
Setelah kencan dengan kak Valent, semakin hari hubungan kami semakin dekat, walau tanpa embel-embel sepasang kekasih, bahkan komunikasi lancar bagaikan jalan tol bebas hambatan.
Kehadirannya membawa warna baru dalam hari-hariku.
Saat ini kami sama-sama sibuk dengan ujian mid semester kami.
Belum lagi laporan organisasi yang harus aku selesaikan karena aku merangkap menjadi sekretaris HiMaJa(Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi).
Setelah mid semester yang membuat rambut lurusku menjadi keriting tiba-tiba, sepertinya menginap di Puncak adalah pilihan yang tepat.
Dan sekalian memenuhi janjiku kepada ketiga sohibku untuk menghilangkan sejenak kepenatan dan kemacetan di kota Jakarta menuju tempat nongkrong favorit kami.
Hmmm... Puncak memang selalu menjadi tujuan utama kami untuk liburan, selain hawanya yang sejuk dan menyegarkan mata dengan pemandangan alamnya yang hijau, dan banyak juga jajanan yang menggugah selera.
Selain itu, kawasan Puncak memang menjadi tempat favorit para anak muda dari kota Jakarta dan sekitarnya.
Memasuki area Puncak, kami langsung mencari salah satu resto terdekat. Dan kebetulan kami semua penyuka nasi Padang. Dan RM Simpang Raya menjadi pilihan kami untuk makan siang.
"Asli gue senang banget kita bisa ngumpul-ngumpul kaya gini, apalagi pas selesai Mid Semester." Ucap Nanas sambil memperhatikan para pedagang di sepanjang trotoar.
Memasuki area kawasan Puncak, mata kami berbinar dan langsung tertuju pada RM Simpang Raya Cisarua untuk mengisi perut kami yang sedari tadi meronta minta diisi.
__ADS_1
Dan nasi Padang memang merupakan tujuan kami saat lapar. Selain cepat saji dan nasinya yang melimpah ruah sesuai dengan porsi kami berempat.
"Andai saja Jakarta udaranya sejuk gini ya. Nikmat banget pasti." ucapku disela sela menikmati ayam kari dan paruh kesukaanku.
"Mas, minta jus alpukat ya satu".
Lil, busyet deh... Itu nasi segambreng dan lauknya ditambah jus alpukat lagikah?
Gak salah Lil..perut apa karung?" Nanas terheran heran menatap aku.
🍃
Berboncengan dengan Kak Valent dengan Mogenya, memeluk erat pinggangnya, sambil mengelilingi kota Puncak yang sejuk itu sangat menyenangkan.
Apalagi menggunakan kostum jaket kulit yang menempel pas di tubuhnya yang tinggi, makin membuatku terpesona dengan sosoknya.
Udara dingin yang menyelimuti kulitku terasa hangat seketika saat kak Valent memelukku dengan erat, bukan hanya rasa hangat..tapi jantungku pun berdetak cepat.
Semoga dia tak mendengar degupan jantungku. Dan wajah kami makin mendekat dan dengan segera aku menutup mataku dan tiba-tiba...
__ADS_1
"Lil... Lil...Lil... cabut yuk, udah kelarkan makannya semua?
Kita lanjut ke villa, ntar malam baru keluar lagi." Seru Puspa sambil membaca struk pembayaran.
"Giles.... seminggu kita disini dan makan model gini, gue jamin timbangan cepat bergeser ke kanan terus."
Sejenak aku tersadar dari khayalanku tentang kak Valent.
"Puspa... elo mengganggu khayalan gue .. tega banget deh... belum juga sempat dikiss gue."
"Hah... siapa yang mau kiss elo Lil? Alamak, siang gini elo masih halu... ckckckck." Sambil mengambil kunci mobil dan dilemparnya ke Rara.
"Nanas, elo jadi mau beli cemilan buat di villa? Sekalian sama keripik gue ya bayarin." Rara memilih beberapa keripik kesukaannya dan menyerahkan kepada penjual untuk dibungkus sekalian.
"Ra, kalo lihat keripik kok gue jadi inget sama Elnita anak Fakultas Sastra yang hobi bagi bagi keripik kalo ketemu. Apa mungkin dia juragan keripik kali ya." Sahutku sambil memandang jejeran keripik dengan berbagai rasa.
🍃
Setelah puas memilih jajanan, mobil kamipun melaju menyusuri jalanan di
kota Cisarua dan sesekali tertawa atau bernyanyi bersama.
__ADS_1