Jangan Jadi Aku

Jangan Jadi Aku
Penghuni Homestay


__ADS_3

-Kata siapa menjadi indigo itu menyenangkan? Jangan pernah terbuai dengan kalimat itu! –


***


“Keadaan pasien untuk saat ini sedang kritis, harap bapak dan ibu bisa tenang, dan mendoakannya,” ujar pria yang mengenakan jas putih saat berada di hadapan Helven dan Alia.


Alia kali ini tengah menangis dan terduduk lemas saat mengetahui hal itu.


“Ma, tenang ya! Jangan nangis, kita doain Ocha bareng-bareng,” sela Anya dan mengusap pelan punggung mamanya.


“Selain itu, pendarahan di mata Ocha cukup parah, sehingga ada kemungkinan matanya tidak bisa berfungsi normal lagi.”


Tanpa pikir panjang pria itu mengambil keputusan.


“Saya mohon lakukan yang terbaik untuk anak saya dok! Operasi matanya, biar bisa normal kembali,” tegas Helven.


“Baik, kami pasti akan berusaha mendapatkan donor mata untuk Ocha secepat mungkin. Kami harap, Bapak bisa bersabar dan mendoakan Ocha.”


“Saya akan tunggu, dan lakukan yang terbaik untuk anak saya, Dok!”


Tiga tahun berlalu


“Aaaaaaa.”


Ckittt!


Suara teriakan gadis yang kini di ikuti oleh kelopak matanya yang mengatup rapat membuat Helven harus menghentikan laju mobilnya mendadak, padahal malam itu ia tidak mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Lantas mengapa putri bontotnya itu berteriak?


“Ada apa, Ca? Kenapa teriak?” panik Alia, tatkala menatap gadis manis yang di sapa dengan panggilan Ocha itu.


Gadis itu terus menutup matanya, seraya menunjuk ke arah depan. Tepat di tempat gelap saat Helven menghentikan mobilnya itu.


“Hei, tenang dulu sayang! Kamu kenapa?” sela Helven lagi yang kini memutar tubuhnya menghadap ke belakang. Suasana malam itu, benar-benar mencekam, ditambah hanya tinggal beberapa pengendara saja yang melewati jalanan sepi itu. Hari pun semakin kian menggelap membuat bulu kuduk pun meremang merasakan hawa dingin itu.

__ADS_1


“Papa, tadi habis nabrak bapak-bapak dan keluarganya yang lagi nyebrang. Kenapa papa gak berhenti aja? Itu artinya kita sama aja, udah membunuh orang pa!” teriak Ocha, dengan isak tangis pilu yang membuat Alia menelan salivanya dengan susah payah.


“Astagfirullah, mengucap nak! Di depan sana gak ada apa-apa, kamu jangan ngomong yang aneh ya! Ini udah malam, buka matanya di sini cuma ada papa sama mama! Gak ada yang lain!” ujar Helven yang kini mencoba menetralkan keadaan.


Namun, Ocha masih gemetar dan belum berani menatap ke arah depan. Hal ini, membuat Helven dan Alia saling tatap, dan mulai merasa tegang malam itu setelah melihat ke arah Ocha yang memeluk boneka bobanya dengan erat. Tanpa banyak bicara lagi Helven bergegas kembali melajukan mobilnya membelah jalanan sepi dan sunyi malam itu.


“Tapi barusan Ocha liat pa! Kalo nanti kita di tangkap polisi gimana?” jawab Ocha dengan suara serak yang menahan rasa takut.


“Udah, kamu tenang ya sayang! Gak ada apa-apa kok,” ujar Alia lagi seraya mengelus bahu anak gadisnya itu.


“Ada yang gak beres sama Ocha,” ujar Helven setengah berbisik pada Alia yang kali ini terlihat jelas ketakutan di dalam dirinya, hanya mengedikkan bahu dan menyalakan musik di dalam mobil untuk sekedar mengusik rasa ketakutannya dari apa yang di ucapkan oleh Ocha.


“Mungkin hanya halusinasi. Namanya juga anak kecil, pa! Gak mungkin kan malam-malam begini ada orang! Papa fokus aja nyetirnya, biar kita cepat nyampe rumah!” tukas Alia yang kini juga ikut menyandar kan kepalanya lalu menutup mata.


Memang, hari itu mereka bertiga baru pulang dari bandara usai mengantarkan Anya yang berangkat ke luar kota untuk kuliah. Kebetulan gadis itu mengambil jam keberangkatan malam. Jadi mau tidak mau Helven hanya mengikuti kehendak anak sulungnya itu. Hal ini juga lah yang membuat mereka pulang kemalaman.


***


Malam ini, mereka tidak akan bisa sampai ke rumah. Karena jarak tempuh dari bandara ke rumah memakan waktu yang cukup lama. Sementara kantuk juga sudah menyerang Helven dan Alia kecuali Ocha.


