
"Hari ini sudah bisa pulang ya pak, bisa menyelesaikan administrasi dan mengurus jadwal terapi." Ujar dokter pada Darman.
"Iya dok, nanti saya urus." Tanggap Nara, ia diutus oleh kedua kakak sepupunya untuk mengurusi semua administrasi dan kepulangan Darman.
"Kalau gitu saya permisi dulu, bapak, ibu, mbak. Masih ada pekerjaan lainnya."
"Makasih ya dok." Dokter meninggalkan kamar pasien. Kemudian Nara pamit untuk menuju administrasi rumah sakit. Nara keluar dari bangsal dan turun menggunakan tangga menuju lantai satu. Di pertengahan tangga Nara melihat Orion, duduk sambil memegang kepalanya.
"Pusing dok?" Orion menengok ketika mendapati suara dibelakangnya.
"Menurut kamu?"
"Ya wajar aja sih, semangat dok."
"Saya gak butuh semangat dari kamu."
"Ye sombong."
Setelah selesai menyapa Orion, Nara kembali melanjutkan langkahnya menuju lantai satu. Tidak disangka Orion juga ikut jalan disampingnya, kedua tangan lelaki itu dimasukkan ke scrub-nya atau baju setelan yang biasanya digunakan untuk dinas para tenaga kesehatan dengan bordiran nama didada kanan.
"Dokter mau kemana?"
"Ke IGD."
"Emergency Medis?" Orion mengangguk, ternyata pengetahuan Nara cukup bagus mengenai pekerjaan dirumah sakit. Orion berbelok ke IGD, sedangkan Nara lurus ke administrasi.
"Mbak, bill rumah sakit atas nama bapak Darman bangsal Dahlia nomer 5 pasien jantung dokter Fajar." Ujar Nara, setelahnya ia mendapatkan bill rumah sakit lengkap.
"Wow, gede juga ternyata kalau gak pakai asuransi." Nara mengeluarkan kartu debitnya, dan melakukan pembayaran. Setelah selesai Nara menerima semua struk pembayaran dan mengambil obat dibagian farmasi. Kebetulan farmasi berada didekat IGD, Nara bisa melihat jelas Orion yang sedang sibuk menangani pasien. Lelaki itu memang tampan, tapi menyebalkan dan mesum dimata Nara.
Setelah semuanya selesai, ia dan pakdenya langsung pulang. Karena pakdenya belum bisa duduk sepenuhnya apalagi berjalan, maka Nara menyewakan ambulance rumah sakit. Ia tidak tega kalau Darman harus digotong ke mobil dan duduk lurus. Dirumah pakdenya sudah ada sanak saudara yang menyiapkan acara dirumah sekaligus bersih-bersih rumah.
Nara ikut dari belakang alias membuntuti mobil itu. Dijalan Nara nyetir sambil makan, ia tadi sempat membeli beberapa makanan di Lawson sebelum berangkat tadi. Menunya sama hanya saja kini Nara membeli ayam bumbu atau yang sering disebut chicken karage. Nara sejak memiliki mobil memang terbiasa makan dijalan saat perjalanan jauh. Walaupun baru satu tahunan, tapi skill yang ia miliki sudah dianggap sangat baik. Ia bisa mengendarai mobil matic ataupun manual bahkan bermesin diesel juga bisa. Untuk sepeda motor mungkin kopling adalah jenis yang paling Nara sukai ketimbang matic ataupun bebek.
"Mampir beli makan lagi deh, perut gue masih laper banget."
Nara tengok kanan kiri untuk menemukan rumah makan, ia juga harus membelikan makanan untuk menyambut kepulangan budenya walaupun tanpa diminta. Akhirnya ia berbelok ke salah satu rumah makan yang menyediakan berbagai olahan ayam dan bebek. Ia ingat kalau budenya sangat suka bebek dan juga Rafiq menyukai makanan itu. Mungkin Nara bisa mampir ke kost pacarnya sebelum pulang. Nara membeli cukup banyak dan jumlahnya mencapai 20 paket juga 4 paket bebek utuh untuk Rafiq, Nawang, Reza, dan Refal. Setelah mendapatkan semuanya Nara melanjutkan perjalanan, pertama ia menuju apartemen Refal dan Reza.
