Istriku Canduku

Istriku Canduku
pertemanan kalian aneh


__ADS_3

Inka menangkup wajah Mario yang masih berlinang air mata dalam pelukannya.


“Hey, seorang Mario Jhonson menangis.” Ledek Inka, sambil tersenyum bahagia.


“Jangan buat jantungku ikut berhenti berdetak karena takut.” Mario menangkap telapak tangan Inka yang berada di wajahnya, lalu ia mengecup tangan itu beberapa kali.


“Aku pernah kehilanganmu, rasanya sakit sekali, dan aku tidak ingin merasakan itu lagi.” Ucap Mario.


Inka tersenyum. “Itu tidak akan terjadi lagi.”


Cup


Inka mencium bibir Mario. Kemudian Mario langsung membalas pangutan itu. Inka membiarkan Mario mencium bibirnya sesuka hati, dari mulai lembut hingga lebih dari menuntut. Lalu Mario mulai menelusuri leher jenjang Inka, dengan leluasa tangan Mario menjelajahi tubuh polos istrinya itu.


“Mimi..”


Tok.. Tok.. Tok..


“Mimi..” Teriak Maher dan Mahira bersamaan, membuat Mario dan Inka kaget dan menyudahi aktifitasnya.


Ceklek


Maher membuka pintu kamar orang tuanya yang tak di kunci. Mario langsung berguling ke samping, sementara Inka langsung menutupi tubuhnya


“Aah.” Mario mengusap kasar wajahnya.


Inka pun langsung bangkit.


Maher dan Mahira berlari menaiki tempat tidur besar itu. Mereka menghampiri ayah dan ibunya yang berada di sana.


“Mimi, Pipi, balu bangun tidul?” tanya Maher.


Mario mengangguk terpaksa, sedangkan Inka hanya menahan tawa. Pasalnya ia melihat raut kekesalan pada wajah suaminya itu.


Inka makin cekikikan.


“Mimi kenapa sih tetawa ja.” Kata Mahira.


“Ngga apa-apa, tadi pipi ngajakin Mimi bercanda.” Jawab Inka sambil menutup mulutnya.


“Mimi ndak pake baju tidul lagi?” Tanya Mahira saat selimut Inka hampir saja lolos dari tubuhnya.


“Karena Mimi mau mandi sayang.” Inka bergegas menuju kamar mandi.


“Sayang, urusan kita belum selesai.” Teriak Mario, saat melihat Inka menjauh.


Inka membalas dengan jempol kebawah sambil tersenyum menjulurkan lidahnya.


“Ah, wanita itu selalu membuat jantungku tidak karuan.” Batin Mario saat melihat Inka tak lagi ada di pandangannya.


Maher dan Mahira langsung menubruk sang ayah untuk mengajaknya bermain.


“Hey, ini masih sangat pagi. Kalian minum susu dan mandi dulu, bagaimana?” Kata Mario membujuk kedua anaknya.


“Ndak mau.” Jawab Maher.


“Kami mau di sini.”Jawab Mahira.


“Hey, dengar. Mimi Pipi baru bangun tidur, dan belum bersih-bersih. Nih ketiak Pipi masih bau.” Mario menunjukkan ketiaknya di hidung Maher dan Mahira.

__ADS_1


“Auuu..” Teriak Maher.


“Pipi jolok.” Mahira menutup hidungnya.


“Kalian juga bau asyem.” Mario mengendus Maher dan Mahira pura-pura.


"Gih, sana sama mba Tari dan mba Ambar dulu ya.” Mario menego kedua anaknya, agar ia bisa menyelesaikan urusannya dengan Inka yang masih tertunda.


Mario yang masih bertelanjang dada, bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar mencari Ambar dan Tari


Kebetulan Sukma memang sedang tak berada di rumah ini. Sudah satu minggu ia berada di kampungnya.


“Ambar.” Teriak Mario yang masih menggendong Maher dan Mahira di kiri dan kanan.


“Iya, Pak.” Ambar berlari menghampiri majikannya.


"Tari mana?”


“Masih di dapur, membuat susu untuk kembar, Pak.”


Mario langsung mengangguk dan menurunkan si kembar dari gendongannya.


“Tolong mandikan mereka dan beri susu juga camilannya.” Perintah Mario pada Baby sitternya itu.


“Baik, Pak.”


Mario kembali lagi ke kamar dan melihat Inka yang sudah lengkap memakai dres rumahan. Ia mengenakan dres berbahan kaos yag panjangnya hanya sejengkal dari pinggul, berwarna putih dengan gambar Marlyn Monroe. Sedangkan kerah kaos itu sangat lebar, hingga melorot ke bagian pundak sebelahnya.


Mario langsung menghampiri Inka, dan mengecup bagian pundak yang terbuka.


“Kamu belum cerita, kenapa tadi menenggelamkan diri di bath up? Apa karena aku marah, lalu kamu jadi frustasi?” Tanya Mario.


Mario kembali mendekati Inka.


“Terus, kenapa seperti itu?”


“Kamu juga cerita, kenapa marah padaku?”


