
Aku mulai membuka mataku, sungguh rasanya sangat berat hanya untuk membuka mata saja, rasanya seperti sudah bertahun\-tahun aku tidak membuka mataku.
"Akhh, dokter dia bangun" Teriak seorang perempuan dengan seragam serba putihnya.
Aku mulai mengedarkan pandangan ku, putih dan bau obat-obatan batinku yang kuyakini sekarang aku sedang dirumah sakit.
Seorang wanita yang memakai pakaian serba putih mulai datang dan menanyakan satu kalimat yang menurut ku sangat bodoh.
"Apakah kamu bisa melihatku" Ucapnya yang dibalas anggukan dariku. Aku heran kenapa dokter itu berbicara seolah aku ini buta?
"Bisa kau bicara satu kata" Ucapnya yang membuat ku bingung, apa dia pikir aku ini bisu pikirku.
Aku mulai berucap tapi suaraku tidak terdengar sama sekali, aku mulai panik namun dokter itu mengusap lenganku, "tenang lah, pelan-pelan saja" Ucapnya.
"Bo-doh" Ucapku yang dibalas senyuman olehnya.
"Padahal kau baru saja sadar dari koma, tidak bisakah kamu berbicara sopan" Ucapnya dengan senyuman.
Aku membulatkan mataku terkejut mendengar ucapannya. Koma dia bilang, lalu bagaimana keadaan ibu? batinku yang mulai merasa tidak tenang.
"Dimana ibuku" Tanyaku,dia memalingkan kepalanya yang membuat ku berpikir buruk.
"Berapa lama aku koma" Tanyaku lagi.
"7 tahun" Ucapnya yang membuatku terkejut, bagaimana bisa aku koma selama itu, lalu bagaimana dengan ibuku, apa dia baik-baik saja?
"Dimana ibuku" Tanyaku lagi.
"Dia sudah meninggal" Ucapnya yang membuat air mataku mengalir dari pelupuk mataku. Tidak, itu tidak mungkin, bagaimana bisa dia meninggalkan ku sendirian.
Dan kalaupun iya kenapa aku tidak melihatnya untuk terakhir kalinya.
.......
__ADS_1
Sudah satu bulan berlalu, aku pun sudah mulai berjalan walaupun tidak bisa cepat,dan selama aku dirumah sakit aku sering berlatih jalan dan melatih otot-otot tangan dan kakiku yang terasa kaku karena sudah lama tidak ku gunakan.
Dan selama satu bulan juga lah seorang wanita yang mengaku sebagai teman ibuku, selalu datang menjenguk ku. Lalu bagaimana dengan ayahku dan juga tante iran,apakah mereka tahu kalau ibu meninggal. Mereka bahkan tidak pernah menjenguk ku satu kalipun selama aku sadar dari koma.
Aku menatap mukaku yang berubah menjadi lebih dewasa, bagaimana mungkin ini aku pikir ku sambil menatap diriku dipantulkan cermin.
Kecelakaan itu terjadi saat umur ku 17 tahun, dan sekarang aku terbangun dari koma saat umur ku 24 tahun. Lalu bagaimana diriku saat umur 18,19,20,21,22 dan 23 tahun. Aku selalu bertanya-tanya bagaimana perasaan ku saat hari kelulusan SMK dan bagaimana rasanya ketika pertama kali masuk dunia perkuliahan. Aku bahkan tidak bisa merasakan saat-saat terpenting itu dan sekarang aku bahkan tidak bisa mengejar impian ku.
Ketika aku tengah melamun meratapi nasibku yang sungguh sial ini, seseorang menepuk pundakku.
"Apa kamu mau jalan-jalan" Ucap tante vania, teman ibuku.
Aku membalasnya dengan sebuah anggukan, diapun mulai memakai kan ku jaket agar aku tidak merasa kedinginan karena bulan ini sudah memasuki musim dingin.
Sesampainya di depan taman rumah sakit yang suasananya cukup ramai, padahal hari ini sudah memasuki musim dingin tapi mereka hanya memakai baju tipis seolah sudah terbiasa dengan hal itu.
"Tante apa ayahku dan tante iran gak jenguk aku" Tanyaku, dia mulai tersenyum dan mengusap rambut ku dengan sayang.
"Apa tante vania masih kurang buat kamu" Ucapnya,aku tahu tante vania selalu berusaha menghindari topik ini. Tapi kenapa,apa alasan dia selalu menghindarinya.
"Lupakan mereka" Aku langsung menengok kearah tante vania, apa maksudnya, kenapa aku harus melupakan mereka. Tanpa terasa air mataku menetes, entah sudah betapa kali aku terus menangis, sejak kapan aku jadi cengeng begini pikirku sambil mengusap air mataku yang terus saja menetes.
Tante vania langsung memeluk tubuhku dan mengusapnya secara perlahan, "masih ada tante, jangan pernah berpikir kalau kamu sendirian" Ucapnya yang membuat tangisku pecah.
Sungguh aku bahkan tidak pernah merasakan kehangatan seperti ini lagi sejak ibuku meninggal, aku tidak tahu harus membayarnya dengan apa.
"Ini dari ibumu" Ucap tante vania setelah merasa aku mulai tenang,dia lalu menyodorkan sebuah kertas.
"Apa ini"tanyaku.
" Itu surat kepemilikan cafe, saat sebelum ibumu meninggal dia meninggal ini untuk mu. Dia bilang semoga kamu bisa melanjutkan usahanya"ucapnya yang membuat ku menangis, bagaimana bisa dia masih memikirkanku sedangkan dirinya sudah diambang maut.
"Setelah kamu keluar dari rumah sakit kamu bisa tinggal dirumah tante" Ucap tante vania yang dibalas anggukan dariku.
__ADS_1
Satu minggu berlalu dan akupun sudah boleh pulang, aku mulai berjalan dibelakang tente vania, "wah, rumah tante besar banget yah" Ucapku yang takjub melihat isi didalam rumah tersebut.
"Tante dimana suami tante" Tanyaku.
"Dia lagi keluar kota untuk beberapa bulan kedepan"
"Lalu anak tante? "
"Em, apa kamu masih ingat dokter perempuan yang merawat kamu"
"Iya masih"
"Itu anak pertama tente"ucapnya yang membuat ku terkejut, bagaimana bisa tante vania masih terlihat muda sedangkan anaknya sudah tumbuh dewasa.
" Tante nikah waktu umur 17 tahun "ucapnya yang seolah tahu apa yang aku pikirkan.
" Muda banget tante nikahnya"ucapku, tante vania tampak tersenyum, namun senyum nya terlihat seperti seseorang yang memiliki luka yang mendalam.
"Tante dijodohin waktu itu" Ucapnya yang masih mempertahankan senyum nya.
"Apa tante bahagia" Tanyaku.
"Tentu saja"
"Syukur deh, kalau gitu. Tapi kenapa tante terlihat sedih" Tanyaku.
"Karena tante tidak bisa mengejar impian tante" Ucapnya dengan senyum kepedian yang aku pun bisa merasakannya.
"Kamu bisa menempati kamar anak tente sementara" Ucapnya.
"Kenapa? aku bisa tidur dikamar tamu kok" Ucapku yang dibalas gelengan olehnya.
"Tidak, lagian anak tante yang kedua juga masih diluar negri" Ucapnya, akupun hanya menganggukan kepalaku. Setelah itu tante vaniapun langsung mengarahkanku ke kamar yang akan ku tempati.
__ADS_1
"indah" ucapku ketika melihat dekorasi yang ada dikamar itu, kamar itu terlihat begitu elegan dan terlihat begitu nyaman untuk ditempati.
TBC