
Sudah dua hari berlalu sejak aku menceritakan kejadian itu kepada ifa, aku senang dia tidak mengungkitnya lagi.
Plak, aku menatap kearah ifa yang sedang menatap ku dengan tatapan kesalnya.
"Kenapa kau melamun lagi" Ucap ifa.
"Kau pasti tidak mendengarkan, apa yang barusan ku bicarakan" Lanjutnya dengan tatapan penuh selidik.
"Dengar kok" Bohongku.
"Lalu apa yang barusan kau lamunan kan"
"Tidak ada" Bohong ku lagi sambil menatap ke arah lain.
"Oh aku tahu, apa kau habis berfantasi dengan pria itu" Tunjuk ifa ke seseorang, aku yang penasaran siapa orang yang kena tuduhan ifa, akupun langsung mengikuti arah telunjuk nya.
Ganteng ucapku tanpa kusadari kata itu terlontar begitu saja ketika aku melihat pria itu,yang kini tengah menyesap minumannya, tanpa sadar aku malah terus menatap kearah pria itu.
Set, aku langsung memalingkan kepalaku ketika kepergok tengah menatapnya, pria itu melirik kearahku dengan ujung matanya, aku heran bagaimana bisa dia minum dengan mata yang terus melirik kearahku.
"Fa mana pacarmu"tanyaku berusaha untuk mengeyahkan pria itu dari pikiranku.
Uhuk, dia terbatuk ketika tengah minum minumannya, apa ada yang salah dari pertanyaanku pikirku sambil mengingat kembali apa yang barusan kuucapkan.
"Yaa! Apa kau sedang mengejekku" Ucapnya yang membuatku terkejut, mengejek? Bagaimana mungkin aku mengejek temanku sendiri.
"Apa kau tahu, bahwa temanmu ini belum laku juga" Aku menggigit bibir bawahku agar tidak ketawa ketika melihat ekpresi muka ifa yang menurutku lucu.
"Aku kira kau sudah rencana mau menikah, bukankah waktu itu ada yang bilang kalau mau nikah diumur 22 tahun, setahuku ini sudah lewat dua tahun lebih deh" Canda ku yang langsung mendapat pukulan darinya.
"Fa"
__ADS_1
"Em"
"Sepertinya ada yang aneh deh" Ucapku, aku mulai meraba punggung ifa karena penasaran.
"Kamu gak pake bra? " Tanyaku ketika aku memastikan apakah dugaanku benar,dan yang pasti aku berbicara dengan nada yang sepelan mungkin agar cuma ifa yang dengar apa yang barusanku ucapkan. Ia mengangguki ucapan ku dengan biasa saja, seolah itu hal biasa yang dilakukan oleh semua orang.
"Kenapa gak pakai? " Tanyaku.
Dia mulai menangkup kedua pipiku dan menekannya hingga membuat bibirku monyong kedepan.
"Rasanya tuh kek gini, sesak tahu gak"
"Bra kamu kekecilan kali" Ceplosku yang langsung mendapat tampolan dibibirku,"Laknat emang" ucapku yang langsung mendapat pelototan darinya.
"Fa"
"Em"
"Jangan bilang kamu pernah? Gimana rasanya apakah enak" Tanya ifa, aku terkejut mendengar nya, padahal tadi aku cuma tanya loh ke dia,tapi aku malah kena tuduhannya. Gila kali yah, kalau aku sampai ngelakuin hal kek gitu.
"Gak lah, kok kamu bisa mikir kek gitu sih" Ucapku yang mulai kesal,pasalnya nih yah,aku tuh kalau lihat cowok nongkrong di warung aja aku langsung putar balik gimana bisa aku having sex, gila kali yah.
"Ya bisa aja kan, kamu kan sukanya baca yang.. " Aku langsung menutup mulut dia yang embernya gak ketulungan, sumpah gimana kalau ada yang dengar.
"Fa, apa kamu lihat bang bagas sama tante iran? "
"Loh kok tanya aku sih, dia kan keluarga kam-" Ifa langsung menggantungkan kalimatnya, "maaf" Lanjutnya.
"Selama kamu pergi aku belum pernah bertemu sama bang bagas ataupun tante iran" Ucapnya, akupun hanya mengangguki ucapannya dengan lemas.
Dia mulai menggenggam tanganku dengan kuat, "apa aku masih kurang buat kamu" Ucap ifa seperti deja vu bagiku.
__ADS_1
"Moli ada yang ingin aku bicarakan sama kamu" Ucap ifa dengan nada yang terdengar sangat serius.
"Iya, bicara aja"
"Besok aku mau ke singapur, ada pemotretan disana" Ucap nya.
Tak, aku langsung menaruh sendok yang tadi aku pegang ke piring dengan cukup keras hingga terdengar bunyi yang cukup nyaring.
"Kenapa mendadak" Ucapku.
"Maaf, fa. Aku terlalu bahagia ketemu sama kamu sampai lupa kalau besok aku ada pemotretan di Singapur"
"Iya gak papa kok, kapan kamu pulang" Tanyaku.
"Bulan depan" Lirihnya.
"Heh, kok lama bang-aw" Aku langsung berdiri dan mengusap pahaku yang terkena kopi panas.
Sttt perih gumamku sambil menatap pelaku yang tadi menyiramkan kopi panas ke pahaku, walaupun tertutup celana jeans tapi tetap saja rasa panas itu sangatlah terasa.
"Kalau nyari pria itu jangan yang udah punya tunangan,murahan banget sih lo. Kayak gak ada pria lain selain tunangan gue" Ucap perempuan itu dengan nada marahnya dan tak lupa tatapan sinis nya yang sangat jelas ditunjukkan untuk ku. Sedangkan aku mengernyitkan dahiku karena bingung.
"Maaf sepertinya kamu salah orang" Ucapku dengan nada bicara setenang mungkin.
Plak
Aku membulatkan mataku karena terkejut mendapat tamparan yang mendadak, perih rintih ku dengan pipi yang terasa nyut-nyutan.
sial gumamku sambil menatap marah ke perempuan itu. Bisa-bisanya dia menamparku yang bahkan akupun tidak tahu apa kesalahan ku.
TBC
__ADS_1