Jangan Jadi Aku

Jangan Jadi Aku
Semua Itu Takdir, Dan Gak Bisa Diganti


__ADS_3

-Tak ada yang menarik di balik kata istimewa, terlebih menjadi seorang indigo yang selalu di hantui oleh roh-roh yang beragam rupanya-


***


Vito yang melihat tingkah Ocha, hanya menggelengkan kepalanya pelan. Tapi, di satu sisi ia juga salut dengan gadis itu, masih bisa menyikapi sikap orang-orang yang menganggapnya aneh, dengan bersikap datar.


Lalu, cowok itu berlari dengan maksud hendak menghampiri Ocha yang tampak berjalan menuju kelas.


“Lo gak risih di gangguin kayak gitu sama mereka?” tanyanya tiba-tiba, membuat Ocha yang tadinya berjalan, menghentikan langkahnya lalu menatap ke arah belakang.


Gadis itu mendelik, dan memutar bola matanya malas saat mendapati Vito berada di belakangnya.


“Kenapa sih lo ikutin gue terus?” ketus gadis itu dan memangku tangannya ke dada menatap Vito.


“Siapa yang ikutin lo?” jawabnya yang malah balik bertanya.


“Gak usah sok gak tau,”


“Kan arah jalan kelas gue di sini. Lo lupa, kalo kita satu kelas?” jawabnya, dan berlalu meninggalkan Ocha dengan santainya.


Gadis itu menatap pria yang baru saja kemarin menjadi siswa baru di sekolahnya itu, berjalan dengan santai meninggalkan dirinya tanpa beban.


“Shit! Baru aja masuk kemaren udah bikin gue kesel tu orang,” umpat Ocha, yang kini menghentakkan kakinya melangkah menuju kelas juga.


***


Semburat senja kini telah terlihat di langit yang hendak berganti shift dengan gelap malam. Gadis itu setengah berlari menuju rumahnya.


“Gue udah bilang sama lo, gak usah ganggu gue lagi! Bisa gak sih, sehari aja biarin gue hidup layaknya manusia normal?” teriak Ocha, seraya menghentikan langkahnya dan memegang pinggangnya dengan raut wajah yang kesal. Gadis itu berbincang dengan sesuatu yang tidak terlihat oleh manusia biasa. Sehingga membuat orang-orang memberikan atensi mereka kepada gadis itu karena dia terlihat seperti berbicara sendiri.


“Gue Cuma mau minta tolong sama lo, Cha! Tolongin gue, buat selesaiin hal yang belum gue selesaiin di dunia ini!” Seru hantu laki-laki yang sedari tadi menguntit Ocha tengah berlari santai sejak sore.


“Udah deh, jangan ganggu gue lagi! Jangan bikin orang di sekitar mikir kalo gue gila, Cuma karena kedatangan lo!”


“Gue tau, lo bisa liat gue!”


Terdengar bisikan itu seakan tajam, di telinga Ocha. Membuat gadis itu sedikit merinding. Sekuat tenaga Ocha mencoba untuk menghela napas, dan kembali melanjutkan langkahnya, sebelum ia mendengar bisik-bisik gunjingan dari para pengunjung yang ada di taman ibu kota ini.


Namun, belum sempat rasanya Ocha melangkahkan kakinya sosok yang melayang itu berhenti tepat di hadapannya. Sosok hantu laki-laki yang semula ia lihat biasa saja, layaknya orang biasa, namun tiba-tiba wujudnya berubah basah dan darah mengalir ke wajahnya. Matanya memerah. Kali ini, Ocha benar-benar tak siap untuk melihatnya.


Tanpa menunggu lama, gadis itu langsung berlari meninggalkan tempat itu. Entah kenapa, setelah kepergian Helven, semakin banyak hantu-hantu yang mengerikan berdatangan padanya.


Ocha semakin tak nyaman kali ini, kelebihannya itu sangat mengusik dirinya yang berusaha menjadi manusia normal. Kenapa matanya kali ini begitu tajam dengan makhluk aneh yang berkeliaran itu.


“Hosh ...hosh ... hosh ...”

__ADS_1


“Aduh non, larinya cepat banget ya? Ampe sesak gitu,” celetuk pria berbadan kekar, yang menjaga pintu pagar rumah elite itu.


“Hah! Pak, jangan nanya dulu, saya lagi gak sanggup bu–“


“Sok, atuh neng masuk! Bibi bantuin,” sela wanita yang kini mengulurkan tangannya pada Ocha yang samar-samar menatapnya.


“Ha? Makasih bi,”


Sementara gadis itu melangkah masuk ke rumah, masih ada sisa kesedihan yang tertinggal di dalamnya. Roh Helven yang masih berkeliaran di rumah, menatap nanar ke arah putri bontotnya itu.


Sofa yang biasa di jadikan tempat kumpul keluarga, kini sunyi sepi. Alia lebih memilih menyibukkan dirinya dengan kegiatan kantor, juga bhayangkari semenjak kepergian Helven. Sangat berbeda jauh di bandingkan dulu.


“Ocha, hari ini kamu mama tinggal dulu gak apa-apa ya? Kan ada Bi Laksmi. Soalnya, mama mau anterin kak Anya lagi ke bandara, terus mama langsung meeting,”


“Tapi ma, kan ini udah mau malam. Kak Anya apa gak bisa dianterin besok aja ya?” tukas Ocha yang kembali tak merasa tenang.


