
"Lil, besok sore Nanas ngajakin ketemuan. Elo bisa kan? Gue udah WA Rara juga dan kita berdua oke." Ucap Puspa saat bertemu di perpustakaan kampus.
"Besok sore ya.... Gue selesai kuliah sih cuma sampe siang aja."
"Iya, besok sore, pas kan jadwal kuliah elo sampe siang dan sore kita langsung jalan. Kumpul di kampus aja. Soalnya pas banget momentnya. Elo tahu kan si Nanas itu jadwalnya padat merayap banget, jadi pas jadwal kuliah kosong kita nongki bareng.
Kayanya si Nanas ada yang mau diceritain, soalnya jarang banget Nanas ngajak duluan. Di antara kita, dia kan yang paling pasif punya ide buat ngajakin jalan duluan."
"Hmmm...iya...iya.."
Nanas panggilan akrab kami untuk Nasyila, teman kami anak fakultas Hukum. Letak kampus kami yang berbeda tempatb dengan kampus Nanas dan jadwal kuliah Nanas yang super padat, membuat kami memang jarang bertemu. Dan komunikasi kami hanya melalui WA atau vidcall.
"Pus, bisa gak sih suara elo itu dikecilin dikit volumenya, ini perpus neng, ntar yang ada penjaga perpus melotot dan kita ditendang dari sini." Kataku berbisik sambil menarik tangan Puspa mengarah ke arah sudut perpustakaan.
"Habisnya elo kayanya ragu-ragu gitu. Gak biasanya elo bersikap gitu. Mencurigakan."
"Apaan sih elo Pus."
Tiba-tiba ada yang mencolek bahuku,
"Lil...besok sore jadi kan kita ke Cafe? Di area Central Park aja ya."
Puspa langsung memandang sosok tersebut dan langsung beralih menatap aku silih berganti.
"Agh....Kak Valent datang di waktu yang tidak tepat." sungutku dalam hati sambil menggaruk keningku.
"Oh jadi besok sore ada janji ya mau keluar sama Kak Valent ya Lil?" ketus Puspa sambil menatap sinis ke arah aku.
"Oke Lil, Puspa, aku balik ke kelas dulu ya. Jangan lupa besok ya." Ujar kak Valent sambil berbisik di telingaku.
Aku cuma terdiam menatap ke arah Kak Valent yang menjauh dan beralih menatap Puspa yang masih menunggu penjelasan ku sambil bertolak pinggang.
"Oke Lilya... Coba silahkan jelaskan dengan seksama hubungan kamu dengan kak Valentmu itu sudah sejauh mana.
Atau mungkin ada cerita kisah kalian yang aku gak tahu?" seru Puspa sambil menarik lenganku dan mencari bangku kosong.
"Gue gak bisa jelasin di sini Pus, ini perpus, mana bisa kita berisik di sini."
__ADS_1
Tapi bukan Puspa namanya yang memiliki tingkat kepo level dewa.
Dia tidak akan berhenti sebelum mendapat informasi sejelas-jelasnya. Dan kalau sudah seperti ini, aku hanya bisa berkata jujur ke Puspa.
Akhirnya kami keluar dari perpustakaan, dan menuju ke Gazebo, tempat biasa kami nongkrong. Dan begitu kami duduk, Puspa langsung memborbardir dengan berbagai macam pertanyaan.
"Oke ...oke... gue cerita. Gue udah jalan sama kak Valent beberapa kali dan diantar pulang juga. Udah saling WA juga. Tapi sejauh ini hubungan kami masih dalam tahap pertemanan aja. Dan besok Kak Valent mau ajak aku ke Cafe, katanya ada yang mau diomongin. Dan gue gak tahu apa yang mau diomonginnya itu. That's all.
Puas Puspa??"
"Trus elo pilih pergi sama Kak Valent atau sama kita?"
"Gue gak tahu Puspa. Gue udah iyain dulu ke Kak Valent. Nah elo kan baru bilang ke gue tadi di perpus kalau mau meet up bareng anak-anak. Diundurlah dulu meet up nya. Please... Nanti gue yang traktir deh. Atau sekalian pas weekend kita naik ke Puncak nginep pas villa Oma gue kosong. Gimana?? Mau ya?? Ya ...ya..." Ucapku dengan wajah dan suara memelas, berharap Puspa menyetujui usul aku.
