
Enam bulan berlalu, masa-masa kritis Mario akhirnya terlewatkan. Mario telah dinyatakan sembuh total, tinggal pemulihan untuk membentuk tubuhnya menjadi bugar kembali. Seseorang yang telah menyembunyikan identitasnya itu, dengan sukarela mendonorkan hatinya untuk Mario. Hati yang orang itu berikan pada Mario pun cocok, sehingga tim medis dengan cekatan langsung mengambil tindakan. Orang tua dan para sahabat dengan setia mendampingi dan membantu Mario untuk melewati masa kritis dalam hidupnya.
Kini, Mario sudah bisa beraktifitas dengan normal, walau masih harus memeriksakan dirinya satu bulan sekali ke dokter. Ia pun tak lagi mengkonsumsi alkohol. Hidupnya sudah lebih teratur, hanya satu yang masih belum berubah, kegilaannya untuk bekerja dan gayanya yang suka marah-marah. Mungkin, jika Mario sudah menemukan Inka, kebiasaan itu akan hilang. Semoga saja.
“Cheers..” Mario mengangkat gelas ke atas, di ikuti seorang pria dan wanita di hadapannya.
“Selamat, Bro. Gue ikut bahagia.” Mario tersenyum dan memeluk seorang pria yang merupakan teman semasa kuliahnya di luar negeri.
“Thank you, Bro. Ini semua juga berkat lo. Kalau bukan lo yang nyomblangin kita, belum tentu secepat ini, gue dapatin Sasha.” Ucap Brian dengan wajah yang sumringah.
Ya, dia adalah Brian. Pria yang bertemu Mario di pagelaran fashion show Inka, pada dua tahun silam. Brian yang kala itu, ternyata memang sedang mengincar model baru, sengaja menghadiri acara itu dan duduk di sebelah Mario. Ternyata Model baru yang ia incar adalah Sasha. Ketika terjadi insiden Sasha di panggung, sebenarnya Brian khawatir dan menunggu Sasha keluar dari ruang ganti. Namun, pada waktu itu sasha memilih berdiam diri dan tak kunjung keluar dari ruangan itu, hingga acara selesai dan tidak ada lagi orang di sana. Kemudian setahun berikutnya, Brian sengaja menjadikan Sasha model brand ambasador jewelery miliknya. Brian mempunyai bisnis perhiasan dengan beberapa outlet yang bertebaran di berbagai kota bahkan negara tetangga, dan atas bantuan Mario mereka resmi berpacaran tiga bulan yang lalu. Brian pun tak menunggu waktu lama untuk meminang Sasha, dengan segala latar belakang yang ia ketahui dari Mario, termasuk masa lalunya bersama Mario, membuat Brian semakin ingin memilikinya. Terlebih lagi, setelah Sasha kehilangan ibunya enam bulan yang lalu, membuat sosok Brian sangat di butuhkan Sasha.
Mario tersenyum mendengar penuturan Brian.
“Lo jaga baik-baik adik gue, kalau lo sakitin dia, lo bakal berurusan sama gue.” Imbuh Mario di sertai dengan senyuman.
“Tenang, Bro. Gue bakal jaga dia dengan segenap hati.” Ucap Brian, mengambil tangan Sasha dan mengecup punggung tangan itu.
Brian dan Sasha resmi menikah seminggu yang lalu. Pertemuan meraka hari ini dengan Mario adalah sebagai ucapan terima kasih Brian terhadapnya, karena berkat dia lah mereka kini bersatu. Mario pun meyakinkan orang tua Brian, bahwa Sasha adalah gadis baik-baik.
“Aku permisi ke toilet dulu ya,” Kata Sasha di angguki Brian, kemudian beralu dari hadapan kedua pria bersamanya.
“Oiya, bagaimana kabar pencarian lo? Udah ada titik terang?” Brian bertanya soal Inka pada Mario.
Mario menggeleng. “Gue yakin, dia mengganti identitasnya pada saat pergi. Entah siapa yang membantunya.”
“Gue rasa juga begitu, kalau dia ga pake identitas palsu, ga mungkin dia lolos dari lo.”
Mario pun mengangguk sambil meneguk orange jus di tangannya.
“Tapi gue salut sama lo, Yo. Jarang-jarang loh hubungan cinta bisa jadi kakak adik kaya lo sama Sasha, apalagi Sasha cinta pertama lo.” Ujar Brian.
“Karena yang pertama, belum tentu jadi yang terakhir, Bri. Lo juga ngerasain kan? Melanglang buananya sama siapa. Nikahnya sama siapa.” Pernyataan Mario, sontak membuat keduanya tergelak, terlebih Brian, ia tertawa dengan gelengan kepalanya.
