
setelah memutuskan untuk menerima wasiat terakhir dari papanya, triztan menghubungi pak johan untuk memberi tahu keputusan nya.
"hallo om, aku terima wasiat terakhir dari papa, selain aku ingin menyenangkan hati papa, aku juga harus memikirkan hidup manada juga oma. jadi kapan aku bisa ketemu dengan gadis itu." tanya triztan, karena dia juga penasaran gadis seperti apa yang akan di jodohkan dengan nya.
"are you sure triz? " tanya pak johan karena begitu terkejut dengan keputusan triztan, bahkan ini juga belum sehari pak johan memberikan nya waktu.
"ya om, aku sangat yakin." katanya terdengar mantap.
"are you ok? " tanya pak johan sekali lagi, karena dia begitu masih tidak percaya akan hal yang dibilang triztan barusan.
"yes om, i'm ok." terdengar sekali suara di balik telepon itu sangat yakin.
"baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan kamu, nanti malam om akan membawa gadis itu kehadapan mu. jangan lupa kabari oma kamu. om yakin oma kamu pasti sangat senang bisa bertemu dengan gadis itu." katanya memberi tahu.
"baik om, nanti om kabari sama aku, dimana dan waktunya." lalu triztan mematikan ponselnya.
meskipun ini sangat berat baginya, tapi satu hal yang telah dia tekadkan dalam hatinya, seperti apapun gadis itu nanti dia akan berusaha menerima dia apa adanya, karena baginya papa david tak mingkin salah mencarikan nya teman hidup terlebih lagi ini adalah permintaan terakhir sang papa untuk dirinya.
****
sementara di tempat lain, avika baru saja pulang bekerja, karena lelah seharian bekerja. dia berhenti sejenak di sebuah taman yang cukup nyaman untuk sekedar beistirahat. setelah mendapatkan tempat duduk, tampak gadis itu memijat kakinya yang sedikit pegal karena seharian bekerja.
"haah.. ternyata seharian bekerja membuat seluruh badanku terasa remuk." katanya berbicara sendiri.
"maaf apa anda nona avika, anak bapak riko dan bu vira." tanya seseorang secara tiba-tiba duduk disamping nya. "maaf kalau kedatangan saya membuat anda kaget dan tak nyaman. " katanya sambil tersenyum.
__ADS_1
"bapak siapa, dari mana mengenal orang tua saya?" katanya sambil berdiri dan siap lari dari oramg itu.
"maaf nona saya bukan oramg jahat, saya kesini hanya disuruh atasan saya untuk membawa nona untuk bertemu dengan nyonya besar juga calon suami anda! " katanya tanpa sadar.
"calon suami, maaf mungkin anda salah orang, saya belum punya calon suami, bahkan saya baru saja tamat sekolah jadi bagaimana mungkin punya calon suami." katanya mulai waspada, dan bersiap untuk kabur. tapi sayamg langkah nya sudah terhalang oleh para bodyguard suruhan pak johan.
sekuat tenaga, vika mencoba untuk melepaskan diri dari bodyguard yang sedang menggendong nya seperti karung beras. bahkan berkali-kali dia menggigit orang tapi seperti sama sekali tak berpengaruh terhadap orang itu
tak lama setelah itu tubuhnya diasukan kedalam sebuah mobil mewah, dan membawanya melaju dengan cepat.
avika bergetar dan berkeringat dingin, karena ketakutan. karena dia mengira dirinya telah di culik dan akan dijual keluar negri, atau mereka adalah penjahat yang bekerja sebagai penjual organ-organ tubih manusia.
tak hentinya vika berdoa, supaya bisa bebas dari mereka, bahkan dia berjanji kalau berhasil lepas dari orang-orang ini dia akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. bahkan vika hanya menunduk sambil meremas kedua tangan nya, dan tak berani melihat atau sekedar bertanya kepada mereka. yamg ada di pikiran nya saat ini hanya bagaimana cara bisa bebas dari orang-orang ini.
