
avika hanya tidur beberapa jam saja, karena memikirkan semua hal yang terjadi semalam. rasanya seperti mimpi. kini kehidupan nya sudah tidaka akan sebebas biasanya lagi. entah bagaimana kehidupan pernikahan yang tak pernah ia inginkan ini. dia melakukan semua ini memenuhi wasiat terakhir almarhum sang papa yang sangat dia sayangi. mungkin dia bisa saja menolak, tapi hal itu tentu akan membuat papanya sesih disana. begitu pemikiran nya.
setelah jam menunjukan pukul empat subuh, avika avika tak melanjutkan tidurnya. karena bingung mau melakukan hal apa, dia melihat kearah pintu yang langsung mengarah ke balkon kamar amanda. tak lama setelah itu amanda mencoba keluar dari kamar menuju balkon, lama dia merenung dan bersandar pada pagar balkon itu.
tanpa terasa air mata mengalir di kedua pipinya. lalu setelah itu dia berjongkok sambil memeluk Kedua lututnya. untuk melepaskan semua keluh kesahnya dari semalam.
"papa, sudah benarkah ini papa. vika masih belum mengerti semua yang telah vika alami ini pa. rasanya vika benar-benar bingung pa. rasanya vika nggak sanggup pa. tapi papa tenang saja, walaupun vika sedih, vika menangis, vika akan memenuhi semua permintaan papa. vika janji pa. dan vika juga berharap papa bisa tenang disana. vika janji vika akan bahagia pa." gumamnya dalam hati sambil menahan tangisnya yang ingin pecah dari tadi, tapi sebisa mungkin dia mencoba menahan nya agar tak kedengaran oleh amanda atau yang lain nya.
sudah hampir satu jam avika berjongkok memeluk kedua lututnya, lalu dia menghapus sisa air matanya di kedua pipinya. lalu segeda berdiri dan meletakan kedua tangan nya di pagar balkon. niat hati nya ingin melihat matahari mulai bersinar apalagi dia sangat jarang matahari mulai bersinar, mengingat selama ini dia bekerja sampai malam demi memenuhi kebutuhan hidupnya.
dalam lamunan nya, avika melihat sesosok bayangan orang yamg sedang berjalan sedikit tergesa-gesa keluar dari rumah. awalnya vika itu mengira adalah pelayan rumah oma tika yang sudah memulai pekerjaan nya.
tapi setelah dilihat lagi itu bukanlah bayangan pelayan atau apapun itu, melainkan bayangan seseorang yang akan melakukan olahraga pagi.
avika begitu terpana melihat triztan yang sedang olahraga pagi, dia melakukan berbagai gerakan olahraga untuk pemanasan. push up, sith up, dan gerakan yang lain dia lakukan dengan sempurna. setelah puas melakukan nya triztan segera membuka baju olahraga yang dia pakai saat ini. sangat jelas terlihat tubuh atletisnya memperlihatkan jelas otot-otot tubuhnya. lalu setelah itu tampak dia memulai gerakan baru dengan gerakan setengah berlari menaiki anak tangga, setelah sampai diatas dia turun lagi, lalu kembali naik keatas melakukan gerakan yang sama. sangat jelas terlihat di raut Wajahny saat ini, walaupun raut wajah nya tenang tapi memperlihatkan sedang menahan emosi yang terpendam.
di tengah lamunan nya melihat triztan melakukan gerakan olahraga ringan, tiba-tiba avika di kagetkan karena ada seseorang yang memegang bahunya dari belakang, sontak avika langsung menoleh ke belakang melihat siapa yang memegang bahunya.
"manda, kamu kok udah bangun? " katanya sedikit salah tingkah karena ketahuan sedang melamun melihat triztan melakukan olahraga ringan.
__ADS_1
"inikan sudah pagi vika, jadi aku harua bangun. berhubung ini hari minggu jadi aku mau olahraga pagi. kamu mau ikut nggak?" katanya menawari avika supaya ikut berolahraga pagi dengan nya.