"Okelah, ntar gue bilang ke Rara sama Nanas. Dan setelah elo jalan bareng kak Valent elo itu, elo mesti cerita lengkap ke kita."
"Siap bos!! Elo memang teman gue yang paling baik hati dan pengertian." Ucapku sambil memonyongkan bibir seakan-akan ingin mencium Puspa.
"Lil, jangan mabok ya elo siang bolong gini. Dilihatin mahasiswa lain ntar disangka gue bengkok lagi."
🍃🍃
" Hmm... Cafe ini sangat unik, cozy dan terlihat instagramable." pikirku sambil berdecak kagum atas pilihan Cafe kak Valent.
"Lil, duduk di sini saja ya." Ucap Kak Valent sambil menarik kursi aku untuk duduki.
"Terima kasih Kak."
So romantis dan ini persis seperti di film yang aku tonton saat dimana kencan pertama.
Gugup, bingung, dan yang pasti perasaan aku seperti balon yang rupa-rupa warnanya dan siap meletus.
Aku memandang wajah tampan yang memiliki lesung pipit ini....
Tutur katanya, sikap dan perhatiannya sukses melengkapi kharisma pesonanya.
__ADS_1
Setelah memilih dan memesan beberapa menu, Kak Valent mulai membuka percakapannya.
"Lil, aku mau bilang.... aku suka kamu.
Jujur... dari pertama ketemu saat OSPEK itu, wajah dan gaya kamu sudah menarik perhatian aku. Dan akhirnya aku mulai mendekati kamu.
Dan sampailah di titik perasaan aku, kalau aku harus mengutarakan perasaan aku dan memiliki kamu sebagai kekasih aku."
Aku kagum dengan pernyataan perasaannya yang secara gamblang dan detail diungkapkan ke aku dengan sangat jelas.
Dia mampu melukiskan perasaannya melalui seuntai kalimat yang begitu indah dan membuat seorang Lilya mabuk kepayang.
Aku sempat mencubit tanganku dan memastikan kalau ini bukan mimpi atau sekedar khayalan ku semata.
Aku menarik nafas panjang dan mengumpulkan segenap kekuatan untuk membalas kalimatnya.
"Kak...Makasih ya untuk perasaan Kak Valent ke aku." Ucapku perlahan.
"Maksud... maksud Lilya gimana?" sambung Kak Valent sambil memajukan badannya ke arahku dan wajahnya terasa sangat dekat dengan wajahku.
Aku menjadi tambah gugup kalau sedekat ini. Aku belum siap. Bahkan hembusan nafasnya serasa menerpa wajahku. Aku menarik mundur sedikit wajahku agar tidak terlalu dekat dengan Kak Valent.
"Maksud aku...Hmm.... Aku rasa kita belum saling mengenal satu sama lain Kak. Dan jujur aku masih sangat kaget dengan pernyataan Kak Valent.
Aku sepertinya butuh waktu Kak." Seraya menunduk aku memutar jariku mencari pengalihan tatapannya.
Entah kenapa tiba-tiba kalimat itu yang meluncur dari mulut aku. Apa harusnya aku langsung terima saja perasaannya? Agh...aku bahkan bingung dengan perasaanku sendiri sekarang.
Aku memang menyukainya, tapi aku buuh kedekatan lebih lagi. Belum lagi semua predikat playboy yang beredar di luar sana, membuatku merasa ragu dengan perasaannya terhadapku.
Dan sekarang aku bahkan tidak berani menatap wajah dan lesung pipitnya.
Mungkin Kak Valent kecewa terhadap aku.
Apa aku salah berucap? Tapi rasa takut dan ragu, mengalahkan semua perasaan aku kepadanya.
" Oke Lil, aku ngerti kok. Aku akan kasih kamu waktu sampai kamu yakin dengan perasaan kamu sendiri, dan aku harap apa yang aku rasain ini juga rasa yang sama dengan perasaan kamu." Katanya sambil tersenyum dan lagi lagi lesung pipitnya terukir indah diwajahnya.
__ADS_1
🍃🍃
Makasih ya untuk setiap like, dan komentarnya.. 😘😘😘