Istriku Canduku

Istriku Canduku
perhiasan anak-anak?


__ADS_3

"Ada apa, Pa?’ Tanya Mario dengan suara lembut.


Kini mereka berdua, hanya tinggal berdua, dalam kesunyian malam dan angin sepoi-sepoi.


“Kamu sungguh-sungguh mencintai Inka?’ Tanya raka yang kini berhadapan dengan Mario dengan jarak yang dekat.


“Iya, Pa. Sangat.” Jawab Mario dengan yakin.


“Lalu, siapa wanita yang papa lihat di Yogya?’ Sontak membuat Mario terkejut.


“kamu sudah menceraikannya?’ raka bertanya lagi.


Mario menggeleng.’ Itu tidak seperti yang papa lihat.


Dan ya, saya sudah lama menceraikannya.”


“Papa tahu alasan kamu menikahinya. Papa tahu semuanya, papa tahu bagaimana rasanya, karena papa pernah ada dalam posisi kamu.”

__ADS_1


Mario semakin mendekat, mendengar dengan seksama penuturan ayah mertuanya itu.


“Papa dan mamanya Inka, kami di jodohkan, semula tidak ada cinta di antar kami. Papa pun sudah punya cinta yang lain sebelumnya, cinta pertama papa yaitu Desi, istri papa saat ini. Semakin hari, papa semakin sayang pada mamanya Inka, terlebih lagi ketika dia mengandung dan melahirkan Inka. Sosoknya yang lembut dan penurut membuat papa nyaman dan bahagia di sampingnya. Namun, ketika Desi datang kembali, papa pun tak bisa melepasnya. Papa menikahi Desi persis setelah dua tahun pernikahan papa dan mamanya Inka. Indah, nama mamanya Inka. Kami memberi nama Inka karena perpaduan antara In-dah dan Ra-ka. Desi tidak pernah menuntut apapun, ia sadar bahwa dirinya yang kedua. Tapi lambat laun semua terungkap. Indah mengetahui semuanya, ia memutuskan untuk kerja di luar negeri, agar menghindari ketegangan di antara kami. Hingga akhirnya di sana ia menemukan lelaki yang menjanjikan cinta juga kasih sayang yang penuh. Papa di suruh memilih antara Desi atau dia. Papa tidak bisa menjawab karena papa sudah mempunyai anak dari Desi, papa tidak mungkin meninggalkannya. Lalu Indah pergi tak kembali. Ada kehampaan di hati papa ketika Indah pergi. Wajah Inka sangat mirip dengan mamanya, membuat papa harus menghindari wajah itu. Karena ketika papa melihat Inka, kerinduan papa pada Indah semakin menyeruak.” Raka berkata dengan mata yang berkaca-kaca.


Mario memegang kuat pagar besi yang tengah ia pegang, tatapannya lurus ke depan. Ia meyakinkan dirinya kalau ia tak seperti itu. Ia tak mencintai Sasha seperti Raka mencintai Desi.


“Jangan pernah ulangi kesalahan papa, Yo. Jangan pernah!” Raka mengucapkan dengan suara lirih, terdengar begitu banyak penyesalan dalam dirinya.


“Tidak, Pa. Mario telah menyelesaikan semuanya karena Mario memilih Inka.”


“Bu..kan apa-apa, papa hanya menanyakan mengapa kita memilih tempat ini untuk dinner romantis?” Mario beralasan, di sertai anggukan dari Raka.


“Ooo..” Inka membulatkan bibirnya.


Di perjalanan, Mario masih teringat kata-kata Raka. Sebelumnya, ia pernah mendengar dari mulut Inka, alasan kedua orang tuanya bercerai. Inka hanya mengatakan kedua orang tuanya tidak ada kecocokan. Ternyata ada alasan besar yang tidak di ketahui Inka. Bahkan sesungguhnya, Raka lebih menyayangi Inka, di bandingkan Adhis yang juga putri kandungnya.


****

__ADS_1


Inka melihat ada sebuah kertas yang terjatuh dari saku kantong Mario, ketika ia sedang membereskan baju kotor suaminya untuk di letakkan pada tempatnya. Inka memungut kertas yang sudah berada di lantai. Terlihat di sana ada dua buah kwitansi pembayaran perhiasan. Ia sadar bahwa satu kwitansi itu miliknya, karena jenis dan gambar yang di sebutkan di sana, sama dengan yang ia miliki. Namun untuk kwitansi yang satu lagi, entah itu milik siapa.


“Gelang anak-anak?” Inka mengeryitkan dahinya sambil bergumam dalam tanya.


Ceklek..


Pintu kamar mandi terbuka, Mario terlihat tampan dengan rambut basah dan handuk yang melingkar di pinggangnya.


“Kamu ngapain, sayang?” Tanya Mario yang melihat Inka sedang berdiri memunggunginya.


“Oh, ini. Ada kertas yang jatuh dari sakumu.” Inka segera menghampiri Mario untuk menyerahkan dua kertas yang di pegangnya.


Mario meraih kertas itu dengan perlahan, sambil memikirkan jawaban apa yang tepat, ketika nanti Inka bertanya. Namun, Inka tak bertanya. Ia memiih melanjutkan aktifitasnya setelah menyerahkan kedua kertas itu.


“Ini, aku membeli perhiasan anak untuk anak karyawanku. Dia sangat berdedikasi di kantor, aku bingung ingin memberi apa, jadi aku berikan anaknya yang sedang berulang tahun.” Mario berkata tanpa di tanya.


Inka menoleh dan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2