
Helven mengernyitkan dahinya, saat menatap tingkah aneh dari anaknya itu. Sementara Ocha, udah lebih dulu menarik paksa tasnya lalu beranjak meninggalkan meja makan, untuk menghampiri mobilnya yang berada di garasi, karena gadis itu akan menyetirnya sendiri.
Suasana meja hening, Alia hanya menatap datar ke arah suaminya yang kini ikut berpamitan juga.
“Hari ini, papa ada penyelidikan kasus pembunuhan, dan ini untuk pertama kalinya ma. Tapi, katanya ini aneh, dari biasanya,” tutur Helven, seraya menaruh tangannya di pundak Alia.
“Tapi, kenapa harus papa? Gak ada yang lain apa?” tanya Alia yang kini menatap Helven.
“Ini tanggung jawab, ma. Gak bisa di kasih ke yang lain, ya udah kalo gitu papa berangkat dulu ya!”
“Iya hati-hati, kalo udah sampai jangan lupa kabari,”
“Kenapa sekarang jadi khawatir gini ya?” batin Alia saat melihat punggung suaminya yang memasuki mobil.
***
Ocha kini kembali ke sekolahnya, ia harus melakukan aktivitasnya lagi setelah liburan seminggu lamanya itu. Namun, ada yang aneh dari sekolahnya saat itu. Tidak seperti biasanya. Gadis itu melihat jam tangan yang ia gunakan, dan melingkar di pergelangannya.
Sementara waktu, sudah menunjukkan pukul 06.45 akan tetapi sekolah tak kunjung juga menunjukkan tanda-tanda kehidupan seperti biasanya.
Ocha terlihat bingung, kemana siswa dan siswi yang lainnya. Kenapa bisa-bisanya sekolah elite yang terkenal itu sepi. Akhirnya, gadis itu memutuskan untuk duduk di salah satu kursi yang tidak jauh dari tempat ia berdiri, namun tak berapa lama Ocha melihat seorang perempuan tengah duduk di salah satu kursi panjang, ia yakin jika perempuan itu adalah kakak kelasnya. Tanpa pikir panjang, gadis itu pun mendekati perempuan yang duduk sendirian menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong itu.
“Permisi, kak?” sapa Ocha pada perempuan itu. Gadis yang mengenakan seragam putih, dengan rok putih, juga logo osis di dadanya itu hanya menoleh tanpa menjawab sapaan Ocha. Gadis itu sedikit bingung, namun ia tidak peduli dan mengulurkan tangannya pada perempuan itu.
“Kenalin aku Ocha kak,” ujarnya.
Bertepatan saat Ocha menjabat tangan gadis itu, tempat disekeliling Ocha tiba-tiba saja berubah. Seolah-olah Ocha melakukan teleportasi, meski tubuh fisiknya sama sekali tidak berpindah tempat.
“Tolong, hentikan!” suara teriakan seseorang sontak membuat Ocha menoleh.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, Ocha melihat seorang gadis tengah dirundung oleh banyak siswa dan siswi. Ketika gadis yang dirundung itu mulai menangis, seorang gadis lain datang dengan ekspresi marah.
“Lepaskan, dia! Jangan merundungnya lagi!”
Kedua mata Ocha membulat, berkali-kali dia melirik ke arah wajah kakak kelas di hadapannya dengan wajah gadis itu. Seketika Ocha sadar bahwa wajah mereka berdua sangat mirip.
“Kamu gak usah ikut campur!” teriak salah satu perundung.
“Kubilang lepaskan dia!” gadis itu berusaha menerobos kerumunan dan menyelamatkan korban.
Akan tetapi, tiba-tiba saja sebuah tragedi terjadi.
Tatkala gadis itu berusaha menarik korban, seorang siswi tanpa sengaja melemparkan sebuah gelas kaca ke kepalanya. Membuat gadis itu jatuh seketika dengan luka di kepala. Dari luka itu, darah mengalir keluar dan menggenangi lantai, membuat seluruh siswa dan siswi langsung menjauh.
__ADS_1
Dalam seperkian detik kemudian, Ocha merasa rohnya tertarik masuk lagi ke dalam raganya. Saat mengingat pemandangan tadi, Ocha merasa sangat jijik sekaligus merinding.
“Apa ini? Kenapa tiba-tiba gue lihat hal yang kayak gitu? Apa barusan gue teleport? Tapi kenapa jiwa gue yang pergi, sementara badan gue masih di sini salaman?” batin Ocha.
Namun tiba-tiba jabatan tangannya di tepis kasar oleh perempuan manis tapi berwajah pucat pasi itu. Tanpa bicara, ia melangkah cepat ke arah lapangan sekolah. Ocha sejenak melamun, setelah itu banyak siswa dan siswi yang berdatangan.
***
Kini telah tiba waktu untuk istirahat, di kantin Ocha melihat seluruh bangku di sana udah penuh. Anehnya, gak semua siswa atau siswi yang makan di kantin, tapi penglihatan Ocha berbeda. Kebetulan satu bangku keliatan kosong, ia memilih berjalan memesan makanannya, lalu menuju ke arah meja itu.
“Ekhem, boleh gue duduk di sini gak?” tanya gadis itu pada satu cowok yang menatapnya sebentar lalu mengangguk. Ocha yang langsung menapaki bokongnya, tidak menghiraukan tatapan pria itu, karena baginya itu adalah hal yang biasa. Apalagi semenjak dirinya acap kali terlihat tengah berbicara sendiri.
