Insident At Age 17

Insident At Age 17
Part 4,apakah aku perlu mengenalnya?


__ADS_3

"Sasa" Teriak seorang pria sambil menarik tangan perempuan itu keluar dari cafe.


Aku mulai memperhatikan sekeliling dan melihat tatapan aneh dari mereka yang sangatlah jelas kalau tatapan itu ditunjukkan untuk ku. Entah apa yang mereka pikirkan tapi sungguh tatapan mereka membuat ku merasa gak nyaman.


"Ayo pulang" Ajak ifa sambil menarik tanganku dan keluar dari cafe itu, setelah membayar makanan dan minuman yang tadi kami pesan.


"Kamu kenal sama dia" Tanya ifa.


"Enggak"ucapku sambil menatap lurus kedepan tanpa mau menatap kearah ifa.


" Maaf tadi gak bantu ngelawan, aku terlalu kaget melihat tindakan perempuan itu "


"Gak papa lagian kalau pun kamu ngelawan masalahnya malah semakin ribet"


"Tapi tadi untung aja ada pria itu, hmm...


tapi apa hubungan mereka yah. Sayang sekali kalau benar dia tunangan perempuan itu"ucap ifa, aku hanya mengangkat kedua bahuku seolah berkata 'aku juga gak tahu'. Toh, kami juga gak bakal ketemu lagi, kenapa juga aku memikirkan mereka.


"Tapi tunggu, bukankah pria itu yang tadi aku tunjuk sebagai objek fantasimu yah"ucap ifa yang membuat ku kesal, sejak kapan dia jadi objek fantasiku batinku.


Tapi setelah diingat-ingat lagi, pria itu memang benar orang yang membuat ku salah tingkah karena kepergok tengah menatapnya.


Kuharap kami tidak bertemu lagi batinku sambil mengingat kejadian memalukan itu.


" Apa pahamu melepuh"tanya ifa yang terlihat khawatir.


"Enggak, cuma masih sedikit parih"


"Jangan terlalu dipikirkan omongan orang lain" Ucap ifa yang seolah tahu kecemasan ku.


"Nih"aku menatap tangannya yang tengah memegang sebuah kado.


" Apa ini"


"Kado"


"Bukan, maksudku di dalamnya apa? "


"Oh, buku"


"Buku apa? "


"Nanti juga tahu" Ucap ifa dengan senyum anehnya.


Entah kenapa perasaan ku jadi gak enak batinku.


✈✈✈✈✈


"MOLI"teriak seseorang yang sedari tadi aku cari-cari.


"Hosh.. Hos" Nafasku memburu ketika aku sampai di depannya, "sepertinya aku perlu olahraga"


"Yah, kau itu terlalu lemah" Ucap ifa yang membuat ku kesal.

__ADS_1


"Kau telat sekali, 10 menit lagi pesawat nya bakal bakal terbang. Kenapa lama banget sih"


"Maaf tadi bangun kesiangan"


"Kaya gak niat banget nganternya"


"Iya, emang gak niat. Padahal baru beberapa hari tapi kau sudah mau pergi saja"ifa mulai memeluk ku dengan erat.


"Maaf yah"


"Kapan kamu pulang?"


"Bulan depan"


"Hah, kok lama"ifa mulai menepuk-nepuk punggung ku, " Jaga dirimu baik-baik"ucap ifa yang dibalas anggukan dariku.


"Aku harus berangkat" Ifa mulai berjalan menjauh sambil melambaikan tangannya.


"SETELAH AKU KEMBALI, JANGAN LUPA KENALIN SUAMIMU YAH" teriak ifa yang membuat pipiku memerah.


Sialan gumamku, ketika merasakan beberapa orang yang mulai menatap kearahku.


"Padahal aku sempat sedih karena kau sudah mau pergi, tapi sepertinya kau memang harus pergi"gumamku sambil menatap punggungnya yang semakin menjauh dari penglihatan ku.


Baru saja dua langkah aku berbalik,seseorang menabrak tubuhku yang membuatku terhuyung menabrak seseorang.


Bruk


Kenapa dia memberiku uang?


Satu pertanyaan itu membuatku merasa terganggu sekaligus bertanya-tanya, apa maksudnya?