“Gak usah pa, kita tidur di mobil aja! Gak apa-apa kan Ocha?” tambah Alia, lalu menatap ke arah belakang untuk meminta persetujuan dari Ocha yang tampak melamun masih takut.


“Pulang aja ma, pa. Lagian di sini serem banget,” tegas gadis itu.


“Kita ke homestay aja ya! Pulangnya besok pagi, papa udah gak kuat kalo terus nyetir,” keputusan itu ada di tangan Helven yang akhirnya tetap memaksa untuk menginap di homestay saya.


Akhirnya mereka berdua hanya bisa pasrah dan mengikuti saja apa kemauan Helven yang masih keras kepala itu.


Tak berapa lama kemudian, mereka berhenti di depan sebuah rumah yang terlihat sepi dengan pekarangan yang dihiasi dedaunan merambat di sepanjang pagar. Seperti tidak terurus, bahkan cat rumah itu pun juga sudah terlihat usang. Di halamannya terdapat kolam ikan dan tanaman yang sederhana namun banyak sampah berserakan. Selain itu, suasana malam juga begitu menambah kesan horor.


Di samping homestay itu juga terdapat pohon mangga yang besar, sebagian dedaunan sudah jatuh mengenai atap rumah.


“Pah, yakin di sini?” tanya Alia yang menggandeng erat tangan Helven yang mengangguk dengan mantap. Sementara Ocha, sudah berada di depan kedua orang tuanya dengan rasa takut yang luar biasa.

__ADS_1


“Pah, mah, kita tidur di mobil aja ya! Jangan di sini,” tukas gadis itu lagi, terlihat dari raut wajahnya yang pucat pasi dan penuh ketakutan.


“Gak apa-apa sayang, kalian ini apa-apaan sih pada penakut, ayok ikut masuk!” ajak Helven yang membuat keduanya melangkah masuk dengan keraguan.


Namun, saat mereka baru sampai di depan pintu masuk. Alia merasa sedikit tenang, pasalnya ada sebuah mobil yang ikut terparkir di samping mobilnya, yah tanpa di jelaskan pun sepertinya ini salah satu penghuni homestay ini.


“Tuh kan, papa bilang apa? Di sini tuh banyak yang menginap, tapi mama udah parno duluan,” celetuk Helven, lalu melangkah masuk diikuti oleh istri dan anaknya.


Kamar 007, mereka bergegas masuk dan Helven menghela napasnya panjang. Lalu menorehkan senyum di wajahnya. Helven kini duduk di sofa, lalu merebahkannya. Terlihat begitu melelahkan.


Mereka bertiga kini hanya duduk terdiam, dan hening tengah malam itu di dalam ruangan yang berukuran tidak terlalu besar itu. Hingga sampai pada akhirnya, terdengar suara gebrakan pintu di lantai dua. Sontak saja hal itu membuat keduanya terkejut namun lain halnya dengan Ocha yang udah tertidur.


“Itu suara apa?” tanya Alia pada Helven, terlihat raut wajah takut.


“Itu mungkin orang yang baru datang tadi ma,” jawab Helven santai dan memejamkan kedua matanya dengan tenang. Sementara Alia sudah gemetar ketakutan.


Namun selang beberapa menit, Helven dan Alia mendengar suara kran air di kamar mandi homestay yang ia tempati tiba-tiba menyala. Pria itu pun langsung masuk ke dalam untuk memastikan kalau pendengarannya baik-baik saja.


Sayangnya, apa yang ia dengar itu memang benar-benar terjadi, air kran di kamar mandi itu mengalir begitu deras, membuatnya kebingungan.


“Hah, ini penjaganya kurang memperhatikan homestay-nya,” gumam Helven saat dirinya kembali ke sofa menghampiri Alia yang menegang ketakutan seraya memeluk Ocha dengan erat.


Melihat Helven sudah duduk di sampingnya, Alia langsung memeluk erat tubuh pria itu.


“Pah, mama takut banget. Ini homestay-nya gak bener tau gak!”


Helven hanya diam, mengusap pelan punggung istrinya itu agar merasa lebih tenang.


Baru beberapa jam mereka berada di sana, namun banyak hal aneh yang terjadi bahkan mengusik kedatangan mereka. Homestay yang katanya ramai itu, benar-benar terlihat aneh bahkan nyaris tidak ada penghuni yang menginap di sana. Gangguan itu datang silih berganti, derap langkah kaki, benda jatuh, suara tangis bayi, bahkan suara wanita yang tertawa.


“Mama mau pulang aja pa, gak betah lama-lama di sini!” tukas Alia.


“Udah ma, sekarang kita istirahat dulu aja! Lagian gak ada apa-apa kok, itu cuma penjaganya yang kurang perhatian,” tukas Helven lagi.

__ADS_1


Prang!


***


__ADS_2