I CAN SEE, Your Bad Future

I CAN SEE, Your Bad Future
Apa yang Harus Aku Lakukan?


__ADS_3

Huam.. Gadis bermata besar itu menguap beberapa kali. Tadi malam adalah malam yang panjang buat dirinya. Kilasan kematian yang akan dialami Hendry tak mau lenyap sedetik pun dari pikirannya. Membuatnya terbangun dan terbangun hingga beberapa kali.


"Kakak kenapa?" Tanya Zaky adik sepupunya.


"Heh?" Melati gak paham maksud adiknya itu.


"Mata kakak ada kantung hitamnya." Ucap anak itu polos.


"Oooh, Kakak kurang tidur, sayang. Semalam harus belajar buat ulangan hari ini." Kata Melati berbohong.


Hari ini gadis bermata besar ini berangkat ke sekolah bersama adik sepupunya, Zaky. Bibinya tidak bisa mengantarkan Zaky karena ada sedikit urusan yang harus dia kerjakan. Kebetulan arah sekolah mereka memang searah.


"Kakak, kenapa kakak sangat suka pakai hoodie dan sarung tangan?" Tanya adiknya itu tiba-tiba.


Ini pertama kalinya anak itu menanyakan soal penampilan dirinya.


"Kenapa memang?" Melati balik bertanya.


"Hmmm.. Aku cuma tidak suka yang dikatakan orang-orang tentangmu, kak." Dia terdiam sejenak. "Mereka suka menyebutkan kakak, perempuan aneh." Sambung anak itu ragu-ragu.


Melati tersenyum lembut pada Zaky. "Semua orang punya stile dan selera tersendiri dalam berpakaian. Termasuk kakak." Jawabnya menjelaskan.


Alasan memang. Karena tak mungkin dia jelaskan kalau dirinya seperti ini, hanya untuk melarikan diri dari rasa takutnya. Takut akan kekuatan mengerikan yang muncul tiba-tiba pada dirinya itu. Zaky masih kecil. Etah bagaimana perasaannya jika dia tahu kematian ayah anak ini yang juga pamannya, sudah diketahui oleh Melati sejak lama. Tapi sang kakak tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah kejadian buruk itu terjadi.


Huuuh! Gadis itu menghembuskan nafas berat. Dia sangat benci dengan kemampuannya ini.


Pernah suatu ketika, saat dia melihat kilasan tentang masa depan buruk yang akan dialami seorang tetangganya. Ingin sekali dia mengubah masa depan buruk itu. Maka, dia pun berusaha mencegahnya dengan memberi tahu orang tersebut mengenai kejadian buruk yang akan menimpanya itu, supaya tetangganya bisa lebih berhati-hati dan kejadian buruk itu tak akan terjadi padanya. Tapi, apa coba respon yang dia dapatkan? Dia hanya disebut anak gila.


Baru kemudian setelah kejadian buruk itu benar-benar terjadi, Melati hanya dapat makian dan disebut anak monster.


Huuuh.. Dia menghembuskan nafas berat lagi. Kejadian itu sangat melukai dirinya. Apakah benar yang orang katakan padanya? Anak monster? Batinnya perih mengingat semua kejadian itu.

__ADS_1


Melati menghentikan langkahnya. Dia berbalik menghadap adiknya itu dan berjongkok untuk mensejajarinya. "Tak apa. Jangan terlalu memikirkan kata orang." Jawabnya bijak. Mengacak rambut adiknya dan kembali menggandeng tangan kecilnya.


...


Di Sekolah


Semoga hari ini aku tak bertemu lelaki itu di sini. Batinnya takut.


Entahlah, dia hanya bingung harus berbuat dan bersikap bagaimana ketika ketemu lelaki itu di sekolah.


Tep.. Tep.. Tep.. Dari kejauhan tertangkap oleh matanya sosok Hendry berjalan di koridor.


"Si*l!" Gumamnya gadis itu frustasi. Dia pun membalikkan badannya dan berjalan dengan cepat supaya tak terlihat oleh pemuda itu.


Tapi percuma saja. Penampilannya terlalu mencolok dan tidak biasa, tak mungkin dilupakan oleh pemuda bernama Hendry itu.


Apa itu gadis mysopobia? Dari penampilannya sepertinya memang dirinya. Batin Hendry yakin.


"Hai gadis mysopobia!" Hendry memanggil Melati setengah berteriak.


Melati tak peduli, dan terus saja berjalan tanpa mengindahkan panggilan lelaki berambut coklat itu.


