I CAN SEE, Your Bad Future

I CAN SEE, Your Bad Future
Mimpi Buruk


__ADS_3

Hendry masih berlari dengan memegang lengan Melati. Kadang gadis itu sedikit kesulitan mengembangi kecepatan lari pemuda itu. Beberapa kali dia hampir terjatuh. Sampai membuat Hendry kesulitan memeganginya.


Para preman itu sudah semakin dekat. Dan hampir saja mengejar mereka. Tangan preman merah tinggal beberapa centi meter lagi berhasil mendapatkan tas hitam yang dipakai oleh Melati.


Melihat itu, Hendry langsung mengangkat pinggang gadis itu dan memutarnya. "LURUSKAN KAKI LU!" Perintah Hendry saat mengangkat gadis itu. Meski agak canggung, gadis itu tetap menuruti perintah Hendry.


BUK! Kaki Melati mengenai muka preman berambut merah.


"AW!" Pekik preman itu sambil terjatuh menabrak keempat temannya yang lain di belakang. Darah segar keluar dari ujung mulutnya. "DASAR BOCAH-BOCAH SIA**N!" Umpatnya sambil menyeka darah dari mulutnya itu.


Keempat temannya merasa bingung antara menolong bos mereka ataukah mengejar kedua anak itu? Kaki mereka maju mundur tak tahu harus berbuat apa.


"KALIAN SEDANG APA? CEPAT KEJAR ANAK-ANAK SIA**N ITU!" Bentak sang bos kepada keempat anak buahnya itu.


Huff.. Keempat anak buahnya melonjak kaget dengan teriakan murka bos mereka. Membuat keempatnya berhamburan mengejar Hendry dan melati lagi.


Kaki Melati yang sering tersandung membuat kecepatan lari kedua anak itu sedikit lambat, membuat mereka hampir tersusul kembali oleh keempat preman yang mengejar mereka itu.


Huuuh.. Lama sekali gadis ini larinya. Kalau begini terus, kita bisa tertangkap beneran. Batin Hendry yang masih menggenggam kuat lengan Melati.


Apa boleh buat.. Batin Hendry. Hap! Dia pun segera memutar gadis bermata besar itu ke punggungnya dan menggendongnya.


"Hei!" Protes Melati dengan perbuatan Hendry. Kaget.


"Sudah, kau diamlah! Jangan banyak protes!" Hendry tahu maksud kata hei dari gadis itu. "Kalau kita lari kayak kura-kura terus, mereka bisa menangkap kita, ya kan?" Kata pemuda itu memberi alasan dan terus berlari sambil menggendong gadis itu.


Tubuh Melati benar-benar terlihat sangat ringan dibawa olehnya. Wuss.. Pemuda itu berlari dengan sangat cepat meski ada beban 40 kg di punggungnya. Berbelok-belok dari satu gang ke gang berikutnya. Membuat para preman itu kehilangan jejak mereka.


"B**NGSEK!! Kita kehilangan mereka." Kata preman berambut biru metalik. Sudah barang pasti mereka akan jadi bahan amukan bosnya nanti di markas.


...


Melati dan Hendry kini tengah duduk di samping sebuah bangunan tinggi berwarna hijau lumut. Pemuda itu masih ngos-ngosan. Dia begitu lelah seharian berlari menghindari preman yang sama. Dia meluruskan kakinya dan mencoba mengatur napasnya yang tak beraturan itu.

__ADS_1


Gadis di sampingnya hanya memperhatikan pemuda itu dalam diam. "Ah, anak ini lagi." Batinnya saat melihat wajah pemuda itu dengan seksama. Pemuda yang tadi menabraknya.


"Lu gak apa-apa?" Tanya Hendry saat melihat gadis itu hanya diam menatapnya.


"Hmmm. Terima kasih." Melati mengangguk mengkonfirmasi dirinya baik-baik saja.


"Dilihatnya saja lu kecil. Tapi ternyata, lu itu berat banget." Kata Hendry masih ngos-ngosan.


Tak ada respon. Melati masih anteng saja melihat Hendry dalam diam. "Irit amat ya ni bocah." Batin Hendry yang merasa heran, karena candaannya tak ditanggapi sama sekali.