"Fal, ini sama Reza ya."
"Wih thanks loh Na, bisa sampek besok pagi nih bebek utuh. Mau mampir dulu gak?"
"Enggak, gue masih bawa barang bude. Besok aja kalau gue gabut." Refal memukul kepala Nara dengan ponselnya.
__ADS_1
"Sakit ege, hape lo gak sadar material."
"Mampus. Nih." Ganti Refal memberikan sebuah paperbag, dia menjelaskan kalau tadi papanya mampir dari dinas disekitar sini. Dan membawakan Refal berbagai macam makanan kering juga kue. Jadi Nara mendapatkan tart coklat, karena Refal tahu sahabatnya sangat menyukai coklat.
"Gue cabut deh kalau gitu Fal, thank you juga ya."
"Yokss! Hati-hati, kalau sampai rumah bude kabarin." Nara mengangkat jempolnya. Kini tujuan selanjutnya adalah rumah Nawang. Rumah gadis itu agak masuk gang, jadi Nara turun didepan gang dan jalan kaki. Tidak terlalu jauh dan ia sampai, kawasan yang kebanyakan dihuni oleh manusia berseragam loreng alias para TNI. Kebetulan kakak Nawang juga seorang TNI yang bermarkas sama dengan ayahnya dulu.
"Mas Nando!"
"Eh, oh Nara. Sini Na duduk."
"Makasih mas, gak usah aku cuma bentar kok. Nawang ada kan?"
"Lagi kedepan, fotocopy."
"Ya udah deh mas, aku titip aja ini. Lauk buat sekeluarga." Nara menyerahkan plastik itu pada Nando.
"Wah makasih Na, bener gak mampir dulu?" Nara menggeleng lalu pamit dari sana. Ia masih harus ke kost Rafiq sebelum pulang, kebetulan tidak jauh dari tempat tinggal Nawang. Setelah sampai Nara turun, dan melihat Rafiq yang sedang duduk sambil bermain dengan kucing jenis British Short Hair yang dia adopsi beberapa bulan yang lalu dari sebuah petshop. Harganya cukup membuat kantong menangis tapi mau bagaimana Rafiq punya banyak uang.
"Raf."
"Oh, Na. Sini duduk dulu." Nara ikut duduk dilantai dan langsung menggendong bayi kucing itu.
"Makasih ya Na, kamu darimana?"
"Jemput pakde, hari ini pulang. Tadi beli makanan buat dirumah, inget kamu suka bebek aku beliin sekalian deh." Rafiq tertawa, Nara yang tidak pernah berubah. Dan Rafiq sangat menyukai gadis ini, walaupun dia sedikit tempramental akhir-akhir ini Nara tetap baik.
"Maaf ya, dari kemarin sibuk." Nara mengangguk.
"Skripsi kamu gimana? Katanya kemarin semhas waktu aku ke Bojonegoro, maaf ya gak bisa dateng."
"Tapi buket sama hadiahnya sampai kok. Minggu depan sidang, kamu bisa datang kan?"
"Loh udah selesai aja, wah aku kalah dong!" Rafiq tertawa kecil lalu merangkul Nara, memeluk gadis itu dengan erat. Lama sekali ia tidak melakukan hal ini dengan Nara, apalagi ngobrol santai berdua begini.
"Lah kamu diajak ambis gak mau!"
"Males tau!"
"Masih ada semester depan, depannya lagi juga ada."
"Astaghfirullah gak mau ya! Proposal penelitian aku revisi lagi, besok mau bimbingan juga kok. Semester 8 aku lulus pokoknya, berarti kamu bisa lulus ganjil dong?"
__ADS_1
"Iya, Na."
"Wah kalah dong! Mau langsung kerja atau off dulu?"
