
"Apakah salah jika berada di restoran sendiri? Tuan Hendry".
menatap senyum ke arah Hendry.
"Jika kau ke sini ingin menemui dirinya, apa kau berharap dia masih di sini? Padahal kau sudah membuat nya menunggu cukup lama. " Lanjut David, melambaikan tanggan nya. Untuk memanggil pelayanan.
Hendry membalikkan badannya dan pergi meninggalkan David sambil berkata.
" Kau tidak akan menemukan apapun. Aku sudah mencarinya. "
"Tentu." Jawab David.
Hendry langsung bergegas menuju mobil nya dan pergi meninggalkan restoran. David , yg masih berada di restoran menatap dingin Hendry yang pergi. Ia memegang kening nya, dan tersenyum.
"Dasar..! Dia mirip Angelica. Ya kan Hendry? " Gumam David.
Amelya yang berada di halte bus, menunggu bus yang lewat. Namun, sedari sama sekali tidak ada bus yang lewat,bahkan TAXI sekali pun.
"Kenapa tidak ada Bus, maupun TAXI yang lewat? Wajar saja sekarang sudah jam 11. 45 menit . Wajar kalau jalan mulai sepi." Kata amel menghela nafas nya. Melihat jam tangan miliknya.
Tiba-tiba ada cahaya yang terang menuju halte dan mendekat ke arah amel. Yang ternyata itu adalah cahaya mobil nya Hendry. Hendry membuka kaca mobilnya memiringkan kepalanya ke arah kiri menyuruh amel untuk masuk ke mobil.
__ADS_1
"Anda Amelya Fridayana bukan?! Apa yang anda tunggu cepatlah masuk saya akan mengantarkan anda!" Teriak Hendry.
"Baiklah "
Amelya segera masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Hendry. Hendry mulai menjalankan mobilnya. Suasana hening dan terasa canggung tidak ada di antara mereka percakapan sedikit pun. Hendry yang hanya diam , dan fokus mengendarai mobil. Semenjak amel berda di mobil tidak menatapnya maupun mengatakan sesuatu. Amel yang juga merasakan ada nya ke canggung di antara mereka mencoba memulai membuka percakapan. Namun, amel sendiri tidak tahu harus memulai dari mana.
"Itu rumah saya berada di Jalan Kenari. " kata amel mencoba menghilangkan kehening.
Tidak ada jawaban apa pun yang ia dapatkan dari Hendry. Bahkan Hendry sendiri hanya mengangguk saat amel memberi tahu jalan ke arah rumahnya.
"Jujur saja, sebenarnya saya tidak ingin menikah karena di jodoh kan oleh orang tua sendiri." Kata amel sekali lagi mencoba menghilangkan ke heningan.
"Bahkan dengan saya? ". Lanjut Hendry, memotong kata-kata Amel.
"Ya, bagaimana pun kita belum Saling mengenal satu sama lain. Dan lagi pula, anda juga pasti di paksa menikah juga bukan dengan orang tua anda?". Amel menundukkan kepalanya, dan melirik Hendry seakan ia sedang menunggu jawaban yang sama seperti diri nya.
"Tidak!." Kata Hendry yang fokus dengan jalan.
"Saya sendiri tidak masalah. Justru jika saya mau, mungkin sekarang kita tidak akan bertemu. Lagi pula, saya sendiri lah yang menginginkan pernikahan ini." Jelas Hendry tanpa menyembunyikan apapun.
__ADS_1
"Tetapi, kenapa harus saya? Dan apa yang membuat anda sendiri ingin menikah dengan saya? Padahal ini pertemuan pertama kita."
"Karena saya suka." Jawab Hendry dengan cepat tanpa berpikir panjang.
"Saya ingin anda sendiri Amelya Fridayana menjadi istri saya. Dan mendampingi dan berada di sisiku". Jelas Hendry Yakin .
"Maaf, Saya sudah menyukai orang lain".
"Ciittttt.....ttt". Tiba-tiba Hendry nge Rem mendadak karena lampu yang berubah warna merah. Ia langsung melihat amel yang terkejut karena Mobil yang berhenti mendadak.
"Siapa? Siapa orang yang anda sukai itu? Siapa?!" Dengan rautan wajah yang tidak suka mendengar perkataan amel bahwa ia telah menyukai orang lain.
"Sa...saya bukan hanya menyukai nya tapi, juga mencintai nya." Kata amel menghindari tatapan mata Hendry.
Hendry mulai tampak kesal dengan ucapan Amel. Hendry mulai membuka sabuk pengaman nya. Mendekat ke amel , mendorong nya dan membuat nya tersandar ke pintu kaca mobil.
"Ap..apa yang anda lakukan?! Le..lapas kan!". Jerit amel kesakitan karena cengkraman tangan Hendry yang kuat.
"Katakan! Siapa orang yang kamu sukai itu! Siapa?!". Sekali lagi Hendry menggertak Amel.
__ADS_1