
Sekolah
Tempat gue buat bermain:v canda elah, gue punya 1 temen doang disini, Rio, temen sekaligus sahabat gue yang indigo, dia aja kaget karna gue bisa liat Melati padahal gue kaga indigo.
Brumm brumm
Suara deru motor ninja gue masuk ke pekarangan sekolah yang megah itu, SMA NusaJaya, SMA elit yang cukup terkenal, sangat terkenal malah.
Disini gue Verrel sebagai mostwanted paling dingin dan berbakat, ya ya ya gue males ajg!. Gue ama Rio emang kalo bahas mesum pasti bakal bikin cewe ilfiel tapi ada juga yang ngajak ***** njiir.
'Aaaa!!! Verrel makin ganteng!'
'Verrel nanti pulbar yok'
'Verrel² lo mau ga jalan ama gue ntar gue kasih bonus deh'
'Verrel jadian yok!'
Begitulah seruan histeris siswi² di sekolah gue, begitu sampe gue cuma senyum kecut dan pasang muka datar, gue langsung pergi ke kelas gue, disana udah ada Rio yang asik godain ciwi².
"Woi! rel!," panggilnya.
"Paan? masih pagi jan ngomongin mesum dulu, gue masih ngantuk nih," balas gue.
Beginilah gue, bangun biasa pagi jam 5 tapi sampe sekolah malah tidur di kelas/UKS, hah.. voila! gue psyco tapi bisa liat mahluk astral and gue susah cari sesuatu yang menarik, aneh² aja sih.
"Dih, elu mah ya. Gue cuma mau ngasih tau hari ini ada murid baru yang masuk kelas kita," sewot Rio.
"Ya ya ya, kaga menarik buat gue," balas gue males.
Sumpah lah ya gue males banget dah kalo dia mulai ngegosip kaya gini, ini masih pagi woy! udah ngegosip aja kaya emak², dasar Rio kenapa kaga jadi hode aja sekalian?! kesel gue, tapi jangan juga sih ntar dia seneng ama gue trus gue di perkosa hi... amit².
Gue pun duduk di kursi kesayangan gue, kursi di pojokan kelas bahkan ga ada yang berani duduk di sebelah gue, oh iya ada lagi, gue paling ga suka di usik karna siapapun yang ngusik idup gue bakal babak belur atau yang paling parah mati.
~oOo~
Author pov
Seorang gadis cantik nan seksi sedang berjalan dengan santainya ke kelas Mipa A di SMA NusaJaya, kelas yang ditempati Verrel, dialah siswi baru yang dimaksud, saat itu para murid sudah masuk ke kelas masing².
Ritha Yuniar adalah nama gadis itu, walaupun terlihat ramah diluar tapi sebenarnya dia membawa bencana untuk sekolah itu, mungkin akan sama seperti sekolahnya sebelumnya.
Ritha pun masuk ke dalam kelas yang sudah terdapat guru, dia melemparkan senyuman menggoda ke semua orang, semua ikut tergoda sampai cewe pun ikutan kecuali Verrel yang tampak biasa saja melihatnya.
Ritha memperkenalkan diri lalu duduk di sebelah Verrel karna hanya kursi itu yang kosong.
"Hallo!," sapanya.
"...."
Verrel tak menggubris malah memalingkan pandangannya ke jendela, Ritha murung tapi Rio menghiburnya.
"Udah, lo duduk aja atau lo duduk ama gue aja, di pangkuan gue nih. Daripada ama si kulkas ntar yang ada lo di kacangin mulu," sahut Rio sambil menepuk pahanya.
"Ga ya makasih," balas Ritha ketus.
Ritha agak ga suka kalo di goda kaya gitu, dia pun langsung duduk di sebelah Verrel dengan wajah di tekuk.
Saat pelajaran sedang berlangsung Verrel sempat melirik dan memperhatikan Ritha, dia tercengang melihat nya, anjay.. junior nya tegang dong, help... ada yang bisa bantu Verrel? hasratnya itu loh, dia sampe gemeter.
Gleg
Verrel meneguk ludahnya paksa, pemandangan yang begitu indah tak bisa dia sia² kan, bagaimana tidak? Ritha memiliki dada yang besar dan body yang begitu menggiurkan, ingin rasanya Verrel menerkam tubuh mungil itu jika saja dia sedang tak di sekolah.
'Sabar rel sabar, ya kali lo mau nerkam dia sekarang. Bisa² lo masuk penjara, dih amit² gue masuk penjara, najis!,' batin Verrel menahan hasrat yang menggebu gebu.
Pelajaran pun sudah selesai tapi Verrel belum juga beranjak dari duduknya sama dengan Ritha yang ga mau ke kantin, panas katanya, mereka hanya berdua di dalam kelas membuat Verrel makin gemetar.
"Lo kenapa gemeter?," tanya Ritha yang menyadari Verrel gemetar.
"....."
__ADS_1
Lagi² Verrel tak menjawab dan memandang lurus ke bawah, dia memperhatikan seseorang, wanita mengenakan pakaian serba hitam, bersembunyi di balik kegelapan dan hanya Verrel saja yang melihatnya.
