
Keesokkan paginya
04.20 pagi
"Emh..," lenguhan seorang gadis muda yang terbangun dari tidurnya.
"Aww...," rintihnya begitu merasa bagian bawahnya sakit dan nyeri.
Rintihannya terdengar sampai membangunkan seorang pria di sebelahnya.
"Masih sakit?," tanya pria itu.
"He'em, lo sih maennya 4 ronde," jawab sang gadis.
"Bukan 4 tapi 5," ralat sang pria.
"Ihh.. minggir rel, gue mau mandi. Badan gue lengket banget nih," usir sang gadis yang tak lain adalah Ritha Yuniar.
Sedangkan sang pria adalah Juliano Verrel William, mereka berdua benar² menghabiskan waktu bersama, btw Ritha ternyata memang masih virgin, Verrel sempet ga percaya tapi dia tau kalo Ritha selalu menjaga kesuciannya.
"Yuk, mandi bareng," ajak Verrel dengan tatapan mesum, Ritha melotot.
"Ga ada! nanti malah lanjut lagi di kamar mandi," bantah Ritha.
"...."
Verrel tak menjawab malah menekuk wajahnya, Ritha berdiri sambil membawa selimut karna tubuhnya tel@njang, tapi selang beberapa langkah Ritha terjatuh karna bagian bawahnya nyeri.
"Aww..!!," pekik Ritha mengundang tawa meledek Verrel.
"Hahaha... tadi kan udah gue tawarin, tapi lo yang bandel," ejek Verrel.
"Ish.. bantuin kek," rintih Ritha.
"Iya²," balas Verrel sambil turun dari ranjang.
Verrel mengangkat tubuh Ritha ke kamar mandi, dia mengisi bathub dengan air hangat dan meletakkan Ritha di dalamnya, Verrel membantu Ritha mandi karna bagian bawah Ritha masih agak nyeri, Ritha sedikit tersentuh karna perilaku Verrel yang melembut padanya.
"Thanks ya, lo ternyata bisa muasin gue," ujar Verrel setelah mandi.
Saat ini Ritha sedang berada di dapur dan Verrel memeluk Ritha dari belakang.
"Hm.. minggir, lo gangguin gue tau ga," kesal Ritha.
"Engga tuh, gue ga ngerasa gangguin elo," balas Verrel, tak berselang lama makanan pun jadi dan mereka memakan makanan nya.
SKIP
Sekolah
1 sekolah heboh karna Ritha dan Verrel berangkat bareng naik mobil sportnya Verrel, bahkan Rio yang notabenenya anak indigo, sahabat Verrel, tukang gosip dan si mesum juga kaget.
Beralih dari gosip yang beredar di sekolah itu, 2 orang yang menjadi pusat perbincangan hanya acuh dan beraktifitas seperti biasa.
"Woahh.. tumben lo ke kantin, biasanya lo tidur di kelas ato engga ya ke perpus atau juga UKS, gue juga heran lo kesambet apaan sih sampe bisa deket sama si Ritha," ujar Rio saat tau Verrel berada di kantin, walau di pojokkan sih.
"Brisik lo yo," kesal Verrel.
"Elah... makin sensi aja lu," balas Rio menggoda.
"Btw, kok lo bisa berangkat bareng Ritha? gue aja ga dibolehin naik mobil/motor lo dan sekarang... lo malah dateng ama si Ritha dah gitu lo nya b aja lagi," celetuk Rio panjang.
"Brisik yo, gue sumpel juga ye mulut lo," ancam Verrel membuat Rio terbungkam.
Rio tau saat ini sahabatnya itu sedang dalam mood yang tak baik, entah apa yang terjadi sampai membuat Rio heran sendiri, tak lama Ritha datang membawa 2 mangkok bakso dan 2 cangkir es teh di atas nampan.
Ritha memberikan mangkok bakso satu lagi dan secangkir es teh untuk Verrel, Verrel menatap Ritha sejenak lalu mulai menyantap bakso pemberian Ritha.
"Eh buset, kok bisa sih njeng?," gumam Rio bingung.