“Bener banget, Bro.” Pikiran Brian mengembara pada saat ia bersama wanita-wanita sebelumnya. Memang rasa cinta yang ia tebar pada wanita sebelumnya, sangat berbeda dengan apa yang ia rasakan pada Sasha. Ketika bersama Sasha ada rasa ingin memiliki yang tinggi, ingin selalu menghabiskan waktu bersama dalam keadaan sedih ataupun suka.
“Lo. Cinta banget sama istri lo?”
Mario menggangguk.
“Banget, gue rindu banget sama dia, Bri.” Jari Mario memutar ujung gelas di hadapannya dan berkata sambil memandang gelas itu.
“Lo bakalan dapetin dia lagi, Yo. Gue yakin.” Brian menepuk pundak Mario yang berada di seberang tempat duduknya.
Tak lama kemudian, Sasha datang dan menduduki kursinya lagi.
****
Di Belanda.
Inka, Pras, dan Angel seperti biasa tengah menikmati makan malam di malam minggu. Mereka berada di sebuah Restoran Italia.
__ADS_1
Inka terkejut, ketika pandangannya berpapasan dengan seorang wanita yang sangat ia kenal. Wanita yang duduk di seberang tempat duduknya dengan intens menatap kebersamaannya dengan Pras dan Angel.
Lelaki yang bersama wanita itu pun menoleh ke arah Inka. Betapa terkejut ternyata lelaki yang bersama wanita itu bukanlah pria yang ia kenal. Padahal, hatinya sudah bergemuruh dan berdetak sangat kencang. Dengan elegan, Inka bersikap tenang dan seolah tidak terjadi apapun di hadapan Pras dan Angel. Inka tetap melayani Angel makan seperti biasa.
“In, kok makananmu belum di sentuh?’ Tanya Pras.
"Oh, ya.” Inka menjawab dan langsung mengambil sendok dan garpu di hadapannya.
Inka melihat kedua orang yang berada di seberang tempat duduknya, sudah tidak lagi berada di sana. Inka pamit kepada Pras untuk ke toilet.
Di toilet, Inka membasuhkan air ke wajahnya. Ia menenangkan diri dan mengatur hembusan nafasnya. Ia terkejut, tatkala melihat wanita yang menatapnya di cermin, sekarang ia berada persis di belakang Inka.
“Bisa, kita bicara?” Tanya wanita itu dengan memandang Inka dari cermin.
Inka bergegas berlalu dari hadapannya. Namun dengan gerakan yang cepat wanita itu memegang lengan Inka.
“Kamu tidak bisa lari dari masalah, In. Kamu harus mendengarkan penjelasanku. Beri aku waktu untuk bicara!” ujar wanita itu dengan suara lirih, hingga ingin rasanya meteskan airmata.
“Maaf, anda salah orang. Saya bukan Inka.”
“Ayolah, In! Apa kamu tidak mencintai Mario? Jika kamu mencintainya, kamu pasti ikut merasakan apa yang dia alami selama dua tahun terakhir ini. Bukankah dua insan yang saling mencintai, memiliki ikatan batin yang kuat?” tanya wanita itu lagi.
Kali ini, pertanyaan wanita itu, mengingatkannya akan mimpi buruk tentang Mario yang sering ia alami beberapa waktu.
“Apa maksudmu?’ Tanya Inka.
“Mario hampir saja mati karenamu.’ Inka menggeleng.
“Tapi dia hanya mencintaimu, dia tidak bisa hidup tanpamu.” Ucap wanita itu dengan tegas.
Wanita yang tengah bersama Inka adalah Sasha.
Brian mengajak Sasha untuk bulan madu ke Maldives. Namun sebelum itu, ia mengajak Sasha berhenti di Belanda, mengunjungi paman dan bibi nya yang sudah membesarkannya selama ini. Brian ingin mengenalkan istrinya kepada mereka.
Sasha berdiri persis di samping Inka. Ia menceritakan secara detail tentang Mario yang menikahinya, tentang Mario dan rasa bersalahnya, tentang Mario yang kehilangan saudara perempuannya.
Inka menangis.
“Aku pernah di cintai Mario, In. Tapi cintanya padamu melebihi cintanya padaku pada waktu kami masih berpacaran. Mungkin memang benar, sejak dulu dia mencintaiku hanya karena kasihan padaku, bukan benar-benar karena mencintaiku. Dan satu lagi yang harus kamu tahu, tak pernah sekalipun Mario menyentuhku, pada saat kami masih berstatus suami istri.” Inka masih terdiam, Ia mendengar dengan seksama setiap ucapan Sasha.