"Kenapa tidak diambil" Ucap pria itu yang membuatku mengernyitkan dahi.


"Kenapa aku harus menerimanya"


"Apa kamu tidak mengingat saya? " Tanya dia, sedangkan aku diam mencerna ucapannya itu.


"Kenapa aku harus mengingat kamu? Apa kamu sepenting itu hingga aku perlu mengingatmu"ucapku.


Bukannya menjawab dia hanya diam dan malah mendekat kearahku, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit agar tinggi kami sama.


Terlalu dekat batinku yang langsung mundur satu langkah kebelakang.


"Apa perempuan yang waktu itu menatap kearah saya,memang setinggi ini? "Ucap pria itu dengan ekpresi datarnya.


Apa menatap?


Siapa?


Aku?


Aku mencerna ucapannya kembali, apa kami pernah bertemu? Tapi dimana.

__ADS_1


Aku bahkan tidak ingat, kapan kami pernah bertemu sebelumnya.


" Cafe"ucap dia yang membuatku gagal paham, apa sih maksudnya, kenapa dia malah bermain teka teki dengan ku. Kenapa dia tidak langsung to the poin Saja. Aku mulai kesal karena dia terlalu bertele-tele untuk ukuran seorang pria.


Dia kembali menegakkan tubuhnya dan menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


"Tidak hanya pelupa, sepertinya kapasitas otak kamu itu juga rendah"ucap pria itu yang membuatku geram.


Sialan bisa-bisanya dia mempermasalahkan kapasitas otak, apa dia pikir dia itu sempurna.


"Apa kita perlu tempat untuk mengobrol"


"Baiklah, terserah" Ucapku yang bodoamat. Toh, moodku buruk karena ucapannya,jadi tidak masalah bukan kalau aku bicara kek gitu.


"Baiklah kamu yang pilih tempatnya"


"Heh, kenapa aku? "


"Bukankah moodmu buruk, saya pikir kalau kamu yang memilih tempat. Mungkin saja suasana hati kamu membaik"ucapnya yang membuatku merasa kesal, 'kamu itu peka atau enggak sih. Moodku buruk kan karena kamu, bukankah seharusnya kamu mengatakan maaf' ingin sekali aku mengatakan itu tapi nyatanya nyaliku lebih dulu ciut ketika melihat ekpresi wajah datarnya.


" Bagaimana kalau di cafe vidoo"saranku, sebetulnya itu cafe milik ku, tidak masalah bukan kalau aku merekomendasikan cafe milikku sendiri.


"Baiklah kamu yang arahkan jalannya"


Wah, sepertinya cafe ku memang tidak terkenal sampai diapun tidak tahu tempatnya.


Tak lama kamipun sampai didepan cafe milikku dengan memakai mobil pria itu.


Aku langsung berjalan memasuki cafe dan mengambil buku menu yang ada didekat meja kasir.


Aku mencari tempat duduk yang kosong, tapi sepertinya hanya ada satu dan tempatnya juga panas karena terkena sinar matahari.


Aku mulai berjalan dan langsung duduk, "apa kau tidak ingin duduk? " Tanyaku, bukannya menjawab dia malah terus saja berdiri tanpa mau duduk.


Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan sampai tidak mau duduk dan memilih untuk tetap berdiri.


"Apa karena tempat duduknya panas? "


"Bukan"


"Lalu? "Dia kembali diam dan malah melirik kearah bunga yang ada didekat jendela. Apakah dia alergi bunga?pikirku. Akupun langsung menyingkirkan bunga itu. Dan benar saja, dia alergi bunga. Kenapa dia tidak mengatakannya,apakah itu hal yang memalukan untuk dikatakan?


Ah, aku tidak tahu pola pikirnya yang rumit itu batinku.


" Mau pesan apa"tanyaku.


"Terserah"


"Baiklah, bagaimana kalau pesan espresso dan latte"saranku.


"Apakah kamu suka espresso? Bukankah kopi itu pahit" Ucap dia yang membuatku bingung. Kenapa juga aku suka kopi pahit, bukankah dia yah yang suka kopi itu pikir ku.


TBC

__ADS_1


__ADS_2