Istriku Canduku

Istriku Canduku
pasti itu lagi..


__ADS_3

Pagi ini, Mario mengajak anak, istri dan kedua baby sitternya menuju tempat-tempat wisata di kota Amstterdam. Indah dan karel pun tak mau melewati kebersamaannya bersama cucu mereka.


Kanal Amsterdarm. Ambar dan Tari asyik berfoto, walau mereka belum menaiki kapal yang sedang Mario pesan.


Berwisata ke Belanda masih belum terasa lengkap. Jika tak singgah ke tempat wisata yang satu ini. Inka pun menyukai tempat ini. Kami duduk melewati indahnya pemandangan kota Amsterdam melalui transportasi air.


Mereka sedang menikmati Kanal Amsterdam. Kanal ini di bangun secara khusus sebagai sarana untuk mengalirkan air ke daerah-daerah pertanian yang ada di sekitar Amsterdam. Mario pun menyewa khusus kapal tersebut untuk mengitari kanal ini bersama keluarganya.


“Rumah GranMa tak terlihat dari sini.” Celetuk Mahira yag sedang duduk di bangku paling depan dan menghadap jendela, di temani oleh Indah. Sedangkan Maher duduk bersama Karel di bangku balakang Mahira dan Indah.


“Mbar, foto in aku donk!” Pinta Tari pada Ambar, yang tengah berselfie-ria di tengah kapal.


Ambar dan Tari yang duduk di bangku tengah, sibuk berfoto. Entah sudah ke berapa kali mereka berfoto dengan pose yang itu-itu saja.


Inka menggeleng dan tertawa melihat kedua babby seitternya yang begitu ceria dan polos.


Mario menemani Inka duduk di kursi paling belakang. Inka mengarahkan pandangannya ke luar jendela, di temani Mario yang selalu setia melingkarkan tangannya di pinggang sang istri dari samping. Kepalanya pun selalu menempel di pundak Inka. Harum aroma tubuh istrinya itu membuat Mario ingin selalu berada di dekatnya.


“Aku mau coklat.” Mata Inka berbinar saat di sana terlihat iklan besar yang menyuguhkan berbagai macam coklat.


“Kamu sudah manis, Sayang.” Mario terus mengecup pundak Inka.


Ia sengaja menyingkirkan rambut dan baju atasan Inka yang menutupi bagian tengah yang sedang ia mainkan itu dengan bibirnya. Tangannya pun tak bisa diam menggerayangi lekuk tubuh istrinya yang berbalut pakaian. Inka membiarkan apa yang di lakukan suaminya, karena Mario memang selalu seperti ini.


“Kak, itu rumah Anne Frank?” Inka menunjuk ke sebuah bangunan rumah besar khas klasik Eropa, yang sedang ia lewati.


Mario menoleh dan mengangguk. “Betul, kamu sudah baca bukunya?”


Inka menggeleng. “Sedikit, masih belum tuntas. Aku menemukan buku itu di rak ruang kerjamu.”


Mario mengangguk. “Aku suka membaca buku tentang seorang pemimpin, termasuk tentang Hitler. Banyak hal yang bisa di ambil dari sejarah-sejarah mereka.”


"Hmm.." Inka mengangguk, setelah mendengar jawaban suaminya yang menatap luris ke arah bangunan itu.

__ADS_1


Di tepi tiga kanal utama yang Inka dan mario lewati, terdapat beberapa objek wisata menarik seperti Museum Keju, Museum Tulip, Gereja tua Westerkerk serta rumah Anne Frank, seorang gadis yahudi berusia 15 tahun yang menjadi korban kekejaman Hitler. Keluarga Anne Frank yang tengah di buru Nazi, bersembunyi di rumah itu ketika Hitler berkuasa di Jerman. Di dalam rumah ini terdapat banyak pintu rahasia. Ada juga buku harian Anne di sana, yang kemudian di bukukan dan menjadi terkenal.


“Mengapa rumah ini di ketahui Hitler?” Inka menoleh ke wajah suaminya.


“Karena seorang penghianat.” Jawab Mario, sambil mengingat tentang apa yang ingin David lakukan pada istrinya dulu. Tapi ia memaafkan karena saat ini, David pun telah menemukan apa yang di carinya.


“Hmm...” Inka mengangguk, sambil memainkan bibirnya.


Cup


Mario meraih dagu Inka, dan memangut bibir itu.


