I'M Psyco And God Of Death

I'M Psyco And God Of Death
Teror 2


__ADS_3

Di tempat lain


"Ugh..."


"Hello dewi kematian," sapa sebuah suara perempuan.


"Kau... apa mau mu hah?!," seru sang dewi kematian asli pada wanita yang mengaku sebagai dewi kematian juga.


Saat ini 2 orang wanita sedang saling berhadapan, dimana sang dewi kematian asli kedua tangan dan kakinya di rantai sehingga dia tak bisa bergerak, sedangkan dewi kematian palsu berdiri dengan wajah angkuh di depan wanita rivalnya.


"Kau sudah tau bukan apa mauku."


"...."


"Aku. ingin. NYAWAMU."


"...."


"Tapi sebelum itu saya ingin anda, sang dewi kematian. Merasakan kesakitan yang begitu sakit."


"Silahkan, bunuh saja aku. Aku takkan memberikan gelar itu padamu, aku sudah memberikan gelar itu pada seseorang yang jauh lebih baik darimu."


"Ya ya ya, ada lagi yang harus kau tau. Aku akan selalu mencari wanita yang mendapat gelar dewi kematian, dan aku akan memberikan jasadmu itu pada putri kesayangan mu itu."


"...."


"Aku tau dimana anakmu itu bersekolah."


"Terserah, aku sudah menyerahkan anakku pada dewa kematian baru. Dia sangat bertanggung jawab, berbeda dengan dirimu yang bejat!."


Sang dewi kematian asli membuat yang palsu marah besar sambil memutilasi seluruh anggota tubuh yang asli, setelah itu dia memasukkan jasadnya ke dalam karung tentu saja dia mengenakan sarung tangan supaya ga ketauan.


"Dewa kematian, AKAN KUBUNUH KAU!!!," seru dewi kematian palsu dengan amarah yang memuncak.


~oOo~


Di Apartement Verrel


"Hachiu... bgst, pake bersin segala. Trus kenapa ni idung gue gatel amat si," gerutu Verrel.


Dia baru saja selesai mengenakan pakaian, Verrel pun keluar dari ruang ganti dan melihat Ritha baru saja bangun dari tidurnya.


"Ta, gue mau keluar bentar, mau beli bahan makanan," ujar Verrel.


"Ikut," balas Ritha dengan nada bocah.


"Ga usah, lo di rumah aja. Biar gue yang pergi lagian dah malem juga," bantah Verrel.

__ADS_1


"Em... Verrel, boleh ya pleaseee," rengek Ritha dengan puppy eyes nya.


'Tuhan... niatan mau bunuh orang malah kaya gini, iyain jangan?,' batin Verrel berteriak frustasi.


"Huh... yaudah deh! jan rewel tapi, kaya bocah aja," jawab Verrel akhirnya.


"Yee.. Jahat lo! ngeselin aja si! btw thanks gue udah dibolehin ikut, tapi walaupun lu ga ngebolehin gue, gue juga bakal ngikutin elo diem²," balas Ritha sewot.


'Sial*n, untung gue bolehin, kalo kaga abis deh identitas gue,' batin Verrel.


Verrel dan Ritha pun pergi ke supermarket guna membeli bahan makanan, ternyata juga terdapat dewi kematian palsu yang sedang memikirkan cara untuk mengetahui identitas dewa kematian yang dimaksud dewi kematian asli.


Kebetulan mereka bertiga saling bertemu dalam satu lorong, mereka pun saling menyapa, maksudnya Ritha dan dewi kematian palsu yang saling menyapa karna dewi kematian palsu adalah salah satu guru di SMA Verrel.


"Hallo bu Tina," sapa Ritha ramah.


"Hallo juga Ritha, lagi belanja ya?," sapa bu Tina balik yang tak lain dewi kematian palsu.


Tina Clairine adalah nama asli dewi kematian palsu, seorang guru mata pelajaran bahasa jawa yang cantik dan humoris tapi itu di luar, jika di dalam dia adalah sosok bengis yang bahkan tak segan untuk membunuh siapapun yang menghalanginya, Tina sangat ambisius, keinginannya harus terpenuhi jika tidak maka dia akan melakukan hal yang mengerikan.


"Iya nih bu, buat bahan masakan di rumah," balas Ritha ramah.


Ritha sendiri tak tau identitas asli dewi kematian palsu jadi dia berlaku ramah pada Tina, Verrel sendiri hanya diam dengan wajah datarnya, dan bagi Tina wajah datar Verrel adalah hal wajar mengingat Verrel yang dikenal sebagai pangeran kulkas.


Verrel dan Ritha pun pergi meninggalkan Tina yang sedikit melamun.


'Wanita sial*n itu bilang kalau Ritha anaknya berada di tangan dewa kematian, apa jangan² Verrel adalah dewa kematian? ga mungkin juga sih, mungkin aku salah liat. Tapi bisa jadi dewa kematian menggunakan Verrel sebagai tameng,' batin Tina lalu kembali beraktifitas.


Besok paginya


Hari ini hari Sabtu tapi SMA tempat Verrel dan Ritha bersekolah tetap ramai, walaupun sempat ada kasus pembunuhan dan masih di proses yang mengakibatkan mereka tak bisa bergerak bebas, apalagi Verrel, semalem Verrel hampir saja ga bunuh orang hanya karna Ritha yang terus menempel padanya.