"Woi! lo dengerin gue ga sih?," kesal Ritha karna terus di acuhkan oleh Verrel.
"...."
Verrel diam membuat amarah Ritha naik ke puncak sampai dia menarik tangan Verrel dan duduk di pangkuannya, tentu saja aksi Ritha mengejutkan Verrel, dia hanya menatap Ritha tak percaya dan menahan hasratnya mati²an.
"Lo tegang ya?," tanya Ritha begitu merasakan benda keras menusuk pantatnya.
"...."
Verrel diam dan kembali menatap luar jendela, membuat Ritha makin kesal.
"Woi! jawab gue napa?! lo punya mulut kan?!," kesal Ritha.
"Diem sebelum gue nerkam elo," kesal Verrel dengan suara bergetar.
Ritha terkejut tapi kemudian dia menyeringai, Ritha mendekatkan jarak antara wajah mereka.
"Kalo gue perkosa elo gimana?," tanyanya menggoda.
"Lo gila ye? minggir!," kesal Verrel.
Bukannya menyingkir Ritha malah menggesekkan pantatnya hingga membuat junior Verrel menegang, astaga... disaat banyak orang menjauhi Verrel, dia malah berani memperkosanya. Tangan Verrel mengepal erat menahan apa yang sudah Ritha bangunkan.
Tak tahan dengan godaan dari Ritha, Verrel membalikkan tubuh Ritha menghadapnya, dia menatap Ritha penuh nafsu dan yang di tatap hanya menyeringai kemenangan.
"Lo dengan beraninya udah bangunin apa yang seharusnya ga lo usik," ujar Verrel dengan suara bergetar dan berat.
"And then?," tanya Ritha tak bersalah.
"Gue ga mau tau, lo yang harus buat dia tidur lagi," jawab Verrel dengan serius.
"Ok, siapa takut," balas Ritha tak takut sama sekali, Verrel menyeringai.
Verrel dengan ganasnya menc1um bibir Ritha, dia sudah tak peduli lagi ada dimana, begitupun Ritha yang entah kenapa begitu menikmati nya, 5 menit berlalu, Ritha dan Verrel menyudahi cium4n sekaligus ******* mereka tapi Ritha tetep duduk di pangkuan Verrel.
"Bacod lo yo! udah diem aja," jawab Verrel dengan gemetar, Rio dan teman²nya terkejut mendengar suara Verrel yang bergetar.
"Hihihi...," Ritha terkekeh mendengarnya.
"Woahh.. ternyata lu bisa tegang juga, gue pikir lo homo," celetuk Rio yang langsung ditatap tajam Verrel.
"Peace✌ bro," ujar Rio sambil nyengir.
"Ta, minggir," perintah Verrel penuh penekanan.
Ritha pun menyingkir dan duduk di sebelah Verrel.
"Yo, lo ijinin ke guru. Gue mau balik," ujar Verrel mengejutkan Ritha.
"Ok bro," balas Rio santai karna memang Verrel sudah biasa.
Verrel pun pergi diikuti Ritha yang memaksa ikut, Verrel hanya bisa menghela napas pasrah mendengar permintaan Ritha.
'Tuhan... cobaan apa yang sedang kau berikan padaku?,' batin Verrel berteriak saat dia merasakan benda kenyal menempel di punggungnya.
"Ta, rumah lu dimana?," tanya Verrel di perempatan.
"Bisa ga kita ke rumah lo aja? gue ga mau pulang," jawab Ritha lesu.
"...."
Verrel berpikir sejenak, lalu mengangguk tapi tentu saja Ritha tak melihatnya karna dia menunduk sambil memeluk pinggang Verrel, Verrel melajukan motornya ke apartemennya.
"Kita ngapain disini?," tanya Ritha bingung.
Ya jelas dia bingung, Verrel bawa Ritha ke apartement nya yang sangat mewah dan berada di perum Jayamarga, perumahan mewah di negara ini.
Verrel berniat membiarkan Ritha tinggal disitu hitung² penghangat ranjangnya😂, tapi Verrel ga tinggal disana, bisa² dia ga bisa bunuh orang lagi hihi😈.
__ADS_1
"Kalo lo ga mau pulang, lo bisa tinggal disini," ujar Verrel sambil menarik Ritha ke dalam apartement nya.
Ritha menganga tak percaya, dia? ditawarin tinggal disini? pasti ada maunya.
"Trus? lo mau apa dari gue?," tanya Ritha.
"Ranjang gue terlalu dingin buat ditidurin sendiri," jawab Verrel santai membuat Ritha kaget.
"Lo mau gue jadi penghangat ranjang lo?!," kesal Ritha.
"Kalo lo mau sih, tapi lo kaga mau gue kaga maksa kok," balas Verrel acuh.
Dia menjatuhkan pantatnya di sofa begitu saja, membiarkan Ritha berdiri mematung.
"Heh! asal lo tau aja ya, gue gini² juga masih virgin. Lo kira lo siapa berani nawarin gue kaya gitu hah?!," kesal Ritha sudah di ubun².
