Interaksi

Interaksi
Chapter 2


__ADS_3

Kampus menjadi tempat paling menyebalkan dalam hidup Nara, semua beban hidupnya berasal dari sini. Ya semua ini gara-gara ia masuk Teknik Sipil. Ia kira hanya menghitung tabel RAB juga menyelesaikan rumus-rumus dari berbagai tingkatan. Ternyata ia salah besar, ia harus praktek lapangan, jelajah hutan, dan masih ***** bengek lainnya. Ditambah teman-teman yang tidak waras, punya otak cerdas tapi tidak pernah lurus dengan kelakuan seperti Reza, Nawang, dan Refal. Serta pacar otoriter dan menyebalkan seperti Rafiq, si anak Teknik Industri yang terkenal ganteng. Entahlah kenapa lelaki itu bisa menjadi pacarnya, Nara juga bingung.


Kini ia sudah semester 7 dan sebentar lagi harus menanggung beban skripsi. Baru mengajukan judul saja sudah kerap kena semburan dosen pembimbing yang super duper galak plus killer. Kadang Nara berfikir ingin putus kuliah, tapi tidak bisa karena ia sangat tidak rela kalau UKT yang ia bayarkan lenyap begitu saja. Minimal ia harus membawa gelar S.T ke depan ibu dan ayahnya besok juga ke hadapan keluarga besar yang sudah kepo bertanya kapan akan lulus. Awas saja setelah lulus diberi pertanyaan kapan nikah. Dia tidak akan menikah sampai semua tujuan hidupnya tercapai termasuk putus dengan Rafiq, yap sang pacar. Juga balas dendam dengan lelaki bernama Orion Mahendra. Dokter menyebalkan itu!


"Za, awas lo mabuk malem ini. Gue gak bakal mau jemput lo. Dan gak rela mobil gue bau muntah payah dari mulut durjana lo." Ujar Nara yang melihat wajah Reza sudah kusam seperti pakaian tidak pernah digosok.


"Iya, gak kobam gue."


"Walaupun duit lo banyak, lo gak harus kobam cuma karena Bella sialan itu." Nara adalah tipikal cewek yang tidak segan mengatai siapapun entah dibelakang ataupun didepannya secara langsung. Cewek yang berani dengan siapapun, dan tidak takut dengan apapun.


"Udah Na, mulut lo."


"Biarin, biar si goblok sadar kalau otaknya udah ilang nguap!" Reza semakin ciut kalau Nara sudah marah-marah begini. Beberapa hari lalu lelaki itu sehabis masuk club lagi, dan lagi-lagi barista disana menghubungi Nara untuk menjemput Reza yang sudah teler mampus. Dan lebih parahnya Reza terus menerus mengoceh sampai muntah, membuat Nara harus mencuci mobilnya luar dalam karena sangat bau.


"Udah Na, Reza gak bakal berhenti kalau Bella masih nolak diajak balikan."


"Emang sialan, Bella apa sih yang lo lihat? Picek apa gimana mata lo? Apa perlu gue bawa ke spesialis mata biar sehat lagi? Pikir juga goblok, itu cewek cakep kagak menor iya. Apa perlu gue daftarin lo ke biro jodoh? Mikir bangsat!" Sebenarnya Nara jarang marah seperti ini, mungkin karena sedang dalam period sehingga emosinya mudah terluap. Nawang dan Refal yang sejak tadi mendengar hanya ikut diam, sedangkan tersangka hanya menunduk tidak berani. Walaupun bisa membalas, itu tidak pernah akan Reza lakukan. Karena Nara adalah sahabat yang selalu ada untuknya, separah apapun Reza keadaannya Nara adalah orang pertama yang menolongnya.


"Lo sekali lagi kesana, jangan harap gue mau nyusul. Mau lo tidur sampai pagi disana, atau dibuang sama penjaga disana gak peduli gue!"


Nara menghela nafasnya, ia membenci tempat hiburan malam dan segala macam itu. Ia tidak suka orang mabuk dan bau alkohol, sampai bau rokok sekalipun.


