
Hari ini Nara wfh, agenda kali ini rapat eksternal bersama investor dan vendor. Perusahaan ditempat Nara memang menggunakan dua metode kerja yakni wfh dan wfo, dengan ketentuan 3 hari wfo dan 2 hari wfh lalu sabtu dan minggu libur. Lalu karyawan bisa mengambil libur maksimal 2 kali setiap bulannya, sangat flexible. Walaupun begitu, perusahaan tempat kerja Nara adalah bentuk CV berskala nasional. Jadi proyek perusahaan tidak hanya berada di Jawa Tengah atau sekitarnya saja. Awalnya Nara disini melamar sebagai drafter freelance, namun sekarang ia berganti posisi menjadi staff administrasi disini. Walaupun lama kelamaan tugasnya seperti berubah menjadi drafter, pelaksana, bahkan tangan kanan sang atasan. Ada 3 alasan kenapa Nara dipindahkan menjadi tangan kanan sang bos.
Pertama, Nara bisa lebih flexible mengatur kuliahnya dengan pekerjaannya. Kedua, kemampuan Nara dalam bahasa asing yang baik karena sang bos tidak jago-jago banget. Ketiga Nara tidak menyukai bos-nya yang masih melajang itu. Bahkan Nara terang-terangan tidak menyukai atasannya itu. Menurut Nara, Agam Kurniawan alias sang bos adalah orang yang sangat menyebalkan, otoriter, dan tukang ngambek. Nara tidak suka cowok menye-menye seperti bos-nya itu.
Nara masih duduk didepan laptopnya, mendengarkan Agam yang berbicara. Sedangkan tangan Nara lincah mengetik apa saja poin penting rapat di iPad-nya sesekali melihat grup BEM yang sedang rusuh. Selain kuliah dan bekerja, Nara juga mengikuti organisasi BEM-U yang sebentar lagi juga akan purna tugas. Maka dari itu sekarang Nara lebih banyak wfh untuk fokus kuliah dan organisasi. Nara sudah dikejar dosen pembimbing untuk mengajukan proposal skripsi dan segera melakukan penelitian untuk kelangsungan skripsi.
Setelah rapat ini, Nara harus ke Kuma kafe untuk rapat internal BEM-U membahas tentang proker PSDM. Lalu harus ke toko buku untuk membeli buku kebutuhan kuliah. Setelahnya ia harus belanja bulanan di grosir tempat biasanya berbelanja. Ia sudah tidak memiliki stok makanan dikulkas ataupun kabinet dapur. Jam 1 siang rapat sudah bisa ditutup, Nara menyelesaikan catatannya dan mengirimkan pesan kepada Agam juga mengirimkan berkas yang sudah selesai ke beberapa anggota rapat tadi.
Jam 2.40 Nara sudah selesai dengan urusan pekerjaan, lalu ia mandi dan bersiap pergi ke kafe. Nara memantul diri ke kaca, hanya celana longgar, hoodie, jilbab, dan sendal jepit. Membawa ponsel, dompet, iPad, dan kunci mobil lalu pergi menuju kafe. Jaraknya tidak jauh dari kampus, perjalanan kesana membutuhkan waktu sekitar 10 menit karena jalan cukup ramai. Nara sampai disana, langsung memesan makanan dan mencari teman-temannya yang sudah datang lebih dahulu.
"Guys."
"Oitt!"
"Sorry kalau lama, gue baru kelar kerjaan." Langsung saja Nara nimbrung membahas satu persatu proker, kali ini rapat hanya terdiri dari 6 orang dari satu kementerian PSDM BEM-U. Kementerian ini memang tidak pernah rapat formal dikampus, selalu diluar agar memiliki banyak ide ketika berada di suasana luar kampus.
Nara sebenarnya sedikit repot untuk akhir semester 7 ini, banyak sekali hal yang dilakukan BEM-U apalagi sebentar lagi diadakan Porsenitas. PSDM selalu menjadi garda depan, Nara dan yang lain juga terdepan mumetnya. Farras sebagai ketua kementerian sedang menjabarkan tentang idenya, yang lain menyimak termasuk Nara. Kepala gadis itu sudah overload untuk mencerna semua yang Farras jabarkan.
