
Hari ini terakhir UAS ganjil, semester depan Nara sudah memasuki semester 8 dan akan segera mengakhiri masa kuliahnya dengan skripsi dan wisuda. Semoga ia dimudahkan dengan semua itu, Nara sudah tidak sanggup lagi untuk kuliah. Sebenarnya menyenangkan, karena ia bisa mengeksplor semua hal yang dulunya ia tidak bisa lakukan. Tapi ketika memiliki banyak beban juga tanggungjawab yang tentu itu juga mempengaruhi masa studi. Dan hari ini adalah hari juga hari perpisahannya dengan sang pacar.
Wisuda periode 2 tahun ini sudah digelar penuh suka cita, mulai dari Vokasi, Sarjana, Magister, dan Doktor sampai profesi di auditorium kampus. Rafiq masuk ke salah satu wisudawan terbaik dari FT, Nara sudah tidak heran lagi karena lelaki itu memang sangat pintar.
Sampai di bandara Nara langsung menghampiri Rafiq yang tengah mencetak tiket dan melakukan pengecekan barang bawaan. Lelaki itu hanya membawa satu koper besar berisi pakaian, sedangkan barang lainnya sudah dikirim seminggu sebelum keberangkatan melalui ekspedisi. Rafiq tersenyum ketika melihat Nara yang berlari kecil ke arahnya.
"Hai Raf!"
"Hai, makasih ya udah menyempatkan untuk kesini."
"As always Raf, oh iya ini buat kamu." Nara memberikan sebuah paperbag, gift kecil untuk salam perpisahan.
"Selamat jalan ya Raf, semoga kamu sampai Jakarta dengan selamat. Juga ke Belanda dengan selamat dan aman. Kalau misalnya pulang ke Indonesia, jangan lupa mampir Semarang." Rafiq tersenyum lalu memeluk Nara, raganya masih ingin terus bersama Nara disini. Tapi keadaan memaksanya untuk pergi dari Semarang, kota yang penuh dengan kebahagiaan semasa kuliah.
"Janji ya Raf, gak boleh ngeluh dapat nilai C."
"Enggak janji kalau itu Na."
"Semoga dosenmu juga galak disana." Rafiq melanjutkan pendidikan S2-nya di Belanda tepatnya di Amsterdam sesuai permintaan papanya. Mengambil bisnis manajemen dan komputer sains. Entah kenapa harus kesana padahal Rafiq bisa mendaftar di Amerika atau di Korea Selatan.
"Aku pergi ya, janji jangan nangis setelah ini."
"Gak janji juga." Rafiq tertawa, Nara mengulang ucapannya tadi.
"Na. Ini bukan akhir dari hubungan kita, kalau memang tuhan bisa membuat kita kembali pasti kita akan bertemu dan berjodoh. Tapi jangan mengharapkan aku ya Na, aku juga gak tahu bagaimana kedepannya."
"Iya, aku pasti move on. Makasih ya Raf, sudah menjadi lelaki paling pengertian selama ini. Walaupun hubungan kita tidak berakhir bahagia dan banyak masalah, aku harap kita menemukan kebahagiaan lainnya. Aku sayang kamu Raf." Rafiq kembali memeluk Nara, rasanya makin tidak rela.
Bisa dihitung jari berapa kali Nara mengungkapkan perasaannya selama berpacaran. Nara kurang ekspresif, juga sulit untuk membalas perasaan melalui kata-kata. Keduanya melepaskan pelukan, keduanya saling membalas senyum. Sudah siap berpisah raga maupun perasaan.
Rafiq berjalan meninggalkan Nara menuju gate. Setelah lelaki itu hilang Nara berbalik dan berjalan keluar dari sana. Gadis itu duduk di lobi dan menenangkan hatinya yang baru saja hancur. Ternyata putus dari Rafiq sangat mempengaruhi hidupnya, ia kira dengan putus semua masalahnya selesai minimal satu.
"Ternyata putus bikin setres ya anjir, tau begini gue enggak pacaran dari awal. Ya Allah Raf kenapa dua tahun rasanya kurang?"
---
"Tahu gak sih Na, rasanya aku pengen marah tapi takut durhaka."
"Lah gimana sih?"
"Masa aku marah sama dosen didepan orangnya, sebel gak sih kamu udah ngejoprak ngelaprak 3 hari 3 malem tapi cuma dapet B. Ya gusti Allah, mau nangis banget aku rasanya."
"Daripada C."
