAN SEE, Your Bad Future
Mari Kita Lihat Sekali Lagi


__ADS_3

Hanya orang lemah yang berkata, "sudahlah ini memang takdir kita." Ketahuilah sahabat takdir itu bisa dirubah dengan doa dan usaha.


_anonim_


...


Gadis itu meraih tangan Hendry yang terulur padanya. Menjabatnya meski pun ragu.


Seeeet, sebuah kilasan yang sama, yang pernah dilihatnya kini kembali muncul dalam penglihatan Melati untuk yang kedua kalinya. Sekumpulan orang dengan baju serampangan, Hendry yang ambruk paska ditikam dengan cerul*t beberapa kali, suara tawa yang membahana, seringai mengerikan lelaki beranting hitam.


Gadis itu melepaskan tangannya dari genggaman Hendry. Nafasnya turun naik tak beraturan. Keringat nampak jelas bercucuran di wajahnya. Dia gemetar dan tubuhnya langsung ambruk di hadapan Hendry.


"Hei!" Hendry menahan tubuh gadis itu sekali lagi. Dia bisa melihat wajah Melati yang pucat pasi.


"Lu gak apa-apa?" kata pemuda itu tampak khawatir. Dia memapah Melati dan mendudukannya di kursi taman yang tak jauh dari mereka.


Hendry menyodorkan sapu tangan miliknya untuk mengelap keringat gadis itu yang bercucuran. "Pakailah! Ini belum gue pake."


"Terima kasih." Melati mengambil sapu tangan itu dan mengelap wajahnya yang basah akibat keringat dengan tangannya yang masih gemetar.


"Kau melihatnya lagi?" tanya Hendry penasaran.


Gadis itu mengangguk. "A-aku ...," ucapan Melati terbata-bata. Dia masih belum bisa mengendalikan ketakutannya.


"Sudahlah. Tenangkan dirimu dulu." Hendry mengulurkan sarung tangan yang tadi dilepaskan Melati saat hendak berjabat tangan dengannya.


Gadis itu meraihnya dan mengenakannya kembali.


Sejenak mereka saling terdiam. Hendri membiarkan gadis itu menata ulang perasaannya yang waktu itu memang sedang tak karuan. Dia menahan sejenak rasa penasarannya.


Cukup lama mereka saling terdiam hingga Hendry yang memulai kembali percakapan di antara mereka.

__ADS_1


"Apa sangat mengerikan?" tanya pemuda itu memecah kesunyian di antara mereka.


Gadis itu tertunduk tak mampu menjawab pertanyaan Hendry.


"Ah. Lu masih perlu waktu menenangkan diri lebih lama sepertinya." Hendry mengerti kondisi gadis itu. "Lu tunggu di sini!" katanya sambil pergi meninggalkan Melati di taman itu. "Jangan kemana-mana!" instruksi pemuda itu sambil berlalu entah kemana.


Tak berapa lama dari itu, Hendry datang dengan membawa dua buah eskrim. Satu rasa coklat dan satunya lagi rasa stroberi. Ada topping cocco cip warna-warni di atasnya.


"Nih makan!" kata pemuda itu sambil menyodorkan kedua eskrim yang dibawanya kepada Melati. "Kata orang makan eskrim bisa membuat kita lebih tenang," lanjutnya.


Gadis itu mendongak melihat ke arah Hendry. Ada sedikit rasa haru yang tiba-tiba muncul dalam perasaannya.


"Ambil! Nanti keburu meleleh ...," kata Hendry.


Meski ragu Melati mengambil satu eskrim yang rasa stroberi, dan mulai memakannya. "Terima kasih."


Sambil memakan eskrimnya, sesekali gadis itu melirik ke arah Hendry, dia jadi sedikit penasaran dengan pemuda yang ada di sebelah nya itu. "Apa benar pria ini yang terkenal 'badboy' sekolah?" batinnya sambil asyik memakan eskrim stroberinya. "Hmmm, mungkin dia punya alasan sendiri kenapa dia menjadi anak yang nakal. Seperti ku ini? Biarlah aku juga tak mau tahu alasannya. Sekarang aku sudah cukup sulit dengan kemampuanku ini. Tak ada waktu untuk berempati padanya," pikir Melati mulai tak peduli.


Hendry juga melihat orang di sampingnya. "Sepertinya kini dia sudah lebih baik," batinnya. "Dia sudah tak terlalu gemetar dan lebih asyik menikmati eskrim di tangannya." Tak terasa sebuah senyum tersungging di bibir pemuda itu.


"Kenapa?" Melati sedikit malu ketika tahu Hendry memperhatikannya.


"Apa itu benar-benar efektif?" Mata pemuda itu berbinar.


"Apanya? Apa yang efektif?" tanya Melati tak mengerti maksud perkataan pemuda itu.


"Eskrim," kata Hendry sambil menunjuk eskrim di tangan melati yang tinggal sedikit lagi.


"Sepertinya." Melati juga ikut tersenyum sambil memasukkan suapan terakhir eskrim di tangannya itu.


"Hmmm ...." Sejenak Hendry memandangi Melati. "Apa sekarang gua boleh tahu apa yang lu lihat tadi?" tanya Hendry ragu-ragu.

__ADS_1


Melati mengangguk, dia menghembuskan nafas dalam. Mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk mengingat detail kilasan yang tadi dilihatnya.


"Sebagian besar yang ku lihat masih kilasan yang sama," katanya mengingat-ingat. "Ah, tapi tunggu! Sepertinya aku melihat sesuatu yang lain tadi."


Hendry mendengarkan dengan antusias. Dia membetulkan posisi duduknya dan sedikit bergeser mendekat ke arah gadis itu.


"Selebaran? Ya ..., sepertinya itu selebaran. Banyak sekali selebarannya. Hampir seluruh dinding dipenuhi sama selebaran itu."


"Apa kamu bisa lihat detail isi selebaran itu juga?" Hendry makin penasaran.


"Hmmm... Sebuah tempat kursus belajar bahasa mandarin? Jaraknya 3 km dari sana. Itu isi tulisannya." kata gadis itu menjabarkan apa-apa yang dilihatnya.


"Baiklah. Sudah cukup! Sekarang kita tahu dimana gua kemungkinan akan mati. Ayo kita cari tempat itu!" Pemuda itu bangkit dari duduknya.


"Kenapa? Bukannya lebih baik kamu tidak ke sana? Itu sama saja artinya kamu menantang takdir untuk kematianmu sendiri?" tanya Melati yang tak mengerti jalan pikiran pemuda di sampingnya itu.


"Memangnya gua akan mati hari ini?" Hendry jadi penasaran akan waktu kematiannya.


"I-itu .... Entahlah gua juga gak tahu kalau sampai sedetail itu," ucap gadis itu sedikit murung.


"Maka dari itu. Lebih baik kita cari tempat itu. Biar nanti gua ada persiapan," kata Hendry sambil menatap ke depan.


"Tidak! Tidak boleh!" kata Melati sedikit membentak. "Lebih baik kamu diam saja di rumah. Tak usah keluyuran kemana-mana dulu. Biar aku yang cari tempat itu."


"Bodoh. Berarti gua bodoh kalau hanya mengandalkan lu. Gua gak suka diam dan malah membahayakan gadis manis seperti lu. Lebih baik kita cari bersama saja," kata pemuda itu penuh keyakinan.


Mereka pun akhirnya bangkit mencari tempat yang dimaksud oleh penglihatan Melati. Keduanya berjalan dengan satu tekad yang sama 'merubah masa depan'.


Mampukah mereka melakukannya? Semoga saja.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2