
Orion melenggang pergi dari IGD menuju ke lift. Dokter Emergency Medis itu berjalan dengan wajahnya yang lusuh, karena sejak tadi IGD ada cukup banyak pasien dan yang terakhir adalah korban kecelakaan lalu lintas. Lelaki 29 tahun itu mengamati sekitarnya saat berdiri didepan lift menunggunya terbuka, siang ini pasien rawat jalan rumah sakit cukup banyak. Para staff disini masih sibuk kesana kemari, pasien dibangku tunggu juga masih banyak. Lift terbuka, Rion masuk dan menekan tombol lantai 3. Saat pintu lift hampir tertutup tangan seseorang mencegah itu, sehingga lift kembali terbuka.
Deg
Jantung Rion serasa berhenti ketika matanya bertemu dengan sepasang mata orang itu, seperti de javu. Gadis itu juga hanya diam memandangi Orion. Sebelum lift tertutup Orion menarik tangan gadis itu. Namun naas, kepalanya menabrak dada Orion yang keras.
"Astaghfirullah." Gadis itu istighfar dan mundur, dia mengelus dahinya yang terasa nyut-nyutan.
"Nara?"
Mati gue mana inget lagi. Nara hanya nyengir kuda ketika Orion mengingat namanya. Orion menghela nafas, harus kah ia bertemu dengan Nara disini?
"Kamu ngapain disini?"
"Pakde saya rawat inap disini."
"Bukan menguntit saya?"
"Ewhh, kurang kerjaan banget nguntit situ. Mana tahu kalau lo dokter disini, lagian ini tempat umum." Benar juga kata Nara, waktu itu tidak ada perkenalkan nama diantara mereka. Hanya kejadian yang membuat Orion malu setengah mati. Lelaki itu bersumpah untuk tidak melakukan hal bodoh itu lagi.
"Ternyata unit depan." Orion mengangkat alisnya menatap Nara.
"Cewek pesenan dokter itu ternyata di unit sebelah saya."
****! Kenapa dikasih tahu sih? Rion salah tingkah, keteledorannya yang membuat Orion salah mengetuk unit apartemen. "Lain kali jangan sembarangan dok, main nyosor aja."
"Soalnya kamu pakai bathrobe."
"Ya terus?"
__ADS_1
"Memancing hormon lelaki."
"Dokter yang *****, nyalahin saya." Lift terbuka, Nara keluar dari sana dan berjalan menuju bangsal dimana pakdenya dirawat karena sempat serangan jantung.
Sedangkan Orion berjalan dibelakang Nara, dia mengamati dari atas sampai bawah. Bahkan Nara berhijab, mana tidak memakai pakaian ketat. Celana training, kaos polos yang sedikit kelonggaran, jilbab sport dan sendal jepit swallow yang bawahnya hijau. Gadis itu menenteng satu paperbag dari Indoapril, kemungkinan berisi makanan. Sedangkan tangan satunya lagi menenteng kunci dan dompet.
"Nara."
Gadis itu berbalik ketika namanya dipanggil oleh Orion.
"Maaf." Ujar Orion.
"Iya. Keliatan kemarin dokter lagi kacau, wajar kalau mencari pelampiasan. Tapi cara itu gak bener dok, masih ada tuhan yang setia mendengarkan hamba-Nya mengeluh." Nara tersenyum singkat lalu masuk ke bangsal. Orion tersenyum kecut, ia seperti sudah melakukan hal itu berkali-kali padahal baru sekali itupun tidak jadi. Tapi Orion tertampar dengan kata-kata Nara tadi, sebagai orang beragama Islam ia masih memiliki Allah untuk menampung dan memberikan solusi bagi masalahnya.
"Perempuan baik tapi omongannya pedes." Rion berjalan menuju ruangannya, ia hendak pulang karena jam jaganya sudah selesai. Tapi ia hendak mandi dan tidur terlebih dahulu. Ia jadi ingat kejadian memalukan beberapa bulan lalu, dimana ia salah masuk ke unit apartemen.
Tok tok tok
Cup
Orion mengecup bibir perempuan itu tanpa aba-aba. Membuat perempuan itu melototkan matanya karena perbuatan tidak sopan dari Orion.
"Kenapa?"
"Lo siapa?"
"Orion, bukannya saya udah ngabarin kalau akan datang Maria?"
"Gue Nara bangsat bukan Maria! Gue bukan cewek bookingan dan gue bukan ******! Keluar!"