Rio tau sahabatnya yang satu itu paling males ke tempat ramai kaya kantin tapi coba liat sekarang, Verrel dengan santainya memakan semangkok bakso pemberian Ritha, si anak baru yang bodynya beh bikin ngiler.
"Kenapa lu heran?," tanya Ritha pada Rio yang keheranan.
"Gue bingung woi! biasanya si Verrel kaga suka tempat rame kaya kantin tapi hari ini dia malah makan bakso dengan santainya seolah olah cuma ada dia di kantin ini," jawab Rio cepat.
"Hm..," gumam Ritha acuh, Verrel melirik Ritha sejenak lalu tersenyum miring.
Disaat si Rio ngomel² ga jelas, kaki nakal Verrel menggesek kaki Ritha yang sedikit terbuka, Ritha agak tersentak lalu menatap tajam Verrel, sedangkan Verrel tersenyum miring lalu tertawa sehingga mengundang perhatian sekaligus rasa penasaran dengan Verrel.
__ADS_1
"Lo waras kan rel?," tanya Rio yang bingung.
"Gue masih waras, jan pikir macem² gue bolongin juga pala lo," jawab Verrel di sela tawanya.
"Gue nanya lo waras kan? trus napa lo ketawa sendiri padahal ga ada yang lucu," ralat Rio.
"Bagi gue lucu tapi bagi elo mungkin garing," jawab Verrel kembali datar.
Semua orang tercengang dengan perubahan ekspresi dan emosi Verrel, ga sampe 10 detik Verrel udah berhenti tertawa, Verrel kembali melanjutkan acara makannya dengan santai.
Ritha menginjak kaki Verrel dan menatap nya tajam, Verrel hanya acuh dan melanjutkan makannya tanpa menghiraukan kekesalan Ritha.
Tiba² Verrel menegang, dia merasa terancam, tepat pada saat itu sebuah lagu di putar di speaker sekolah.
"🔉🔊Lingsir wengi... sliramu..," bla bla bla lagu lingsir wengi yang di putar membuat semua orang membeku di tempat.
Verrel tau lagu ini, lagu yang dipilih sebagai lagu kematian sang dewi kematian, apa itu artinya dewi kematian ada disini? Verrel meneguk ludahnya paksa, takut? tidak, tapi dia tak mau identitasnya terbongkar.
Jujur saja, dewa dan dewi kematian adalah rival berat, Verrel sendiri pernah melawan dewi kematian dulu, Verrel harus mengakui jika kemampuannya sangat hebat, walau akhirnya duel itu berakhir seri.
Sementara itu Ritha, dia merasa ketakutan yang amat sangat sampai tubuhnya gemetar hebat, Ritha memejamkan matanya lalu keringat dingin mulai bercucuran dari keningnya, Verrel tentu melihat itu.
Verrel merasa ada yang salah, suara dewi kematian lebih tinggi dari biasanya, apa yang terjadi? lalu Ritha, dia gemetar hebat seolah pernah merasakan teror dewi kematian, sampai lagu itu habis sebuah suara membuat suasana makin mencekam.
"🔉🔊Hello Victim," sapa dewi kematian dengan suara melengking membuat Verrel tersadar.
'Ini bukan suara dewi kematian, pasti ada seseorang yang menginginkan posisi dewi kematian sampai dia mencarinya mungkin. Tapi kenapa dia kesini? lalu ada apa dengan Ritha? kurasa ini berhubungan,' batin Verrel membuat keputusan.
"🔉🔊Kalian pasti bingung kan, aku, dewi kematian hanya memberi salam pada kalian. Kurasa kalian takkan keberatan," ujar dewi kematian itu.
Di tengah suasana mencekam di seluruh sekolah tiba² dari arah speaker terdengar suara teriakan.
"🔉🔊Aaaa!!! Akh.. tolong!!," suara guru perempuan di ruang media mengejutkan semua orang.
"🔉🔊Dua orang sudah melayang, kini giliran kalian. Kuberi waktu ya, besok aku mungkin akan datang lagi hahaha," suara dewi kematian kembali terdengar diakhiri dengan tawa mengerikan.