"kami sudah dekat." kata orang yang tadi duduk disamping nya. yang dia yakin bahwa orang itu adalah bos dari orang-orang yang menahan nya saat ini. "baik." setelah mengatakan itu, tampak orang itu mematikan sambungan telpon nya. tak lama setelah itu mobil yamg membawa avika tampak berhenti di depan sebuah rumah yamg cukup mewah.
lalu dengan lembut, bodyguard itu menurunkan avika di sofa yang menurutnya sangat empuk. bahkan lebih empuk dari kasurnya dirumah. avika melihat ke sekeliling matanya tampak takjub tapi beberapa detik kemudian kekaguman itu sirna, tatkala seseorang mengatakan kalau nyonya besar sebentar lagi turun.
hal itu membuat nyali avika ciut seketika, rasa takut kembali menghantuinya. bagaimana kalau hari ini adalah akhir dari hidupnya. besok dia hanya akan tinggal nama. dan masuk dalam berita seorang gadis di temukan sudah tak bernyawa di dalam selokan atau apapun itulah.
dalam hati dia merutuki, nasibnya yang malang saat ini.
tapi tak lama setelah itu nampak seorang perempuan yang sudah agak berumur namun masih terlihat segar menuruni tangga. dan menurut penglihatan avika dia seakan mengenal nenek itu. melihat nenek itu yang menuruni tangga tergerak hatinya untuk membantunya turun tangga.
"nenek, kok nenek disini? nenek nggak apa-apakan? nenek nggak disakiti sama Merek kan? " katanya bertanya tanpa jeda.
__ADS_1
"vika, nama kamu vika kan? " tanya nenek itu lembut. bahkan tatapan matanya penuh kehangatan.
"iya nek, aku vika." katanya sedikit heran karena nenek tua itu tahu namanya, padahal waktu dia menolong nenek tua itu dia sama sekali menyebutkan namanya.
"apa kamu masih ingat sama nenek nak? " tanya sambil tersrnyum.
"tentu nek, tentu aku masih ingat sama nenek. nenek kan yang waktu itu mau menyebrang jalan." katanya sambil tersenyum.
belum sempat nenek itu bicara salah seorang mendekat kepada nenek itu.
"nyonya, sebentar lagi tuan muda akan sampai. sepertinya dia pulang bersama kevin teman nya itu nona." katanya memberi tahu.
"suruh mereka langsung masuk, katakan kalau aku sudah menunggunya." katanya memberi isyarat supaya pengawal itu kembali kedepan menunggu triztan.
"nek ini sebenarnya ada apa? kenapa aku di bawa kesini. dan ink rumah siapa? " katanya penuh tanda tanya dan begitu penasaran tentang apa yang terjadi saat ini.
"sebentar ya nak, sebentar lagi orang kepercayaan keluarga kami akan sampai dan calon suami kamu juga sebentar lagi sampai. " katanya santai seperti tak terjadi apa-apa, padahal avika sudah begitu bingung juga penasaran akan hal ini.
tapi belum sempat vika bertanya lebih lanjut, dia dikejutka akan hal tak terduga yang saat ini dia lihat.
"amanda... "katanya lirih. namun suaranya tertahan tatkala dia melihat seorang oria paruh baya beejalan dibelakang amanada, pria itu tak lain ialah pak johan, orang yang selama ini sering membantunya.
begitu juga dengan manda yang tak kalah terkejutnya, ketika melihat avika berada di hadapan nya.
"avika, kamu avika kan. avika teman aku waktu SD? " tanya nya, amanda sedikit ragu, karena wajah avika terlihat cantik dari dia waktu berteman dengan manda dulu.
__ADS_1
"iya manda, aku avika teman kamu waktu sekolah dulu, kamu kemana aja? aku waktu itu bingung nyari-nyari kamu. karena aku mau ngajak kamu sekolah di tempatku sekolah. " katanya langsung merangkul avika kedalam pelukan nya. begitupun dengan avika.
amanda dan avika adalah sahabat baik di waktu sekolah dasar dulu, Mereka bahkan sering menghabiskan waktu berdua semasa sekolah dasar dulu. tapi karena suatu keadaan membuat avika harus jauh dari amanda. dan kejadian itu sungguh membuat amanda sesih karena kehilangan sahabat satu-satunya yang ia punya.