"Amit-amit."
__ADS_1
----
Nara tertawa, sering sekali melihat Rafiq seperti itu ketika mendapatkan nilai dibawah ekspetasinya. Yang namanya anak teknik, memang jarang dan kalaupun dapat A pasti jackpot. Nara sendiri selama beberapa semester jarang mendapatkan A, walaupun sudah begadang dan mengumpulkan jurnal dari ujung Aceh sampai timur Papua juga tetap mendapatkan B atau B+. Gak hanya itu, Rafiq lebih spesifik menjelaskan poin dimana ia harusnya bisa mendapatkan nilai lebih baik. Nara yang dijelaskan cuma bisa bengong karena tidak tahu apa yang lelaki itu bicarakan. Teknik Kimia ke Sipil kan lintas jurusan banget kan ya, jadi Nara kadang iya iya aja pas Rafiq ngomel.
"Besok jangan ngadu dapet B lagi ya Raf, aku kirim santet beneran ke Amsterdam." Ujar Nara pelan.
----
"Ish si Jovan provokatif banget, tau gak sih Na kalau dia lobi jawaban ke Tiara yang aku bilang kating itu."
"Terus?"
"Dia dapet A, kan kampret banget padahal itu jurnal kating yang pinter sejagad Sipil."
"Kamu kalau mau juga bisa lobi kok."
"Lobi kamu aja deh, Na besok boleh ya naik gunung sama temen pecinta alam?"
----
Nara selalu ingat kalau ketika itu Rafiq langsung nyengir kuda dan lupa topik utama dari obrolan mereka. Namun Nara selalu membolehkan Rafiq untuk pergi naik gunung bersama pecinta alam fakultas teknik. Kalau ingin melarang juga Nara selalu tidak tega, toh Rafiq menggunakan uangnya sendiri. Dan lelaki itu sudah puluhan kali naik gunung hanya untuk healing ke gunung dari tugas segunung. Oh iya kemarin Nara meminta satu totebag milik Rafiq sebelum dia mengirimkan semua barang-barangnya melalui ekspedisi ke Jakarta. Dia ingin memiliki satu barang kecil yang bisa menjadi obat rindunya. Walaupun itu tidak selamanya minimal untuk beberapa bulan sampai tahun kedepan.
----
"Rhea? Kamu kenal dimana, kamu gak ngomong macem-macem sama dia kan?"
"Boro-boro anjir, buka DM nya aja males. Tapi aku stalk pake second acc dia follow kamu loh dan ternyata ada foto yang ngetag kamu tapi kamu hide."
"Gak usah dibales, dia gak penting buat kamu. Gak usah bahas dia."
"Kamu gak bisa ya jujur sama aku?"
Awal dimana Nara dan Rafiq mulai bertengkar dan selalu ribut mengenai siapa Rhea. Apalagi ditambah Abi mantan gebetan Nara datang tiba-tiba setelah gadis itu jadian dengan Rafiq. Sekalian lama akhirnya Nara tahu kalau Rhea adalah mantan pacar Rafiq, mantan terindah waktu SMA. Dan Rafiq tahu kalau Abi juga mendekati Nara tanpa tahu Nara juga sempat memiliki perasaan dengan Abi. Semuanya runyam, Rafiq yang posesif dan Nara yang selalu terpancing emosi ketika mendapatkan kata-kata yang menurut dia sangat tidak enak didengar.
----
"Stop lah Raf, Abi sekarang temenan sama aku murni karena temen. Gak ada sangkut pautnya sama perasaan aku."
"Ya tapi kamu sering banget ke gep lagi ngobrol sama dia."
"Ya gedung departemen ada hadapan, gimana sih kamu? Kalau Rhea aja di FH bisa sampai FT itu lebih gimana ceritanya?"
"Gak usah ngajak ribut ya Na!"
__ADS_1
----
Kalau diingat setengah tahun terakhir ini Rafiq dan Nara hanya bertengkar dan bertengkar. Dan juga jarang sekali mereka menghabiskan waktu bersama, hanya saat Rafiq mulai garap skripsi lelaki itu mulai meminta maaf pada Nara dan akhirnya Nara juga luluh. Tapi masalah tetap saja datang. Dan Abi yang mulai menunjukkan perasaan pada Nara, membuat Rafiq kembali murka. Dan kejadian di fakultas itu menjadi pertengkaran terakhir antara Nara dan Rafiq. Kemudian sama sekali tidak bertukar kabar atau sekedar bertanya. Tahu-tahu Rafiq sudah akan semhas. Lulus dengan pujian dan hanya 3,5 tahun dari fakultas teknik adalah hal langka.