“Kamu ingat, sewaktu kamu di minta datang ke Jogya tengah malam. Aku mencapur minumannya dengan obat perangsang, tetapi ia tetap menunggumu untuk menyalurkannya. Apa lagi yang kamu ragukan terhadapnya, In?” Tanya lagi Sasha.
Suara tangisan Inka semakin terdengar. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ini terlalu rumit untuknya. Ia bukan orang yang pemaaf, apalagi memaafkan sebuah kebohongan. Walau sebenarnya kebohongan itu untuk kebaikan orang lain. Namun, tetap itu adalah sebuah kebohongan.
“Lalu siapa pria yang bersamamu tadi/” tanya Inka, setelah tangisannya mulai mereda.
“Dia adalah suamiku, kami tengah berbulan madu.” Senyum sumringah di tampilkan Sasha.
Inka mengusap airmatanya.
“Selamat kalau begitu.” Inka mengulurkan tanganya pada Sasha.
__ADS_1
‘Aku sudah keluar dari masalahku, In. Aku berhasil menghadapi kesulitanku sendiri. Sekarang giliran kalian. Hilangkan rasa takutmu, In. Kita bertiga, memang telah terjebak oleh keadaan masa lalu yang buruk. Saatnya, semua itu di lepaskan sekarang, karena jika itu terus melekat, maka akan terbawa hingga masa depan kita,” Senyum Sasha dan memeluk tubuh Inka.
“Terima kasih, Sha.” Kata Inka setelah mengendurkan pelukannya.
“Tidak, justru aku yang berterima kasih. Maaf karena aku kalian berpisah.” Inka dan Sasha kembali berpelukan.
Tiba-tiba terdengar suara pria dari luar toilet memanggil nama Sasha.
“Sepertinya, suamiku sudah menunggu lama di luar.” Inka dan Sasha tertwa, dan bersama-sama keluar.
“Ini, istrinya Mario, Bee.” Ucap Sasha mengenalkan Inka pada suaminya.
Brian mengulurkan tangannya dan langsung di terima Inka.
“Pantesan Mario begitu tergila-gila, ternyata istrinya cantik.” Wajah Inka merona, ia tersipu malu.
“Oh, udah berani muji wanita lain di hadapanku ya,” Sasha merajuk sambil melipat kedua tangannya.
“Ooo.. wanita lain boleh cantik, tapi wanitaku jauh lebih cantik dan sempurna.” Brian berkata sambil membentuk ibu jari dan telunjuknya menjadi huruf ‘O’.
Sasha mencibir ucapan suaminya, membuat Inka tergelak dan di ikuti pasangan baru yang tengah honeymoon itu.
Hari ini, hari yang melelahkan untuk Inka. Ia terus memegang pelipisnya. Ia membayangkan Mario yang sempat koma dan melakukan transplantasi hati. Ia terus menggelengkan kepalanya, ternyata mimpi buruk yang ia alami pada waktu itu, bersamaan dengan Mario yang tengah menjalani operasi besar.
Di sisi lain, Brian dengan semangat tengah menelepon Mario.
Dret.. Dret.. Dret..
Brian melakulan panggilan video call kepada Mario, tetapi tak juga mendapat balasan. Namun, tak lama kemudian, terdengar suara beserta tampilan wajah Mario yang kusut.
“Hei, lagi bulan madu masih sempet-sempetnya nelepon gue.”
“Beuh, lama amat sih ngangkat telepon aja. Demi lo nih.. sebenernya gue males nelepon lo karena lagi *** *** sama istri.”
“Bodo amat.” Ucap malas Mario.
“Lo kusut amat sih! Gue bawa kabar baik buat lo nih, mau ngga? Gue jamin lo ga bakal kusut lagi’
“Kabar apa? Sasha hamil?”
“Belom lah, baru gue tubruk masa langsung hamil, hebat banget gue.” Ucap Brian dan menampilkan wajah Sasha.
“Cepet terbang ke Belanda, Yo. Inka ada di sini, di kota Amsterdam di jalan XXX. Nih, aku berfoto sama dia.” Sasha menampilkan ponselnya di video itu.
Panggilan video call itu pun langsung di putus sepihak oleh Mario.
“Rese banget tuh anak, kaga tau terima kasih.” Sasha hanya tersenyum dan mengelus lengan suaminya.
****
Mario langsung menutup panggilan video call dari Brian. Ia tersenyum licik.
__ADS_1
"Selama datang kembali, sayang." Gumamnya.