Istriku Canduku

Istriku Canduku
spekulasi bermunculan


__ADS_3

Inka keluar dari bilik kamar mandi, setelah tak lagi terdengar suara Mario dan Sasha di sana. Ia menyiramkan air ke wajahnya, agar terlihat segar. ia menghirup udara sebanyak-banyaknya, lalu pergi meninggalkan toilet.


Dari kejauhan, Inka sudah melihat sosok Mario berdiri tegap dengan kedua tangannya yang di masukkan sedikit ke saku celana. Mario tersenyum, melihat Inka yang sedang berjalan ke arahnya. Namun, Inka hanya sekilas membalas senyum itu, ia lebih banyak menunduk.


"Kenapa? Capek ya?" Tanya Mario, meraih dagu Inka yang masih menunduk, ketika mereka sudah berhadapan.


"Hmm.." Inka tersenyum dan meneruskan langkahnya ke tempat parkir. Meninggalkan Mario yang masih berdiri di sana.


Di perjalanan, Inka hanya terdiam. Persis seperti kali pertama Mario mengenal wanita itu, dingin dan tak banyak bicara. Inka tak menoleh ke wajah Mario sedetikpun, ia lebih memilih meluruskan pandangannya atau sesekali menoleh ke arah jendela.


Mario pun diam, melihat ke anehan istrinya itu. Ia mengingat apa yang salah pada dirinya.


Hingga tiba di apartemen Inka masih tak bersuara.


"Aku punya salah padamu, maaf." Mario berkata sambil merengkuh tubuh istrinya yang sedang duduk di meja rias. Tubuh Inka begitu wangi, terlebih saat ini ia terlihat segar, setelah membersihkannya.


"Jangan diamkan aku seperti ini, aku ga bisa In." Mario terus mengecup leher dan pundak Inka yang terbuka.


Kemudian, membalikkan tubuh itu, agar saling berhadapan. Mario berjongkok dan mengambil kedua tangan Inka.


"Tadi di toilet, aku menghampiri Sasha yang sedang menangis. Aku hanya ingin menenangkannya, hanya itu. Entah kamu melihatnya apa tidak? Atau entah ini alasanmu tidak bicara padaku atau tidak. Aku minta maaf. Tidak ada maksud apapun selain itu." Mario menundukkan kepalanya sambil memegang kedua tangan Inka, persis seperti seseorang yang tengah meminta pengampunan dosa.


Mario memang paling bisa melelehkan hati wanita. Wajar saja, kalau selama ini dia di sebut playboy.


Inka tersenyum dan mengecup pucuk kepala Mario.


"Iya, aku percaya." Mario langsung memeluk tubuh Inka dan berakhir mencium bibir kesukaannya itu.


Mario membawa Inka ke singgasana indahnya, tempat mereka memadu kasih, meluapkan cinta yang menggelora. Inka masih setia melingkarkan kakinya pada pinggang suaminya itu, sambil terus mengecap bibir kenyal Inka.


"Kamu capek? Boleh aku.." Inka langsung mengangguk sebelum Mario mengakhiri kata-katanya.


Mario tersenyum dan melanjutkan aksinya. Ia melucutkan pakaian istrinya satu-persatu, hingga tersisa kain segitiga pengaman yang menutupi bagian kewanitaannya. Kemudian, setelah ia buka. Terlihat wajah kecewa di sana.


"Hah.." Mario menghelakan nafasnya kasar, lalu menghentikan aksinya dan berbaring lemas di sebelah Inka.


"Kenapa?" Tanya Inka bingung. Ia melihat kain yang menutupi kewanitaannya itu, ternyata sudah ada beberapa bercak darah di sana.


Inka tergelak, "Maaf, aku ga berasa kalau ada ini."


"Kamu masih datang masa periode? kapan di sini akan ada yang hidup?" Mario menyampingkan tubuhnya dan mengelus perut istrinya.


Inka menggeleng. "Aku ga tau, Kak."


"Sepertinya setelah masa periodemu selesai, aku harus lebih rajin." Mario menyeringai licik dan Inka pun tertawa.

__ADS_1


****


Akhirnya jadwal untuk bertemu Mediana berhasil. Siang nanti, Inka akan ke rumah sakit untuk membuka alat kontrasepsi yang tertanam di rahimnya. Kondisi ia pun memungkinkan untuk membuka alat itu sekarang.


Mario berjalan cepat sambil membereskan dasinya sendiri. Ia menghampiri Inka yang sedang memasak di dapur, lalu mengecup pipinya dari samping.