Setelah suara speaker itu mati, semua orang baru bereaksi mereka terkejut, takut dan panik, tapi tidak bagi Verrel yang tetap tenang, sekitar 10 menit setelah itu suara speaker kembali terdengar namun kini suara kepala sekolah yang terdengar, dia menyuruh murid² untuk kembali ke kelas.
Verrel menggendong Ritha di depan dikarenakan Ritha masih gemetar bahkan begitu sampe di kelas, Ritha malah ga mau turun dari gendongan Verrel.
"Lo takut banget ya sama teror tadi?," tanya Verrel terdengar lembut, Ritha hanya mengangguk pelan.
Verrel tau Ritha pasti pernah di teror seperti ini sampai dia gemetar ketakutan, Verrel bisa mendengar Ritha menangis di pelukannya sedangkan siswa² yang lain mencoba menghubungi orang tua mereka.
Dari dalam kelas Verrel melihat segerombolan orang berseragam penuh senjata datang ke sekolahnya, dia menebak jika itu adalah tentara yang langsung merespon laporan kepsek, Verrel hanya tersenyum kecut takkala mengetahui laporan tentang dewi/dewa kematian di respon begitu cepat.
"Hah...," Verrel menghela napas panjang lalu mengelus punggung Ritha.
Ritha menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Verrel membuat Verrel meremang tapi gairahnya tiba² saja hilang saat mendengar tangisan Ritha, suara isak tangis kini berganti dengan hembusan napas teratur, Ritha tertidur karna kelelahan menangis selama beberapa waktu.
"Ck, buat apa kita di tahan disini?," protes Verrel kesal, Verrel pun berdiri.
"Yo, bawain tas gue sama Ritha," perintah Verrel, dia ingin pulang mengingat waktu yang sudah memasuki senja.
"Lo nyuruh gue?! lo tau kan diluar lagi bahaya?!! kalo gue mati gimana?!," kesal Rio.
"Selama lo nurutin gue, lo ada di bawah perlindungan gue," ujar Verrel mutlak membuat siswa lain berhamburan membawa kan tas Ritha dan Verrel.
Siswa siswi di kelas Verrel tau, jika Verrel berkata begitu maka Verrel akan serius, mereka juga tau seberapa kuatnya Verrel mengingat Verrel telah menjuarai banyak lomba bela diri baik taekwondo, karate sampai muay thai.
Verrel keluar dari kelas tapi dia tiba² berhenti dan mengernyit, sebelumnya dia tak melihat adanya seretan darah di lantai depan kelasnya, pasti dewi kematian itu melewati jalur ini untuk mencari mangsa.
"Hati², dewi kematian baru saja lewat sini," ujar Verrel membuat teman²nya mundur ketakutan.
"Darimana lo tau?!," tanya Rio di sela rasa takutnya.
"Darah ini, ini darah segar. Waktu kita masuk kelas darah ini ga ada dan sekarang darah ini muncul begitu saja," jawab Verrel sambil berjongkok guna mengamati darah itu.
"BERHENTI! jangan disentuh!!," seru salah satu tentara yang baru saja datang, kalo dilihat dari pangkatnya sih dia itu kapten tim.
"Kalian baru tau tentang darah ini?," tanya Verrel datar.
"Dewi kematian mengelabui kami dan kabur lewat lorong ini," jawab sang tentara cepat.
"Kurasa dia tidak kabur, tapi mencari mangsa," celetuk Rio mengejutkan semua orang kecuali Verrel dan Ritha yang tertidur.
"Kenapa kau menyimpulkan hal itu?," tanya sang tentara bingung.
"Kalo dia mau kabur maka lebih aman lewat jalur belakang yang mungkin jarang diketahui tapi kalau dia berputar di sekolah melewati lorong ini berarti dia sedang mencari mangsa dong! astaga masa begitu saja kalian tak tau!," kesal Verrel.
__ADS_1
"Sabar bro sabar," ujar Rio dari belakang Verrel.
"Sebaiknya bebaskan kami, lagipula untuk apa kami di tahan sampai senja? dan kau! pimpin jalan!," perintah Verrel mutlak.
"Hei hei hei apa²an kau ini?! aku harus mengamati darah di lantai dan kau malah memerintahku seenaknya?!," protes sang tentara.