__ADS_1
"Nara? Saya gak salah kan unit nomer 3011"
"Mata lo buta! 3021!" Perempuan itu menunjuk pada nomer unitnya yang ada didekat pintu. Orion diam, berarti ia sudah salah nomer unit dan juga salah orang? Sungguh memalukan, bagaimana kalau perempuan yang ada didepannya ini sudah bersuami? Tanpa basa basi Orion langsung keluar dari sana, ia sudah tidak memiliki muka lagi.
"Kenapa harus ketemu dia disini? Kan gue udah gak punya muka lagi."
Cukup sekali Orion melakukan kesalahan itu, dan hal itu membuat Orion kapok dan tidak akan menyewa ****** lagi hanya untuk menuruti nafsunya. Walaupun baru pertama dan masih ragu, Orion waktu itu nekat karena sudah sangat lelah dan membutuhkan pelampiasan. Daripada memikirkan itu lebih baik Orion tidur, dan berharap nanti ia bangun tidur semua ini adalah mimpi.
Sedangkan Nara, gadis itu sedang ngobrol dengan pakdenya. Sedangkan budenya sedang mandi. Namun Darman melihat kalau keponakannya ini sedikit banyak diam daripada biasanya.
"Nara kenapa?"
"Enggak de, cuma kecapekan aja kok." Nara tersenyum untuk meyakinkan Darman.
"Jangan ngoyo Na, kerja sewajarnya saja. Kamu masih kuliah, nikmati dulu susah pahitnya, nanti nyesel kalau udah lulus."
"Iya de. Tapi kalau gak gitu aku gak bisa hidup." Darman tertawa, keponakannya ini sangat gigih dan pekerja keras. Usianya boleh muda tapi penghasilan sudah dua digit dalam sebulan. Kuliahnya baru semester 7 disalah satu kampus negeri di Semarang dengan jurusan Teknik Sipil. Nara juga bekerja dibidang yang sama, di konsultan dan kontraktor.
Jam menunjukkan pukul 5, Orion bangun dari tidurnya. Ia menghela nafas dan minum, ia harus mengumpulkan nyawa sebelum pulang. Setelah nyawanya terkumpul, ia berdiri dan membawa barangnya keluar. Sesampainya dibawah, Orion langsung menuju parkiran mobil. Namun ia melihat Nara yang juga ada disana, gadis itu fokus pada ponselnya sambil berjalan. Naas, Nara menabrak sebuah mobil hitam didepannya membuat alarm mobil tersebut berbunyi. Orion terkekeh kecil, dasar gadis ceroboh.
Nara berbalik untuk mengamati sekitar, berharap tidak ada yang melihat kelakuannya ini. Namun ia malah melihat Rion yang memandanginya dari jauh. Gadis itu mendengkus kecil lalu berjalan masuk ke mobilnya, didalam ia mengutuk diri sendiri karena kebodohannya. Bagaimana bisa dia berjalan tanpa melihat apa yang ada didepannya, untung mobil sendiri. Nara menghidupkan mesin lalu segera pergi dari sini. Sebelum itu Nara melirik Rion yang masih berdiri disana.
"Sialan, malu banget gue."
Gayanya boleh seperti preman pasar tanah abang, tapi selera kendaraan yang gadis itu miliki bukan selera mobil yang disukai perempuan. Corolla Cross Hybrid, keluaran tahun kemarin. Tidak heran lagi, karena gadis itu juga tinggal di apartemen walaupun itu termasuk apartemen mahasiswa. Orion masuk ke mobilnya, BMW X5 yang masih terlihat gagahnya. Mobil pemberian orangtuanya sebagai hadiah kelulusan spesialis sekaligus ulang tahun.
Nara memikirkan pertemuannya lagi dengan Orion tadi. Sepertinya lelaki itu bukan seperti pikiran Nara, pria bejat yang sering hs dengan ******-****** diluar sana. Nara juga tidak tahu kenapa pikirannya malah membawa mulut Nara untuk memberikan nasehat kepada Orion.
"Itu cowok ngeselin! First kiss gue diambil gratis sama dia! Argahhh Orion kampret!"
__ADS_1
Nara memukul stirnya kesal, ia berdoa semoga tidak dipertemukan lagi dengan Orion. Karena kalau diingat ia juga malu, kejadian itu membuat Nara tahu kalau tetangga depannya yang juga katingnya adalah ayam kampus. Nara terlalu dini untuk tahu hal seperti itu. Walaupun ayam kampus adalah hal tabu yang umum, tetap saja ia tidak menyangka kalau katingnya yang terkenal sopan, baik, dan cantik itu adalah salah satu dari mereka.
"Semoga jodoh lo galak, ngeselin, matre sekalian biar lo miskin."