
"KEJAR DIA!!" kata seorang laki-laki berambut merah menyala mengintruksikan kepada teman-temannya.
Yang dikejar adalah lelaki berambut coklat dan memakai seragam SMA yang terus berlari secepat kilat. Dia berlari menyusuri jalan panjang di hadapannya, kadang berbelok melewati gang-gang sempit, bahkan menuruni turunan yang cukup terjal. Tak perduli apapun yang menghadang, dia terus saja berlari berlari dan berlari. Seperti sekarang ini dia yang tengah konsentrasi berlari, tiba-tiba saja ada sebuah gerobak sampah yang menghadangnya. Maka dengan cekatannya dia melompat seperti seekor macan. Kedua kakinya membentang, melayang beberapa saat melewati gerobak itu tanpa menabraknya.
"HEI. BERHENTI BOCAH SIA**N!" teriak lelaki berambut merah itu sambil terus mengejar lelaki berambut coklat. Jatuh bangun dan penuh kesusahan mereka berusaha mengejarnya.
Entah di belokan yang ke berapa akhirnya mereka kehilangan jejak pemuda berambut coklat itu. "SIA**AN!" umpat lelaki berambut merah itu kesal. Dia menginjak sebuah kaleng minuman hingga ringsek tak berbentuk lagi. "TUNGGU SAJA KAU YA. LAIN KALI KAU TAK AKAN BISA LARI KEMANA-MANA," katanya berteriak geram.
...
Sekolah
Melati kini telah tiba di sekolah. Dia berjalan memasuki gerbang sekolah.
Hari ini dia sedikit siang sampai di sekolah. Padatnya lalu lalang manusia pagi ini sedikit lebih banyak dibandingkan pada hari-hari biasanya. Entahlah dia juga tidak tahu pasti mengapa begitu. Dan tak peduli juga.
Dia berjalan di koridor menuju kelasnya, di sana dia melewati sekumpulan siswa-siswi yang sedang asyik mengobrol, bergosip di pagi hari.
"Kalian tahu Hendry?" kata seorang siswi kepada teman-temannya.
"Ah, siapa yang gak tahu dia? Diakan badboy sekolah kita. Kerjaannya bikin onar," jawab salah satu temannya.
"Iya. Dia kan langganan dipanggil ke ruang BP dan dihukum berdiri di lapangan," timpal temannya yang lain.
"Bener tuh. Kemarin aja gua lihat dia kejar-kejaran sama preman di jalanan," kata temannya yang satu lagi.
"Iya pusing. Apalagi gua. Gua satu kelas sama tuh anak. Jadinya kelas gua jadi kebawa-bawa jelek gara-gara dia," sungut yang satunya.
Kemudian hening sejenak, saat mereka melihat Melati lewat di hadapan mereka. Terlihat oleh ujung mata gadis itu, kini mereka sedang berbisik-bisik sambil melihatnya. Mungkin membicarakannya? Atau melanjutkan gosip mereka yang sempat terganggu karena kedatangannya. Biarlah dia benar-benar tak peduli.
Dia pun masuk ke dalam kelasnya, kelas XII IPS 1. Meski gadis itu masuk di kelas IPS tapi dia tergolong gadis yang anti sosial. Tak banyak bicara, tak banyak bergaul dengan teman sebayanya.
__ADS_1
Dia pun menuju tempat duduknya yang berada di bangku paling belakang baris pertama. Tempat itu menjadi tempat favoritnya karena berada di dekat jendela. Hembusan angin di sepanjang hari, seolah memberikan kedamaian tersendiri baginya.
Tik tok tik tok tik
Waktu terus berjalan. Pelajaran yang satu berganti dengan pelajaran yang lainnya. Hari ini pun sama saja baginya, tak ada yang spesial. Hingga waktu pulang pun akhirnya tiba.
Jika siswa lain disibukan dengan berbagai aktivitas ekskul sepulang sekolah, tapi tidak dengan dirinya. Dia lebih memilih pulang ke rumah dan membantu bibinya di warung mie atau bermain dengan Zaky sepupunya yang masih berusia tujuh tahun.
Seperti biasa gadis itu berjalan dalam diam. Memperhatikan sekitarnya tanpa banyak bicara. Berjalan menuju stasiun bis yang biasa mengantarkannya pulang ke rumah sang bibi.
...
BRUUK! Lelaki berambut coklat itu yang tak lain adalah Hendry, menabrak seseorang di depannya. Seorang gadis ber-hoodie warna hitam yang ternyata Melati. "Sia**an!" kata pemuda itu geram. Kata-katanya yang tak tahu ditujukan untuk siapa. Ucapannya itu meluncur saja dari mulutnya. Sepertinya dia sedang merutuki dirinya sendiri.
Kakinya sudah sangat lelah, entah sudah berapa jauh dia berlari. Berlari menghindari kejaran lelaki berambut merah dan kelompoknya tadi. Akibatnya, membuat keduanya (dia dan Melati), sampai terjatuh di atas trotoar jalan yang cukup ramai. Sejenak pemuda berambut coklat itu bisa melihat wajah gadis ber-hoodie. Mata mereka sesaat saling bertemu. Sebelum gadis itu kembali memungut headphone-nya yang terlepas. Kemudian memasangnya kembali.