“Ya, siapa juga suami yang tidak marah kalau istrinya makan siang dengan pria lain.”


“Kok pria lain, dia kan temanmu.” Protes Inka


“Iya teman, tapi dia kan laki-laki, seharusnya bilang dulu padaku.”


“Aku sudah bilang di whatsap, cek kalau tidak percaya.”


“Masa?”


“iya. Cek sekarang.” Inka mendorong Mario agar membuka ponselnya.


Lalu Mario membuka ponsel dan mensecrol pesan itu.


“Kamu WA ya?” Tanya Mario dengan wajah innocent.


“Au ah.” Cibir Inka.


“Iya deh maaf.” Mario memeluk Inka dan mengecup keningnya.


Inka menengadahkan kepalanya. “Kamu sama David punya masalah?”

__ADS_1


“Dulu tidak, tapi sepertinya sekarang iya.” Mario melepas pelukannya dan berjalan menuju sofa.


“Masalah apa? bisnis?” Tanya Inka lagi.


“Bukan, tapi kamu.”


“Aku?” Tanya Inka bingung sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Hey dengar dulu, sini!” Mario menepuk kedua pahanya, meminta Inka untuk duduk di sana.


Inka mengikuti keinginan Mario. Ia langsung menaiki kedua paha suaminya yang hanya memakai boxer.


Mario membalas dengan memeluk tubuh Inka, mengelus rambutnya sambil merapihkan setiap anak rambut yang menutupi wajahnya kala ia mennunduk agar wajahnya lebih dekat dengan Mario.


“Kamu tahu, Hmm..” Mario berpikir mencari kata yang tepat untuk menjelaskan kepada Inka.


Inka dengan intens memandangi suaminya sambil menunggu apa yang akan di katakan.


“Aku pernah cerita tentang tatto ini.” Mario menunjuk pada pudaknya. Lalu Inka mengangguk.


“David memang teman dekatku, dia juga salah satu yang ikut di tatto seperti ini bersamaku. Saking dekatnya terkadang kami sering melakukan hal konyol, mengingat aku dan david memang sama-sama.. ya seperti itulah.”


“Kamu sama David sebelas dua belas?” Tanya Inka polos, membuat Mario langsung tergelak.


“Bisa di bilang begitu, tapi David bisa lebih gila dari aku.”


“Terus?” Tanya Inka penasaran.


“Entahlah, mungkin karena aku dan David sama, jadi aku mengerti tatapan matanya saat dia melihatmu pertama kali di kantorku pada waktu itu. Aku Cuma tidak ingin dia macam-macam padamu.” Ucap Mario lesu.


“Sewaktu kuliah, David selalu menyukai pacarku, tidak jarang dia juga menginginkan tidur dengan beberapa pacarku. Aku tidak keberatan karena memang aku tidak begitu menyukai mereka, mereka menjadi pacarku karena keinginan mereka sendiri. Terkadang aku juga pernah menyukai pacar David dan menginginkan tidur dengannya juga. Terkadang malah kami menjadikan salah satu pacar kami untuk taruhan ketika bermain biliard.” Mario menjelaskan dengan penuh hati-hati.


Inka mngeryitkan dahinya saat mendengar penjelasan Mario.


“Kamu.” Inka memukul dada sumianya.


“Kenapa begitu? Kamu tidak menghargai wanita sama sekali.” Rengek Inka kesal.


“Karena mereka juga tidak ingin dirinya di hargai, mereka tidak keberatan, malah menyukainya juga.” Jawab Mario asal.


“Ish, kamu.” Inka hendak bangkit dari pangkuan Mario. Namun kedua tangan Mario langsung menahan bokong Inka.


“Aku belum selesai.”


Inka menarik nafasnya kasar. “Oke, teruskan.”


“Aku ingin kamu mengerti, agar bisa menjauh dari David, apapun alasannya. Karena dia pasti akan cari cara untuk mendekatimu, seperti kemarin. Aku yakin saat ini dia menginginkanmu.”


“Kamu pikir kalau dia mendekatiku, lalu aku akan menyukainya?” Tanya Inka sambil melihat kedua bola mata Mario.


“Tidak, aku yakin kamu juga sangat mencintaiku.”


“Lalu, mengapa harus khawatir?” Inka mengerdikkan bahunya.


“Karena aku sangat mengenal David, dia akan melakukan berbagai cara untuk memilikimu, paling tidak dia ingin merasakan tidur denganmu. Dia ingin tahu sejauh mana hebatnya wanita yang telah membuatku berubah.” Ucap Mario menahan amarah untuk kata-kata yang tak ingin ia ucapkan.


“Separah itu, Pertemanan kalian aneh. Apa seperti ini pertemanan kalangan borjuis?” Tanya Inka heran, sambil mengusap wajahnya


“Tidak juga, tapi memang pada dasarnya tidak semua pertemanan itu tulus, Sayang. Yang tulus banyak, tapi yang tidak juga pasti ada.” Jawab bijak Mario, yang langsung di angguki Inka, karena perkataan Mario ada benarnya.

__ADS_1


__ADS_2