
Nara kali ini menginjakkan kaki di tempat yang sebenarnya sudah ia blacklist seumur hidup, yakni Akademi Kepolisian. Tapi karena ia mengikuti Agam jadi mau tidak mau ia harus masuk ke kawasan mantan. Dipta adalah seorang polisi yang menjadi pelatih disini, sudah cukup lama. Agam mencolek lengan Nara yang sejak tadi hanya diam, padahal dalam hati gadis itu sedang jengkel. Nara hanya melirik atasannya itu, benar-benar malas menanggapi kalau dia bertanya kenapa dia diam sejak tadi. Agam yang tahu langsung diam dan memilih tidak bertanya lagi, Nara galak mode on.
"Mari pak Agam, kita lihat langsung asramanya."
Salah satu staff disini mengantarkan Nara dan Agam menuju asrama siswa yang akan direnovasi dan juga pemeliharaan. Sepanjang jalan Nara hanya melihat siswa alias taruna yang hilir mudik kesana kemari. Mana mereka cuma jalan kaki, untung Nara menggunakan sneaker jadi kakinya tidak lecet ataupun sakit karena berjalan jauh. Setelah berjalan kurang lebih 700 meter akhirnya mereka sampai, asrama yang cukup besar.
"Tolong foto daerah sini sama beberapa yang penting Na."
Nara mengangguk, lalu memotret gedung ini dari berbagai sisi. Banyak cat yang sudah terkelupas bahkan tembok yang retak. Kemudian mereka masuk untuk melihat kondisi didalam gedung, bahkan mereka melihat per-kamar karena dari informasi banyak plafon yang sudah bolong dan rembes kemungkinan gentengnya sudah banyak yang rusak. Sekilas mata Nara sudah bisa memperkirakan berapa biaya dan berapa lama pekerjaan ini berlangsung.
"Estimasi?"
"100 hari."
"Good."
Perkiraan awal dan sekarang sama, awalnya ia dan Agam hanya memperkirakan dari informasi dan denah yang mereka dapat. Dan proyek ini sepertinya akan deal dengan Benua Artana. Mengingat kalau perusahaan Nara telah melakukan berbagai proyek besar dengan skala nasional. Setidaknya mereka sudah punya nama dijajaran dan instansi pemerintah.
"Terima kasih pak, kami berdua pamit dulu. Segera kami kirimkan proposal untuk proyek ini, kami akan memberikan yang terbaik dan semoga ada kabar baik."
"Sama-sama mas Agam dan mbak Nara, segera setelah semua diproses kami akan mengabarkan."
Agam dan Nara pergi, keduanya langsung menuju parkiran tamu yang berada cukup jauh dari kantor yang mereka datangi tadi. Benar-benar menguras tenaga, kalau misalnya proyek ini jadi milik Benua Artana maka Nara akan selalu naik motor dan tidak akan membawa mobil kalau harus berjalan sejauh ini.
"Kamu langsung pulang atau mau ke kantor?"
"Balik kampus, Salman udah bawel dari tadi."
"Kayaknya Salman suka sama kamu Na, saya yakin banget." Nara berdecak, harus berapa kali lagi bilang walaupun Salman memang menunjukkan ketertarikan tapi Nara tidak akan pernah mau menanggapi atau membalas perasaan lelaki itu. Entah kenapa Nara tidak memiliki ketertarikan pada Salman yang notabene sebagai ketua BEM dan cowok paling ganteng se-fakultas Kedokteran Hewan. Rasanya Salman itu bukan tandingan perasaan untuk Nara. Salman terlalu berlebihan dalam suatu hal, dan Nara tidak menyukai sifat itu.
"Aku gak suka sama cowok semacam Salman, hidupnya terlalu atur."
"Bukannya Rafiq juga?"
"Big no, behavior mereka tuh beda mas walaupun punya otak yang mirip. Rafiq tuh bisa bikin aku merasa memiliki 4B, beauty, brain, behavior, brave gitu loh. Sedangkan Salman, pemikirannya masih jaman hirarki banget. Terlalu tersusun, kurang fleksibel, which is not my style gitu mas."