Hanya keheningan yang di temukan oleh Ocha , ia tidak begitu menghiraukan pria yang ada di hadapannya itu. Murid baru, yang wajahnya asing menurut Ocha.
“Lo murid baru?” tanya Ocha yang memecah keheningan. Entah kenapa bibirnya sangat sulit di ajak untuk kompromi saat ini.
Pria itu mengangkat wajahnya, lalu menatap Ocha beberapa detik. Lalu meletakkan sendok juga garpunya dalam posisi menyilang.
“Menurut lo?” pungkasnya ketus pada Ocha.
Gadis itu hanya menaikkan sebelah alisnya. Lalu, menyuap makanannya seraya menatap lekat ke arah pria itu.
“Lo datang ke sekolah tadi, ngobrol sama kakak kelas ya?” tanya cowok yang tidak diketahui Ocha namanya itu. Menurutnya, cowok itu adalah anak baru, tapi anehnya kenapa dia begitu tau banyak hal tentang sekolah ini termasuk juga tentang hal yang ia temui tadi pagi.
“I-iya kenapa?”
“Lo gak perhatiin bajunya?”
Gadis itu berpikir sejenak, mencoba mengingat pakaian perempuan jutek yang ia temukan tadi.
“Iya, gue liat dia pake baju rok putih, rambut panjang, wajahnya pu-“ namun dengan cepat cowok itu memotong ucapan Ocha.
“Beda logo saku kan? Beda model rok, dan seragamnya kan? Naik ke lantai dua dan gak pernah nampakkin wujudnya setelah itu,” tutur cowok itu pada Ocha lagi, membuat gadis itu tersentak dan menelan makanannya dengan susah.
“Jadi yang gue liat tadi bukan manusia? Gue kira itu hal yang akan terjadi sama dia,” batin Ocha.
“Lo kenapa? Kok bengong?”
Gadis itu menggeleng cepat.
“Oh ya, ngomong-ngomong nama lo siapa? Kalo emang lo anak baru di sini, kenapa lo tau semuanya tentang sekolah ini?” tanya Ocha penasaran.
Cowok itu malah menunjuk name tag yang ada di seragamnya. Alvito Jayaskara.
__ADS_1
“Gue emang anak baru di sini, tapi gue tau apa yang terjadi di sekolah ini. Nama lo Ocha kan? Karena lo juga ketemu sama kakak kelas itu, gue cuma mau bilang, kalo dia itu arwah yang gentayangan, dan bukan manusia!” jelas Vito.
“Lo bisa lihat hantu juga?” tanya Ocha semakin penasaran.
“Iya, emang udah dari kecil,”
“Gue gak percaya kalo itu hantu,” pungkas Ocha lagi.
“Terserah lo mau percaya atau enggak, tapi yang jelas dia itu korban perundungan karena membela siswi yang di bully,”
Deg.
Kali ini, Ocha langsung beranjak dari tempat menuju kelasnya. Perasaannya terasa tak enak kali ini, entah apa alasannya.
Ocha langsung bergegas menuju kelasnya, namun saat dirinya melewati ruang laboratorium tiba-tiba seseorang turun dari sebuah tangga yang tidak cukup jauh dari jaraknya berdiri.
Sontak, gadis itu menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia lihat. Perempuan yang tadi disangka Ocha kakak kelas itu, menuruni anak tangga dari ruang guru di seberang tepat di hadapan ia berdiri, dia tampak berjalan mengitari koridor dengan darah di sekujur perutnya juga tampak seperti di cabik-cabik dengan gunting, dan kepalanya juga berdarah.
Sedikit merinding, karena di sana gadis itu hanya sendirian.
“Audzubillahiminasyaitonnirojim,” batin Ocha saat ia melihat sosok itu berjalan, jika tidak merapatkan doa ia akan berhadapan langsung dengan sosok mengerikan itu. Meskipun badannya bergetar ia tetap berusaha tenang.
Namun, anehnya perempuan itu berhenti di lorong pojokkan dekat gudang. Ocha melihatnya, saat dia berhenti, dia malah mengusik Ocha yang melihat ke arahnya. Perempuan dengan darah yang memenuhi sekujur tubuhnya itu memutar kepalanya 180° dan berhenti tepat berhadapan dengan Ocha, wajahnya yang mula terlihat biasa kini semakin mengerikan di sertai cekikikan yang membuat siapa saja merinding mendengarnya.
“Ya Tuhan, kenapa harus kayak gini sih, gue udah gak sanggup kalo kayak gini,” batin Ocha, kakinya yang tadi berusaha tenang semakin bergetar hebat. Koridor sekolahnya juga sepi karena bel masuk sudah dari tadi berbunyi.
“Ocha! Ngapain kamu di sana? Cepat masuk kelas!” teriak si pemilik suara bariton, namun sebelum menjawab gadis itu sudah pingsan duluan.
***
Kini sudah saatnya pulang, gadis itu terbangun dan melihat jika dirinya berada di ruang UKS sekarang. Kala itu, ia tidak sendirian melainkan cowok yang ia temui di kantin tadi juga ada di sana dengan tasnya yang berada di tangan pria yang bernama Vito itu.
“Kalo anak indigo, harusnya gak usah takut lihat hal yang kayak gitu,” tukasnya.
“Hah! Lagian, perempuan itu usil banget sih,” gerutu Ocha lagi.
“Semua tergantung lo, manusia lebih tinggi derajatnya di bandingkan mereka itu. Nih tas lo!” ujar Vito, lalu akan bersiap melangkah pergi.
“Lo ma-“
Drrtt.
Drrt.
__ADS_1
“Hah?”
***