Hari ini kelas Verrel sedang ada pelajaran olahraga, awal² berjalan seperti biasa tapi saat Ritha sudah berganti pakaian dan ia membuka loker tiba² saja dia berteriak.


Banyak orang datang ke ruang ganti wanita untuk melihat apa yang terjadi, betapa terkejutnya mereka melihat sesosok tubuh yang termutilasi di dalam loker, itu adalah tubuh Rina Yuniar, mama dari Ritha Yuniar.


Ritha menangis sejadi jadinya sambil memanggil mamanya, dia sangat sedih, Ritha bahkan bertemu mamanya 3 bulan yang lalu sebelum ayah tirinya mengambil mamanya untuk di sekap, Verrel juga terkejut melihatnya.


"Ritha..," panggil Verrel pelan.


Verrel mendekati Ritha, Ritha yang tau tentang keberadaan Verrel langsung memeluknya.


"Hiks... nyokap gue rel," tangis Ritha pecah di pelukan Verrel.


"Lo bilang lo bakal ngelindungin gue kan? lo bilang bakal bantu gue kan rel? tapi sekarang apa, nyokap gue udah ga ada... hiks... lo pembohong," bentak Ritha di sela tangis.


"...."

__ADS_1


"Sorry ta, gue ga tau. Gue juga manusia yang bisa khilaf," ujar Verrel lirih sambil memeluk Ritha lebih erat.


"Hiks... lepasin gue rel, ini pasti ulah dewi kematian palsu itu!," balas Ritha.


"Apa maksud lo hah?," tanya Verrel mencoba menenangkan Ritha di dalam dekapannya.


"...."


Ritha tak menjawab malah makin menangis, Verrel sendiri membiarkannya sejenak, Ritha memang butuh waktu untuk ini semua, Verrel melihat sepucuk kartu di dalam loker yang di sematkan antara bagian tubuh.


'Kepada Dewa kematian yang baru


Aku, dewi kematian mengundangmu ke dalam permainanku, aku tau kau berada di SMA itu, dan aku tau seorang Ritha Yuniar berada di genggamanmu sekarang.


Wanita sial*n itu sudah memberikan gelar dewi kematian pada orang lain, aku ingin kau, dewa kematian, membantuku untuk mencari dan membunuh penerusnya, kau bisa memulai dari Ritha.


Segitu saja ya, bye~'


Verrel tercengang begitu membaca pesan di kartu yang berbahasa Inggris itu, tapi dia cepat² menggantinya dengan pandangan biasa.


"Woi rel! kartu apaan tu?," tanya Rio penasaran.


"Dari dewi kematian buat si dewa kematian itu, surat cinta kali," jawab Verrel asal.


"Berikan kartu itu pada saya," perintah sang tentara yang kemarin.


Btw soal tentara, tim elit mereka sudah datang kembali dan memperketat penjagaan di SMA elit itu, Verrel sendiri merasa kalau semua ini ada hubungannya dengan Ritha dan dewi kematian palsu yang merupakan orang dalam sekolah elit ini.


"Ta, kita keluar bentar ya," ajak Verrel sambil menarik tangan Ritha.


Saat sudah diluar Verrel kembali memeluk Ritha, kali ini lebih erat tapi hangat, entah kenapa sikap Verrel berubah saat bersama Ritha, Verrel yang tadinya bengis, tak mau diganggu, kejam dan mesum berubah menjadi sosok yang sulit di percayai.


"Cerita ke gue, lo punya masalah apa sama dewi kematian palsu itu," bisik Verrel lembut.


"Hiks.. dewi kematian palsu itu pengen gelar dewi kematian sama kusarigama khusus khas milik dewi kematian," jawab Ritha dalam pelukan Verrel sehingga hanya Verrel yang dapat mendengarnya.


"Kusarigama khusus," gumam Verrel tanpa sadar.


"Dan sebuah peta," sambung Ritha mengejutkan Verrel.


"Peta?," tanya Verrel bingung.


"Dewa dan dewi kematian yang sebelum nya bukanlah rival melainkan rekan, mereka membuat sebuah peta yang dimana peta tersebut menunjukkan keberadaan markas dan rahasia besar yang selama ini disembunyikan negara² besar di dunia termasuk negara Ing," jawab Ritha.


"Peta itu dibagi menjadi 3, yang satu ada di tangan dewi kematian, yang satu lagi di dewa kematian dan satu lagi di miliki seorang penengah yang menyembunyikan petanya di sebuah tempat yang bahkan tak terpikir siapapun," lanjut Ritha.


"Sudahlah, aku akan membawamu pulang. Kau pasti lelah setelah kejadian hari ini kan," ujar Verrel sedangkan Ritha hanya mengangguk.

__ADS_1


"Yok," ajak Verrel.


Saat Verrel dan Ritha akan pergi, mereka dicegah oleh beberapa tentara, katanya sih mereka mau di interograsi dulu, Ritha pun mengangguk dan mengikuti tentara tadi sambil menggandeng tangan Verrel.


__ADS_2