"Jelas?" Yang lain mengangguk, sedangkan Nara diam. Farras berdecak lalu menatap Nara yang tidak paham.
"Pelajari lagi nanti, gue tahu kepala lo udah senep sama rapat."
"Iya, gue sampai ngeblank."
Selesai rapat mereka tidak langsung pulang, melainkan ngobrol sebentar dan makan. Nara menikmati steak sapinya, perutnya sudah demo sejak setelah dzuhur tadi. Itu tidak luput dari perhatian Kia, ia melihat Nara sudah seperti manusia tidak makan selama 3 hari.
"Buset Na, pelan dong."
"Laper Ki, belum makan. Makannya otak gue ngeblank dari tadi."
"Seharian lo ngapain aja emang?"
__ADS_1
"Pagi kuliah, siangnya rapat eksternal sama investor, kirim-kirim dokumen, baru gue kesini."
"Kalau makan?" Tanya Ega.
"Tadi pagi gue gofood bubur ayam, habis itu cuma ngemil snack. Untungnya sih udah enggak sesibuk 2 semester kemarin." Mereka sudah tahu kesibukan Nara selama ini, karena Nara juga hebat bisa mengatur waktunya tanpa meninggalkan kewajiban.
Mereka bubar, meninggalkan kafe dan pulang. Sesuai plan tadi, Nara menuju Gramedia terdekat untuk membeli buku juga beberapa alat tulis. Tinta printer dan HVS sudah habis, padahal itu adalah barang yang sangat penting bagi Nara. Masuk ke Gramedia, Nara langsung menuju rak buku dimana buku yang ia cari berada. Beralih mencari tinta dan ketas HVS lalu pergi ke kasir untuk membayar semuanya. Ia harus segera pergi ke grosir agar tidak terlalu malam sampai di apartemen. Jarak dari Gramedia ke grosir sekitar 3 km.
Disana Nara membeli berbagai jenis minuman, seperti susu, minuman teh botol, yogurt, softdrink, bahkan air mineral karena ia tidak memiliki galon air. Nara biasanya membeli minuman tersebut satu pak per-itemnya untuk persediaan selama sebulan, untuk air mineral ia membeli cukup banyak sekitar 3 karton. Lalu makanan ringan dan biskuit untuk jaga-jaga kalau malam ingin ngemil atau ada teman-temannya datang main.
Untuk bahan makanan ia hanya membeli beras, mie instan, telur, frozen food berbagai macam jenis, keju cheddar, makaroni mentah, tepung terigu, ayam, cumi-cumi dan minyak goreng. Untuk bumbu dapur ia hanya menyediakan bawang merah, putih, dan cabai lainnya ia menggunakan bumbu bubuk. Untuk sayur ia hanya membeli beberapa yang tahan sampai seminggu. Fyi, Nara sangat jago memasak jadi setiap hari gadis itu masak untuk makan malam. Buah juga hanya seperti jeruk, mangga, anggur, dan pisang.
Nara termasuk orang yang mandiri, alias apa-apa sendiri, masak, nyuci baju, ngepel lantai, gosok kamar mandi, sampai membersihkan kamar juga ia lakukan sendiri. Jadi setiap bulannya Nara sudah seperti ibu-ibu yang belanja untuk keperluan satu rumah.
"Bahan makanan, sayur, buah, snack, sabun-sabun, pengharum ruangan. Kurang apa ya, kek ada...eh pembalut." Nara membawa trolinya yang sudah penuh dengan belanjaan menuju area pembalut wanita. Satu rak panjang hanya berisi roti jepang perempuan.
"Gila, gue suruh manjat apa gimana heh?" Pembalut yang ia gunakan ada dirak paling atas -- karna biasanya ada dibagian tengah, dan sekarang tidak ada orang yang bisa membantu Nara.
Seseorang meraih pembalut tersebut dan memberikannya pada Nara, tentu gadis itu terkejut ketika ia melihat Orion didepannya sekarang. Nara merebut pembalut tersebut, sedikit takut. Kalau diingat kali pertama bertemu, Nara jadi ngeri kalau kejadian itu lebih dari itu.