"tapi aku sama sekali nggak punya pakaian olahraga, kan kamu tahu sendiri semua pakaianku masih dirumah kosan ku." katanya mengingatkan. aduh vika, please dech jangan bilang kayak gitu. kamu kan bisa pakai baju olahraga aku. udah ah ayuk aku pinjamin baju olahraga." setelah itu amanda langsung menarik tangan avika untuk mengganti pakaian mereka dengan pakaian olahraga.
setelah mengganti bajunya, amanda mengajak avika lari santai keliling komplek perumahan mereka. sesekali avika dan amanda terlihat tertawa lepas, entah apa yang mereka perbincangkan, yang jelas sangat terlihat raut muka bahagia diantara mereka.
setelah satu jam melakukan lari santai, mereka memutuskan untuk kembali kerumah.
"vik, kamu mau langsung mandi atau mau istirahat dulu? " tanya amanda.
"aku mau istirahat dulu drch disana, masih pegel nech kakiku." katanya sambil melihat lantai dua rumah itu tapi lebih terlihat seperti balkon karena tempat itu sanagat terbuka dan di tumbuhi banyak tumbuhan hijau yang memang sengaja di tanam sesuai keinginan oma tika.
setelah sampai diatas, avika langsung berdiri di tepi pagar tempat ia berpijak saat ini, sambil matanya melihat kedepan dan terpejam, karena ingin merasakan aroma bunga yang sedang mekar. tapi baru saja beberapa detik dia bisa mencium aroma bunga yang menyegarkan itu tiba-tiba ada orang yang menarik pergelangan tangan nya. reflek avika melihat siapa yang memegang pergelangan tangannya. betapa kagetnya dia mengetahui orang itu adalah triztan.
"lepas, apasih sakit tahu! " katanya berusaha melepaskan pegangan tangan triztan dari pergelangan tamgan nya." tapi rasanya percuma karena tenaganya kalah telak dari triztan.
lalu triztan menariknya dan mendekatkan avika mendekatkan avika ke pagar balkon yang tidak terlihat oleh orang lain. lau mengunci pergerakan gadis itu dengan tangan nya. triztan semakin memajukan wajahnya, hingga kini jarak mereka hanya beberapa cm saja, bahkan avika bisa merasakan hembusan nafas nya triztan. reflek kejadian itu membuat avika memejamkan matanya.
"buka matamu, dan tatap aku! " kata triztan sambil memegang dagu avika, sedangakan tangan satunya lagi masih memegang pagar balon itu untuk mengunci pergerakan avika.
__ADS_1
avika yang sudah tak nyaman langsung membuka matanya, dan refleks mendorong triztan. tapi sama sekali tak membuat posisi triztan berubah sedikitpun.
"maunya lo apa sih kak?" tanya nya, alih-alih memanggil nama dia lebih memilih memanggil triztan drngan sebutan kakak.
"ciih gue bukan kakak lo." katanya menolak ketika avika memanggil nya dengan sebutan kakak.
"terus gue panggil apa dong, masa gue panggil lo dengan nama, lo kan lebih tua dari gue." katanya penuh penekanan.
"ciih...itu nggak oenting, sekarang gue mau tanya kenapa lo nggak menolak perjodohan ini. apa motif lo menerima semua ini? " ada penekanan di setiap kalimat yang di ucapkan nya.
"aku, aku hanya memenuhi keinginan terakhir papaku, aku hanya ingin membuatnya semakin bahagia di syurga sana." katanya sedikit gemetar, karena triztan semakin memdekatkan wajahnya kemuka avika.
"emang nya lo nggak takut gitu, sama gur. ya siapa tahu aja kan gue punya kepribadian ganda, atau gue seorang psycopat yang bisa sewaktu-waktu membuat lo menyesal gitu." mencoba menakuti avika.
sedangkan avika sudah merasa keringat dingin, apalagi kini hembusan nafas triztan mulai menyentuh wajahnya.
"aku yakin kamu bukan orang seperti itu, dan aku juga yakin kalau jodoh yang di oilihkan papa untuk ku tak mungkin salah." katanya sedikit gemetar. entah kenapa jantung nya berpacu dua kali lebih cepat dari biasanya.
avika tampak memegang bagian dadanya sambil berkata dalam hati.
__ADS_1
"ini jantung kenapa sech, selama inikan gue nggak punya riwayat penyakit jantung, tapi kenapa malah! rrpaci secepat ini."
avika yang melihat sedikit cela untuk bisa kabur, langsung mendorong tangan triztan. dan sesegera mungkin kabur dari triztan.