Nara tahu ia terlalu sia-sia kalau seperti ini, namun sebagai perempuan yang sangat menghargai perasaan pasangan Nara selalu mengutamakan Rafiq selagi itu adalah hal sangat penting. Rafiq sakit Nara selalu ada disampingnya, Nara mendapatkan semua momen berharga dari Rafiq. Walaupun kadang Rafiq menyebalkan, Nara selalu mencintainya sedemikian rupa.
Ternyata Nara rapuh tanpa lelakinya itu, dan harusnya dia juga seperti itu. Nara sudah bergantung banyak dengan Rafiq, ia ragu bisa melewati masa itu dengan orang baru walaupun harusnya ia move on dari Rafiq.
Nara berdiri dan meninggalkan kawasan bandara, ia harus pulang sekarang juga. Ia ingat kalau belum mengunjungi Jamet, alias kucing milik Rafiq itu. Bayi kucing itu sekarang menjadi milik Nara, tanpa dia mengeluarkan uang sepeserpun alias gratis. Hanya saja biaya perawatan di petshop sedikit menguras kantong, karena Nara belum memiliki tempat untuk anabul itu. Sebelum ke petshop, Nara mampir ke tempatnya bekerja untuk menyerahkan laporan harian.
"Siang pak Asep, mas Agam ada 'kan?"
"Ada mbak, baru aja pulang dari dinas keluar." Nara mengangguk dan pamit masuk, ia langsung menuju ke ruangan bos-nya.
"Mas Agam."
"Hm?" Lelaki itu sedang sibuk berfikir, Nara curiga kalau Agam sedang memikirkan rencana lelang. Nara memang mendengar ada rencana pembangunan gedung di area pemprov, Agam juga sempat ngomong kalau tertarik dengan proyek itu.
"Sudah selesai mengantar mantan pacar?" Agam menekan kata mantan pacar, membuat Nara sedikit jengkel. Lelaki itu sedang mengejek Nara karena berhari-hari Nara hanya curhat kalau akan ditinggal Rafiq ke Amsterdam.
"Laporan-laporan nih. Oh iya besok aku jatah wfo, tapi aku minta wfh ya?"
"Mau ngapain?"
"Mau pulang ke Jogja, resepsi sepupu." Agam mengangkat alisnya.
"Ku kira kamu yang resepsi."
"Ngada-ngada banget, aku belum mau resepsi ijazah aja belum punya. Minimal di undangan ku ada gelar S.T nya."
"Iya, iya, boleh."
Mudah memang untuk melobi atasannya satu ini, karena Nara selalu nurut makannya Agam juga ikut nurut. Agam galak dan Nara lebih galak, keduanya tidak bisa akur tapi skill nya kalau dipadukan bisa membuat perusahaan untung besar.
"Oh iya Na, saya punya tugas untuk kamu."
"Hah?" Perasaan Nara sudah tidak enak, Agam itu suka tidak terduga permintaannya.
"Tolong kamu schedule penyanyi favorit saya buat wedding singer saya. DP ke catering, WO, gedung, sama souvernir, hubungi Saskia untuk janjian beli seserahan kalau bisa secepatnya. Lalu untuk schedule rapat dengan vendor juga kirim segera ke gmail saya."
Astaghfirullah kerjaan gue kenapa tambah banyak. Nara dalam hatinya kesal, namun gadis itu hanya mengangguk daripada ribet.
"Oke mas, segera laksanakan. Permisi keluar dulu." Nara keluar dari ruangan Agam, ia kemudian duduk dibiliknya yang ada didepan ruangan Agam persis. Disini ia harus bisa multitalenta, harus bisa menjadi semua segala jenis posisi.
Nara mulai bekerja, ia mengerjakan semua yang diperintahkan oleh Agam. Sesekali ia menguap karena mengantuk, kemarin ia lembur sampai pagi dan pagi-nya juga harus kuliah pagi juga. Untuk resepsi pernikahan sepupunya, sebenarnya bukan sepupu melainkan keponakan. Anak dari pakdenya akan menikah, dia juga seumuran dengan Nara. Tapi Nara tidak gentar ditengah gemparan ijab sah, sementara ijazahnya belum keluar skripsinya belum acc masih stuck.
__ADS_1