“Gak bisa dek, kakak harus kuliah lagi besok,” sela Anya yang tampak sedang berkemas.


Meskipun demikian, kali ini Ocha tidak melihat hal buruk akan terjadi di antara mama atau kakaknya. Jadi, ia bisa merasa sedikit tenang.


***


Pagi ini, entah kenapa Ocha merasa pelajaran berjalan begitu lama. Sangat membosankan. Terlebih, saat dirinya harus di hadapkan dengan kerumunan orang yang menatapnya aneh, dan terintimidasi di dalam kelasnya sendiri.


Selang beberapa menit kemudian, akhirnya keinginan Ocha terkabul, bel pulang sekolah kembali di nyalakan.


Ocha mengernyitkan dahinya kebingungan.


“Lo lagi? Ngapain sih lo ikutin gue terus?” sentak gadis itu pada Vito yang menatapnya manis, karena ia tau jika gadis di hadapannya ini pantang diajak berargumen.


“Gue mau tau tentang lo, dan tentang kemampuan yang lo miliki. Keadaan lo hari ini, udah lebih baik kan dari kemaren?” tutur laki-laki dengan begitu antusiasnya pada Ocha.


“Gue masih gak baik-baik aja, pak tolong dong suruh dia pulang!” titah gadis itu lagi pada satpam yang menjaga rumahnya.


“Eh, tunggu!”


“Ish, apa lagi?” gerutu gadis itu.


“Pertama dan terakhir, habis ini gue janji gak akan nanyain dan penasaran tentang lo lagi,” ujarnya pada Ocha, seraya mengangkat dua jarinya hingga berbentuk huruf v.


Gadis itu menghela napasnya kasar.


“Ya udah, masuk!” titahnya. Dengan senang hati, Vito masuk seraya menundukkan tubuhnya pada satpam yang menatapnya begitu tajam. Namun, sebenernya di samping pria itu berdiri sosok tubuh yang tinggi dengan gigi taring juga mata merah yang ikut berjaga dengannya. Itu lah sebabnya, mengapa laki-laki itu menundukkan kepalanya.


“Lo tunggu di sini, gue mau ganti baju dulu,”

__ADS_1


Vito hanya mengangguk setuju dan duduk di kursi tamu rumah itu. Namun, anehnya saat ia melangkah ke dalam banyak hal-hal yang membuat bulu kuduknya merinding, roh, setan dan jin lainnya memang banyak terlihat di rumah ini. Rumah, dengan desain minimalis dan masih kental dengan peristiwa masa lalu yang membuat Vito tidak mengerti.


“Nih di minum dulu,” ujar Ocha, seraya memberikan segelas soft drink pada Vito yang mengangguk dan menerimanya.


“Makasih. Oh iya gue sekali lagi turut berduka cita ya, atas kehilangan bokap lo,” ucap Vito seakan menunjukkan empati.


“Hm,”


Respon singkat dari Ocha, membuat Vito menoleh ke arahnya setelah menyeruput sedikit soft drink itu.


“Gimana rasanya bisa tahu kapan orang meninggal? Selain bisa lihat roh?” tanya Vito tiba-tiba, membuat Ocha terdiam dan membalas menatap pria itu. Gadis itu terlihat kaget saat Vito melontarkan pertanyaan itu padanya.


“Sangat gak mengenakkan. Kalo gue bisa milih, gue pengen kayak dulu lagi, pengen gak bisa tau apa-apa lagi. Tapi sayangnya, setelah gue operasi mata semuanya seakan gak bisa di cegah,” jawabnya seraya menghela napas gusar.


“Mungkin ini udah takdir, Cha. Emang sebelumnya lo pernah gak, bisa lihat hal buruk akan terjadi ke seseorang dan lo berhasil mencegahnya?” tanya Vito lagi dengan begitu antusias.


“Kenapa lo nanyain itu ke gue? Bukannya lo juga bisa?”


Vito terdiam, dan menggeleng.


“Kelebihan kita beda,”


“Maksud lo? Bukannya semua anak indigo bisa ya?”


“Enggak semuanya, lo orang yang di kasih kelebihan yang istimewa,” tutur Vito, yang kini tersenyum dan kembali meneguk soft drink yang ada di tangannya.


Ocha terdiam sejenak.


“Jadi, gimana? Apa lo pernah mencegah kecelakaan yang terjadi pada seseorang?”


“Gue gak bisa! Gue cuma bisa lihat kalo umurnya gak panjang, dan hal yang terjadi sama dia. Tapi gue gak bisa lihat tempatnya di mana, kapan waktunya, dan detail lainnya,” Jawab Ocha lagi.


“Lo kenapa sih? Lama-lama kaya menginterogasi gue aja? Gak ada kerjaan ya lo?” sarkas Ocha lagi saat melihat Vito yang tersentak dengan wajah serius dan antusiasnya.


“Hah? Gue gak interogasi, tapi gue pengen tau. Kenapa sih lo bisa liat bokap lo kecelakaan, tapi lo sendiri gak bisa mencegahnya,”


“Udah takdir,”


Namun, tak berapa lama setelah itu.


Terlihat sosok bayangan putih dan hitam berkelebat di hadapan mereka.


Dan.


Bugh!

__ADS_1


***


__ADS_2