"Sayang, maaf aku ga sempet sarapan. Meeting setengah jam lagi."


"Lagian dari tadi di bangunin susah banget sih." Inka membalikkan tubuhnya dan mengambil tas suaminya.


"Nanti aku antar makanannya ke kantormu." ucap Inka lagi sambil berteriak, karena Mario sudah berada jauh di sebarangnya dan siap memasuki mobil.


"Oke, sayang." Mario membulatkan ibu jari dan telunjuknya.


Mario tiba di kantor, ia langsung menuju ruang meeting. Satu jam, setelah breafing bersama petinggi-petinggi perusahaan. Mario kembali menuju ruangannya. Ia mencari ponselnya, mencoba merogoh saku celana, tapi tak ada.


"Dhani.." Untung saja, Dhani masih berada di ruangannya.


"Iya pak."


"Handphone gue mana ya?"


"Loh, saya ga liat bapak pegang hp, apa ketinggalan di rumah."


"Ya ampun, gue lupa." Mario menepuk jidatnya.


"Ngga lo kasih tau juga, bakal gue lakuin, Dhan." Mario menggeleng.


Mario meraih gagang telepon yang berada di meja kerjanya.


"......"


"Sayang, hp ku tertinggal."


"......"


"Lupa Yank, antara di meja rias mu atau di kamar mandi. Aku lupa, tolong carikan ya Yank!"


"......"


"Terima kasih sayang, I love you."


"......"


Panggilan telepon itu pun terputus. Mario senyum-senyum sendiri mendengarnya. Mereka seperti abege labil yang sedang jatuh cinta.

__ADS_1


Mario menelepon satu wanita lagi. Ya, ia menelepon Sasha untuk tidak menghubunginya melalui ponsel, jika ada apa-apa dengan bunga hari ini, karena ponselnya tertinggal di apartemen.


Pov Inka


Hari ini aku membuat makanan kesukaan Mario. Aku menata makanan yang ku buat tadi, ke tempat makan yang akan ku bawa. Sengaja aku bentuk nasi itu berbentuk hati. Aku tersenyum sendiri melihat hasil karyaku pada isi tempat makan itu. Sungguh tidak pernah ku rasakan sebahagia ini. Apalagi membayangkan punya anak dari Mario, di tambah tingkah Mario yang manja. Pasti sangat repot. Tapi aku suka. Aku menggeleng dan tersenyum


Dret.. Dret.. Dret..


Ponselku bergetar, tertera nama 'my husband' di sana.


"Hallo."


"....."


"Sebelumnya, kamu taroh di mana?"


"....."


"Baiklah, nanti sekalian aku bawa ke sana."


"....."


"Love you too."


Aku menutup telepon, setelah Mario mendengar aku mengecupnya di telepon.


Aku mencari ponsel Mario seperti yang di katakan. Aku melangkahkan kaki menuju meja rias. Namun tak menemukan barang yg ku cari. Aku beralih berjalan menuju kamar mandi pun, tak ada ponsel Mario di sana.


"Ah, dari pada susah-susah mending di misscall aja." aku bergumam.


Aku meraih ponsel yang ada di saku celanaku, dan men-dial nomor Mario.


Dret..Dret..Dret..


Suaranya terdengar, Namun bentuknya tak nampak. Aku berjalan mendekat ke arah nada dering itu.


"Oh ya ampun ternyata di sini." Gumamku sambil membuka laci nakas yang persis ada di samping Mario, ketika Mario tidur tadi.


Aku membuka laci itu dan menemukan benda yang kucari. Betapa terkejut aku melihat nama yang tertera di ponsel suamiku.


"My Partner S*x"


Lututku tiba-tiba terasa lemas, aku meraih benda yang ada di sana untuk menyangga tubuhku yang tiba-tiba tumbang. Aku duduk di tepi tempat tidur, untuk mengulang lagi panggilan itu, dan tetap yang tertera di sana adalah nama yang sama. Seketika hatiku terasa nyeri. Apa hanya sebatas ini cintanya padaku? Spekulasi bermunculan dalam benakku. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa Mario lupa untuk menggantikan nama itu, karena memang baru beberapa bulan terakhir hubungan kami benar-benar seperti suami istri sessungguhnya, dan baru beberapa bulan terakhir, kami saling mengutarakan cinta.


"Jangan berfikir macam-macam Inka, tanyakan hal ini pada Mario nanti, ketika kamu bertemu." Aku berkata pada diriku sendiri.

__ADS_1


Kemudian, aku segera meraih tas dan pergi menuju kantor Mario.


__ADS_2