
Baru sekarang perasaan gini amat. Semangat banget ke kampus meskipun mata kuliah Statistik itu nyebelin, tapi entah kenapa rasanya semangat kuliah melebihi semangat para pejuang kemerdekaan.
Hufh... kayanya aku bakalan telat lagi. Mana tuh dosen galak gak ketulungan.
"Apes...apes...." gerutuku dalam hati sambil jalan setengah lari menuju ke kelas.
"Permisi Pak, maaf saya terlambat, macet pak" kataku sambil menundukan wajah.
"Ya sudah, sana duduk."
Langsung kujalan sambil mencari kursi kosong, dan sekilas sosok kak Valent duduk di kursi paling belakang dekat jendela.
"Astaga... itu beneran kak Valent atau ilusi ?" jeritku dalam hati sambil setengah membuka mataku lebar-lebar. Dan aku merasa jantungku berdetak lebih cepat.
Ya ampun pas dia melihat ke arah aku dan tersenyum pula. Mamiiii... senyumnya manis banget. Dan pas disampingnya ternyata kosong. Kesempatan ini gak bisa dilewatkan. Aku bergegas berjalan ke arah kursi kak Valent.
"Kak, kosong ya.Boleh duduk gak?"
__ADS_1
"Iya.. Duduk aja" jawab kak Valent sambil menggeserkan kursinya dan memberikan jarak untuk aku duduk.
"Makasih kak"
Mimpi apa ya semalam, koq bisa duduk barengan sama gebetan. Dan aku mandangin barisan angka di depan sambil senyum sendiri.
"Kamu.. Ya kamu yang pake kaos ungu, coba selesaikan jawaban didepan" tiba tiba suara bas Pak Dosen membuyarkan lamunanku.
" Saya pak?" tanyaku memastikan.
Dan aku menatap Pak Dosen baru ini, baru nyadar ternyata lumayan ganteng juga Pak Dos baru ini, dengan tinggi badan sekitar 170, lumayan tinggi dan kekar. Sepertinya dia sukq ngegym juga pikirku karena lengan tangannya berotot.
Untung otakku termasuk cemerlang, sambil berjalan ke depan kelas, aku masih menatap soal didepan.
Dengan lancar aku menulis jawaban soal di depan kelas. Dan Pak Dosen mendekatiku sambil memeriksa jawaban soal. Tercium harum parfumnya yang maskulin, dan alhasil aku menatap wajahnya yang bersih mulus dan putih dengan sedikit cambang.
Sepertinya dia sadar kalo aku memperhatikannya, dan dia menatap balik,
__ADS_1
" Nama kamu siapa?" tanyanya masih sambil menatap lurus kearahku.
" Saya Lilya pak." jawabku sambil memperhatikan detail wajahnya. Baru nyadar ternyata ada dosen yang ganteng di kampus ini. Sambil mulai meneliti wajahnya. Wajah oriental campur western sepertinya," gumamku dalam hati.
"Kamu boleh duduk, jawaban kamu benar".
"Terima kasih pak." Dan aku kembali berjalan ke tempat dudukku sambil tersenyum.
"Lil, ntar pulang mampir ke kantin yuk," terasa kak Valent menyentuh tanganku sambil berucap.
"Ok kak, ntar barengan aja ke kantin. Aku juga lagi nunggu jam kuliah berikutnya. Eh koq kak Valent bisa ngambil di kelas ini?" karena setahu aku kak Valent ini kakak senior.
"Aku ngulang kemarin sempat remedial," ujarnya sambil garuk kepala dan nyengir.
Gak terasa mata kuliah dosen ganteng ini berakhir juga, dan kami siap siap menuju ke kantin kampus. Aku dan kak Valent berjalan menuju kantin dan sepanjang koridor kampus ternyata banyak yang menyapa kak Valent sambil senyum senyum. Siapa sih yang gak kenal kak Valent, bintang basket, ganteng, kulit kecoklatan dan memiliki tubuh atletis. Dan aku juga merasa bangga jalan bareng dengan kak Valent.
"Len, siapa lagi ini disamping elo? kenalin dulu dong Len" tiba tiba seorang temannya bertanya sambil melirik ke arahku. Dan sesaat langkah kami berhenti karena pertanyaan teman kak Valent.
__ADS_1