
Ruang Kepsek
Disinilah Verrel dan Ritha berada, untuk di interograsi katanya, mereka dihadapkan dengan ketua tentara yang mendapat tugas disini dan jangan lupakan kepsek yang juga ingin mendengar pengakuan.
"Nona Ritha Yuniar, jasad di dalam loker tadi adalah ibu anda, benar?."
"Benar."
"Dimana anda saat kejadian terjadi?."
"Saya sudah tidak bertemu ibu saya 3 bulan yang lalu, 2 hari yang lalu saya pergi dari rumah. Saya pun menginap di apartement milik Verrel."
"Apa ada seseorang yang memiliki masalah dengan ibu anda?."
"Ada, seseorang yang mengaku sebagai dewi kematian. Dia menginginkan sesuatu yang mengerikan."
"Apa anda tau benda apa itu?."
Ritha menggeleng pelan dengan tatapan kosong.
"Baiklah, untuk tuan Verrel, apa hubungan anda dengan nona Ritha?."
"Saya hanya kebetulan bertemu saat itu, Ritha meminta tolong pada saya. Saya pun membawanya ke apartement milik saya."
"Baiklah, lalu a–."
"Sepertinya keadaan Ritha sedang kurang baik, sebaiknya saya bawa dia kembali. Dan untuk interograsi nya mungkin harus di tunda."
Verrel memotong perkataan tentara di depannya, sang tentara hanya menghela napas kasar, lalu membiarkan Ritha dan Verrel pergi.
Sepanjang jalan Ritha hanya diam dengan pandangan kosong, Verrel merasa aneh dan canggung tapi akhirnya dia hanya diam, tak berniat memulai pembicaraan, Verrel malah memikirkan mangsa seperti apa yang akan dia bunuh malam nanti.
'Oh iya dewi kematian palsu itu pengen gue bunuh si Ritha, ck ga usah lah. Ngapain juga gue nurutin dia, ga guna,' batin Verrel malas.
Tak terasa mereka sudah sampai di apartement, Ritha tak bergeming saat mobil berhenti, Ritha masih bersedih ralat sangat sedih, Verrel pun keluar membawa 2 tas di jok belakang. Dia membukakan pintu mobil tempat Ritha duduk, Ritha masih diam tak bergeming.
Verrel pun memutar bola matamya malas, dia dengan 'terpaksa' menggendong Ritha ke dalam apartement. Dia menurunkan Ritha di sofa namun Ritha tetap saja diam dengan tatapan kosong nya.
"Hiks... rel..." panggil Ritha lirih.
"Hm....?," tanya Verrel bingung.
"Tolong kunci pintu, nyalakan peredam suara, tutup gorden dan lainnya," jawab Ritha membuat Verrel kebingungan.
"Untuk apa?," tanya Verrel.
"......"
Ritha diam, Verrel pun mengalah. Dia melakukan apa yang di minta Ritha, dia pun kembali duduk di sebelah Ritha. Ritha beranjak mengambil kopernya lalu mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah darah. Verrel bisa melihat bercak darah di kotak itu. Ritha membuka kotak itu dan dia menunjukkan sebuah foto.
"Tolong... tolong cari cewe ini, dia.. orang yang terpilih," ujar Ritha lirih.
"Maksudnya?," tanya Verrel bingung.
"Dialah rekan barumu... dewi kematian," jawab Ritha dengan suara lemah.
__ADS_1
Verrel menegang, pertama karena rupanya Ritha sudah tau jika Verrel merupakan dewa kematian, kedua karena Ritha sudah tau siapa dewi kematian baru. Ketiga, kemungkinan besar dia mendekati Verrel karena ingin memberitahukan soal ini.
"Kau....."
"Aku tau... aku tau siapa dirimu... aku tau rahasia mama... aku juga tau siapa dewi kematian palsu itu.. aku berusaha menyembunyikan semua ini bukan tanpa alasan.... uhuk.. uhuk.." lirih Ritha, dia memuntahkan seteguk darah membuat Verrel terkejut setengah mati.
"Ta.. Ritha..! ke rumah sakit ya..? ok? kita ke rumah sakit..!."
Verrel mulai panik, dia sudah mengecek denyut nadi Ritha. Jelas sekali Ritha terkena racun yang membuat Verrel khawatir dan panik setengah mati untuk pertama kalinya.
"Uhuk... ☺(senyum lemah)."
Keadaan Ritha saat ini sedang berbaring di sofa, bersender ke sandaran sofa dengan Verrel di samping kanannya, masih mengenakan seragam sekolah. Ritha meletakkan tangan kanannya di pipi Verrel, mengusap wajah tampan Verrel dengan jari jempolnya secara perlahan.
"Kau tau..? kau pria termanis yang pernah kutemui sejauh ini... imut😊, gue gapapa... ini cuma efek samping..."
Lirihan Ritha malah membuat Verrel meraih ponselnya.
"Jangan...," lirih Ritha lemah.
" 'Jangan' ? ta..! lo itu kena racun, dan lo bilang ini cuma efek samping!!? Are you kidding me?!," kekhawatiran Verrel membuncah.
"Hahaha... gue serius... ini cuma efek samping..."
Ritha tiba-tiba memejamkan matanya perlahan dengan bercak darah di bibir dan bajunya juga senyum tipis yang terukir di wajah Ritha.
"Ta...! Ritha! bangun..! please!! bangun!! Rithaaa!!," seru Verrel.