"Gue tahu Za, lo sayang banget sama Bella. Tapi gak ke club juga caranya, lo bisa berdoa sama tuhan. Lo belum lupa kan kalau lo umat beragama?" Ujar Nara dengan pelan, Nawang dan Refal bernafas lega, akhirnya.


"Iya Na, gue inget."


"Sekarang ngerjain skripsi bego, mau lulus kapan kalau lo masih begini." Nara melempar skripsi milik Reza yang terdapat banyak coretan merah dari dospem. Lelaki ini cerdas, makannya mendahului skripsi daripada ketiga temannya. Walaupun begitu, Reza kurang rejeki dalam pasangan. Otak cerdasnya seketika bodoh ketika menghadapi mantan pacarnya, Bella. Sebenarnya bukan hanya Nara yang sebal, tapi Nawang dan Refal sama. Namun mereka sudah terlalu lelah, dan membiarkan Reza dengan pemikirannya sendiri.


"Males ah!" Ujar Reza.

__ADS_1


"Lo mau gue ceramahin juga, tong?" Ujar Refal dengan tangan bersedekap dada. Sudah seperti bapak-bapak yang memarahi anaknya saat tidak mau mengerjakan PR. Reza berdecak lalu mengangguk.


"Cowok lo, Na." Rafiq berjalan santai ke arah mereka berempat, Nara sudah menebak kenapa pacarnya itu datang kemari. Nara tidak suka kalau lelaki ini menghampiri dirinya di kawasan jurusannya. Bukan karena menjadi pemandangan bagi kaum hawa tapi karena kalau dia kemari selalu saja membawa dan mencari masalah.


"Lo pada bubar deh." Reza, Nawang, dan Refal mengangguk setuju lalu pergi. Rafiq sudah berada didepan Nara, tinggi badan lelaki ini membuat Nara harus mendongak.


"Apa?" Tanya Nara sengak.


"Tolong kalau aku chat itu dibalas, tahu penting dan yang gak penting 'kan?"


"Udah deh, males banget aku ngadep kamu. Masalah kecil aja digedein, kamu mau berantem terus sama aku? Enggak capek?"


"Kinara!"


"Udah ya Raf, kamu terlalu egois buat masalah kecil. Gak usah nambah masalah kalau gak mau berantem." Nara capek! Nara sudah capek hidup dikekang oleh Rafiq, ia ingin lepas dari lelaki ini. Rafiq berusaha menahan emosi, tidak mengeluarkan kata-kata keramat yang selalu Nara ingin dengar dari mulutnya. Bisa besar kepala kalau Nara mendengar ini.


"Oke fine, tapi ingat Na. Sekali lagi kamu berhubungan sama Abi, jangan harap dia berangkat kuliah jalan normal!"


"Fine! You did! Apa mau kamu hah?"


"We done! Putus!"


"Gak semudah itu, Kinara." Rafiq meninggalkan Nara disana dengan perasaan dongkol luar biasa. Nara mengumpat sampai mengabsen seluruh isi kebun binatang.


"Nara!" Ketiga teman Nara datang kembali menghampirinya, gadis itu mengisyaratkan kalau dia baik-baik saja walaupun sehabis bertengkar. Nara duduk dan menghela nafas berulang kali, untuk menekan emosinya.


"Gue berdoa jelek-jelek bakal dikabulkan sama Allah gak sih?"


"Apaan emang doanya?"

__ADS_1


"Minggu gue putus sama dia, sehari setelahnya dia ditangkap sama BNN karna pake sabu?"


"Doa lo kejelekan bangsat!" Refal memukul kepala Nara hingga hampir tersungkur kedepan. Temannya ini kalau doa emang kadang aneh-aneh saja, tapi bukannya doa orang terdzolimi bakal segera terkabul?


"Bisa sih Na, tapi gak minggu besok. Paling minggu depan." Ujar Reza membuat Nara menengok.