“Mmppph...” Inka menyudahi pangutan suaminya.


“Malu, di lihat Tari.” Kata Inka, yang masih merasakan hembusan nafas Mario, karena bibir Mario masih menempel pada bibirnya.


Wajah Inka merona saat memergoki tatapan Tari. Walau Tari pun canggung dan kemudian menunduk lagi, setelah tatapannya di ketahui Inka.


Cup


“Ih, ka..mu... Di bilangin malah makin jadi.” Rengek Inka, setelah berhasil terlepas dari bibir suaminya. Nafasnya masih terengah-engah.


Mario tersenyum lebar. “Habis aku suka banget.”


Inka memukul pelan dada Mario, agar lebih sedikit menjauh. Kemudian ia membalikkan tubuhnya lagi untuk menghadap jendela. Namun, Mario kembali menjahili istrinya dengan menelusuri area intimnya dengan telapak tangan besarnya.


“Kak...” Rengek Inka.


“Aww.” Teriak Inka pelan, saat pundaknya di gigit Mario.


Mario pun segera bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri kedua anaknya di bangku depan.


“Menyebalkan.” Inka mencibir sambil memegang pundaknya. matanya membulat ke arah Mario yang tengah tersenyum dan beranjak meninggalkannya di sana.

__ADS_1


Setelah lama berkeliling di kanal Amsterdam dengan kapal yang Mario sewa. Kemudian mereka beralih ke Royal Palace of Amsterdam.


Royal Palace of Amsterdam, merupakan istana kerajaan yang sudah tak di gunakan lagi. Istana ini di bangun sejak abad ke 17 Masehi dan di fungsikan pertama kali sebagai City Hall. Selain itu, di masa kepemimpinan Raja Loise Napoleon, istana ini juga sempat di jadikan istana utama kerajaan Belanda. Sama seperti bangunan-bangunan yang lainnya, istana ini juga di dirikan dengan gaya arsitektur khas Eropa klasik. Bangunan ini memiliki ciri utama berupa kubah dan baling-baling yang di letakkan di bagian atas gedung.


Mario berjalan merangkul pundak Inka, sambil menjelaskan tentang gaya kepemimpinan Napoleon. Mario benar-benar seorang pemimpin sejati. Ia tahu semua sejarah tentang pemimpin-pemimpin fenomenal dari berbagai negeri.


Inka mengangguk-angguk, saat Mario bicara. Di irngi suara yang hanya ber'oh' saja.


Ia terus menatap suaminya dengan intens, menatap bibir Mario yang tak berhenti bicara. Ia tak menyangka di balik gaya selengeyan dan mesumnya seorang Mario, terdapat kecerdasan dan jiwa kepemimpinan yang luar biasa pada dirinya.


“Hey.. Hello..” Mario melambaikan tangannya tepat di wajah Inka yang sedang terpaku.


“Aku ngga lagi mendongeng kan?” Ledek Mario.


Inka tersenyum. “Sepertinya, kalau srtiap malam kamu dongengin aku seperti ini, aku akan semakin nyengak tidurnya.”


“Ah males. Dari pada mendongeng mending melakukan sesuatu yang lebih nikmat. kamu juga akan nyenyak tidurnya karena kelelahan.” Alis Mario naik turun, menampilkan ekspresi yang sangat Inka mengerti.


“Pasti itu lagi.” Teriak Inka dan mencubit keras pinggang Mario, membuat suaminya meringis kesakitan.


“Aww... sakit, Sayang. Tega banget sih.”


“Pipi.” Kemudian dari kejauhan Maher berteriak memanggil sang ayah sambil berlari. Ia begitu gembira mengejar banyak burung-burung yang ada di sana


Mario menoleh dan terkejut, mendapati Maher yang langsung menubruk tubuhnya.


“Pipi.” Mahira pun melakukan hal yang sama.


Kini keduanya menubruk tubuh Mario dari sisi kiri dan kanan.


“Pipi..” Inka tak mau kalah, ia pun ikut menubruk Mario dari belakang da mendekap kepala Mario.


Kini anak dan istrinya tengah memperebutkan dirinya. Mario pun tertawa bahagia, walau tubuhnya hampir saja tersungkur ke jalan, tapi dia tetap tertawa dengan kelakuan orang-orang yang di cintainya ini.

__ADS_1


__ADS_2