"Kalau tahu pendek, minta tolong Nara. Menyusahkan diri sendiri 'kan?" Ujar Orion yang lebih ke mengejek Nara, sebagai perempuan yang tingginya berada di 156 cm Nara tidak terima. Petugasnya saja yang meletakkan pembalut itu lebih tinggi dari biasanya.
"Gak usah ceramah, makasih atas bantuannya."
Nara pergi melengos begitu saja, meninggalkan Orion. Lelaki itu hanya mengedikan bahu, paham dengan apa kemauan Nara. Kebetulan sekali ia tadi melihat Nara disini, dan sedang kesusahan mengambil barang yang ada dirak atas.
"Mood perempuan." Orion kembali berjalan mencari barang yang ia butuhkan. Ia juga sedang membeli kebutuhan pribadi, sekalian membeli beberapa titipan temannya tadi.
Nara selesai berbelanja, ia langsung membawa semua belanjaan ke mobil. Pergi dari tempat grosir, Nara mampir sebentar ke penjual martabak manis. Ia rasanya ingin membeli martabak keju, kacang, coklat kesukaannya. Kalau ingat Orion, ia juga ingat mengenai katingnya yang tinggal didepan unitnya, Maria. Beberapa hari lalu perempuan itu pamit, katanya akan pindah ke apartemen yang lainnya. Apa Maria tahu kalau Orion pernah salah masuk ke unitnya? Karena tidak semua orang bisa masuk bahkan naik, hanya pemilik yang memegang kartu alias kunci yang bisa naik ke atas. Atau orang-orang yang memang diijinkan masuk oleh pemilik unit melalui security yang berjaga didepan. Dan pastinya kedua orang itu tetap saling bertukar kabar setelah Orion salah sasaran.
"Ngeri juga, ayam kampus."
__ADS_1
Martabaknya selesai dibuat, Nara kembali melanjutkan perjalanan pulang. Sampai di tower Nara berhenti dilobi, ia hendak membawa barang-barangnya terlebih dahulu naik. Untung saja pihak pemilik apartemen memberikan fasilitas troli untuk membawa barang-barang naik.
"Pak tolong parkirin mobil saya ya, nanti kuncinya saya ambil lagi pas bawa trolinya turun." Pinta Nara pada security.
"Baik mba."
Setelahnya Nara naik membawa semua belanjaan, cukup merepotkan untung saja hanya sekali sebulan. Masuk ke unit Nara meletakkan barang-barang itu sembarangan saja, ia harus kembali turun untuk mengembalikan troli sekaligus mengambil kunci mobilnya. Ia menunggu lift terbuka.
Ting
Lift terbuka, nampak seseorang yang sangat Nara kenal. KENAPA ORION ADA DISINI?! "Oh, halo Nara."
"Dih. Ngapain dok? Booking lagi?"
"Sstt! Jangan nuduh sembarangan."
"Terus?"
"Unit saya diujung, saya juga penghuni lantai ini." Nara melotot, baru tahu kalau Orion juga memiliki unit disini. Kesialan apa lagi yang harus Nara hadapi, namun semoga saja tidak ada kesialan yang akan datang.
"Kalau kamu bingung kenapa waktu itu saya bisa naik, jawabnya karena saya juga tinggal disini."
"Dih gak peduli juga, minggir." Nara mendorong badan Orion ke samping, membuat lelaki itu bergeser. Ternyata Nara sangat tidak sopan batin Orion. Pintu lift tertutup dan berjalan turun ke lantai satu. Nara mengembalikan troli ketempatnya, lalu mengambil kuncinya di security.
"Pak Didin, emang dokter Orion udah lama tinggal disini ya?"
"Oh mas Orion emang udah lama mbak, sekitar 4 tahunan disini. Kenapa?"
"Enggak pak, cuma kaget aja lihat penampakan dia disini. Agak serem." Nara tertawa lalu pamit lagi untuk naik. Tak terduga, ternyata lelaki itu lebih lama tinggal disini. Apa Nara harus pindah karena ia satu lantai dengan Orion di tower ini? Tidak terlalu buruk, tapi ia terlanjur nyaman disini.
"Anggap aja Na, itu setan bukan penghuni ujung lorong."
__ADS_1