"Oh ya? bagus lah, jadi enak," gumam Verrel membuat Ritha ingin sekali memukulnya, seharusnya dia tak menggoda Verrel seperti tadi, jadi nyesel sendiri kan.
"Sini, ngapain lo berdiri di situ," ujar Verrel sambil menepuk sofa di sebelahnya.
Ritha berjalan ke arah Verrel tapi ga duduk di sebelahnya malah dia duduk di pangkuan Verrel lagi, kali ini Verrel diam sambil menatap Ritha kesal, lagi² Ritha membangunkan juniornya, padahal tadi dia mati²an menahan hasratnya sampe sakit dan sekarang dia harus main solo? hah.. no thanks ya.
"Lagi? oh Ritha, come on. Lu ga bisa ya ga bangunin junior gue?," kesal Verrel.
"Salah siapa lu kegoda ama gue?," balas Ritha tak merasa bersalah.
Setelah perdebatan yang panjang akhirnya Verrel main solo di kamar mandi, Ritha hanya tersenyum kemenangan mendengar desahan Verrel yang lagi main solo.
Mansion keluarga William
Verrel langsung pergi ke kamarnya tanpa melirik keluarganya di ruang makan, kebiasaan anak itu dari dulu susah buat diilangin, kebiasaan yang membuat Verrel hampir melupakan sekitarnya, dia kalo udah suka sesuatu pasti bakal fokus ama itu doang, yang lain hampir dilupain.
Dia kembali pergi mencari mangsa untuk dia habisi, sebenarnya Verrel punya tujuan lain, mencari tau rahasia yang sangat dia cari, rahasia kematian oppa, omanya bertahun tahun yang lalu.
Jadi oma dan oppanya Verrel meninggal dengan cara tak wajar, ada yang bilang sih mereka bunuh diri, tapi Verrel tau oppa sama omanya bukan orang bodoh yang bunuh diri tanpa alasan.
Verrel pun pergi dengan mobil sport miliknya, dia berkeliling kota mencari mangsa.
"Aha, itu dia kepalanya," gumam Verrel.
Verrel menemukan segerombolan preman yang mengganggu seorang wanita, Verrel langsung mengenakan topeng, sarung tangan dan jubahnya lalu turun dari mobil, Verrel menyanyikan lagu kematian yang begitu mencekam sehingga mereka semua merinding.
Sang wanita hanya meringkuk takut di pojokkan gang, Verrel hanya membunuh orang memang membuat masalah seperti mereka, paling kalo orang yang ga bersalah orang udah tau identitasnya doang.
"Hello victim," sapa Verrel merubah suaranya membuat semua orang yang disana membeku.
"I can see you, i can see you. Play with me, no need to run away because you can't run away," kata² yang akrab di dengar korban dewa kematian.
Keringat dingin mulai bercucuran, semua orang takut pada dewa kematian, wanita yang mereka ganggu pun menangis tersedu sedu karna takut dewa kematian akan membunuhnya.
"Hihihi... good bye," ujar sang dewa kematian yang tak lain adalah Verrel.
Verrel memukul mereka semua sampai berdarah, barulah dia memulai penyiksaan yang begitu menakutkan.
Verrel tanpa rasa takut atau ngeri langsung menebas tangan mereka satu per satu, tentu hal itu membuat korbannya sekarat, Verrel tertawa senang tapi bagi korbannya itu adalah tawa kematian.
Verrel menyiksa mereka dengan memotong kedua kaki korbannya dengan sadis, sang wanita terdiam dan terus menangis, walaupun Verrel tak menyentuh nya bukan berarti dia tak akan dibunuh.
Darah sudah membasahi jubah dewa kematian, darah juga mengotori pisau dan tangan dewa kematian, tawa sang dewa kematian membuat siapa saja merinding, setelah memutilasi anggota gerak korbannya Verrel kemudian membuat si korban buta, lalu Verrel merobek perut mereka dan mengeluarkan isinya dan yang terakhir Verrel dengan mudahnya memenggal kepala korban.
Setelah semuanya mati Verrel mendekat ke wanita yang tampak ketakutan tapi senang karna ada yang menolongnya, Verrel meraih tangan sang wanita dan berbisik.
"Kuharap kau tak memberitahu siapapun, atau kau akan mati dengan cara yang lebih sadis dari mereka," bisik Verrel penuh penekanan membuat sang wanita merinding dan langsung mengangguk cepat.
"Bye, ati² ya," ujar Verrel yang bisa menahan keinginan membunuhnya.
Sebelumnya dia terkejut melihat siapa yang dia selamatkan, Ritha. Verrel ga ngerasa kalo Ritha pergi dan apartement nya, trus kapan dia pergi? batin Verrel terus bertanya tanya dan akhirnya dia mengikuti Ritha ke rumahnya.
Tentu saja Verrel melepas identitasnya sebagai dewa kematian, Verrel mengikuti Ritha yang mengenakan pakaian yang begitu seksi.
"Dia bilang masih virgin, trus apa²an bajunya itu? gue tawarin yang bagus aja ga mau hu.. sok suci," gumam Verrel kesal.
__ADS_1
~oOo~