"Kamu yang terlalu jadi miss independent, no wonder sih kalau gak ada yang deketin kamu." Benar sih yang dibilang Agam.
"Pangkat bukan tolak ukur loh mas, ataupun gaji dalam bentuk uang."
"Saya tahu karena saya juga mengalami hal dimana dapat pasangan yang mirip otaknya kayak kamu."
"Well, mbak Saskia emang hebat kok. Gak kalah keren sama mas Agam, miss independent banget malahan."
__ADS_1
Saskia a.k.a tunangan Agam memang sangat independen. Memiliki usaha sendiri, karir yang bagus, pendidikan yang sulit, juga beruntung mendapatkan Agam. Manusia super loyal, tampan, mapan, baik, dan juga punya manner diatas rata-rata. Best couple ever -kalau kata Nara.
"Tapi jangan seperti Saskia Na, cowok kayak saya limited edition hanya ada 7 didunia ini."
"Cih, sok keren banget."
Juga Agam dengan tingkat pede super tinggi, mungkin dia tahu kalau memiliki value diri dan wajah tampan seolah sah-sah saja kalau dia sombong ataupun merasa keren. Mirip Orion, sek tah kenapa jadi Orion ya? Langkah mereka terhenti ketika ada dua orang dari arah lain datang. Nara menghela nafas lalu memutar bola matanya malas, sial banget Nara kali ini.
"Nara?" Nara tersenyum terpaksa, demi menjaga profesionalitas dan image didepan keduanya. Agam dalam hati tertawa, sepertinya anak buahnya ini harus menghadapi sang mantan pacar.
"Hai, Dip, El."
"Ngapain kesini?" Tanya Gabriel, isteri Dipta dengan nada tidak suka. Nara dan Gabriel memang bermusuhan, bukan tanpa alasan tapi karena satu hal.
"Ada kerjaan. Kalau bukan karena kerja gue juga gak sudi kesini." Tegas Nara, ia menyorot tajam ke Dipta.
"Gak usah lihatin Dipta."
"Cih, gak sudi."
"Lo masih suka sama Dipta ya?"
"Kurang kerjaan banget, lagian apa sih yang gue butuh dari Dipta?" Nara menekan kata 'butuh' didepan Dipta dan Gabriel. Agam langsung terkesiap mendengar kata-kata Nara barusan, sangat sarkas. Agam tahu masalah mereka, mana mungkin ia melupakan kejadian tersebut.
"Gue..."
"Nara saya gaji 2 digit sebulannya, bahkan jauh lebih besar dari gaji suami kamu. Nara memang tidak butuh apapun dari suami kamu tercinta ini." Sambung Agam, Nara tentu kaget mendapatkan pembelaan mana menekan kata 'tidak butuh'.
"See, lo denger sendiri dari mulut bos gue. Kayaknya lo deh yang butuh duit buat menunjang gaya hidup." Nara melengos pergi meninggalkan Gabriel dan Dipta, lelaki itu diam dan memang sepertinya tidak berniat untuk ikut campur. Nara heran kenapa bisa Dipta mendapatkan isteri dakjal seperti Gabriel ini.
Nara masuk ke mobilnya, dan Agam juga masuk ke mobilnya sendiri. Keduanya pergi dari sana, dan berpisah dipertengahan jalan. Nara menuju kampus, dan Agam menuju kantor. Sampai dikampus Nara langsung menuju sekretariat BEM-U untuk bertemu Salman. Salman kebetulan sedang bermain gitar diruang tengah, Nara langsung melempar laporan yang diminta Salman dimeja.
"Santai dong, kenapa sih? Emosi amat dateng-dateng."
"Gue ketemu Gabriel."
"Oalah pelakor." Nara melirik tajam ke Salman, lelaki itu selalu tepat mengatakan sesuatu.
