
Setahun berlalu, Indah pun kini tinggal di kediaman Mario, bersama puteri dan kedua cucunya. Hampir setiap pagi, Raka mampir untuk sarapan di rumah itu. Memang masakan buatan Indah itu luar biasa enak, rasanya persis seperti koki-koki yang ada di restoran mewah, dan hingga kini Inka tak pernah lagi menyentuh peralatan dapur. Sejak kehadiran Indah di rumahnya, ia tak lagi memasak, hanya sekedar membantu saja.
“Mi, Mau lagi.” Maher menyodorkan mangkok kosongnya untuk minta di tuangkan sup macaroni yang ada di meja makan.
Inka meraih mangkuk itu sambil tersenyum. Tubuh Maher semakin berisi dengan pipi yang kian membulat, berbeda dengan Mahira yang porsi makannya biasa saja.
“Mom, ada papa Raka tuh. Ciee..” Mario meledek ibu mertuanya lagi saat berpapasan di dapur, ketika Indah masih menata makanan yang baru saja matang, sedangkan Mario mengambil kopi yang di buatkan Inka.
Anak menantunya ini memang kerap menggodanya, kala Raka datang ke rumah ini.
“Apaan sih.” Indah memukul pelan pundak Mario.
“Ada apa, Ma?” Tanya Inka yang tiba-tiba muncul.
“Itu, suamimu hobbynya ngeledekin orang terus.” Kata Indah sambil menggelengkan kepalanya.
“Papa modus tuh, Mom. Alasan ngga ada yang buatin sarapan di rumahnya, padahal kan di rumah papa Raka ada Bi Asih. Bilang aja, mau ketemu mommy tiap pagi di sini.” ledek Mario lagi.
Inka memperhatikan wajah ibunya yang sedang menunduk sambil menata makanan di depannya, tapi tetap tersenyum.
“Memangnya, mama mau kembali lagi sama papa?” Tanya Inka.
“Apa?” Tanya Indah seolah-olah tak mendengar.
Sudah hampir satu tahun, Raka mendekati Indah. Ia sering berada di rumah ini, menemani Indah bermain bersama Maher dan Mahira, menemani berbelanja ke supermarket, dan apapun yang Indah butuhkan Raka selalu siap untuk membantu. Namun, hati Indah masih terpaku pada Karel, ia enggan untuk menghianati pria baik itu, walau seharusnya hal ini tak mengapa.
“Hmm.. Mommy pura-pura ngga denger.” Ucap mario setelah ia menyesap kopinya.
“Udah yuk, Sayang. Biarin mommy berfikir dulu.” Kata Mario lagi, sambil menangkup kedua bahu istrinya untuk berjalan menuju ruang makan.
Indah terdiam.
“Inka dan Kak Rio berangkat ya, Ma.” Inka mencium pipi sang ibu, di ikuti Mario yang mencium punggung tangan ibu mertuanya.
Maher dan Mahira sudah lebih dulu berangkat ke sekolah. Mereka kini berusia tiga tahun empat bulan. Inka mendaftarkan kedua anaknya di kelompok bermain terdekat dengan di antarkan Tari dan Ambar.
“Pa, kami berangkat dulu ya.” Inka pun menyalami punggung tangan sang ayah, yang masih duduk di meja makan, di ikuti Mario setelahnya.
Inka dan Mario berjalan beriringan menuju mobil hitam yang sudah siap terparkir di sana.
“Kamu yakin meninggalkan papa dan mama berdua di rumah?” Tanya Mario jahil.
“Memang mereka mau ngapain?” Inka malah balik bertanya.
Mario mengerdikkan bahunya. “Ya, mana tahu, mereka itu kan sudah bukan muhrim lagi.”
“Udah tua kali kak.”
“Eh jangan salah, pria itu semakin tua semakin jadi.”
__ADS_1
“Sama donk seperti kamu.” Inka tertawa dengan menutup mulutnya.
“Eh aku belum tua ya.” Sanggah Mario.
“Udah. Cuma ngga mau ngaku aja.” Ledek Inka,
“Walaupun udah tua, tetap hot kan?”
Inka tersenyum geli, sambil mengalihkan pandangannya ke jendela. Lalu, Mario menarik dagunya, agar lebih mendekat.
Cup
Ia mel*mat bibir yang semakin sexy dan tebal. Inka membalas ciuman itu, hingga beberapa detik, baru Mario melepasnya. Kemudian, ia mulai menyalakan mesin mobil.
Mario dan Inka terpaut usia enam tahun. Saat mereka menikah Mario genap berusia 30 tahun, sedangkan Inka 24 tahun.