"Boleh deh, gue masih bisa tahan kalau minggu depan." Reza nyengir lalu Nara tertawa. Ya sebenarnya Nara tidak setega itu mendoakan Rafiq ditangkap BNN, karena lelaki itu sehat tanpa ketergantungan narkotika. Jujur saja, Rafiq adalah orang paling sehat yang selama ini Nara kenal. Tidak suka rokok bahkan asap rokok, alkohol, minum bersoda saja jarang.


"Fal, lo hari ini mau kemana?" Tanya Nara, hari ini ia butuh seseorang untuk menemani dirinya belanja. Sangat membosankan juga berbelanja sendiri di supermarket sebesar itu.


"Gue mau jalan sama pacar gue, hari ini sih mau nonton sama museum date. Atau apa sih ya, pokoknya gitu." Nara berdecak lalu beralih pada dua temannya yang lain.


"Gue mau pulang, besok libur sekalian mau temenin bunda pergi." Nawang kalau soal bundanya tidak bisa diganggu gugat. Orang tua Nawang hanya tersisa bundanya, karena ayahnya meninggal gugur saat menjadi relawan perang setahun yang lalu. Ayahnya adalah seorang TNI berpangkat perwira yang disegani banyak orang karena kebaikannya. Nara juga pernah merasakan kebaikan ayah Nawang, sudah seperti ayahnya sendiri. Ibu Nawang juga seorang yang aktif sebagai perawat senior disebuah rumah sakit. Tak hanya itu, Nawang kini mulai bisnis online shop. Dari gemar koleksi OOTD, ia berani untuk menjual barang-barang trendi yang sedang digandrungi oleh muda mudi masa kini. Bahkan Nawang sudah memperkirakan akan membuat pabrik khusus dan brand miliknya sendiri.


"Titip salam buat bunda ya, gue kangen tapi belum bisa ikut lo balik."


"Iya, gak apa-apa. Nanti gue minta bunda bikin masakan favorit lo."


"Gue juga ya, Naw." Sahut Reza.


"Lo jatahnya nganterin Nara, kalau mau dapet masakan bunda juga." Reza mendengkus kecil.


"Gue mau kok Na, lumayan makan gratis dari lo." Nara berdecak, orang kaya tidak tahu malu. Punya duit tapi lebih sering minta jajan. Papa Reza adalah pegawai perusahaan Freeport Indonesia, bisa dibilang kalau keluarga mereka sangatlah mampu. Tidak heran kalau Reza dengan mudah keluar masuk club walaupun paginya harus ke gereja untuk sembahyang. Kakak-kakak Reza kini juga menggeluti bidang yang mirip, ada yang berkerja di PTNU swasta, ada juga yang berkerja di perusahaan minyak bumi. Ibunya adalah dokter kandungan, dari cerita Reza. Karena Nara ataupun yang lain belum pernah bertemu dengan orang tua Reza.


Untuk Refal tidak usah diragukan lagi, dia adalah anak dari seorang anggota DPRD tingkat provinsi di ibu kota dan ibunya adalah dosen fakultas seni. Jadi tidak usah tanya seberapa kaya atau seberapa terkenal keluarganya itu. Setiap ada kesempatan pasti ayahnya muncul dilayar televisi, atau ibunya sedang menjadi moderator atau juri disebuah kompetisi kesenian. Namun gen kedua orang tua Refal tidak menurun ke anak itu, dia seperti salah jalur.


Nara tidak memiliki banyak previlage seperti Refal, jabatan tinggi seperti Nawang, atau orang tua kaya seperti Reza. Tapi Nara punya kemampuan yang anak semester satu saja belum pasti punya kalau masuk Teknik Sipil. Kegunaan ilmu saat SMK membuat Nara memiliki pekerjaannya yang sekarang. Keempatnya sama-sama dari kota yang berbeda, bertemu disini sebagai teman dan memiliki tujuan yang sama yakni lulus sarjana teknik tepat waktu.


"Gue nanti samperin lo ke unit." Ujar Nara pada Reza.

__ADS_1


"Asik, makam gratis."


__ADS_2