
Pagi
Seperti biasa Verrel dan Ritha berangkat ke sekolah, tentu saja mereka berdua kembali menjadi sorotan warga sekolah. Para siswi histeris melihat gaya cool Verrel, para siswa terpukau dengan sikap Ritha apalagi body nya.
"Ta.."
"Hn?."
"Lo ga bakal buka mulut kan?," bisik Verrel.
Gleg
Ritha meneguk ludahnya kasar.
"Kuharap ya karena kau pasti tau apa resiko dan hukumannya kan?," bisik Verrel membuat Ritha merinding.
Ritha dan Verrel memasuki kelas. Dan kelas pun berjalan seperti biasa, namun saat mau istirahat....
"AAAAAAAAA!!!!!."
Lagi-lagi suara teriakan terdengar, sudah 2 kali suara itu terdengar hingga speaker sekolah yang nampaknya sudah dibajak berbunyi, ancamannya berasal dari dewi kematian lagi.
"ππAh... aku tau dewa kematian ada disini, berbaur dengan semua orang. Aku hanya ingin tau? apa alasanmu mengabaikan ancamanku?."
Hening terjadi di seluruh sekolah, suasana menjadi mencekam termasuk bagi Ritha yang sudah memeluk erat Verrel.
'Apa aku harus muncul?,' batin Verrel menimbulkan dilema.
"ππCk ck ck ck ck ck, dewa kematian. Jika mereka tau identitas aslimu, kira-kira bagaimana reaksi mereka ya?."
Verrel tetap diam mendengarkan, tapi batinnya tertawa. Dia tau, dia tau dewi kematian itu belum tau identitas aslinya. Verrel tau siapa dewi kematian yang sedang meneror di sekolahnya, tapi bagaimana reaksi dewi kematian palsu saat tau dewa kematian adalah dirinya...?.
'Ah.. sebaiknya kukirim itu saja yaπ,' batin Verrel.
Verrel mengambil ponselnya, dia mengirimkan surat/kartu ancaman yang memang sudah dia siapkan. Verrel melemparkan kartu itu dengan sebuah alat, entah alat apa itu. Yang jelas kartu ancaman itu sudah sampai di tangan dewi kematian.
"ππOhh.. dewa kematian... kau benar-benar berniat mengacuhkanku ya? hahaha...π. Kalian tau? dewa kematian baru saja mengirimkan kartu ancaman padaku, aku tau kau salah satu murid di sekolah ini. Karena apa? tentu saja karena 'dia'..!! hahahaπ."
Di kelas Verrel, Ritha bergetar sambil memeluk Verrel. Dia mulai menangis sambil menggumamkan kata maaf.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan padanya saat pertemuanmu dengan dia di malam itu?," bisik Verrel membuat Ritha terkejut.
"Hiks..π«, g gue.. g gue.. gue cuma bilang, gue suka sama lo rel. Lo tau kan sebelumnya kita udah pernah ketemu, gue ngaku kalo gue suka sama lo. Gue pengen lo jadi milik gue rel.. hiks.. udah cuma itu doang," bisik Ritha disertai tangisan yang mulai pecah.
"Jangan bohong ta..."
"Gak..! gue ga bohong, kali ini gue bener-bener ga bohong. Lo harus percaya sama gue rel.."
"....."
Hening, para polisi semakin banyak yang berdatangan. Mereka bahkan ada yang berasal dari pasukan khusus, gila kan? pesona apaan tuh...? dasar dewa dan dewi kematian pembuat onar.
Sekali lagi mereka di tahan di sekolah, para guru dan murid yang menjadi saksi pun interograsi hingga membuat Verrel kesal. Rio? dia molor tuh di mejanya.
Keesokkan paginya
Jam istirahat
Rooftop
Disinilah Verrel dan Ritha berada, mereka sedang berada di dalam gudang di rooftop, yah.. tau sendiri lahk. Awalnya mereka cuma mau bolos tapi ternyata mereka menemukan hal mengejutkan.
Siapa yang tau...? bu Fefe, seorang guru fisika memiliki hubungan dengan guru BK. Mereka saat ini sedang ehem-ehem di tempat ga jauh dari tempat persembunyian Verrel.
'Gue ga nyangka ternyata bu Fefe yang emang suka umbar-umbar badan padahal ga sebagus punya Ritha, punya hubungan sama guru BK yang kata beberapa siswi mesum itu? ckckckck... sabar rel sabar, jan sampe lo kepancing buat ngelakuin hal yang sama ke Ritha disini, mending nanti di mobil atau di apartement:),' batin Verrel.
'Aduh... gimana kalo nafsu Verrel kepancing? bisa abis diterkam gue mah...π±,' batin Ritha deg deg-an.
Aih... setelah beberapa menit bercinta mereka berdua pun merapihkan pakaian dan pergi dari rooftop saat itu pula Verrel dan Ritha bisa bernapas lega. Yah... tidak bagi Ritha, hehe...
Cup
Dahlah, Author skip aja. Setelah puas bercinta walau cuma 1 ronde, Verrel dan Ritha pun keluar dari gudang namun....
"Hem...? yakin nih?."
"Ya..."
__ADS_1
Ritha dan Verrel mendengar suara yang cukup familiar, nafas mereka tercekat. Verrel dan Ritha pun kembali bersembunyi.
"Yah... ada hal yang harus kau tau."
"Apa?."
"Aku. Ini. Dewi. Kematian."
Suara laki-laki itu tercekat, dewi kematian yang tak lain adalah bu Tina menusuk perut guru IPS, erangan sakit terdengar di rooftop. Ritha meneguk ludahnya kasar sedangkan Verrel menikmati erangan yang sudah lama tidak dia dengar.
"Bye bye... victim."
Suara anak kecil mengakhiri percakapan itu, didorongnya guru IPS itu hingga ke ujung rooftop lalu dijatuhkan dari ketinggian ... m (ga ngitung berapa meternya intinya gedung itu 3 lantai).
'Apa yang terjadi? senyap sekali...' batin Ritha penasaran.
"Hah... 3 korban, ternyata membunuh itu menyenangkan ya. Aih.. aku ganti baju dulu deh," ujar Tina.
'Membunuh itu memang menyenangkan karena itulah aku suka membunuh,' batin Verrel.
Seketika Verrel dan Ritha semakin gugup, mereka bisa merasakan langkah Tina mengarah ke gudang.
"Tapi... aku lupa kalau pakaianku ada di kantor, hm.. aku pulang aja deh sekalian ga ada jam mapel," ujar Tina, dia pun pergi dari rooftop.
Saat itu pula Verrel dan Ritha menghela napas lega, mereka langsung keluar dan pergi ke koridor. Namun mereka dicegat sekumpulan tentara. Yah.. mereka pun diinterograsi.
Sementara itu saat guru IPS jatuh dari rooftop, beberapa siswa siswi beserta guru yang melihat guru IPS jatuh pun berteriak histeris. Dan mereka langsung menghubungi polisi.
Untuk kali ini pendek aja lahk yak, nih Author kasih visual mereka.
Juliano Verrel William
Ritha Yuniar
__ADS_1
Dario Vallewin