"Dia ngatain lo apa lagi?"
"Lo masih suka ya sama Dipta, dih kurang kerjaan banget gue suka sama cowok bencong kek lakinya." Salman tertawa sinis, Nara memang sangat benci dengan Gabriel dan Dipta. Sejak saat itu Nara selalu benci membahas keduanya.
"Terus?"
__ADS_1
"Lo butuh duit 'kan. Atasan gue jawabannya saya gaji Nara dua digit setiap bulannya, lebih besar dari gaji suami kamu tercinta ini. Skak mat, skak mat lo babi!"
"Menghina istri aparat lo."
"Kalau bukan karena dia pelakor, mulut baik gue ini juga males bilang kata-kata payah barusan."
Dipta dan Nara pacaran selama setengah tahun, disaat hubungan mereka hangat-hangatnya Gabriel datang dan mulai bermain-main.
"Klise!"
"Gak usah rese!"
Salman beranjak dari duduknya, giliran Nara yang duduk sekarang. Ia menghela nafas panjang dan diulang berkali-kali. Suasana hatinya sangat tidak baik sekarang, sepertinya ia harus pulang daripada disini hanya bertengkar dengan Salman. Nara keluar dari sekretariat, ia benar-benar pergi dari sini. Salman yang melihat itu hanya maklum, mungkin gadis itu masih membenci kejadian yang harusnya sudah dilupakan.
Nara membawa mobilnya menuju Kuma kafe, dia sangat butuh kopi dan suasana yang tenang. Sampai disana, kafe dalam keadaan sepi dan tuhan sepertinya berpihak pada Nara. Ia masuk dan memesan kopi Americano, lalu ia memilih duduk dipojok kafe ini. Bukan bagaimana, tapi Nara mengingat kembali bagaimana cara Dipta mengkhianati Nara. Dengan cara yang sangat menyakiti bahkan Nara tidak bisa melupakan itu seumur hidup. Maka dari itu Nara membenci apapun yang berhubungan dengan Dipta, walaupun tidak semuanya tapi hal-hal yang spesifik dengan lelaki itu selalu Nara hindari. Termasuk tempat tadi, Nara rasanya ingin menggagalkan upaya Agam untuk memenangkan proyek itu, tapi Nara masih sayang sama pekerjaannya.
"Real *****!"
Dipta dan Gabriel adalah penyebab kecelakaan yang hampir merenggut nyawa Nara.
Kalau diceritakan ada banyak bab yang bahkan Nara sendiri tidak mau mengingatnya lagi. Cukup itu disimpan oleh Nara sendiri dan segelintir orang yang tahu. Cukup lama Nara hanya berdiam diri disini, Kuma semakin ramai dan semua meja penuh. Suasana hati Nara juga semakin baik sekarang, kini ia bisa bekerja lagi. Kemanapun pergi Nara pasti membawa iPad-nya, entah itu nongkrong, bekerja, rapat, kuliah. Semua pekerjaan Nara di handle melalui layar pintar itu, jadi sudah seperti separuh nafasnya.
Nara mengangkat kepalanya dan melirik sekitar, lalu matanya menangkap sosok yang sedang berdiri membawa secangkir kopi dan piring makanan. Sepertinya sedang bingung mencari tempat duduk yang kosong.
"Dokter! Sini aja." Lelaki itu menengok ke meja Nara, didepan gadis itu masih ada satu kursi kosong. Orion mendekat dan duduk didepan Nara dan tersenyum tipis.
"Makasih Nara, untung ada kamu."
"Sama-sama, dokter sendiri?"
"Niatnya sih healing dari kegiatan rumah sakit tapi kafe ini ternyata ramai." Ternyata tujuan Nara dan Orion sama, yakni healing.
"Nara?"
"Orion?"
"Saras?"
"Mas Erga?"
Mereka saling melirik satu sama lain dengan bingung "Kalian ngapain disini?!"
__ADS_1