Verrel mulai berkeringat dingin, bayangan manusia perlahan muncul di pikirannya. Perlu diketahui, Verrel pernah mengalami benturan pada kepalanya menyebabkan beberapa ingatannya menghilang pada saat dia berusia 16 tahun, kini dia ingat wajah asli dewi kematian.
Verrel merasakan sakit di kepalanya, sebuah ingatan kembali muncul. Kali ini adalah ikrar janjinya pada dewi kematian yang tak lain adalah Rina Yuniar.
'Saya, dewa kematian berjanji akan menjaga anak dari dewi kematian. Menjaganya segenap kemampuan saya dari para musuh yang menginginkan nyawanya.'
Ikrar janji Verrel saat itu kembali ia ingat, apalagi saat dewi kematian menunjukkan foto anaknya. Ingatan itu.. ingatan foto anak dewi kematian yang ternyata adalah foto Ritha.
'Rel.. Verrel..!! Verrel!!'
Panggilan Ritha membuat Verrel terbangun, yah... syukurlah itu hanya mimpi tapi semua yang dia lihat seperti deja vu.
"Lo kenapa rel?," tanya Ritha.
Verrel ngos-ngosan di atas sofa, dia menatap Ritha lalu memeluknya dengan erat bahkan menciumi kepala Ritha. Dia khawatir... panik... dan entah kenapa dia juga merasa takut. Ritha merasa bingung lalu dia tersenyum, dia tau.. dia tau saat ini pelukan Verrel terasa begitu berbeda, hangat.. hanya itu yang dia rasakan saat ini.
"Kenapa hum??," tanya Ritha.
Verrel melepaskan pelukannya, dia berdiri lalu mengunci pintu, menyalakan peredam suara, menutup gorden lalu duduk kembali di samping Ritha.
"Apa lo dah tau, identitas asli gue?," tanya Verrel perlahan.
"Maksudnya?," tanya Ritha balik.
"Lo... anaknya dewi kematian lama kan?," tanya Verrel perlahan membuat Ritha menegang lalu mengangguk pelan.
"Lo..."
__ADS_1
"Gue tau, gue tau identitas asli yang lo maksud. Gue tau... gue tau lo yang nolongin gue malem itu (cuman karena pengen buat readers penasaran aja jadi ga di tulis:v)."
"....."
Hening pun terjadi di antara mereka.
"Lo.. gak marah kan sama gue? abisnya... gue waktu itu masih belum yakin sama elo jadi... ya gue sembunyiin aja👉👈," ujar Ritha sambil memainkan tangannya.
"....."
Verrel tak merespon, dia mendekati Ritha dan berbisik.
"Lo udah ngelakuin sesuatu yang salah karena itu lo harus dikasih hukuman," bisik Verrel dengan smirknya.
Ritha meneguk ludahnya kasar, dia menatap Verrel yang juga menatapnya seolah akan menerkamnya. Gawat, batinnya. Ritha langsung berdiri dan berlari menghindari Verrel. Verrel yang melihat itu langsung menyusulnya.
"Heh.. sini lo! lo harus dikasih hukuman!," seru Verrel membuat Ritha tertawa.
"Hahaha.. coba aja tangkep gue kalo lo bisa wleee😜," ejek Ritha.
Setelah puas kejar-kejaran mereka akhirnya...
"Ahhh~😵."
Paham🌚? Author ga perlu jelasin kan?. Baiklah sedikit penjelasan, mereka sedang gelut. Di kamar mandi, di bawah shower, dengan keadaan tubuh licin karena air dan sabun. Juga bagian bawah yang penuh cairan tepatnya lendir kenikmatan, Verrel memimpin.
PS : Author ga kuat ngetik dengan jari bergetar gini... tolongin Author:v😵. Nih Author jelasin, karena Author baek jadi ga tanggung-tanggung :v.
"Ahhh~ Ve.. rel~, emh.. pelan-pelan yank.." racau Ritha ga jelas saat ***** besar Verrel kembali memasuki lubang miliknya.
"Uhh.. kamuh.. nikmat banget yank.."
Tanpa sadar di racauan mereka saling memanggil dengan panggilan sayang, setelah perjuangan keras nan nikmat akhirnya mereka berdua 💦💦, untuķ yang kedua kalinya. Mereka terengah-engah dalam posisi.
Cupp..
Verrel masih belum puas rupanya, dia mengangkat tubuh Ritha yang sebelumnya menghadap tembok kini menghadap dirinya, Verrel mel*mat bibir Ritha ganas sedangkan Ritha? dia sudah kelelahan akibat 2 ronde yang dimainkan Verrel.
"Emh.. cukup rel, aku capek.." bisik Ritha membuat Verrel menghentikan aksinya dan mengangkat tubuh Ritha.
Bathub, mereka berendam bersama sembari menunggu Ritha sepenuhnya sadar, Verrel terus-terusan memeluk, menciumi dan memberikan kissmark pada bahu Ritha.
"Hengh.."
Ritha sudah sepenuhnya sadar sekarang, dia bisa merasakan hembusan napas Verrel di lehernya.
"Padahal baru 2 ronde loh..." bisik Verrel membuat Ritha merinding.
"2 ronde katamu!? heh.. lo itu dah maen lebih dari 2 ronde tau gak?," sewot Ritha.
"Itu sih karena elo yang klimaksnya cepet," balas Verrel ga mau kalah.
"Lo..! ish.."
Ritha tak bisa berkutik karena apa yang dikatakan Verrel adalah kebenaran, harusnya itu wajar dong..? penisnya Verrel ya gede, sekali masuk 1 menit klimaks dah tu. Author belum pernah coba sih:v tapi ai jadi ikutan basah nih😤.
__ADS_1