Gadis itu pun kembali berdiri. Menepuk-nepuk rok abu-abunya, dan pergi meninggalkan pemuda berambut coklat yang masih terduduk karena kelelahan. Tanpa satu kata pun terucap dari mulut gadis itu.
Ya. Selama ini memang kadang-kadang banyak orang yang sering mengumpatnya. Entahlah, dia juga tidak tahu pasti penyebabnya. Mungkin karena penampilannya yang kadang dicap seperti anak nakal. Atau karena kelakuannya yang memang menyebalkan.
Ah. Dia sama sekali tidak membantah hal itu. Memang itulah dirinya, seperti yang orang-orang sangka. Kesukaannya memang bolos sekolah dan kadang berkelahi dengan preman jalanan. Dia benar-benar muak dengan mereka yang sok jagoan menindas orang semaunya.
"Sarung tangan?" gumamnya saat teringat penampilan gadis yang ditabraknya tadi. "Apa dia mengalami mysopobia?" pikirnya. Karena biasanya orang yang punya gejala mysopobia yang suka menggunakan sarung tangan.
Dia pun berdiri dan kembali berjalan ke arah yang sama dengan yang dilalui gadis itu.
Gadis itu berjalan di keramaian kota siang itu. Penuh sesak warga kota yang berebut menaiki bis tak dihiraukannya. Dia terus saja asyik dengan dunianya sendiri, mendengarkan musik di headphone-nya. Tas punggung berwarna hitam selalu setia menggantung di punggungnya. Kedua tangan gadis itu masuk kedalam saku jaketnya. Kemudian dia berbalok ke sebuah gang yang cukup sepi untuk mempercepat jarak menuju halte bis tujuannya.
"Hey, gadis SMA!" Kata seseorang di hadapan gadis itu.
Dilihatnya ada 5 orang preman yang menghadang jalannya. Tiga orang memakai baju dan celana warna hitam yang sengaja mereka robek dengan rambut mereka masing-masing berwarna hijau, kuning dan warna pelangi , seorang lagi memakai baju berwarna abu-abu dengan rambut berwarna biru metalik, dan yang satu lagi memakai baju berwarna merah senada dengan rambutnya yang juga berwarna merah. Sekilas bisa di lihat kalau si merah adalah pemimpin dari ke empat preman lainnya.
__ADS_1
"Serahkan uang dan barang berharga yang kamu punya!" kata preman merah hendak merampok Melati. Dia mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Sebuah belati kecil. Kemudian mengarahkannya ke arah Melati.
Melihat itu, tentu saja dia merasa takut dan mundur beberapa langkah menjauhi sang preman. Terlambat! Keempat preman yang lainnya telah terlebih dahulu mengepungnya.
"Apa yang kalian inginkan dariku?" Kata gadis itu tak gentar. Baginya bertemu preman-preman itu tidak lebih menakutkan dari mimpi-mimpinya setiap malam. Gadis itu bersiap dengan kuda-kudanya.
"Jangan melawan gadis kecil!" kata si rambut merah itu mengancam. "Serahkan saja uangmu atau barang berhargamu!" lanjutnya sambil terus menodongkan sebilah belati itu pada Melati.
"Bos, lihatlah! Gadis ini juga lumayan cantik," kata preman berambut biru dengan senyum liciknya.
"Banar juga lu," jawab preman rambut merah setuju. "Gak apa-apa kalau kamu gak punya apa-apa, cantik. Kita bisa berenang-senang saja," lanjutnya sambil tertawa.
Melati masih bersiap di tempatnya. Menunggu para preman itu menyerangnya terlebih dahulu. "Hahahaha," tawa gadis itu mengejek. "Lebih baik aku mati dari pada harus kalian rusak," katanya menantang.
Seketika para preman itu pun terpancing dan mulai menyerang Melati. "Berani juga nih gadis teng*k, perlu dipaksa dulu rupanya. SERANG!" Katanya mengintruksikan pada keempat kawannya yang lain.
HAAA.. semua maju hendak menyerang Melati dan gadis itu pun sudah siap di tempatnya. "Ini tidak menguntungkan! Mereka terlalu banyak," batinnya.
Pletak ... Pletak ...
Beberapa kaleng minuman mengenai kepala para preman itu dari arah belakang.
Seketika mereka menoleh ke arah kaleng-kaleng itu berasal. "KAU LAGI BOCAH SIA**N!" kata preman berambut merah mengenali orang yang melempari mereka.
Ternyata itu Hendry si pemuda berambut coklat yang sebelumnya kejar-kejaran dengan mereka.
Dengan cepat pemuda itu menarik lengan Melati dan membawanya berlari pergi.
"BERHENTI KALIAN!" Kata preman berambut merah itu geram.
Bersambung ...
__ADS_1