Setelah empat puluh menit di perjalanan, Inka sampai di lobby galerinya.
“Oh iya, sayang. Aku lupa. Nanti malam kamu di jemput sopir aja ya.” Ucap Mario sesaat sebelum Inka membuka pintu mobilnya.
“Memang kamu mau kemana?”
“Rey, Andre, dan Bryan ngajak ketemuan.”
“Oh, baiklah.” Inka meraih punggung tangan Mario.
“Kalau jadwal ketemu tante Mediana kapan lagi?”
“Lusa.”
“Oke. Aku akan bilang Sherly untuk mengosongkan jadwal lusa.”
Inka mengangguk. “Terima kasih, Sayang.” Lalu ia kembali mengecup pipi suaminya.
Mario pun tersenyum, dan melambaikan tangannya sebelum ia mulai melajukan mobilnya kembali.
Sudah hampir tiga bulan terakhir, Inka mulai memeriksakan diri ke dokter Mediana. Setelah sebelumnya ia di vonis terdapat penebalan di dinding rahimnya. Mereka pun sekalian berkonsultasi, pasalnya Inka sudah melepas alat kontrasepesi selama satu tahun lebih, tapi belum juga ada tanda-tanda untuk hamil.
****
“Hai, Bro.” Mario menyalami Bryan, Rey, dan Andre bergantian dengan sapaan khas pria.
“Hai.” Kata Bryan.
“Apa kabar lo?” Kata Rey.
“Wes, makin berisi aja lo.” Kata Andre.
“Iyalah secara susunya cocok.” Celetuk Brian.
__ADS_1
Ke empat pria itu tergelak.
“Halah lo semua juga gendutan, apalagi ini si Rey, perut makin buncit.” Mario menepuk perut Rey.
“Si*l*n lo. Gue Cuma lagi males olahraga aja akhir-akhir ini.” Jawab Rey.
“Kalau gue tiap pagi olahraga.” Sahut Brian.
“Iya, tapi di kasur.” Sambung Mario yang membuat ke empat pria itu kembali tergelak.
“Yang dari dulu begini-begini aja tuh, si Andre.” Kata Brian, yang membuat Andre tersenyum sambil menyesap secangkir kopi di tangannya.
“Ah, dia mah emang cungkring dari dulu.” Ledek Mario.
“Rese lo.” Andre tersenyum.
“Eh iya, ada satu lagi yang belum dateng.” Kata Rey lagi.
“Siapa?” Tanya Brian
“Emang lo undang siapa lagi?” Mario pun ikut bertanya, sementara Andre hanya menyimak, karena ia tahu orang yang Rey maksud.
“Tuh dia orangnya.” Mata Rey menuju ke pintu luar, yang lumayan jauh dari tempat mereka duduk.
“David? Lo undang si brengsek itu.” Ucap Mario.
“Kita semua pernah jadi pria brengsek, Yo.” Kata Andre.
“Ah, gue balik.” Mario bangkit dari duduknya. Namun langsung di tahan oleh Brian.
“Yo, lu jangan kaya anak kecil dong! Kejadian itu kan udah lama, lagian lu juga udah ngehajar dia abis-abisan di Singapura. Udah lah, kita damai aja.” Ucap Brian.
“Iya, tuh anak juga udah tobat sekarang.” Sambung Rey.
Mario pun duduk kembali.
David semakin dekat, ia pun canggung ketika ada Mario di sana. setelah Mario mengetahui rencana busuk David pada istrinya. Ia murka, walau akhirnya hal itu terjadi pada Sari. Mario tetap memburu David yang pada saat itu di nyatakan pulang ke negaranya. Namun, setelah satu bulan, ia mendapatkan informasi bahwa David sedang berada di Singapura. Tanpa meminta izin dari Inka, ia langsung menyambangi David dan menghajarnya habis-habisan. Padahal saat itu, David tengah memburu Sari yang bersembunyi di negara itu.
“Sorry, gue telat.” Ucap david, kemudain ia pun menyalami teman-temanya satu persatu. Tak terkecuali Mario.
“Yo.” Panggil Andre. Karena Mario tak mau menerima uluran tangan david.
Akhirnya Mario melunak, ia mengulurkan tangannya. Lalu mereka berpelukan.
“Sorry, bro.” Kata David di sela-sela pelukan mereka.
“It’s ok. Mungkin itu jalan Tuhan buat lu jadi lebih baik.” Ucap Mario.
“Nah, gitu donk. Gue demen deh liatnya.” Celetuk Brian, membuat semuanya tersenyum.
__ADS_1