"Apa dia tak mendengar panggilan gua?" Gumamnya. Hendry pun sedikit berlari kecil dan menghadang Melati dengan sebelah kakinya menempel di tembok. "Tunggu! Gadis mysopobia, gua manggil lu." Katanya tersenyum senang. "Ternyata kita satu sekolah rupanya."


Melati tetap tak mengindahkannya. Gadis bermata besar itu mengalihkan pandangannya supaya tak melihat wajah pemuda itu. Dia terlalu takut untuk menatapnya. Kilasan buruk itu masih terus menghantuinya.


Dia masih sama. Hemat berbicara. Batin pemuda berambut coklat itu. "Hei apa lu lupa sama gua? Gua orang yang menyelamatkan lu kemarin." Hendry mengingatkan. Dia benar-benar tak habis pikir dengan gadis di depannya ini.


"Hendry." Ucap Melati singkat tanpa menatapnya sedikit pun.


"Aaaah, kau masih ingat rupanya. Lalu siapa namamu?" Dia masih penasaran. Paska kejadian kemarin entah kenapa bayangan gadis ber-hoodie dan bersarung tangan selalu teringat dalam memorinya.

__ADS_1


"Bukan urusanmu." Jawabnya ketus. "Lebih baik kau tak mengenalku." Kemudian dia pergi meninggalkan pemuda itu yang masih terpaku di sana.


Tampak dari balik hoodie-nya orang-orang tengah menatap ke arahnya dengan saling berbisik satu sama lain. Mungkin membicarakannya? Mungkin juga bukan. Biarlah dia tak peduli sama sekali.


Hendry tersenyum. Gadis itu benar-benar membuatnya penasaran. Kata-kata gadis itu yang melarangnya supaya mereka tak saling kenal, malah seperti sebuah perintah untuk terus mengenalnya lebih jauh.


Dia mengikuti Melati sampai di depan kelasnya. "Kelas XII IPS 1? Ternyata dia satu angkatan sama gua, ya?" Gumamnya dengan senyum lebar.


"Heh!" Hendry memanggil seseorang yang kebetulan ke luar dari kelas itu. "Gua mau tanya sama lu." Katanya galak.


"Ta-tanya apa, Hen?" Kata orang itu ketakutan. Dia tahu siapa Hendry. Menurut rumor yang beredar, dia adalah anak bermasalah yang suka cari gara-gara. Tak segan memukul orang yang menyinggung perasaannya. Tapi sekali lagi itu hanya rumor yang bisa jadi benar, tapi bisa jadi salah.


"Gadis yang duduk di bangku paling belakang, deket jendela, yang suka pake sarung tangan, Siapa namanya?" Tanya Hendry masih dengan nada ketusnya.


Orang itu melihat ke arah yang ditunjuk Hendry barusan. "Di dia Me-Melati. Ga gadis aneh di kelas gua." Jawabnya terbata-bata ketakutan.


Hmmm... Respon Hendry sambil manggut-manggut. "Oke terima kasih, lu boleh pergi." Katanya setelah tahu nama gadis itu. "Melati." Gumamnya sambil tersenyum senang.


...


Ting.. Tong...


Bel pulang sudah berbunyi. Semua orang pun berhamburan dari kelasnya masing-masing. Termasuk Melati. Gadis itu keluar dengan mata sayu akibat kurang tidur. Ditambah pelajaran yang entah mengapa terasa membosankan baginya hari ini.


"Hai." Seseorang menyapanya.


Melati yang sudah sangat mengantuk mendongakkan kepalanya melihat siapa yang menyapanya itu. "Ah." Katanya melihat orang yang menyapanya itu, "Kaa.." Belum selesai dia melanjutkan kata-katanya, gadis itu jatuh pingsan.


"Hei, hei.." Kata lelaki yang menyapanya itu kaget. Dia langsung menangkapnya sebelum tubuh gadis itu benar-benar jatuh dengan keras ke atas lantai. Hhhmmm Lelaki itu menghembuskan nafas berat. Dia pun membawa melati ke UKS.


Setelah kurang lebih satu jam, Melati berada di UKS, akhirnya dia terhadar. Keringat dingin masih membasahi wajahnya. "TIDAK!" Teriak gadis itu ketakutan.

__ADS_1


"Lu kenapa? Mimpi buruk?" Kata lelaki yang mengantar gadis itu ke UKS. Hendry. Ya, ternyata dia Hendry yang langsung menghampiri kelas Melati setelah bel pulang berbunyi.


Melihat wajah Hendry, Melati langsung memalingkan mukanya. "Jangan dekati aku!" Kata gadis itu setengah berteriak.


__ADS_2