"Papa minta aku balik dan lanjut S2." Nara sudah tidak kaget lagi kalau lelaki itu harus kembali ke kota asalnya di Jakarta. Dari dulu Nara sudah siap kalau harus pisah dengan Rafiq dengan berbagai alasan. Walaupun kadang Nara muak, tapi tidak bisa dipungkiri kalau Nara sangat menyayangi Rafiq. Apapun kesalahan Rafiq pasti akan Nara maafkan.
"Na?"
"Gak apa-apa kok Raf, kan aku dah bilang sama kamu. Ada pertemuan pasti ada perpisahan."
"Aku gak mau sebenarnya Na, tapi aku harus bertanggungjawab sama perjanjian yang aku dan papa buat. Maaf ya harus mengorbankan hubungan kita."
"Udah deh Raf, itu bisa dipikir nanti. Seenggaknya kita nikmati waktu berdua sebelum kamu wisuda." Rafiq memeluk Nara lebih erat. Ada bangga tersendiri ketika memiliki Kinara dalam hidupnya.
"Sayang kamu Na."
"Heem."
"Mau jalan-jalan dulu gak? Keliling komplek aja naik sepeda."
"Enggak mau ya! No thanks, aku trauma sama anjing tetangga yang galaknya subhanallah..." Binatang berkaki empat yang pernah membuat Nara gila karena hampir dikejar.
"Terus?"
"Mau pulang aja, pakde pasti udah sampai rumah."
"Ya sudah, kamu hati-hati. Kabari kalau udah sampai dirumah pakde."
"Iya." Nara pamit dan melenggang pergi dari kost Rafiq.
Lelaki itu menghela nafasnya, ia tidak berbohong mengenai kelanjutan S2 tapi bukan di Jakarta. Ia harus pergi lebih jauh dari Indonesia, dan meninggalkan Nara untuk beberapa tahun kedepan. Sekarang Rafiq hanya harus menyiapkan skenario, dan memanfaatkan waktunya sebelum pergi.
Selama diperjalanan Nara juga hanya memikirkan bagaimana cara ia memanfaatkan waktu bersama Rafiq sebelum lelaki itu pergi. Nara benar-benar belum rela kalau pacarnya pergi dari Semarang. Tapi mau bagaimana lagi, pacaran beda asal taruhannya ya pisah ataupun mengalah. Kalau mengalah ia dan Rafiq belum ada rencana kedepannya bagaimana. Pisah juga belum ikhlas, ternyata pacaran sesulit ini. Kepala Nara rasanya mau pecah, tapi ia masih ingin hidup. Setidaknya ia mati dalam keadaan sudah memiliki cucu, ya seperti itulah.
Lalu matanya tertuju pada seseorang yang sedang membantu seorang nenek menyebrang jalan. Nara menepikan mobilnya dan memperhatikan Orion dari dalam mobilnya. Kenapa lelaki itu selalu terlihat sangat keren dimata Nara belakangan ini? Walaupun itu hal kecil, tapi Orion rela turun dari mobilnya hanya untuk membantu seseorang. Sepertinya Orion bukan lelaki brengsek yang ada di Nara pikiran selama ini, mungkin Orion lebih baik daripada itu?
"Orion kayaknya baik, atau cuma pikiran gue aja yang udah trust issue sama dia?"
Nara turun, kebetulan ia berhenti didepan toko bakery yang cukup terkenal. Ia masuk dan membeli beberapa jenis roti untuk dirumah pakdenya nanti. Waktu Nara memilih pintu toko terbuka, tidak disangka Orion juga masuk kesini.
"Mbak Croissant-nya masih ada?" Tanya Orion dan Nara hampir bersamaan. Pegawai disana sampai diam dan saling lirik.
"Untuk Croissant habis tapi sebentar lagi matang, bisa menunggu mbak dan mas." Keduanya mengangguk dan mengambil tempat duduk masing-masing. Nara sibuk dengan ponselnya, sedangkan Orion tidak melakukan apapun. Ponselnya ia letakkan dimobil dan hanya membawa dompet. Tapi tiba-tiba mata Orion tertuju pada Nara, ternyata Nara itu menarik. Itulah impression Orion pada Nara sekarang.
__ADS_1