"Tim mu sudah datang, kini kau harus membuka jalan!," ujar Verrel makin kesal.
"T–."
"FAST!!!," seru Verrel yang kesalnya udah di ubun² sampai memotong ucapan sang tentara.
Bahkan seruan Verrel teriang di koridor, Verrel menatap tajam sang tentara membuatnya terkejut.
"Baiklah² tapi kalian tidak boleh merusak bukti ini!," jawab sang tentara.
"Kalian dengar?," tanya Verrel pada teman²nya.
"Ya!," jawab mereka serentak.
Mereka pun pergi ke arah tangga dengan tentara tadi yang memimpin jalan, Ritha perlahan mulai terbangun karna guncangan saat Verrel dkk menuruni tangga, Verrel mengernyit lagi, dia merasa darahnya semakin banyak dan ada beberapa bekas perkelahian di beberapa bagian dinding.
"Astaga!," seru sang tentara bersamaan dengan teriakan siswa siswi kecuali Verrel.
Mereka terkejut karna ada sebuah kepala yang putus dengan wajah hampir hancur apalagi darah berceceran kemana mana, sebagian teman² Verrel merasa mual dan ngeri, untuk siswi pada berkumpul dan saling bergandengan tangan sedangkan untuk siswa saling menjaga.
"Wow... kematian yang tragis," gumam Verrel.
"Ihh... ngeri, rel ayo jalan lagi," rengek Ritha di ceruk leher Verrel.
"Haih...."
Setelah menghela napas panjang Verrel pun kembali turun ke lantai bawah seolah olah tidak terjadi apa², Verrel langsung pergi ke mobilnya diikuti teman²nya juga, dia meletakkan Ritha di kursi samping kemudi lalu Rio melemparkan 2 tas milik Ritha dan Verrel di kursi penumpang belakang begitu saja.
"Gue balik dulu, ti ati bro," ujar Rio sambil memasuki mobilnya yang terparkir di samping mobil Verrel.
Mereka pun bubar, Verrel melajukan mobil nya ke arah apartement yang kini Ritha tinggali, sepanjang perjalanan Ritha terus menempel pada Verrel.
"Lo bener² takut sama dewi kematian? ada apa sih?," tanya Verrel tanpa menoleh, dia terus mengemudi membelah ramainya jalanan sore hari.
"...."
Ritha terdiam sambil memeluk lengan kekar Verrel.
"Cerita aja, lo pasti udah pernah di teror kan sama si dewi kematian itu," ujar Verrel.
"Dia bukan dewi kematian," balas Ritha pelan membuat Verrel mengangguk paham.
"Kok lo tau?," tanya Verrel lagi.
"...."
Ritha terdiam lagi lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya, Ritha mendadak menegang karna sebuah pesan.
'Ritha, mama kesayangan kamu itu diculik orang,' begitu isi pesannya yang dikirim oleh bokap tiri nya.
"Ta, Ritha!," panggil Verrel sambil menepuk pelan pundak Ritha.
"Eh iya, ada apa?," tanya Ritha bingung.
"Kita dah sampe, lo ga mau turun?," tanya Verrel sembari mengambil tasnya di kursi penumpang.
Verrel pun keluar mobil tapi Ritha tetap tak bergeming dari duduknya, Verrel membukakan pintu untuk Ritha, Ritha tetap saja tak bergeming di tempatnya.
"Ritha," panggil Verrel.
"Gendong," ujar Ritha dengan nada bocah.
"Koq lo jadi manja sih?," tanya Verrel.
"Elah, pen gendong doang juga," jawab Ritha cemberut.
Akhirnya Verrel pun membawa Ritha ke apartement nya, dengan di gendong tentunya, Ritha di turunkan di ranjang dengan perlahan lalu diciumnya bibir Ritha dengan sesuatu yang berbeda, Ritha perlahan merasa tenang dan tertidur lagi.
Verrel pun beranjak mandi tapi dia mendengar gumaman Ritha sebelum pergi.
"Mama..."
'Sepertinya Ritha merindukan mamanya,' batin Verrel merasa iba.
__ADS_1
Verrel hanya menggeleng pelan dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.