"Hendry?" Kata gadis itu dengan nada bertanya. Dia teringat dengan teman sekolahnya, yang jadi bahan gosip tadi pagi. Apa Hendry yang ini? Pikir gadis bermata besar penasaran. Mungkin saja.. Dia memang terlihat seperti yang mereka sebutkan. Batinnya menyetujui.


"Ya? Lu kenal gua?" Jawab pemuda itu.


Melati hanya menggelengkan kepalanya dan menunjuk namtag di baju Hendry. Seketika tawa Hendry pecah.. "Betul juga ya.. Lu lihat ini." Katanya disela tawanya.


"Kalau lu?" Tanya Hendry sambil mengulurkan tangannya mengajak berkenalan.


Deg! Melati tersadar dengan kondisi tangannya. Sarung tangan yang biasa dipakainya telah hilang etah jatuh dimana.


"Hendry!" kata pemuda itu masih memperkenalkan diri.


Siiiit. Sekelebat bayangan mengerikan terlintas di matanya. Ah. Bayangan buruk yang akan menimpa pemuda ini dengan segera.


Melihat kilasan masa depan pemuda ini yang sangat tragis membuka gadis ini langsung berkeringat hebat. Kemudian, dia pun segera menarik tangannya kembali dari genggam tangan Hendry, dan berlari pergi meninggalkan pemuda itu dalam kebingungan.


"Loh? Kenapa pergi. Lu belum sebutkan siapa nama lu!" Kata Hendry sedikit bingung. "Heeem, sepertinya mysopobia-nya sudah cukup akut. Sebanyak apa memang virus di tangan gua?" Kata Hendry bermonolog sambil menertawakan dirinya sendiri.


...


Di Rumah


"Kamu kenapa, Mel? Sakit lagi?" Tanya Bibinya ketika Melati tiba di rumah mereka. Sudah 8 tahun setelah suaminya meninggal Melati memang sedikit aneh, menurut bibinya itu. Gadis itu kadang secara tiba-tiba menggigil seperti sedang demam, dan keringat pun bercucuran. Tapi suhu tubuhnya tetap normal tidak menunjukan gejala sakit demam. Gadis ini seperti menyimpan suatu ketakutan yang teramat sangat.

__ADS_1


Melati tak menghiraukan perkataan bibinya itu. Dia memilih pergi ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Zaky, sepupu kecilnya.


"Kenapa lagi anak ini? Bukannya datang memberi salam malah seperti itu." Gerutu bibinya yang sedang menyiapkan mie untuk dijualnya.


Di Dalam Kamar


Melati masih terengah-engah. Keringatnya mengalir deras. Wajahnya pucat pasi ketakutan.


"Apa yang harus ku lakukan?" Gumamnya.


"Dia akan mati dibunuh?" Katanya semakin ketakutan. Dia menutup kedua telinganya dan memejamkan matanya berharap tak mengingat lagi apa yang baru saja terlihat olehnya.


"Hendry. Sungguh malang nasib, nya." Suaranya gemetar.


Gadis itu mengambil selimutnya dan mencoba untuk beristirahat.


Sia-sia saja. Tak sedikit pun matanya mau berkompromi dengannya. Rasa kantuk itu tak kunjung datang berganti-ganti dengan kilasan penglihatan mengerikan mengenai kematian Hendry.


Gadis itu pun menyerah. Dia bangkit dari tempat tidurnya.. Berganti pakaiannya dengan baju olah raga. "Aku akan lari sejauh mungkin biar bisa melupakan kilasan kejadian itu." Tekadnya.


...


Flashback


"Hendry." Kata Pemuda itu memperkenalkan diri.


Siiiit... Sebuah kilasan terlihat oleh gadis bermata besar itu.


Hendry terkepung oleh puluhan orang dengan wajah yang samar. Tak terlihat wajah tiap orang yang mengepung pemuda itu. Hanya pakaian mereka yang terlihat berantakan dan dengan gaya rambut yang berwarna-warni. Sepertinya di antara sekumpulan orang yang mwngepung pemuda itu, ada si preman berambut merah.


Seseorang di antara mereka menikamkan cerul*t berulang kali ke tubuh Hendry. Hingga dia ambruk bersimbah darah.


Gelak tawa pun pecah mengantar Hendry yang tergeletak di tanah.

__ADS_1


Tampak senyum mengerikan tersungging di bibir seseorang beranting hitam. Penuh kemenangan. Penuh kepuasan.


__ADS_2